About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 9 January 2015

Laporan Observasi PTK

 









LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
DI KELAS XII IPS 2  GITA BAHARI SEMARANG


MENINGKATKAN KEBERANIAN BERTANYA SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MATERI “PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI” DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JENIS EVERYONE IS A TEACHER HERE DI KELAS XII IPS 2 SMA GITA BAHARI SEMARANG TAHUN AJARAN 2014/2015

Dosen Pengampu: Andy Suryadi, S.Pd., M.Pd.


Oleh:
RIWAN SUTANDI
3101412084

Rombel 5B


JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

A.    Deskripsi proses Pembelajaran
Landasan teori

Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.

DESKRIPSI PEMBELAJARAN
Pelajaran Sejarah hari ini dimulai pada jam ke 4 atau jam 10.15 di kelas XII IPS 2, dan setelah menunggu beberapa jam akhirnya kami dipersilahkan untuk masuk di pelajaran sejarah ini guna melakukan penelitian tindakan kelas. Akan tetapi guru masuk dan langsung memeberikan remidial kepada siswa karena minggu kemarin telah melakukan UTS. Seluruh siswa melakukan Remidial tanpa terkecuali. Guru langsung membacakan soalnya dan semua mencatatnya. Nah disinilah hal yang menarik yang belum pernah saya temukan di sekolah negeri. Bukan maksud hati membandingkan atau merendahkan sekolah swasta terhadap Negeri akan tetapi ini nyata di dalam lapangan.
Pada saat remidial pun siswa menciptakan suasana yang sangat gaduh dan seorang guru di depan hanya menegur seperti menegur anak SD. Mereka melakukan pindah-pindah tempat dan melahap semua jawaban dari temannya sendiri dan itu dilakukan di depan gurunya sendiri yang sedang mengawasi. Guru hanya bisa diam dan sekali-kali menegur dan setiap tegerun gurupun bisa di bantah oleh murid-muridnya atau di jawab untuk membenarkan mengapa ia pindah tempat, alasan panaslah, teman sebelah mengganggulah dan lain-lain. Selain itu, tidak ada ketenangan sama sekali pada saat proses remedial di kelas tersebut dan tukar menukar jawaban di depan guru itu dianggap sudah biasa saja. Selain itu juga, keluar masuk kelas sangat sering terjadi pada saat pembelajaran dilakukan dengan alasan yang tidak jelas. Setelah agak jenuh menunggu maka guru yang bersangkutan keluar dari dalam kelas dan suasana kelas pun menjadi tidak karuan. Entah memang mungkin karena kami ada sehingga mereka berbuat seperti itu atau memang seperti itulah mereka. Selain itu juga barang-barang yang tidak bersangkutan dengan pelajaran seperti HP dan helm juga masuk kelas, helm di letakkan di belakang atau meja yang paling belakang yang menjadikan ruang kelas tidak indah dipandang.
Sampai jam pelajaran habis sekitar pukul 11.45 guru tidak mengawasi lagi dan setelah waktunya habis guru baru masuk dan mengambil kertas remidial dan tidak ada kesimpulan untuk minggu depan materi apa yang akan dibahas sehingga langsung ditinggal keluar lagi. Setelah itu kami menunggu sebentar guna melakukan wawancara dengan guru yang bersangkutan, ternyata di tinggal tadi karena ada tamu yag datang. Dan saya menanyakan tentang kegaduhan di kelas dan gurunya menjawab memang seperti itu mas, dan saya bertanya lagi kepada alumni sekolah tersebut dan jawabnya memang seperti itu tidak hanya di pelajaran sejarah saja akan tetapi di seluruh pelajaran kecuali dengan bapak a karena gurunya galak, maka murid tersebut kondusif dan diam. Pada intinya dalam proses pembelajaran tersebut tidak ada kata kondusif dan tidak ada kesopanan yang dilakukan siswanya, baik dalam perbuatan dan kata-kata, selain itu guru juga kurang menggunakan sarana dan prasarana yang sudah ada dan lengkap di dalam kelas dalam pembelajaran sejarah guna meningkatkan motivasi lebih dalam pelajaran sejarah.
Karena pada saat melakukan observasi sedang dilakukan Remidial maka kami mengumpulkan datanya melalui metode wawancara, dimana kami mewawancari guru sejarah bersangkutan yaitu ibu Nafisa. Di dalam pembelajaran yang sering dilakukannya dalam penyampaiannya beliau sering melakukan ceramah katanya. Setelah itu kami mewawancarai alumni dari sma tersebut sebagai data pembanding, dan ternyata sama dengan apa yang dikatakan ibu guru, yaitu metode ceramah.
Kondisi ruangan pembelajaran: untuk sarana dan prasarananya lengkap dan nyaman, seperti ruangan tertutup, AC, Speaker, dan Proyektor. Hal ini pasti mempengaruhi hasil belajar.
B.     Kelebihan dan Kekurangan
1.      Kelebihan: Ruangan kelas yang nyaman, bersih, tertutup, dan fasilitas pembelajaran lengkap, seperti Speaker dan proyektor.
2.      Kekurangan: kondisi kelas yang tidak kondusif, sehingga menimbulkan suasana belajar yang tidak nyaman, selain itu juga motivasi belajar sejarah pun kurang karena gurupun tidak memberikan motivasi lebih kepada siswanya selain metode yang digunakan tidak variatif. Selain itu, guru jua kurang memanfaatkan fasilitas penunjang yang ada di ruangan, seperti proyektor untuk menyampaikan soalnya.

C.    Tindak Lanjut
Dengan kondisi siswa yang kurang memiliki kesopanan terhadap guru dan temannya sendiri maka seharusnya guru memiliki kebijakan atau peraturan yang harus di taati yang bersifat mengikat guna menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, dan wibawa seorang guru harus ditunjukkan supaya siswa tersebut menghormati akan tetapi bukan ditakuti oleh siwa guna terciptanya kondisi kelas yang kondusif dan bisa meningkatkan motivasi belajar sejarah di dalam kelas. Selain itu juga guru sejarah harus menanamkan kecintaan kepada siswa untuk belajar sejarah baik itu melalui pesan atau nasehat atau menggunakan fasilitas penunjang yang ada seperti proyektor. Dari penjelasan diatas maka akan sebaiknya guru mempunyai model pembelajaran yang lebih variatif dan menarik supaya siswa dapat memeperhatikan dan berani untuk bertanya karena siswa aktif dalam memeperhatikan. Karena biasanya dalam pengalaman pribadi peneliti siswa cenderung tidak mau bertanya dikarenakan karena kurang menariknya guru dalam melakukan penyampaian saat mengajar. dan peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif jenis everyone is a teacher here sebagai tindak lanjut dalam mengatasi masalah tersebut untuk di uji cobakan.







Lampiran foto :
Suasana pada saat proses Remidial

Helm yang diletakkan di meja belakang kelas
Pada saat Remidial menggunakan HP dan mengobrol dengan teman disebelah

Saya pada saat penelitian
Pada saat wawancara dengan guru sejarah




No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...