About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 1 May 2015

Resensibuku MENGAPA ORDE BARU GAGAL ?

Identitas Mahasiswa
Nama
: MIFTAH ULZANAH
NIM
: 3101412053
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B

A.      Identitas Buku.
Judul buku                       : MENGAPA ORDE BARU GAGAL ?
Penulis                              : M.J Kasiyanto
Penerjemah                       : Christianto Wibisono
Karikatur                          : GM Sudarta
Penerbit                            : Yayasan Tri Mawar , CV Cakra Media
Sampul                             : M.J. Kasiyanto
Tebal Buku                       : 236 hlm : 14,5 x 21 cm

B.       Sinopsis Buku.

ULAH KERAPUHAN ORDE BARU :
12 PROGRAM YANG MEMBUAT TERJUNGKAL
Kemaruk Kemenangan
Partai-partai politik  yang ada khususnya yang mendukung Soekarno dituntut untuk lengser dan tak hanya PKI namun juga seluruh tokoh pemerintahan orde lama. Inilah yang nantinya menghasilkan  kemerosotan besar-besaran perolehan partai-partai tersebut dalam pemilu jaman Orba 1917. Setelah aksi-aksi demonstrasi mereda, dan karena PKI dan tokoh-tokoh Orla bisa digusur, maka tokoh-tokoh kesatuan aksi banyak yang bergabung dengan Golkar, yaitu untuk menghaapi pemilu pertama jaman Orde Baru. Itulah sebabnya Golkar segera menarik perhatian rakyat dan menjadi harapan rakyat untuk menggerakkan pembangunan Indonesia.

Belajar Melanggar HAM
Golkar dan ABRI dalam pemerintahan Orba secara tak sadar menyamai bibit kelemahan yaitu suka melanggar HAM dan azas demokrasi, ini terjadi ketika mereka melakukan pemberantasan PKI dan antek-anteknya dimana jutaan orang terampas hak azasinya karena dituduh/dicap tersangkut atau berbau komunis. Bahkan juga orang yang lahir setelah tahun 1965 bisa terkena cap tersangkut G30S PKI. Inilah pelanggaran HAM terhadap jutaan orang yang lahir setelah 1965 dan sampai saat ini tak ada ekspon Orde Baru yang menggugat.
Kemenangan Golkar dan ABRI dalam peristiwa G30S PKI dan kemudian diresmikan dalam pemilu 1971 telah membuat Orde Baru kemaruk kemenangan dan sesuatu yang berlebihan memang selalu menerbitkan suatu jenis penyakit, maka munculah virus Orba yang akan berkembangbiak disetiap program Orde Baru. Untuk ini perlu dikaji skema “Dari Mana Datangnya KKN?”
Pada 12 program berkembangbiak virus Orba yang pada 1997/1998 menghasilkan krismonekpol bagi RI

1.      Program Akselerasi Modernisasi Pembangunan
Dalam jangka 25 (1971-1998) direncanakan pendapatan per kapita penduduk Indonesia naik 3 kali lipat dan pedapatan nasioanal rata-tara 8% per tahun, rincian pokok-pokok program antara lain : Program Pembangunan Lima Tahun (PELITA), Rencana Pelita (REPELITA) yang dirinci dalam rencana Pembangunan Dan Belanja Negara (RAPBN). REPELITA dan RAPBN  disamping menghasilkan proyek-proyek yang sangat bermanfaat namun juga menumbuhkan jaringan korupsi dan kolusi dalam engajuan DUP (Daftar Usulan Proyek) dan DIP (Daftar Isian Proyek) yang diserahkan kepada Pemda untuk dilaksanakan di daerahnya. Selanjutnya KKN ini menjadi melembaga karena kekuasaan dan kontrol berada pada satu penguasa selama bertahun-tahun (Golkar,Soeharto).

2.      Trilogi Pembangunan
Trilogi Pembangunan menghasilkan krisis, tetapi Trilogi Pembangunan juga mempunyai andil dalam mengokohkan kelestarian Golkar dan Soeharto, sebab : Hasil pembangunan selalu bisa diberi lebel demi tercapainya sasaran Trilogi Pembangunan, Kegiatan/Kritik yang merugikan dalam mengancam pemerintah bisa dicap mengganggu stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, Trilogi ini juga bisa untuk menjadi alasan dalam mengumpulkan dana sumbangan dari kalangan pengusaha yaitu dalam rangka pemerataan pembanguan dan terciptanya keadilan sosial, Namun kenyataanya pemerataannya memang tertinggal dan ini menimbulkan masalah fatal sebab ini berarti daya beli mayoritas penduduk Indonesia tertinggal (tetap rendah). Artinya pertumbuhan banya perusahaan terhambat karena lemahnya daya beli konsumen. Pasar cepat jenuh.Perusahaan-perusahaan tak mampu mengumpulkan laba mencukupi untuk membayar kredit bank, dari dalam negeri maupun luar negeri. Dan ketika kurs rupiah digoyang muncullah sang krismonekpol itu.

3.      Dwifungsi ABRI
Dwifungsi ABRI menjadi landasan untuk meluasnya partisipasi ABRI disegala bidang dan kalau dihitung partisipasinya dalam pertahanan dan keamanan malah lebih kecil dibandingkan fungsinya dalam bidang sipil. Sebab keamanan negara memang semakin lama semakin baik, karena orang makin segan berperang, sedang masalah dalam bidang sipil malah semakin komplek dan tajam. Maka ini berarti peluang dalam bidang sipil dan ABRI semakin dibuka lebar-lebar dan nikmat.

4.      Golkarisasi LSM
Dengan semakin meningkatnya ancaman PKI pada saat itu TNI AD membangun sekretriat bersama (sekber) 97 organisasi masa dan lembaga swadaya masyarakat yang tak berafiliansi pada partai politik yang ada di Indonesia,berlandaskan Pancasila dan UUD 45, Tanggal 20 Oktober 1964 diresmikanlah berdirinya Sekber Golongan Karya.
Golkar sebagai organisasi politik juga menjadi ajang perebutan pengaruh dan kekuasaan diantara unsur-unsur golongan yang ada dalam GOLKAR. Adanya unsur ABRI yang kuat bahtera Golkar masih bisa diselamatkan, sehingga masih nampak solid dan kompak serta bisa berkiprah hampir 34 tahun.

5.      Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4)
Dengan adanya P4 pembangunan rumah ibadah dan pendalaman iman umat beragama ditingkatkan, fenomena menunjukan bahwa pembangunan masjid, gereja, wihara, klenteng, dsb. Bahkan pemerintah banyak memberi subsidi kepada pejabat dengan anggota KOPRI atau ABRI yang akan naik haji
Namun lembaga-lembaga penelitian internasional selalu menemukan kenyataan bahwa Indonesia selalu memegang kejuaraan dalam internasional korupsi, mafia peradilan merajalela dan tak seorangpun bisa mengalahkan atau membendungnya, kejahatan krah putih, biru, hitam maupun kuning semakin merajalela.
Inilah kegagalan paling fatal Orde Baru, tak mampu menghasilkan bibit-bibit yang bisa memberi koreksi pertumbuhan dan perjalanan Orba, sehingga Golkar dan jaringan pemerintahannya.

6.      Penyederhanaan parpol
Pada 1973 di adakan penyederhanaan parpol, 4 partai politik Islam bergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (P3) yaitu NU, Permusi, PSII dan Perti. Sedang 5 partai politik lainnya yaitu PNI, IPKI, Katolik, Parkindo dan Murba bergabung menjadi partai Demokrat Indonesiam
Para anggota partai  menyukai kebijakan ini sebab demikian mereka berharap akan dikumpulkan kekuatan suara untuk menyaingi dominasi Golkar. Akan tetapi dengan demikian timbul penyakit baru, yaitu heterogenetas personalia pengurus partai ada kelompok eks NU, ada eks PSII, Permusi atau Perti untuk Partai Persatuan Pembangunan.



7.      Undang-undang Politik
Orde Baru telah meluncurkan beberapa undang-undang yang mengatur kehidupan politik RI, misalnya UU Susunan dan kedudukan DPR dan MPR, UU organisasi massa, UU Pemilu, UU pokok Pers dll yang semuanya bersumber dalam rangka melaksanakan UUD 45. Kajian UUD 45 ini menunjukkan bahwa UUD ini gampang dimanipulir karena justru terlalu sederhana pasal-pasalnya, Untuk ini bisa dibaca Reformasi 1 halaman 57. Maka banyaknya manipulasi atas pelaksanaan UUD 45 inilah yang menyebabkan UU politik itu hakekatnya malah mematikan demokrasi.
Sebagai contoh UU Pemilu yang menentukan bahwa pemilu hanya mencoblos tanda gambar yang disediakan maka hakekatnya wakil rakyat anggota DPR dan MPR itu bukan dipilih rakyat namun dipilih oleh pengurus Partai dan Golkar. Jadi kalau para pengurus Golkar bermain KKN maka hasilnya antara lain satu keluarga bisa menjadi anggota DPR dan MPR.
Bahkan dikalangan mass media pun terjadi pembunuhan ide dengan menyingkirkan semua karangan yang berbau kritik terhadap pemerintahan. Tentu itu semua berarti memupuk bom waktu yaitu semakin banyak anggota masyarakat yang kesal dan memendam amarah sehingga suatu ketika akan meledak.

8.      Program merangkul Umat Islam dan menjinakkan DI/TII
Dilakukan dengan sistematis yaitu dengan membangun Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila(YABMP) dengan membangun ribuan masjid diseluruh Indonesia, mendirikan ICMI, MUI, golkarisasi pesantren dan kelompik ulama dsb. Dengan masih adanya kerusuhan berupa perusakan toko etnis Cina, pengrusakan pembakaran rumah ibadah non muslim di Jatim, Jateng, Jabar, Medan, Banjarmasin, Ujung pandang dan memuncak di Jakarta pada 13 dan 14 Mei 1998. Dengan demikian dipertanyakan bagaimana hasil program merangkul umat Islam dan menjinakkan DI/TII itu?

9.      Remunerasi dan uang pensiun PNS dan ABRI minim
Pengamat asing selalu heran mengapa di Indonesia tidak pernah ada pemogokan PNS dan ABRI padahal mereka diberi upah jauh dibawah standar hidup. Namun setelah mereka mngamati lebih jauh maka disimpulkan pemogokan memang tak perlu karena sudah diimbangi dengan intensitas korupsi yang tinggi dan meluas, korupsi di Indonesia memang tergolong paling atas. Seandainya remunasi (upah dan kesejahteraan) PNS dan ABRI bagus dan cukup untuk hidup wajar selama sebulan maka KKN tidak separah ini.

10.  Penumpasan dan Pemberantasan Komunisme
Tak di anggap pelanggaran HAM kalau itu untuk menegakkan Orde Baru tegasnya pemerintahan Golkar. Pahlawan Revolusi akibat G30S/PKI tak lebih 20 orang, namun berapa orang PKI yang dieksekusi via peradilan biasa maupun peradilan militer, yang dihukum penjara, yang di buang ke P.Buru diperkirakan ada belasan ribu.
Dendam dihati atas jatuhnya banyak korban orang-orang yang sesungguhnya hanya tertipu oleh propaganda komunis. Oleh karena itu tak perlu terkejut kalau muncul kelompok dengan bendera muslim tapi kebengisannya seperti PKI di Lubang Buaya. September 1998 setelah kerusuhan da demonstrasi di Jakarta bisa di atasi pemerintah, tiba-tiba muncul banyak kerusuhan dari Cilacap, Kebumen, Jember, Malang, Medan Pontianak dan Bagansiapiapi Riau. Bukankah ini taktik desa menggepung kota, cara komunis untuk membuyarkan pemusatan pasukan dan kewaspadaan pemerintah.

11.  Pembangunan yayasan-yayasan pengumpul dana bantuan
Dalam jaman Orde Baru peranan yayasan-yayasan yang ditugaskan  mengumpulkan daa sumbangan memang besar, besar dalam jumlah dan jenisnya maupun besar dalam perolehan dananya.
Yang penting diperhatikan adalah adanya dampak negatif yang ditimbulkannya. Sumbangan donatur yang harus diberikan relatif jumlahnya harus besar, karena diminta oleh seorang kepala negara, jelas ini menyebabkan adanya ikatan tertentu. Antara lain pihak yang menyumbang minta imbalan dalam bentuk fasilitas atau kerjasama yang lain alias kolusi. Runtuhnya Presiden Soeharto sumber pokoknya adalah yang menyangkut yayasa, perusahaan keluarga, ikatan atau KKN-nya dengan banyak perusahaan konglomerat sehingga menyebabkan pengendalian moneter kabinet RI selama 32 tahun memang lemah. Pemerintah tidak bisa mengendalikan polah tingkah pengusaha dan perusahaan karena para pejabatnya terlibat KKN dengan pengusaha.
Dan semua itu menimbulkan pesimisme dalam mengatasi masalah KKN sebab jaringan yang terlibat terlalu luas yaitu disamping pengusaha, pejabat, bank dan pejabat pemerintah maka termasuk juga pejabat dan orang swasta (perusahaan akuntan, konsultan, pengacara) yang berada dalam jajaran penegak hukum dan keadilan di negeri ini.

12.  Kebijakan satu orang lorong WNI Cina
Pemerintah Orde Baru kompak menerapkan kebijaksanaan satu lorong bagi WNI keurunan Cina, artinya WNI Cina ini boleh berkiprah dimana saja dibidang swasta kecuali dibidang pemerintahan dan ABRI. Untuk bidang usaha para pejabat pemerintah malah lebih suka berkolusi dengan pengusaha WNI Cina dari pada dengan pribumi atau WNI keturunan Arab. Hubungan kerjasama demikian eratnya sehingga pihak partnernya sering mendapat macam-macam keistimewaan dalam mendapat fasilitas usaha, dalam pergaulan, dalam perjijinan dan lain-lain, para karyawan bawahan pejabat ini sering dibuat cemburu sebab hubungan pak pejabat dengan pengusaha Cina itu melebihi kakak-adik, sangat akrab dan sangat dipercaya nasehat maupun  usul-usulnya. Maka dengan demikan pengusahan dan pejabat itu punya duit melimpah dan kekuasaan tak terbatas, hasilnya mabuk kekayaan dan kekuasaan, hasilnya 1997/1998 sudah hilang.

Evakuasi krisis ekonomi dan Moneter:
BERAWAL DARI DONGKRAK TRILOGI
YANG TAK SEMBANG

Merajalelanya membangun dengan modal dengkul dan kolusi, itulah salah satu sumber kesulitan ekonomi Indonesia saat ini. Artinya untuk membangun suatu usaha/proyek para penanam modal tidak menyiapkan modal dasar dari tabungan atau kekayaan hartanya, namun dengan langsung mencari pinjaman bank untuk modal dasarnya. Bila langkah modal dengkul dan kolusi sudah terjalin maka langsung bisa ditingkatkan menjadi proyek dengan pembengkakan biaya (mark up), kalau semua dengan dana miliar rupiah sudah cukup maka ketika minta kredit bank biaya proyek dilipatkan menjadi 2-2,5 miliar rupiah.
Membanjirnya permintaan kredit melahirkan kebijaksanaan bunga simpanan (tabungan dan depositio) yang tinggi utuk menyedot dana masyarakat. Akibat berikutnya bunga kredit juga harus disesuaikan maka muncul pula bunga kredit tinggi yang membebani dunia usaha. Tingginya bunga kredit dalam negeri dan besarnya bunga tabungan dan deposito menitikkan air liur tukang putar uang, caranya pinjam kredit uag asing di bank luar negeri (yang bunganya rendah) lalu didepositokan dalam bentuk rupiah pada bank dalam negeri yang besar bunganya itu.

Saham jatuh, pembeli nihil
Harga saham berjatuhan  sampai tidak mungkinlaghi diturunkan, misalnya kalau harga saham sudah anjlk menjadi Rp.100,- ,maka sulit sekali kalau masih harus turun  menjadi Rp.50,-/saham. Mengapa harga kebutuhan pokok masyarakat ikut naik, konon kata banyak sumber, karena para produsen dan pedagang baghan pokok itu juga terlilit hutang sistem modal dengkul itu, atau banyak komponen bahan bakunya berasal dari impor. Oleh karena usaha yag masih jalan dibebani tugas untuk ikut menanggulangi membengkaknya utang. Jadi jangan terkejut kalau harga miyak goreng, susu, bawang, berambanhg, beras, triplek, kertas, dan lain-lain ikut naik. Sehingga masyarakat semakin resah.

Daya beli lemah
Tertinggalnya daya beli lebih dari 70 persen penduduk Indonesia yaitu rakyat kecil diperkotaan dan seluruh barisan petani,nelayan, pekebun, pengrajin, pedagang uyang tinggal dipedesaan. Rendahnya daya beli sebagian besar warganegara ini menjadi bumerang bagi laju pembangunan industri dan jasa, pertumbuhan pasarnya lamban.

KRISI MONETER DI ASIA, AWAL PD III  :
PD III = perang modal, vasal dan dagang

Hancurnya industri dan perdagangan di Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia juga akan menyurutkan perdagangan dan industri di AS sebab sebelumnya negara-negara yang kena krisis banyak mengimpor bahan baku suku cadang atau barang jadi dari AS. Besarnya utang luar negeri yang diberikan pada perusahaan di Indonesia, Korea Selatan, Filipina, Malaysia dan kemudian kursnya dimainkan memang menghasilkan anjloknya nilai saham. Namun ketika saham ini mau dibeli (supaya bisa ikut memiliki perusahaan) ternyata perusahaan punya beban utang besar sehingga pembeli saham itu nanti juga harus ikut menanggung utang. Inilah yag menggagalkan strategi membeli saham atau membeli prusahaan di Korea Selatan, Indonesia, Filipina atau malah Jepang oleh negara-negara adikuasa AS dan Eropa.

Hutang yang melemahkan
Kalau masuk kekancah PD III tanpa persiapa maka yang terjadi adalah hutang segudang dan moneter diguncang sehingga ekonomi pun tumbang, itulah yang terhadi. Logikanya gampang : jathnya kurs rupiah berarti menggelembunghkan nilai hutang dalam rupiah. Bila punya hutang 117 milyar dolar AS ketika dolar berharga Rp.2300 maka nilai rupiah hutang RI itu hanya Rp.269.100 milyar, namun kalau dolarya menjadi Rp.7000,- maka utangnya akan menggelembung menjadi Rp.819.000,- milyar (3 kalilipat).
Mengapa hutang luar negeri bisa membengkak ? penyebab utama pastilah karena tabungan nasional misalnya dari dana pensiun, asuransi, tabungan hari tua dan tabugan-tabungan lainnya lemah dan tidak dikelola secara profesional. Dan yang amat sangat penting bagi ekonomi nasional adalah pemerintah dan masyarakat tidak mengumpulkan tabungan nasional yang sangat penting untuk mendanai macam-macam usaha pembangunan itu.
Penyebab lain, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi namun tak mengusahakan meningkatnya tabugan nasional itu. Dorongan untuk membuka usaha baru besar sedang iklim kolusi dengan pejabat pemerintah dan bank maupun korupsi sangat bagus maka kecenderungan membengkaknya hutang memang besar.

LANGKAH UTAMA REFORMASI POLITIK :
SEMPURNAKAN UUD 45 !

Orde Baru gagal dan dari mana datangnya atau merajalelanya KKN yaitu dengan inspirasi Pasal 7 UUD 45 : “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama 5 (lima) tahun dan bisa dipilih kembali” ini berarti Presiden dan wakilnya bisa dipilih lagi tanpa batas dan memang terjadi : Ir Soekarno 21 tahun dan Jenderal Soeharto akan menjadi 37 tahun (sampai 2003).

ORBA gagal total

Setelah 53 tahun Kemerdekaan Ri dan 33 tahun dibawah pemerintahan Orde Baru maka sudah sepantasnya kita mengevaluasi pelaksanaan UUD 45. Evaluasi perlu diadakan sebab kenyataannya, dengan UUD 45 itu, RI menghadapi krisis moneter, ekonomi dan politik yang makin gawat kerusakan bidang usaha masyarakat makin melebar, pemiskinan dan PHK makin meningkat dan mencekik rakyat.
Teaoi krisi yag makin berat itu ternyata malah dianggap membuka kesempaytan untuk menjarah beberapa pejabat Buolg menyelewengkan sembako, pedagang menimbun dan mengekspor sembaku yang seharusnya untuk menanggulangi krisis.

TUNDA PEMILU, ATASI DULU
KRISMONEKPOL !
Dengan mencla-menclenya pendapat pemerintah tentang kasus pemerkosaan, kasus pengrusakan, penjarahan, penculikan dan pembarakan pada pertengahan Mei 1998 yang lalu, kemudian disusul munculnya data-data korban DOM Aceh yang tak logis (jumlah janda 3000 orang, yang tewas hanya sekitar 781 orang), merebaknha lagi demonstrasi dan pernyataan politik, ramai-ramai bagi sembako, ramai-ramai memberi bantuan koperasi, petani dan pengusaha kecil dan lain-lain. Sedang dilain pihak PDI terus dibuat pecah-belah dengan kasus direstui dan dibantunya konggres PDI Suryadi di Palu, dilain pihak partai baru terus bermunculan seperti jamur dimusim hujan, sampai Oktober 1998 sudah terdaftar di Departemen Dalam Negeri lebih dari 100 partai baru, maka target Pemilu untuk tahun depan sungguh suatu kecerobohan dan penuh resiko.
Sebab semua partai, Golkar dan pemerintah akan melupakan krismonekpol, khususnya kelaparan dan pemiskinan yang semakin meningkat. Janji akan diobral dihamburkan sekedar upaya dapat suara di Pemilu nanti. Dan masalah yang gawat adalah: kalau pada jaman Orba selama masyarakat pemilh dimiliki oleh 4 kelimpok yaitu Golkar, PPP, PDI, Suryadi dan golongan yang tak mau memilih 3 orpol tersebut alias “golongan putih” (golput), maka dengan munculnya lebih 100 partai baru ini berarti partai-partai baru itu akan merebut pemilih yang pada jaman Orba di monopoli dan dikuasai 4 kelompok itu.
Jelas bagi pimpinan dan kader Golkar, PPP dan PDI Suryadi ini menimbulkan ketakutan, keresahan, iri, bingung, marah dan macam-macam pikiran lainnya sebab puluhan partai itu harus mengambil/merebut massa 3 orpal tersebut. Maklum mereka tak bisa mencari pendukung (pemilih) orang luar negeri ! Partai-partai baru dikalangan NU, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya jelas akan menggembosi PPP. Dengan kasus 27 Juli 1996 saja PDI sudah kehilangan suara banyak sekali, apalagi dengan berdirinya PDI Perjuangan, yang disedot suaranya tak hanya PDI Suryadi tapi juga Golkar dan PPP. Apalagi beberapa jendral ABRI dan pimpinan Golkar sudah menyatakan diri menjadi anggota PDI Perjuangan. Dan munculnya puluhan partai baru jelas karena didukung massa yang semula anggota Golkar, sebab banyak partai baru berasal dari unsur Golkar bahkan dipimpin oleh bekas pimpinan/kader Golkar seperti Ny. Mien Sugandhi bekas Menteri Peranan Wanita.
Pengungkapan KKN dan penyelewengan-penyelewengan itu akan selalu dihindari para penguasa yang umumnya anggota Golkar itu, demi suksesnya kampanye Pemilu atau mencegah fek dominonya (merambatnya pengungkapan kasus)! Ini semua hanya berarti makin parahnya krisis! Program-program mengatasi krisis akan ditunggangi dan disalahgunakan demi kampanye.


Masih adakah hati nurani ?
Oleh karena itu sebaiknya Pemilu 1999 dibatalkan, diundur sampai situasi dan kondisi memungkinkan, sampai semua pihak bisa berpikir jernih, jujur dan demokratis untuk memilih wakil-wakilnya. Sampai Golkar, PPP dan PDI Suryadi berhasil melakukan reformasi dalam tubuhnya sehingga bisa tampil sebagai orpol yang demokratis dan bersih dari KKN dan rekayasa Orde Baru. Dan dilain pihak sampai kelatahan mendirikan partai reda dan lalu menggabung dengan partai yang lebih kuat dan nalar. Harus diingat yang dibutuhkan bukan sekedar selamatnya diri sendiri tapi selamatnya masa depan Indonesia dan diatasinya krismonekpol. Bukan malah dibiarkan makin mempurukkan Indonesia.
Yang lebih penting adalah bagaimana supaya sidang MPR akhir 1998 ini bisa membangun sistem pemerintahan darurat yang benar-benar bebas dari KKN dan mendapat kepercayaan rakyat ?
Anggota DPR dan MPR yang bersidang memang bentukan Orde Baru yang 100 persen bukan pilihan rakyat, namun tunjukkan pemerintah dan pemimpin orpal, sehingga ada yang menuntut SI MPR dibatalkan saja, sebab anggota MPR-nya hasil rekayasa. Tetapi ini tak berarti mereka tak bermoral dan tak mampu membela rakyat.

Penyempurnaan UUD 45 kuncinya
Caranya bagaimana ? Mulailah dengan menutup lubang-lubang yang memberi kesempatan adanya program penyelewengan yaitu dengan cara menyempurnakan UUD 45 dalam sidang istimewa MPR Nopember 1998. Sebab kesederhanaan UUD 45 lah yang menjadi biang macam-macam penyelewengan pemerintah, UU dan peraturan pemerintah maupun presiden (Keppres).
Namun seperti kita ketahui ternyata masalah penyempurnaan UUD 45 tak disinggung dalam SI MPR meskipun hakekatnya hal ini merupakan inti masalahnya. Ini menunjukkan bahwa target SI MPR belum untuk menuntaskan maslaah krisis RI, namun berpokok bagaimana mengamankan target orpol masing-masing (Golkar, PPP, PDI Suryadi dan ABRI) masa depan ini.
Padahal bila UUD 45 ini disempurnakan sesuai dengan amanat Pasal 3 UUD 45 : “MPR menetapkan UUD dan GBHN” (jadi setiap kali sidang bukan hanya menetapkan GBHN) maka semua UU, Keppres, peraturan pemerintah, juklak dan seterusnya harus disesuaikan UUD yang baru ini. Artinya akan terjadi reformasi total pada sistem dan struktur pemerintahan Indonesia.

Kelebihan dari buku ini yaitu buku ini mengulas secara detail mengenai hiruk pikuk pada saat pemerintahan Soeharto dari pelurusan sejarah yang banyank menyimpang isinya hanya sesuai dengan kepentingan pemerintah, mengenai faktor-faktor yang melatar belakangi runtuhnya pemerintahan orde baru dan mengkritisi pemerintahan Orde Baru, selain itu buku ini berani membongkar rahasia rahasia yang terjadi pada rezim Soeharto mengungkapkan fakta-fakta sejarah yang terjadi pada masa pemerintahan rezim Soeharto, berani mengungkapkan dan menjelaskan bahwa Soeharto adalah penanggung jawab dalam pembantaian masal PKI. Kekurangan dari buku ini yaitu banyak kata yang rancu dan di ulang-ulang kembali pada pembahasan selanjutnya, penulisan kata yang terlalu berbelit-belit sehingga sulit di pahami oleh pembaca dan butuh pemahaman dan konsentrasi bagi pembaca agar benar-benar memahami.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...