![]() |
LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
DI KELAS XII IPS 2
GITA BAHARI SEMARANG
MENINGKATKAN KEBERANIAN BERTANYA SISWA DALAM PEMBELAJARAN
SEJARAH PADA MATERI “PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI” DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF JENIS EVERYONE IS A TEACHER HERE DI KELAS XII IPS 2 SMA GITA BAHARI
SEMARANG TAHUN AJARAN 2014/2015
Dosen
Pengampu: Andy Suryadi, S.Pd., M.Pd.
Oleh:
RIWAN SUTANDI
3101412084
Rombel 5B
JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
A.
Deskripsi
proses Pembelajaran
Landasan
teori
Menurut
Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses
perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan,
yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Menurut
Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis
perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya
berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah
melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu
pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks
atau perilaku yang bersifat naluriah.
Moh.
Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan
lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa
pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
DESKRIPSI
PEMBELAJARAN
Pelajaran Sejarah hari ini dimulai pada jam ke 4
atau jam 10.15 di kelas XII IPS 2, dan setelah menunggu beberapa jam akhirnya
kami dipersilahkan untuk masuk di pelajaran sejarah ini guna melakukan
penelitian tindakan kelas. Akan tetapi guru masuk dan langsung memeberikan
remidial kepada siswa karena minggu kemarin telah melakukan UTS. Seluruh siswa
melakukan Remidial tanpa terkecuali. Guru langsung membacakan soalnya dan semua
mencatatnya. Nah disinilah hal yang menarik yang belum pernah saya temukan di
sekolah negeri. Bukan maksud hati membandingkan atau merendahkan sekolah swasta
terhadap Negeri akan tetapi ini nyata di dalam lapangan.
Pada saat remidial pun siswa menciptakan suasana
yang sangat gaduh dan seorang guru di depan hanya menegur seperti menegur anak
SD. Mereka melakukan pindah-pindah tempat dan melahap semua jawaban dari temannya
sendiri dan itu dilakukan di depan gurunya sendiri yang sedang mengawasi. Guru
hanya bisa diam dan sekali-kali menegur dan setiap tegerun gurupun bisa di
bantah oleh murid-muridnya atau di jawab untuk membenarkan mengapa ia pindah
tempat, alasan panaslah, teman sebelah mengganggulah dan lain-lain. Selain itu,
tidak ada ketenangan sama sekali pada saat proses remedial di kelas tersebut
dan tukar menukar jawaban di depan guru itu dianggap sudah biasa saja. Selain
itu juga, keluar masuk kelas sangat sering terjadi pada saat pembelajaran
dilakukan dengan alasan yang tidak jelas. Setelah agak jenuh menunggu maka guru
yang bersangkutan keluar dari dalam kelas dan suasana kelas pun menjadi tidak
karuan. Entah memang mungkin karena kami ada sehingga mereka berbuat seperti
itu atau memang seperti itulah mereka. Selain itu juga barang-barang yang tidak
bersangkutan dengan pelajaran seperti HP dan helm juga masuk kelas, helm di
letakkan di belakang atau meja yang paling belakang yang menjadikan ruang kelas
tidak indah dipandang.
Sampai jam pelajaran habis sekitar pukul 11.45 guru
tidak mengawasi lagi dan setelah waktunya habis guru baru masuk dan mengambil
kertas remidial dan tidak ada kesimpulan untuk minggu depan materi apa yang
akan dibahas sehingga langsung ditinggal keluar lagi. Setelah itu kami menunggu
sebentar guna melakukan wawancara dengan guru yang bersangkutan, ternyata di
tinggal tadi karena ada tamu yag datang. Dan saya menanyakan tentang kegaduhan
di kelas dan gurunya menjawab memang seperti itu mas, dan saya bertanya lagi
kepada alumni sekolah tersebut dan jawabnya memang seperti itu tidak hanya di
pelajaran sejarah saja akan tetapi di seluruh pelajaran kecuali dengan bapak a
karena gurunya galak, maka murid tersebut kondusif dan diam. Pada intinya dalam
proses pembelajaran tersebut tidak ada kata kondusif dan tidak ada kesopanan
yang dilakukan siswanya, baik dalam perbuatan dan kata-kata, selain itu guru
juga kurang menggunakan sarana dan prasarana yang sudah ada dan lengkap di
dalam kelas dalam pembelajaran sejarah guna meningkatkan motivasi lebih dalam
pelajaran sejarah.
Karena pada saat melakukan observasi sedang
dilakukan Remidial maka kami mengumpulkan datanya melalui metode wawancara,
dimana kami mewawancari guru sejarah bersangkutan yaitu ibu Nafisa. Di dalam
pembelajaran yang sering dilakukannya dalam penyampaiannya beliau sering
melakukan ceramah katanya. Setelah itu kami mewawancarai alumni dari sma
tersebut sebagai data pembanding, dan ternyata sama dengan apa yang dikatakan
ibu guru, yaitu metode ceramah.
Kondisi ruangan pembelajaran: untuk sarana dan
prasarananya lengkap dan nyaman, seperti ruangan tertutup, AC, Speaker, dan
Proyektor. Hal ini pasti mempengaruhi hasil belajar.
B.
Kelebihan
dan Kekurangan
1. Kelebihan:
Ruangan kelas yang nyaman, bersih, tertutup, dan fasilitas pembelajaran
lengkap, seperti Speaker dan proyektor.
2. Kekurangan:
kondisi kelas yang tidak kondusif, sehingga menimbulkan suasana belajar yang
tidak nyaman, selain itu juga motivasi belajar sejarah pun kurang karena
gurupun tidak memberikan motivasi lebih kepada siswanya selain metode yang
digunakan tidak variatif. Selain itu, guru jua kurang memanfaatkan fasilitas
penunjang yang ada di ruangan, seperti proyektor untuk menyampaikan soalnya.
C.
Tindak
Lanjut
Dengan kondisi siswa yang kurang memiliki kesopanan
terhadap guru dan temannya sendiri maka seharusnya guru memiliki kebijakan atau
peraturan yang harus di taati yang bersifat mengikat guna menciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif, dan wibawa seorang guru harus ditunjukkan supaya
siswa tersebut menghormati akan tetapi bukan ditakuti oleh siwa guna
terciptanya kondisi kelas yang kondusif dan bisa meningkatkan motivasi belajar
sejarah di dalam kelas. Selain itu juga guru sejarah harus menanamkan kecintaan
kepada siswa untuk belajar sejarah baik itu melalui pesan atau nasehat atau
menggunakan fasilitas penunjang yang ada seperti proyektor. Dari penjelasan
diatas maka akan sebaiknya guru mempunyai model pembelajaran yang lebih
variatif dan menarik supaya siswa dapat memeperhatikan dan berani untuk
bertanya karena siswa aktif dalam memeperhatikan. Karena biasanya dalam
pengalaman pribadi peneliti siswa cenderung tidak mau bertanya dikarenakan
karena kurang menariknya guru dalam melakukan penyampaian saat mengajar. dan
peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif jenis everyone is a teacher
here sebagai tindak lanjut dalam mengatasi masalah tersebut untuk di uji
cobakan.
Lampiran foto :

Suasana pada saat proses Remidial

Helm yang diletakkan di meja
belakang kelas

Pada saat Remidial menggunakan HP
dan mengobrol dengan teman disebelah

Saya pada saat penelitian

Pada saat wawancara dengan guru
sejarah


No comments:
Post a Comment