
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
Gedung
C7 Lt.2, Kampus Unnes, Sekaran
Gunungpati,
Semarang 50229
Telp/Fax:
(024) 8508006, Email: fis@unnes.ac.id
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
JUDUL: MENINGKATKAN
KEBERANIAN BERTANYA PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MATERI
“PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI” DENGAN MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF JENIS EVERY
ONE IS A TEACHER HERE DI KELAS XII IPS 2 SMA GITA BAHARI SEMARANG
TAHUN AJARAN 2014/2015.
PENULIS : RIWAN
SUTANDI
NIM :
3101412084
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN SEJARAH
A. Latar
Belakang
Pendidikan
adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapanpun sepanjang
ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan
merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang.
Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan
inovatif dalam segala bidang kehidupanya.
Pendidikan
merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan
diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan
perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara adukuat
dalam kehidupan masyarakat (Hamalik, 2009: 79).
Pendidikan
pada hakikatnya akan mencakup kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih.
Kegiatan tersebut, kita laksanakan sebagai suatu usaha untuk mentrasformasikan
nilai-nilai. Maka dalam pelaksanaanya ketiga kegiatan tersebut harus belajar
secara serempak dan terpadu, berkelanjutan, serta serasi dengan perkembangan
anak didik serta lingkungan hidupnya (Munib, 2009: 29).
Pendidikan
Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu,
pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab (Undang-Undang No.20 Tahun 2003).(Mulyasa,
2013: 20).
Dalam
perkembanganya, istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang
diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar dia menjadi dewasa atau
mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan
kata lain pendidikan juga dapat dikatakan sebagai suatu proses untuk
mendewasakan manusia. Dalam mendewasakan manusia ini tentunya melalui beberapa
proses dalam pembelajaran. Proses pembelajaran tidak hanya membutuhkan waktu
yang singkat tetapi harus melalui banyak tahapan, agar dalam proses
pembelajaran tersebut peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Maka
untuk membuktikan pernyataan diatas saat ini sedang dikembangkan model
pembelajaran Everyone Is A Teacher Here (Semua bisa jadi Guru), yang terkandung
dalam Undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pasal 1 ayat 1. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Upaya
untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah harus melalui pembelajaran.
Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah
telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Eksistensi guru tetap penting karena peran guru tidak seluruhnya
digantikan dengan teknologi.
Guru
dalam active learning (belajar aktif) lebih memposisikan diri
sebagai fasilitator, pembimbing, pendamping, dan juga teman dalam proses
belajar mengajar. Dengan demikian tentu akan menghindari sosok otoriter dan
ditakuti oleh siswa dan juga dapat menjadikan proses belajar mengajar di kelas
lebih demokratis dan menyenagkan.
Tapi
pada kenyataannya yang ditemui di lapangan ternyata masih banyak guru yang
enggan melaksanakan kegiatan pembelajaran active learning (belajar
aktif). Para pendidik lebih memilih metode ceramah. Kondisi ini
juga terjadi di SMA GITA BAHARI SEMARANG, dimana guru-guru di sekolah tersebut
sering menggunakan metode ceramah sehingga menyebabkan siswa menjadi pasif dan
bosan dan hal ini menjadikan siswa enggan untuk memperhatikan. Alasan para
pendidik lebih memilih metode ceramah karena terbenturnya waktu dan pendidik
masih kesulitan dalam menyusun bahan ajar kurangnya pemahaman guru dengan
model-model dalam pembelajaran. Dengan tidak memperhatikan pelajaran maka siswa
enggan untuk bertanya karena tidak tahu yang ingin ditanyakan, selain itu juga
karena enggan bertanya maka siswa malu kepada teman-temannya ketika ditanya
gurunya tidak bisa.
Dalam pembelajaran sejarah terdapat
materi yang sangat menarik untuk dikembangkan dalam model pembelajaran, yaitu
materi tentang peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan indonesia. Materi
tersebut banyak memuat sub-sub peristiwa yang terjadi sebelum kemerdekaan indonesia,
dan hal ini bisa dijadikan bahan untuk siswa untuk menganalisis setiap
peristiwa tersebut. Dengan hal tersebut siswa dapat diperankan semua tanpa
terkecuali.
Dari
permasalahan di atas dapat dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai
alternative dalam penyelesaian permasalah ini. Dengan permasalahan di atas maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “MENINGKATKAN
KEBERANIAN BERTANYA PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MATERI
“PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI” DENGAN MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF JENIS EVERY
ONE IS A TEACHER HERE DI KELAS XII IPS 2 SMA GITA BAHARI SEMARANG
TAHUN AJARAN 2014/2015”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana
penerapan strategi model pembelajaran kooperatif jenis every one is
a teacher here dalam pembelajaran sejarah pada materi “peristiwa sekitar
proklamasi” di kelas XII IPS 2 SMA Gita Bahari Semarang tahun ajaran 2014/2015?
2. Apakah
dengan penerapan strategi model pembelajaran kooperatif jenis every
one is a teacher here dalam pembelajaran Sejarah pada materi
peristiwa sekitar proklamasi dapat menumbuhkan keberanian bertanya pada siswa
kelas XII IPS SMA Gita Bahari Semarang tahun ajaran 2014/2015?
C. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini
adalah:
1. Untuk
mengetahuai bagaimana penerapan strategi model pembelajaran kooperatif jenis every
one is a teacher here dalam pembelajaran Sejarah pada
materi “peristiwa sekitar proklamasi” di kelas XII IPS 2 SMA Gita Bahari
Semarang tahun ajaran 2014/2015.
2. Untuk
mengetahui Apakah dengan penerapan strategi model pembelajaran kooperatif jenis
every one is a teacher here dalam pembelajaran
Sejarah pada materi peristiwa sekitar proklamasi dapat menumbuhkan keberanian
bertanya pada siswa kelas XII IPS SMA Gita Bahari Semarang tahun ajaran
2014/2015.
D. Manfaat
Penelitian
Dengan
adanya penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan, diharapkan Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat untuk:
1. Sebagai
bahan masukan yang objektif dalam meningkatkan proses pembelajaran yang dapat
membangun keaktifan peserta didik.
2. Sebagai
bahan informasi terhadap lembaga-lembaga yang lain, baik formal maupun
nonformal yang membutuhkan gambaran pembelajaran yang dapat menumbuhkan
keberanian bertanya bagi peserta didik.
3. Sebagai
bahan komparatif dari beberapa strategi pembelajaran yang ada, mana yang lebih
efektif dan sesuai dengan kondisi zaman dan kesesuaian dengan materi.
E. Kajian
Pustaka
Dalam
pembuatan skripsi ini, peneliti mencoba menggali informasi terhadap skripsi
atau karya ilmiah yang lainnya yang relevan dengan permasalahan yang sedang
dilakukan oleh peneliti sebagai bahan pertimbangan untuk membandingkan
masalah-masalah yang diteliti baik dalam segi metode dan objek penelitian.
Pertama skripsi yang berjudul “Meningkatkan motivasi hasil belajar IPS sejarah
siswa SMP Negeri 2 Pegeruyung Kabupaten Kendal dengan menggunakan Model
pembelajaran kooperatif jenis every one is a teacher here pada materi kehidupan
masa praaksara di Indonesia kelas VII A tahun 2010/2011”, disusun oleh
Agustin Faradilawati (NIM: 3101405580) Fakultas Ilmu Sosial UNNES. Dalam
skripsi ini dipaparkan bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bahan informasi bagi para guru maupun para siswa di SMP Negeri 2 Pegeruyung
Kabupaten Kendal. siswa hendaknya dapat mengikuti proses pembelajaran dengan
aktif dan mampu menerima serta merespon segala apa yang diajarkan oleh guru dengan
metode apapun yang mampu meningkatkan prestasi siswa.
Kedua
yaitu skripsi yang berjudul”Penerapan Metode Everyone Is A teacher
Here Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada
Pembelajaran SejarahKebudayaan Islam (SKI) Materi Pokok Perkembangan Islam
Pada Masa Bani Umaiyah (Studi Tindakan di kelas VII MTs
Assalafiyah Tegal)”. Disusun oleh Dewi Fatimah (NIM: 073111153) Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Dalam skripsi ini dipaparkan bahwa hasil
penelitian ini setelah melalui tiga tahap siklus penelitian, bahwa ada
peningkatan sesudah diterapkan metode everyone is ateacher here dibandingkan dengan
sebelumnya. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti membuktikan
bahwa ada peningkatan hasil belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran
dengan menggunakan metode everyone is a teacher here.(internet)
Ketiga
penelitian Darwati (3101406003), 2010, yang melakukan penelitian tentang “Upaya
meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode kooperatif jenis
every one is a teacher here pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS 1 di
SMA Negeri 1 Tuntang Kab. Semarang tahun pelajaran 2009/2010”, ternyata
menunjukkan adanya keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Peran aktif tersebut dikarenakan siswa dihadapkan pada model pembelajaran yang
mereka anggap baru, yang menuntut mereka untuk terlibat aktif dalam proses
pembelajaran.
Penulis
mengangkat beberapa skripsi di atas sebagai kajian pustaka karena skripsi
diatas memaparkan tentang beberapa penerapan model pembelajaran kooperatif,
yaitu diantaranya membahas mengenai keaktifan peserta didik dalam pembelajaran
dan metode everyone is a teacher here. Berkaitan dengan
penelitian di atas penelitian ini bersifat sebagai pengembangan dari hasil
penelitian yang sudah ada, di mana penelitian ini menggunakan metode everyone
is a teacher here sebagai sarana untuk menumbuhkan keberaniaan
bertanya pada peserta didik.
F. Kajian
Teori
1. Definisi
keberanian bertanya
Keberanian
diartikan sebagai sifat-sifat berani, kegagahan. Bertanya adalah meminta
keterangan, meminta supaya diberi tahu. Jadi yang dimaksud dengan
keberanian bertanya adalah sifat berani yang dimiliki oleh siswa untuk
melakukan tindakan-tindakan berupa meminta keterangan atau meminta supaya
diberi tahu terhadap sesuatu hal yang belum diketahui seorang siswa kepada
seoarang guru dalam proses belajar mengajar.
Keberanian
bertanya tidak akan lahir begitu saja, tetapi perlu dibina, dilatih oleh orang
tua, guru, saudara-saudara yang lebih tua. Menciptakan iklim interaksi tanya
jawab secara menyenangkan dalam keluarga, sekolah, sangat membantu individu
(anak) untuk berani bertanya.
Maka
untuk menciptakan interaksi dalam pembelajaran berupa keberanian bertanya,
perlu menerapkan teknik atau strategi yang tepat yang dapat membangkitkan
keaktifan peserta didik. Karena, pembelajaran dapat dikatakan aktif jika
melalui proses penyelidikan atau bertanya. Peserta didik dikondisikan dalam
proses mencari (aktif) bukan sekedar menerima (reaktif). Dengan
kata lain mereka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
kepada mereka atau yang mereka ajukan sendiri. Mereka mengupayakan atas
permasalahan yang diajukan oleh guru. Mereka tertarik untuk mendapatkan
informasi atau menguasai keterampilan guna menyelesaikan tugas yang diberikan
kepada mereka, dan mereka dihadapkan persoalan yang membuat mereka tergerak
untuk mengkaji apa yang mereka nilai dan yakini.
2. Fungsi Bertanya
Dalam
pembelajaran, bertanya memainkan peran yang sangat penting sebab pertanyaan
yang dilontarkan oleh guru maupun yang diajukan oleh siswa akan memberikan
dampak positif terhadap siswa itu sendiri. Untuk itu bertanya memiliki beberapa
fungsi, yaitu:
a) Meningkatkan
partisipasi peserta didik dalam pembelajaran.
b) Membangkitkan
minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap suatu masalah yang sedang
dihadapi atau dibicarakan.
c) Mengembangkan
pola dan cara belajar aktif dari peserta didik, sebab berfikir itu sendiri
adalah bertanya.
d) Menuntun
proses berfikir peserta didik sebab pertanyaan yang baik akan membantu peserta
didik agar dapat menentukan jawaban yang baik.
e) Memusatkan
perhatian peserta didik terhadap masalah yang sedang dibahas.
Untuk
mengembangkan pertanyaan yang efektif sesuai dengan fungsi tersebut, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a) Kehangatan
dan antusias. Maksudnya bahwa bertanya dan menjawab dilakukan dalam situasi
yang cukup hangat dan antusias.
b) Kebiasaan-
kebiasaan yang perlu dihindari dalam mengajukan pertanyaan, berupa mengulang
pertanyaan, mengulang jawaban peserta didik, menjawab pertanyaan sendiri,
memancing jawaban serentak, pertanyaan ganda, dan menentukan siswa tertentu.
3. Mata Pelajaran
Sejarah
A. Pengertian mata
pelajaran Sejarah
Pembelajaran
adalah perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas
belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks
mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara pengajar itu
sendiri dengan si belajar. (Rivai, Metode Mengajar).
Menurut
Rustam E.Tamburaka ( 2002 : 2 ) mengatakan “ Sejarah adalah cerita perubahan –
perubahan, peristiwa – peristiwa atau kejadian masa lampau yang telah diberi
tafsir atau alasan dan dikaitkan sehingga membentuk suatu pengertian yang
lengkap” .
Pendidikan
dan pembelajaran sejarah merupakan proses
internalisasi nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan kesejarahan
dari serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk
mempengaruhi dan mendukung terjadinya
proses belajar peserta didik (Wineburg, 2001).
B. Ruang Lingkup Mata
Pelajaran Sejarah
1.
Sejarah sebagai peristiwa
Berarti suatu kejadian di masa lampau, atau sesuatu yang
sudah terjadi, dan hanya sekali terjadi (einmalig), tidak bisa diulang.
Peristiwa yang bersifat absolute dan objektif. Peristiwa-peristiwa yang telah
terjadi sejak masa lampau menjadi materi yang sangat penting dalam pembahasan
ilmu sejarah. Melalui peristiwa-peristiwa itu, ilmu sejarah mendapat gambaran
tentang kehidupan manusia dimasa lampau dan sebab akibatnya. Namun, setiap
peristiwa atau kejadian-kejadian di dalam lingkup kehidupan manusia belum tentu
akan tercatat dalam catatan sejarah. Para ahli sejarah tidak begitu saja
mencatat rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau itu,
tetapi juga mencoba menelusuri awal mula dan sebab-sebab munculnya peristiwa
itu. Dengan demikian mereka berusaha mengembangkan pembahasan peristiwa itu
sampai kepada sektor kehidupan manusia yang mendorong terjadinya peristiwa itu.
2.
Sejarah sebagai cerita
Berbicara tentang sejarah, biasanya akan segera menghubungkannya
dengan cerita, yaitu cerita tentang pengalaman-pengalaman manusia di waktu yang
lampau. Bahwasanya sejarah pada hakekatnya adalah sebuah cerita kiranya tidak
bisa disangkal lagi. Ucapan teoritikus-teoritikus sejarah seperti Renier:
“nothing but a story”; Trevelyan: “the historian’s first duty is to tell the
story”; Huizinga: “the story of something that has happened”, semuanya
mencerminkan gagasan bahwa sejarah itu hakekatnya adalah tidak lain sebagai
suatu bentuk cerita.
Kendati begitu, hal yang perlu sekali disadari adalah kenyataan
bahwa sebagai cerita, sejarah bukanlah sembarang cerita. Cerita sejarah
tidaklah sama dengan dongeng ataupun novel. Ia adalah cerita yang didasarkan
pada fakta-fakta dan disusun dengan metode yang khusus yang bermula dari
pencarian dan penemuan jejak-jejak sejarah, mengujji jejak-jejak tersebut
dengan metode kritik yang ketat (kritik sejarah) dan diteruskan dengan
interpretasi fakta-fakta untuk akhirnya disusun dengan cara-cara tertentu pula
menjadi sebuah cerita yang menarik tentang pengalaman masa lampau manusia itu.
3.
Sejarah sebagai ilmu
Sejarah dapat digolongkan sebagai ilmu apabila ia memiliki
syarat-syarat dari suatu ilmu pengetahuan atau syarat-syarat ilmiah.
Syarat-syarat keilmuan yang dimaksud adalah:
- Ada objek masalahnya
- Memiliki metode
- Tersusun secara sistematis
- Menggunakan pemikiran yang
rasional
- Memiliki kebenaran yang
objektif
Karena sejarah memiliki kesemua syarat keilmuan tersebut,
termasuk memiliki metode sendiri dalam memecahkan masalah, maka tidak ragu lagi
akan unsur-unsur keilmuan dari sejarah. Pendapat ahli sejarah Bury bahwa
“history is a science, no less and no more” kiranya memberikan penegasan akan
hal itu. Meski demikian dalam kenyataannya banyak pihak yang masih menyangsikan
keberadaan sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu.
Dilihat dari cara kerja ilmiah, dua tahapan terakhir dalam metode
sejarah yaitu interpretasi dan historiografi masih sering dianggap sebagai
titik-titik lemah. Interpretasi misalnya, dimana di dalamnya terdapat unsur
menyeleksi fakta sehingga sesuai dengan keseluruhan yang hendak disusun,
terkadang unsur subjektivitas penulis atau sejarawan seperti kecenderungan
pribadinya (personal bias), prasangka kelompoknya (group prejudice),
teori-teori interpretasi historis yang saling bertentangan (conflicting
theories of historical interpretation) dan pandangan hidupnya sangat
mempengaruhi terhadap proses interpretasi tersebut.
Semuanya itu bisa membawa sejarawan pada sikap subjektif yang
dalam bentuknya yang ekstrim menjurus pada sikap emosional, bahkan mungkin
irasional yang kurang bisa dipertanggung jawabkan seperti kecenderungan
mengorbankan fakta sejarah atau memanipulasikannya demi suatu teori, pandangan
hidup yang dipercayai secara berlebihan atau keberpihakan pada penguasa.
Memang sulit untuk menghindar dari subjektivitas, sehingga sejarawan sangat
dituntut untuk melakukan penelitian sejarah yang seobjektif mungkin atau
setidaknya sebagai suatu ideal. Pokoknya yang penting bagi sejarawan adalah
seperti yang pernah dikemukakan G. J. Renier, “we must not cheat”.
4.
Sejarah sebagai seni
Sejarawan tidak bisa sembarangan menghadirkan peristiwa sejarah
sebagai kisah sejarah. Kisah sejarawan akan memiliki daya tarik tersendiri
apabila sejarawan memiliki intuisi, imajinatif, emosi dan gaya bahasa yang
baik. Intuisi diperlukan oleh sejarawan saat memilih topik hingga merangkai
seluruh fakta menjadi sebuah kisah. Imajinatif sejarawan digunakan untuk
menyususun fakta-fakta sejarah yang berhasil ditemukan agar menjadi utuh dan
bulat sehingga mudah dipahami. Kontruksi atau gambaran sejarawan tentang sebuah
peristiwa jelas tidak bisa sama persis dengan peristiwa yang sebenarnya
sehingga sejarawan membutuhkan imajinatif untuk merangkai fakata-fakta sejarah
yang sudah tersedia. Oleh Karena itu, sejarawan memiliki emosi untuk menyatukan
perasaan dengan objeknya agar para pembaca seolah-olah terlibat langsung dengan
suatu peristiwa sejarah. Akhirnya, seluruh pengisahan sejarah harus didukung
dengan penggunaan gaya bahasa yang lugas dan hidup.
5. Beda
sejarah dengan fiksi, ilmu sosial dan ilmu agama
1.
Kaidah pertama: sejarah itu fakta
Perbedaan
pokok antara sejarah dengan fiksi adalah bahwa sejarah itu menyuguhkan fakta,
sedangkan fiksi menyuguhkan khayalan, imajinasi atau fantasi.
2.
Kaidah kedua: sejarah itu diakronik, ideografis dan unik
- Sejarah itu diakronik
(menekankan proses), sedangkan ilmu sosial itu sinkronik (menekankan
struktur). Artinya sejarah itu memanjang dalam waktu, sedangkan ilmu
sosial meluas dalam ruang. Sejarah akan membicarakan satu peristiwa
tertentu dengan tempat tertentu, dari waktu A sampai waktu B. Sejarah
berupaya melihat segala sesuatu dari sudut rentang waktu. Contoh:
Perkembangan Sarekat Islam di Solo, 1911-1920; Terjadinya Perang
Diponegaro, 1925-1930; Revolusi Fisik di Indonesia, 1945-1949; Gerakan
Zionisme 1897-1948 dan sebagainya
- Sejarah itu ideografis, artinya
melukiskan, menggambarkan, memaparkan, atau menceritakan saja. Ilmu sosial
itu nomotetis artinya berusaha mengemukakan hukum-hukum. Misalnya
sama-sama menulis tentang revolusi, sejarah dianggap berhasil bila ia
dapat melukiskan sebuah revolusi secara menditil hingga hal-hal yang
kecil. Sebaliknya ilmu sosial akan menyelidiki revolusi-revolusi dan berusaha
mencari hukum-hukum yang umum berlaku dalam semua revolusi
- Sejarah itu unik sedang ilmu
sosial itu generik. Penelitian sejarah akan mencari hal-hal yang unik,
khas, hanya berlaku pada sesuatu, di situ (di tempat itu dan waktu itu).
Sejarah menulis hal-hal yang tunggal dan hanya sekali terjadi. Topik-topik
sejarah misalnya Revolusi Indonesia, Revolusi di Surabaya, Revolusi di
Pesantren “X”, Revolusi di Desa atau Kota “Y”. Revolusi Indonesia tidak
terjadi di tempat lain dan hanya terjadi sekali pada waktu itu, tidak
terulang lagi. Sedang topik-topik ilmu sosial misalnya Sosiologi Revolusi,
Masyarakat Desa, Daerah Perkotaan yang hanya menerangkan hukum-hukum umum
terjadinya proses tersebut.
C. Tujuan Mata Pelajaran
Sejarah
Mata
pelajaran sejarah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan
siswa tentang sejarah yang ada di Indonesia maupun di Dunia serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang
pendidikan yang lebih tinggi.
Untuk secara rinci mata pelajaran
Sejarah Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut.
·
Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya
konsep waktu dan tempat/ruang dalam rangka memahami perubahan dan keberlanjutan
dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia.
·
Mengembangkan kemampuan berpikir historis (historical
thinking) melalui kajian fakta dan peristiwa sejarah secara benar.
·
Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik
terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa di Kepuluan
Indonesia di masa lampau.
·
Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap diri
sendiri, masyarakat, dan proses terbentuknya Bangsa Indonesia melalui sejarah
yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang.
Menumbuhkan
kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang
memiliki rasa bangga dan cinta tanah air, melahirkan empati dan perilaku
toleran yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
dan bangsa.
4. Strategi
Everyone Is A Teacher Here
Strategi everyone
is a techer here yaitu strategi yang dapat digunakan untuk
menumbuhkan keberanian bertanya siswa, dan dapat disesuaikan dengan
tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajaran pada berbagai mata pelajaran,
khususnya pencapaian tujuan yaitu meliputi aspek: kemampuan mengemukakan
pendapat, kemampuan menganalisis masalah, kemampuan menuliskan
pendapat-pendapatnya (kelompoknya) setelah melakukan pengamatan, kemampuan
menyimpulkan dan lain-lain.
5. Langkah-langkah dalam Strategi
Everyone Is A Teacher Here
Dalam
menerapkan Strategi Everyone Is A Teacher Here ini tidak hanya sekedar
menerapkan akan tetapi ada langkah-langkah yang harus diperhatikan. Adapun
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagikan
kertas kepada setiap peserta didik dan mintalah mereka untuk menuliskan sebuah
pertanyaan tentang materi pokok yang telah atau sedang dipelajari, atau topik
khusus yang ingin mereka diskusikan dalam kelas.
2. Kumpulkan
kertas-kertas tersebut, dikocok dan dibagikan kembali secara acak kepada masing-masing
peserta didik dan diusahakan pertanyaan tidak kembali kepada yang bersangkutan.
3. Mintalah
mereka membaca dan memahami pertanyaan dikertas masing-masing, sambil
memikirkan jawabannya.
4. Panggil
sukarelawan untuk membacakan pertanyaan yang ada di tanganannya (untuk
menciptakan budaya bertanya, upayakan memotivasi peserta didik untuk angkat
tangan bagi yang siap membaca tanpa langsung menunjuknya)
5. Mintalah
da memberika respon (jawaban/penjelasan) atas pertanyaan atau permasalahan
tersebut, kemudian mintalah kepada teman sekelasnya untuk member pendapat atau
melengkapi jawabannya.
6. Berikan
apresiasi (pujian) terhadap setiap jawaban/ tanggapan peserta didik agar
termotivasi dan tidak takut salah
7. Kembangkan
diskusi secara lebih lanjut dengan cara siswa bergantian membacakan pertanyaan
di tangan masing-masing sesuai waktu yang tersedia.
G. Rumusan
Hipotesis
Hipotesis
merupakan jawaban sementara atas permasalahan yang diteliti, jawaban ini dapat
benar atau salah tergantung pembuktian di lapangan. Sebagaimana diungkapkan
oleh S. Margono, bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tingkat
kebenarannya.
Mengingat
hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin
salah, maka dilakukan pengkajian pada bagian analisis data untuk mendapatkan
bukti apakah hipotesis yang diajukan itu dapat diterima atau tidak.
Untuk
itu peneliti mengajukan hipotesis bahwa dengan menerapkan strategi pembelajaran
model kooperatif jenis every one is a teacher here dalam
pembelajaran Sejarah pada aspek materi peristiwa sekitar proklamasi di kelas
XII IPS 2 SMA Gita Bahari Semarang tahun ajaran 2014/2015 dapat menumbuhkan
keberanian bertanya pada peserta didik. Metode everyone is a techer
here sendiri bertujuan untuk membiasakan peserta didik untuk belajar
aktif secara individu dan membudayakan sifat berani bertanya, tidak minder dan
tidak takut salah.
Dengan
metode ini maka peserta didik dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran yang
berlangsung tidak hanya peserta didik duduk manis mendengarkan guru menerangkan
pelajaran tapi peserta didik mempunyai kesempatan untuk mengeksplor kemampuan
dan keberanian bertanya peserta didik di dalam kelas. Karena dengan metode ini
peserta didik akan terlatih dan terbiasa untuk bertanya di dalam kelas. Dengan
terbiasanya peserta didik bertanya di dalam kelas maka metode ini akan
meningkatkan pula keberanian peserta didik di dalam kelas.
H. Metode
Penelitian
1. Jenis
penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi
dengan guru Sejrah kelas XII IPS 2 di SMA Gita Bahari Semarang. Suharsimi
Arikunto menyatakan “penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan
terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan sengaja dimunculkan dan
terjadi di sebuah kelas bersama.” Penelitian tindakan kelas bukan sekedar
mengajar seperti biasanya, tetapi harus mengandung sebuah pengertian bahwa
tindakan yang dilakukan berdasarkan atas upaya meningkatkan hasil, yaitu lebih
baik dari sebelumnya. Penelitian tindakan kelas (PTK) dalam istilah Inggris
adalah classroom action research (CAR).Model penelitian
tindakan kelas secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui,
yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
a. Perencanaan
(Planing)
kegiatan
yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1. Identifikasi
masalah,
2. Perumusan
masalah dan analisis penyebab masalah, dan
3. Pengembangan
intervensi (action/solution)
b. Pra siklus
Tahap
pra siklus ini peneliti akan melihat proses pembelajaran Sejarah secara
langsung di kelas XII IPS 2 SMA Gita Bahari Semarang, yang masih menggunakan
metode ceramah dan kurang variatif. Sehingga siswa merasa bosan dan tidak
mengikuti pembelajaran dengan aktif. Artinya seolah-olah guru yang bicara dan
siswa hanya mendengarkan dan keberanian untuk bertanya terhadap suatu masalah
yang belum jelas yang ada dibenak mereka belum dapat diungkapkan secara
maksimal.
c. Siklus
I
Pelaksanaan siklus
I menggunakan kelas XII IPS 2 yang diampu oleh Ibu Nafisa. Langkah-langkah
besar dalam siklus I dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi, yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a) Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan
pada tahap ini adalah:
1. Identifikasi
masalah
2. Perumusan
masalah dan analisis penyebab masalah
3. Pengembangan
intervensi (action/ solution)
b) Pelaksanaan
Tahap kedua ini adalah
pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu
mengenakan tindakan kelas.
c) Pengamatan
Dalam tahap ini yaitu
kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat.
d) Refleksi
Tahap ini merupakan kegiatan untuk
mengemukakan kembali apa yang sudah dilakuakan.
d. Siklus
II
siklus
kedua dilakukan untuk memperbaiki langkah terhadap hambatan atau kesulitan yang
ditemukan dalam siklus pertama.
2. Tempat
dan waktu penelitian
Penelitian
ini dilakukan di kelas XII IPS 2 SMA Gita Bahari Semarang. Penelitian ini
berlangsung dari bulan Januari-Maret 2015.
3. Metode pengumpulan
data
Untuk
mendapatkan data-data yang lengkap dan untuk menggali informasi yang
dibutuhkan, peneliti menggunakan beberapa metode, diantaranya yaitu:
A.
Metode wawancara (interviw)
Wawancara
adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua
pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan
yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan
itu. Wawancara harus dilaksanakan dengan efektif, artinya dalam kurun waktu
yang sesingkat-singkatnya dapat diperoleh data yang sebanyak-banyaknya. Bahasa
harus jelas terarah. Susunan harus tetap rileks agar data yang diperole adalah
data yang obyektif dan dapat dipercaya.
Metode
ini digunakan oleh peneliti untuk menggali informasi dari subjek penelitian
yaitu peserta didik dan guru mata pelajaran Sejarah yang dalam hal ini sebagai
mitra kerja atau kolaborator peneliti, berupa tanggapan, kesan, dan suasana
pembelajaran dengan menggunakan stategi berupa model pembelajaran everyone
is a teacher here. Juga untuk menggali informasi mengenahi
kesulitan-kesulitan dalam membuat pertanyaan dalam pembelajaran.
B.
Metode Pengamatan (Observasi)
Teknik
pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan denga
perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang di
amati tidak terlalu besar.
Yang
dimaksud observasi yaitu tindakan atau proses pengambilan informasi melalui
media pengamatan. Dalam melakukan observasi ini peneliti menggunakan sarana
utama indra penglihatan. Melalui pengamatan mata dan kepala sendiri seorang
peneliti diharuskan melakukan tindakan pengamatan terhadap tindakan dan
perilaku responden di lapangan dan kemudian mencatat dan merekamnya sebagai
material utama untuk dianalisis.
Dalam
penelitian ini peneliti langsung mengamati keadaan, gejala atau proses yang
terjadi sebelum, selama, dan sesudah diterapkannya strategi model pembelajaran everyone is a teacher
here dalam pembelajaran, yaitu untuk mengetahui tingkat keberanian
peserta didik dalam mengemukakan pertanyaan saat pembelajaran berlangsung,
untuk mengamati apakah proses pembelajaran dengan menggunakan strategi tersebut
dapat menumbuhkan keberanian bertanya pada peserta didik, juga untuk mengetahui
peningkatan siswa dalam membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan.
C.
Metode Dokumentasi
Metode
dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
legger, agenda, dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi
tentang gambaran umum SMA Gita Bahari Semarang, serta hah-hal yang berhubungan
dengan masalah penelitian ini.
4. Teknik
analisis data
Teknik
analisis data merupakan tindak lanjut kegiatan peneliti sesudah data terkumpul
untuk segera digarap oleh staf peneliti untuk mengolah data.
Data
dari hasil pengamatan diolah dengan analisis deskriptif untuk menggambarkan
keadaan peningkatan pencapaian indikator keberhasilan tiap siklus dan untuk
menggambarkan keberhasilan metode everyone is a teacher here yang
dapat meningkatkan keberanian bertanya siswa dengan indikator keaktifan dalam
proses pembelajaran pendidikan Sejarah.
I. Sistematika
Penulisan
Untuk memudahkan
dalam memahami penelitian ini, maka disusun dengan sistemtematika sebagai
berikut:
1. Bagian
awal
Bagian
awal terdiri dari: sampul depan/ luar, halaman judul, pernyataan keaslian,nota
pengesahan, nota pembimbing, abstrak, kata pengantar, daftar tabel, daftar
lampiran, dan daftar isi.
2. Bagian
utama
Bagian
utama terdiri dari beberapa bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab
dengan susunan sebagai berikut:
Adapun
sistematika pembahasannya adalah:
·
BAB I :
Pendahuluan. Membahas tentang latar
belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian,batasan istilah, ruang lingkup penelitian, serta sistematika
pembahasan.
·
BAB
II :
Kajian pustaka. Membahas tentang skripsi-skrpsi terdahulu yang dijadikan
sebagai sumber rujukan dalam penelitian ini.
·
BAB III : Metode penelitian, membahas jenis
penelitian, waktu penelitian, subyek penelitian, metodologi penelitian,
langkah;langkah penelitian, indicator keberhasilan.
·
BAB IV : Pembahasan hasil penelitian. Memaparkan
diskripsi lokasi penelitian yang meliputi sejarah SMA Gita Bahari Semarang,
visi dan misi, tujuan SMA Gita Bahari. Paparan data sebelum tindakan
(observasi, pre tes, hasil pre tes), siklus I (rencana tindakan siklus I,
pelaksanaan tindakan siklus I, observasi siklus I, dan refleksi siklus I),
siklus II (rencana tindakan siklus II, pelaksanaan tindakan siklus II,
observasi siklus II, dan refleksi siklus II), pembahasan.
·
BAB
V :
kesimpulan dan saran. Berisi tentang kesimpulan terhadap pembahasan data-data
yang telah dianalisis dan saran sebagai bahan pertimbangan.
3. Bagian
akhir
Daftar
pustaka
Lampiran-lampiran
J. Daftar
Pustaka
Arikunto,
Suharsimi dkk. Penelitian Tindakan kelas. (Jakarta: Bumi
Aksara. 2010). cet-9
Huda,
Miftahul. Model-Model Pengajarah dan
Pembelajaran. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2014).
Sanjaya,
Wina. Penelitian Tindakan Kelas.
(Jakarta: Kencana Prenada Meia Group. 2013).
Sugiyono.
Metode Penelitian Pendidikan.(Bandung:
Alfabeta. 2013).
Margono, S. Metodologi
Penelitian pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta. 2010). cet-8
Moleong,
Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2002)
Sugiyono. Metode
Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan
R&D.(Bandung: Alfabeta. 2007). cet. 3

No comments:
Post a Comment