![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: SITI RAHMAWATI
|
|
|
NIM
|
: 3101412079
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku :
Judul Buku : Kontroversi G 30
S Antara Fakta & Rekayasa
Penulis :
Herman Dwi Sucipto
Penerbit : Palapa
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2013
Tebal Halaman :
234 hlm
B. Rangkuman
Isi Buku :
Tidak dapat
dipungkiri bahwa Gerakan 30 September atau biasa kita kenal G30S merupakan
sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September sampai tanggal 1
Oktober tahun 1965. Dalam peristiwa tersebut, enam perwira tinggi militer
Indonesia beserta beberapa orang lainnya diculik, lalu dibunuh dalam suatu
usaha kudeta (pengambilan kekuasaan) yang kemudian dituduhkan kepada anggota
Partai Komunis Indonesia.
Terlepas dari
siapa yang benar dan siapa yang salah, namun hingga saat ini, nilai kebenaran
sejarah tragedi September berdarah tersebut masih selalu ramai dipertanyakan
dan diperdebatkan. Sebelum mari kita cari tau sebenarnya PKI itu siapa ?
Awal dari
berdirinya PKI adalah dari Sarekat Islam yang di susupi oleh ISDV. Sarekat
Islam sendiri pada awalnya adalah perkumpulan pedagang pedagang Islam yang
diberi nama Sarekat Dagang Islam. Perkumpulan yang didirikan oleh Haji
Samanhudi tahun 1911 dikota Solo. Perkumpulan tersebut semakin berkembang pesat
dan dipandang sebagai salah satu gerakan pesat ketika Tjokroaminoto memegang
tampuk pimpinan SDI pada tahun 1912. Dibawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto
pula, SDI berganti anam menjadi Sarekat Islam.
Pada awalnya
berdirinya Sarekat Islam bertujuan untuk menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang
Islam Jawa. Hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina, mendoorng
pedagang pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang pedagang Cina. Di
samping itu, agama Islam merupakan faktor pengikat da penyatu kekuatan pedagang
pedagang Islam.
Gubernur
Jenderal Idenburg (1906-1916) yang berkuasa pada saat itu tidak menolak
kehadiran Sarekat Islam, karena mengganggap organisasi ini hanya perkumpulan
atau organisasi biasa yang tidak merongrong kekuasaan Hindia Belanda. Mendapat
angin keleluasaan seperti itu membuat keanggotaan Srekat Islam semakin luas.
Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya partai politik, Sarekat Islam
berubah menjadi partai politik dan mengirimkannya wakilnya pada Volksraad (semacam
Dewan Rakyat) pada tahun 1917. Partai Sarekat Islam mewakilkan HOS
Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis.
Sarekat Islam
mengalami perkembangan pesat, kemudian mulai disusupi oleh paham sosialisme dan
revolusioner. Paham ini disebarkan oleh Henk Sneevliet yang mendirikan
organisasi ISDV (Indische Sociaal
Democratishe Vereeniging) pada tahun 1914. Mereka menggunakan taktik
infiltrasi yang dikenal sebagai “blok di dalam”, mereka berhasil menyusup ke
dalam tubuh Sarekat Islam.
Pada masa masa
awal berdirinya, ISDV mempunyai gerakan yang biasa biasa saja. Namun demikian,
organisasi ini dengan cepat berkembang
menjadi radikal dan anti kapitalis. Ideologi ini kemudian menjadi salah satu
sumber inspirasi hingga lahirlah sebuah organisasi yang berpaham komunis yang
ada di Indonesia atau tepatnya Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sekitar Mei
tahun 1920, ISDV secara resmi diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia
(PKH). Semaoen diangkat menjadi ketua Partai. PKH adalah partai Komunis di Asia
yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Pada tahun 1924 nama partai ini
sekali lagi diubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan PKI yang sudah
mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah organisasi yang tidak tergantung atau
berkaitan dengan organisasi lain, berupaya menguatkan organisasinya dengan
segala cara.
Dan propaganda
PKI dalam melawan Kolonial Belanda diantaranya
pemberontakan yang terjadi pada 12 November 1926. Target utama
pemberontakan adalah kaum priyayi dan dipilih secara selektif (kaum priyayi
bukan asli banten dan suka melakukan kekerasan kepada rakyat) yang menjadi
target pemberotakan adalah merek ayang dianggap menecemari nama baik Banten.
Selanjutnya aksi pemberontakan yang terjadi di Sumatera Barat. Namun sebelum
rencana pemberontakan tersebut terlebih dahulu tercium oleh Belanda. Oleh
karena itu, Belanda segera bertindak dengan menangkap pemimpin pemimpin PKI
Sumatera Barat. Meskipun para pemimpin PKI Sumatera Barat banyak yang
tertangkap dan dipenjara, tetap pemberontakan tetap meletus. Pemberontakan tersebut
terjadi sekitar pukul 00.00 dini hari pada tanggal 1 Januari 1927. Aksi ini
dimulai di kantor polisi Muara Kalaban yang dibom oleh kesatuan Muara Kalaban
yang dipimpin oleh Karim Maroko dan Muluk Chaniago. Di Tanjung Ampulu pada
tanggal 1 Jamuari 1927 terjadi aksi pembakaran rumah rumah milik para pegawai
pemerintahan kolonial Belanda dan kaki tangannya. Para pelaku pemberontakan
tersebut terdiir dari buruh tani yang jatuh miskin, para pedagang yang
bangkrut, para buruh perkebunan, dan kaum bramacorah.
Dan juga
peristiwa Madiun yang terjadi pada tahun 1948. Banyak versi dan salah satunya
adalah bahwa pada peristiwa tersebut terjadi penculikan tokoh tokoh masyarakat
yang ada di Madiun, baik itu dilakukan kepada tokoh tokoh maupun tokoh militer
di pemerintahan ataupun tokoh tokoh masyarakat dan agama. Pemebrontakan ini di
pimpin oleh Musso. Dia membentuk sebuah arus gerakan bawah tanah komunis yang
berorientasi ke Stalin. Organisasi ini sering disebut debagai “PKI tidak
resmi”. Central Comite (CC) atau semacam struktur sari organisasi ini terdiri
dari Musso, Pamudji, Azis, Sukajat, dan Djoko Soedjono. Tokoh tokoh inilah yang
kemudian menjadi pimpinan pemberontakan Madiun dan berperan besar dalam
peristiwa Madiun. Peristiwa Madiun 1948, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh
keadaan sosial ekonomi rakyat yang terjadi pada saat itu. Realitas dan kondisi
rakyat secara keseluruhan memang sangat mengkhawatirkan sekaligus mengenaskan.
Pada tanggal 18 September, para pendukung PKI merebut tempat tempat strategis di
daerah Madiun, membunuh tokoh tokoh yang pro pemerintah dan mengumumkan melalui
radio bahwa pemerintah front nasional telah terbentuk. Sekitar tengah malam
tanggal 18 September kira kira 20 jam setelah dimulainya aksi radikal di
Madiun, Musso bersama dengan Syarifudin, Setiaadjit, dan Wikana tiba di rumah
Sumarsono (dekat pinggiran kota Madiun). Setelah melakukan diskusi Musso
beserta tokoh tokoh yang lain mengambil keputusan untuk melanjutkan aksi yang
sudah berjalan, karena tidak ada jalan lain untuk mengakhiri kemelut yang ada.
Musso mengabaikan ultimatum dari Presiden akhirnya pemerintahan mengambil
tindakan penumpasan. Penumpasan terhadap pemberontakan Musso terus dilakukan
oleh Divisi Siliwangi. Setelah 10 hari bertempur, kelompok pemberontak terdesak
dan keluar Madiun. Dan Musso tewas dalam sebuah penyergapan yang dilakukan oleh
aparat militer divisi siliwangi. Dan pemimpin yang lainnya ditangkap.
Pemberontakan
PKI tahun 1948 di Madiun, tidak menyebabkan PKI dibubarkan secara keseluruhan.
Hal ini terjadi, karena pada saat itu pemerintah Republik Indonesia direpotkan
dengan agresi militer Belanda II. Dan pengaruh dari Aidit sangat lah besar. PKI
dapat bangkit kembali. Aidit memperoleh kesempatan untuk merehabilitasi PKI
dalam alam politik Indonesia. Maka dari itu ia dan kawan kawan menyusun
strategi dan taktik untuk memperoleh kesempatan duduk dalam pemerintahan.
Disepakati bahwa dalam rencana tersebut, PKI perlu mengadakan aliansi dengan
kekuatan kekuatan politik yang besar saat itu. Pada awal tahun 50an, di
Indonesia terdapat dua partai yang hisa dikategorikan besar, yaitu PNI (Paratu
Nasional Indonesia) dan Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia). Menurut
jalan pikiran PKI, yang potensial dan harus didekati adalah PNI.
PKI menawarkan
agenda politik kepada PNI untuk membentuk kabinet baru tanpa Masyumi. Meski[un
kemudian dalam kabinet yang baru yang dibentuk oleh pimpinan Mr.Wilopo (PNI)
masih terdapat pula menteri menteri dari Masyumi, tetapi PKI tetap menyatakan
dukungannya walaupun kecewa karena Masyumi tetap diikutsertakan. Pertanyaan
dukungan dari PKI itu berisi pemberitahuan kepada partai partai pendukung
kbinet bahwa PKI bersedia mendukung mereka dengan satu syarat, yaitu agar
partai partai politik mengahapus kecurigaan dan sikap anti terhadap PKI beserta
organisasi organisasi massanya. Uapay PKI tersebut berhasil dan sejumlah
pimpinan PNI mulai bekerja sama dengan PKI.
Setelah kabinet
Wilopo jatuh kemudian terbentuklah kabinet baru yang di pimpin oleh Mr.Ali
Sastroamidjojo. Kabinet ini disebut dengn Kabinet Ali Satroamidjojo I. Pada
masa pemerintahan Ali Sastroamidjojo I, PKI memberikan dukungannya secara gigih
kepada PNI. Walaupun diketaui oleh umum bahwa kabinet tersebut tidak berhasil
mengatasi kesulitan ekonomi ang dihadapi bangsa Indonesia, tetapi PKI tetap
membela kabinet Mr. Ali Sastroamidjojo I. Setiap kali kabinet terancam
perpecahan dari dalam, PKI mengadakan pembelaan yang keras untuk kabinet dan
menyerang kelompok kelompok yang hendak menjatuhkannya. Hal itu dilakukan
sebenarnya untuk memperkuat posisi politik PKI saat itu.
Peta kekuatan
PKI semakin terlihat pda pemilihan umum 1955. Berkat kepemimpinan dan
propaganda Aidit yang intensif, PKI berhasil mengumpulkan enam juta suara
pemilih. Namun, meskipun PKI berhasil mendapatkan suara yang cukup besar dalam
pemilu, PKI tidak berhasil duduk dalam susunan kabinet yang terbentuk setelah
pemilu dilakukan. Dalam suasana yang kurang menguntungkan bagi PKI tersebut,
Presiden Sukarno secara terbuka menyatakan keinginannya agar PKI dikiutsertakan
dalam kabinet. Namun, keinginan Presiden tersebut tidak terwujud karena kabinet
merupakan koalisi antara PNI-Masyumi-NU. Kabinet yang terbentuk ini dinamakan
sebagai Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Keadaan yang
dihadapi oleh Kabinet Ali Sastroamidjojo II memang cenderung dapat dikatakan
sulit, apalagi setelah Drs. Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan
sebagai wakil Presiden pada bulan Desember 1956. Bercerainya Dwitunggal
Soekarno-Hatta merupakan perkembangan yang menguntungkan bagi PKI, karena setelah
itu PKI lebih leluasa melakukan gerakan politiknya dalam upaya penarikan
Soekarno agar lebih mendekat lagi kepada PKI.
Kemenangan PKI
sendiri pada pemilu 1955 merupakan pencapaian yang luar biasa. Dengan
kemenangan ini PKI berusaha kembali mewujudkan tujuan politiknya yang telah
gagal mereka capai pada tahun 1948. Untuk mencapai tujuan poitik tersebut, PKI
melakukan langkahnya dengan cara menanamkan pengaruhnya di berbaga bidang
kehidupan berbangsa dan bernegara, baik di bidnag ideologi, politik, maupun
militer.
Dalam bidang
ideologi PKI telah melancarkan upaya perubahan yang mendasar terhadap Pancasila
dnegn berusaha mengganti sila pertama dari Pancasila, yakni “Ketuhanan Yang
Maha Esa” dengan rumusan “Kemerdekaan Beragama”. Jelas bahwa PKI berusaha untuk
mengganti Pancasila dengan paham lain. dalam Bidang politik dan militer, PKI
menyusun strategi politik yang dilakukannya pada kongres V yang diselenggarakan
pada tahun 1954. Strategi politik PKI tersebut mereka sebut dengan Metode
Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan (MKTBP). Salah satu sasaran dari strategi ini
adalah menanamkan paham komunisme di kalangan anggota anggota Tentara Nasional
Indonesia atau militer Indonesia sebagai kekuatan sosial politik yang menentang
PKI.
Pada Demokrasi
Terpimpin PKI semakin berusaha untuk masuk lebih dalam lagi pada pusat
pemerintahan. Keleluasaan PKI semakin bertambah ketika Presiden membentuk Front
Nasional. Pembentukan Front Nasional tersebut semula dimaksudkan sebagai
penggerak masyarakat, tetapi dalam kenyataannya menyimpang dari tujuan tersebut
karena badan itu menjadi sasaran gerakan bawah tangan PKI untuk dibawa ke dalam
strategi Front Persatuannya. PKI berusaha membawa Front Nasional menjadi alat
politiknya dengan cara memanfaatkan organisasi organisasi massa, yang menjadi anak
organisasi PKI atau organisasi yang sudah terpengaruh paham komunisme.
Taktik
keberhasilan PKI secara politik semakin memperkuat PKI untuk memperbesar serta
mencapai cita cita yang diinginkan. Untuk menyeimbangkan kekuatan, PKI
melakukan “ofensif manipolis”, yaitu gerakan PKI dalam rangka mendukung
Manifesto Politik (Manipol). Kemudian ditingkatkan menjadi “Ofensif
revolusioner” (Gerakan Mengobarkan aksi aksi masa untuk memberantas lawan lawan
PKI), yang ditujukan kepada semua kekuatan sosial politik yang tidak mereka
senangi. Selain itu PKI juga berusaha pula merangkul golongan lain yang kiranya
dapat dijadikan “kawan”, seperti Partindo dan menyusupi PNI melalui Ir.
Surachman yang ketika itu menjabat sebagai Sekjen DPP PNI.
Pada tahun 1964
, intensitas ofensif revolusioner PKI terhadap tokoh tokoh politik yang
dianggap sebagai lawannya makin ditingkatkan. Secaar konsisten, PKI melancarkan
tuduhan kontra revolusi terhadap lawan lawan politiknya. Posisi PKI semakin
kuat dengan dibentuknya kabinet Dwikora pada tanggal 27 Agustus 1964 yang
didalamnya duduk beberapa tokoh PKI sebagai Menteri Koordinator (Menko) dan
menteri.
Dan pada
peristiwa pembunuhan yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 sampai 1
Oktober 1965. Pada saat itu 6 perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa
orang lainnya dibunuh dalam usaha yang diduga merupakan upaya kudeta
(pengambilan kekuasaan) yang kemudian dituduhkan kepada anggota PKI.
Kronologis dari
peristiwa itu kuran lebih sebagai berikut. Sekitar jam 07.00 pagi, RRI Jakarta
menyiarkan berita bahwa pada kamis tanggal 30 September 1965, di Jakarta telah
terjadi gerakan militer dalam Angkatan Darat yang dinamakan “Gerakan 30
September”, dipimpin oleh Letkol Untung, Komandan Batalion Cakrabirawa,
pengawal pribadi Presiden Sookarno. Gerakan tersebut ditunjukkan kepada
jenderal jenderal yang menamai dirinya dengan Dewan Jenderal. Komandan Gerakan
30 September itu menerangkan bahwa setelah itu akan dibentuk Dewan Revolusi
Indonesia dari tingkat pusat, kabupaten kecamatan desa.
Sekitar jam
13.00 siang hari itu juga, RRI menyiarkan berita mengenai Dekrit No.1 tentang
Pembentukan Dewan Revolusi Indonesia dan keputusan No.1 tentang susunan Dewan
Revolusi Indonesia. Dalam siaran yang kedua ini, diumumkan bahwa struktur dalam
aksi yang menamai gerakan 30 September adalah Letkol Untung sebagai komandan,
Brigjend Supadjo, Letkol Udara Heru,
Kolonel Laut Sunardi dan Ajun Komisaris
Besar Polisi Anwas sebagai Wakil Komandan.
RRI Jakarta pada
jam 19.00 menyiarkan pidato radio panglima komando cadangan strategis Angkatan
Darat (Kostrad), Mayjend Suharto yang menyampaikan bahwa gerakan 30 September
tersebut adalah golongan kontra revolusioner, yang telah menculik beberapa
perwira tinggi Angkatan Darat dan telah mengambil alih kekuasaan negara dari
presiden atau pimpinan Besar Revolusi Soekarno. Sedangkan, perwira perwira
tinggi Angkatan Darat yang telah diculik ialah Letjend A.Yani, Mayjend
Suprapto, Mayjend S.Parman, Mayjend MT. Haryono, Brigjend D.I Pandjaitan, dan
Brigjend Sutoyo Siswomihardjo. Dengan prosedur tetap Angkatan Darat, Mayor
Jenderal Suharto mengumumkan bahwa untuk sementara pimpinan Angkatan Darat
dipegang oleh dirinya.
Selanjutnya
tengah malam tanggal 1 Oktober 1965 menjelang 2 Oktober, RRI menyiarkan lagi
tentang pengumuman yang disampaikan oleh presiden atau panglima tinggi Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia (sekarang TNI). Dinyatakan bahwa PBR (Pemimpin
Besar Revolusi), yakni Soekarno dalam keadaan sehat dan tetap memegang pimpinan
negara dan revolusi. Selang 1 hari setelah itu, yakni pada tanggal 30 Oktober
1965, jam 01.30 RRI menyiarkan pidato Presiden Soekarno. Isi pidato tersebut
menegaskan kembali bahwa beliau berada dalam keadaan sehat walafiat dan tetap
memegang tumpuk pimpinan negara serta tampuk pimpinan pemerintahan dan revolusi
Indonesia.
Pada aksi
bersenjata yang dikenal dengan Gerakan 30 September atau awal Oktober 1965 di
Jakarta ini, diperkirakan terjadi pada 00.00 tanggal 30 September 1965. Pada
versi yang lain menyebutkan dimulai pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul
01.30. Pada awal peristiwa tersebut, Letnan Kolonel Untung dengan diikuti Sjam,
Pomo, Brigjend TNI Supardjo dan Kolonel A. Latief toba di lubang Buaya. Ia
memberikan perintah pelaksanaan kepada semua komandan pasukan agar segera
berangkat menuju ke sasaran masing masing yang telah disiapkan.
Kontroversi
tentang siapa dalang dari peristiwa Gerakan 30 September hingga sekarang masih
menjadi perdebatan. Perbedaan pandangan dan kontroversi yang terjadi pula dalam
melihat Gerakan 30 September. Terlepas dari siapa dalang sebenarnya dari
Gerakan 30 Septembersejarah mencatat bahwa peristiwa tersebut telah menewaskan
beberapa petinggi militer Indonesia. Walaupun ada beberapa kalangan yang
menyebutkan bahwa dalang peristiwa tersebut adalah PKI yang populer dikalangan
masyarakat pasti menyebut bahwa dalangnya adalah PKI. Adapun yang menyebutkan
Perwira Angkatan Darat dengan PKI atau Presiden Indonesia saat itu yaitu
Soekarno, adapula yang menyebutkan keterlibatan Soeharto bahkan dugaan
keterlibatan Amerika dan CIA.
Komentar
:
Dalam bukunya
berjudul “Kontroversi G 30 S Antara Fakta & Rekayasa”, Herman Dwi Sucipto
mencoba untuk mengolah berbagai fakta sejarah yang terjadi saat pra peristiwa
G30S maupun pasca G30S. Herman Dwi Sucipto mengarahkan karyanya pada
prespektifnya sendiri yang berkaitan dengan peristiwa G30S. Peristiwa yang G 30
S sendiri seperti yang kita ketahui tetap menjadi sejarah kelam bangsa
Indonesia. Peristiwa berdarah tersebut masih menyisakan teka teki besar
siapakah dalang terhadap peristiwa tersebut yang sampai sekarang masih belum
dapat dipecahkan.
Dalam bukunya
juga Herman Dwi Sucipto mengungkap peristiwa Gerakan 30 September dari berbagai sudut
pandang. Sudut pandang pertama merupakan versi yang paling populer atau versi
paling lama beredar di seluruh rakyat Indonesia. Penulis mencoba menguraikan berbagai peristiwa yang
mengantarkan PKI yang banyak kalangan menyebutkan bahwa PKI sebagai dalang dari
peristiwa G30S. Dari mulai awal berdirinya PKI yang dahulunya berakar dari
Sarekat Dagang Islam kemudian berubah menjadi Sarekat Islam kemudian setelah
disusupi oleh paham paham sosialisme dan revolusioner berubah lagi menjadi
Partai Komunis Indonesia.
Bukan hanya
membahas tentang PKI namun juga dijelaskan tentang tokoh tokoh yang berperan
dalam peristiwa tersebut, seperti Aidit dan tokoh lainnya. Buku ini juga
menyebutkan Amerika dan CIA yang diduga ikut terlibat dalam peristiwa G30S.
Para Jenderal yang gugur pun dijabarkan dalam buku ini.
Kekurangan dalam
buku ini adalah sebagian besar isi dari buku itu sendiri yang terlalu membahas
tentang PKI. Perspektif dari penulis yang terlalu PKI sentris menyebabkan
kurang menariknya buku ini.


No comments:
Post a Comment