![]() |
Identitas Mahasiswa
|
|
|
Nama
|
: DYAH SETYORINI
|
|
|
NIM
|
: 3101412054
|
|
|
Program Studi
|
: Pendidikan
Sejarah
|
|
|
Rombel
|
: 5B
|
|
A. Identitas
Buku.
Penulis :
Onghokham
Judul :
Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965
Kota Penerbit :
Jakarta
Penerbit :
Komunitas Bambu
Tahun Terbit :
2013
Tebal Buku :
xii + 220 hlm
B.
Sinopsis Buku.
Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965
Di dalam buku yang berjudul
“Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965” yang di tulis oleh Onghokham
seorang sejarawan Indonesia. Di dalam buku ini menjelaskan dan membuktikan
bahwa sukarno adalah seorang revolusioner, orang kiri dan orang yang
berpengaruh pada G30S 1965. Di dalam buku ini terdapat sebelas bagian, yaitu
sebagai berikut: 1) Sukarno: Mitos dan Realitas, 2) Sukarno: Pemikir atau
Politikus, 3) Sukarno dan Partai Politik, 4) Jurang Generasi dan Mitos Sukarno,
5) Proklamasi 17 Agustus 1945 dari Sudut Negeri Belanda, 6) Negara, Rakyat dan
Golongan Kiri Konteks Sosial dan Ragam Gerakan Rakyat, 7) Pemberontakan Madiun
1948: Drama Manusia dalam Revolusi, 8) Pedesaan dan Kekerasan, 9) Refleksi
Tentang Peristiwa G30S (Gestok) 1965 dan Akibat-akibatnya, 10) Sukarno Menjadi
Korban peandangan Politiknya Sendiri, dan 11) Saya, Sejarah dan G30S 1965.
Pada
bagian pertama buku ini menjelaskan tentang
Sukarno yang mempunyai kepribadian kompleks, yang lahir berbintang Gemini, yang
menurut pada pendapatnya sendiri, memberi corak beranekaragam pada kepribadian
tersbut.Sukarno berasal dari keluarga priyayi rendahan, ayahnya seorang
guru.Sukarno bersekolah di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan HBS (Sekolah
Menengah Belanda).Dan Sukarno pun meneruskan pendidikannya di THS atau ITB
sekarang, pada saat bersekolah Sukarno senang membaca buku-buku mengenai
nasionalisme, marxisme dan persoalan-persoalan internasional dalam sejarah.
Yang mengakibatkan Sukarno berpidato di depan pengadilan kolonial (1930) dengan
judul pidato “Inonesia Menggugat”.
Pada tahun 1926-1927, Sukarno
tampil menjadi pemimpin politik dengan mendirikan PNI (Partai Nasional
Indonesia) sebagai jawaban bagi tawaran
kerja sama pihak Belanda ini. Tampilnya Sukarno dengan konsep nasionalisme pada
saat masa pergerakan yang pada waktu itu pergerakan Indonesia dalam keadaan
sangat suram, Sukarno mendapatkan banyak pukulan dan hambatan. Ditengah-tengah
kekacauan tujuan, Sukarno membuka suatu babak baru dalam perkembnagan nasionalisme Indonesia.
Focus baru diberikan bagi pergerakan dan bagi semua orang yang terlibat dalam
politik atau yang sadar politik. Sukarno pun akhirnya berhasil mendirikan PPPKI
(Permufakatan Perhimpunan- perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia), di mana
PNI mendapatkan peranan penting.Namun sangat disayangkan Sukarno di tangkap dan
dipenjara selama 2 tahun.Salah satu sebab Sukarno ditangkap 1930 adalah
pemakaian bahasa yang keras.Sukarno sering memakai kata revolusi dan
istilah-istilah yang radikal.Sukarno menyangkal bahwa tujuan PNI adalah untuk
menggulingkan Hindia Belanda dengan kekerasan.Pemakaian bahasa yang radikal
hanya untuk menggelorakan semangat rakyat yang diisi dengan keberanian serta
kepercayaan.
Gaya kepemimpinan Sukarno yang
radikal membuat keretakan antara Hatta dan Sjahrir. Sukarno di satu pihak dan
Hatta serta Sjahrir berada di pihak lain. Hal ini mengakibatkan Mr. Sartono
membubarkan PNI namun tanpa konsultasi dengan Sukarno.Hatta dan Sjahrir
mendirikan PNI baru.Keretakan antara Sukarno dan Hatta serta Sjahrir semakin
mendalam. Sjahrir mengatakan bahwa gaya kepemimpinan Sukarno ini seperti orang
yang memberikan jimat-jimat kepada rakyat dan membangkitkan perang jihad.
Keretakan antara tiga tokoh pergerakan tersebut kemudian berubah menjadi saling
tuduh-menuduh.
Peranan Sukarno dan Hatta yang
bersatu kembali sudah banyak diketahui.Selama tahun 1945-1950 antara Sukarno
dan Hatta tidak ada persaingan atau perpecahan.Sukarno menyokong segala politik
kebinet, juga mengahadapi persoalan-persoalan dalam negeri seperti
pemberontakan Madiun.Diplomasi pribadi Sukarno menjadi identik dengan revolusinya.
Simbolisme Sukarno bagi revolusi ini menyebabkan semua lapisan masyarakat
Indonesia percaya akan realitas revolusi Indonesia.
Pada
bagian kedua buku ini menjelaskan tentang
kepribadian Sukarno sebagai seorang pemikir atau politikus.Di dalam buku karya
Bernhard Dahm yang membahas mengenai Sukarno sebagai pemikir sampai pada saat
proklamasi kemerdekaan Indonesiadan menjadi presiden Indonesia yang pertama.Di
dalam buku Dahm menyatakan bahwa Sukarno adalah seorang pemikir yang sangat
dipengaruhi tradisi Jawa. Dalam pidato-pidatonya Sukarno menggambarkan
perjuangan nasional sebagai perjuangan kaum sana dan sini, antara Pandawa dan
Kurawa. Sukarno sendiri menggamberkan dirinya sebagai Bima dan Gatotkaca, Sang Jago yang mendobrak dan berada di luar
sistem baik feudal maupun kolonial. Tokoh-tokoh seperti Bima dan Gatotkaca di
ambil oleh Sukarno untuk menarik perhatian rakyat yang dijajah dan sang
penjajah.
Dalam buku ini Bernhard Dahm juga
menjelaskan bahwa Sukarno juga berkesan dan mengesankan diri sebagai Ratu Adil.
Banyak gerakan protes dan pemberontakan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa
(akhir abad XVIII dan permulaan abad XIX) harapan yang akan mendatangkan Ratu
Adil. Ratu Adil adalah yang akan menyelesikan semua permasalahan ekonomi,
sosial, dan masyarakat dan yang akan membebaskan rakyat dan yang akan menjadi
pembangun “jembatan emas” bagi rakyat yan tertindas. Ini merupakan kunci
popularitas Sukarno dikalangan massa. Citra tersebut dipertinggi oleh Sukarno
dengan memakai citra wayang dan menaik turunkan suaranya dalam berpidato
seperti seorang dalang.Retorika wayang menambah populerisme Sukarno.
Pribadi Sukarno sendiri tidak dapat
dipisahkan dari Bernhard Dahm sebagai political
animal, homo politicud.Sukarno adalah semata-mata seorang politikus. Lebih
dari pemikir, Sukarno adalah pemain politik, Sukarno adalah seorang politikus
yang populis yang dapat memanfaatkan apa saja, baik kepercayaan rakyat akan
Ratu Adil maupun kegemaran dan pengertian rakyat tentang epos wayang dan
sebagainya. Sukarno sebagai seorang politikus, khususnya terlihat pada
peranannya sebagai pemersatu, sebagai seorang pemimpin yang memiliki pengikut
beribu-ribu bahkan berjuta-juta.
Dalam buku ini penulis menggunakan
pendekatan politis, Sukarno dilihat sebagai seorang pribadi politis, dan juga
latar belakangnya baik masyarakat maupun negara, dilihat dari sudut politik,
yakni sebagai suatu masyarakat yang berpengalaman penjajahan langsung dan
negara kolonial kepolisian.Pribadi Sukarno harus beroperasi dalam keadaan
tersebut.Dalam tulisan di buku ini penulis tidak menyangkal pendapat Bernhard
Dahm bahwa Sukarno adalah seorang tradisionalis dalam arti kebudayaan Jawa;
bahwa Sukarno menyajikan diri, di anggap sebagai Ratu Adil dan mengemukakan
berbagai pemikiran persatuan atau sinkretis, menurut pendekatan budaya
Dahm.Tulisan dalam buku ini tidak menolak pendapat Dahm yang mana pun, dan
harus dianggap sebagai komplementer terhadap pendekatan Dahm, yakni dalam
memandang dan menilai Sukarno orang tidak dapat melepaskannya dari politik
maupun zamannya.
Pada
bagian ketiga buku ini menjelaskan tentang
Sukarno dan partai pelopornya. Dua kali dalam hidupnya, Sukarno diberi
kesempatan untuk mendirikan partai pelopor, yaitu partai yang akan
memperjuangkan cita-cita Indonesia merdeka. Yang pertama kali adalah semasa
pemerintahan colonial Belanda.Namun pada waktu golongan-golongan politik di
Indonesia sudah terpecah-belah, perpecahan juga mulai terjadi di antara
pemimpin partai pelopor sendiri seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir dll.Selain
perpecahan-perpecahan terjadi pual penindasan pemerintah kolonial Belanda.Tahun
1930 Sukarno ditangkap oleh Belanda, kemudian dilepaskan setelah beberapa
tahun. Akan tetapi, tahun 1933 Sukarno di tangkap lagi oleh Belanda, hal
ini berlangsung sampai Jepang menduduki
Indonesia (1942).
Kesempatan Sukarno yang kedua
datang pada tahun 1945, yaitu pada saat setelah proklamasi.Pada waktu itu
direncanakan berdiri partai pelopor atau partai negara Republik Indonesia. Akan
tetapi, keperluan untuk berunding dengan sekutu menjadi suatu masalah lain yang
mendominasi kehidupan politik Indonesia pada waktu itu. Segala sesuatu
dikorbankan demi diplomasi.
Pada
bagian keempat buku ini menjelaskan tentang
jurang generasi dan mitos Sukarno.Suatu gejala yang sering muncul di masyarakat
Barat adalah generation gap atau
jurang antargenerasi.Gejala ini dikatakan berasal dari konflik dan kemudian
banyak dibicarakan.Begitu pula di Indonesia, masalah ini sudah disinyalir para
sejarawan, seperti Taufik Abdullah dengan tulisan-tulisannya mengenai gerakan
kaum muda di Mingkabau, juga tulisannya tentang Banten.Juga dijelaskan oleh
Antropolog Jepang M. Nakamura, yang meneliti fenomena orang muda yang masuk ke
Muhammadiyah pada permulaan abad ke-20, menganggap dinamika utama lahirnya
organisasi antara kaum muda kepada yang tua-tua.
Munculnya gambar-gambar Sukarno di
jalan-jalan yang berkaitan dengan peristiwa seperti pemilu, maknanya sebagai
mitos bisa dikatakan setaraf dengan mitos-mitos politis lain: mitos Sultan
Agung bagi orang Jawa Tengah. Demikian pula Sukarno adalah penghancur mitos
bahwa seorang inlander tidak dapat menjadi penguasa, bahkan menjadikan
Indonesia merdeka. Nilai mitos Sukarno sama dengan cita-cita yang digantungkan
di bintang-bintang.
Pada
bagian kelima buku ini menjelaskan tentang proklamasi
kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dari sudut negeri Belanda.Proklamasi 17
Agustus 1945 merupakan saat yang penting bagi bangsa Indonesia.Namun bukan
hanya untuk Indonesia saja, hal ini juga penting bagi Belanda.Sebab peristiwa
ini menghadapkan Negeri Belanda dengan pemberontakan di tanah koloninya.
Pada tanggal 20 Agustus 1945 Van
Mook memberitahukan pada kabinet di Negeri Belanda lalu secara sepintas
mengenai Proklamasi Kemerdekaan tiga
hari setalah kemerdekaan. Reaksi Belanda terhadap Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia dan pimpinan Republik Indonesia sangat keras sekali.Belanda
menganggap bahwa Sukarno-Hatta sebagai pengkhianat-pengkhianat yang sering
disamakan oleh kolaborator Eropa dengan tentara penduduk Jepang.Pada akhir
September 1945, Inggris mendarat di Jakarta dan penglima Inggris, Jendral
Christison seakan-akan mengakui republik Indonesia secara de facto.Namun Inggris merasa enggan untuk berperang dengan
republik.Mereka datang ke Indonesia dengan tugas utama adalah untuk membebaskan
tawanan kamp-kamp Jepang dan pelecutan senjata Jepang serta pengembalian
tentara Jepang dari Indonesia. Tugas-tugas ini ditekankan oleh Inggris dan
tidak dalam rangka mengembaliakn status quo di Indonesia seperti apa yang
diinginkan oleh Belanda. Namun Inggris mempunyai kepentingan akan hubungan baik
dengan Belanda. Hal ini dimanfaatkan oleh Belanda agar Inggris mengembalikan
status quo di Indonesia.
Bagi sejarawan, orang Indonesia
atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada
akhir 1949, telah berlangsung lima tahun penderitaan dan pengerbanan di kedua
belah pihak.
Pada
bagian keenam buku ini menjelaskan tentang
golongan kiri yang berada di negara dan rakyat.Golongan kiri di Indonesia bukan
melainkan campur baur berbagai unsur.Sifatnya lemah, karena terlalu longgar,
mencakup kaum elite dan rakyat, yang beragama dan yang tidak beragama,
antimodernisme dan sebagainya. Kiri dapat disimpulkan sebagai gerakan massa
rakyat pertama di Indonesia. Sifatnya populis menyangkut massa rakyat sebagai
gerakan, artinya rakyat dalam jumlah besar menggabungkan diri dan bersifat
mengancam. Gerakan kiri di Indonesia terbilang sudah tua, bahkan hampir seumur
dengan pergerakan nasional itu sendiri.Selama itu gerakan kiri berkali-kali
mengalami pergerakan.Yang pertama kali pada tahun 1926/1927 dengan meletusnya
pemberotakan antikolonial pertama yang diorganisir dalam skala
nasional.Meletusnya pada saat Hindia Belanda.Pemberontakan melawan Belanda ini
adalah satu-satunya pemberontakan nasional sebelum Revolusi 1949, namun
pemberontakan tersebut dapat diatasi dengan mudah oleh Belanda.Tokoh-tokoh dari
gerakan kiri itu sendiri adalah Amir Syarifudding, Tan Malaka, Jusuf dan
lain-lain.
Berikut ini adalah kesimpulan pada
bagian pertama buku ini mengenai gerakan kiri di Indonesia, yaitu :
1.
Gerakan kiri Indonesia sudah
memiliki sejarah yang tua dan menentukan corak pergerakan nasional.
2.
Gerakan kiri ini sangat
mempengaruhi revolusi dan ikut serta membentuk politik Republik Indonesia dan
cukup besar warisan yang ditinggalkannya.
3.
Berkali-kali golongan kiri
ini muncul dan rupanya memiliki kemampuan untuk menarik cukup banyak massa
rakyat. Ini disebabkan oleh struktur di Indonesia, seperti jurang antara kaya
dan miskin, eksploitasi dan lain-lain atau karena sebab-sebab kultural seperti
harapan-harapan akan datangnya seorang Ratu Adil yang membuat tanah Indonesia
subur bagi gerakan Ratu Adil.
Pada 1942 ketika Belanda tamat dan
digantikan oleh Jepang. Jepangpun akan mulai mengahadapi musuh-musuh besar,
sekutu dan persoalan-persoalan pemerintah yang besar. Berbagai gerakan
revolusioner timbul pada masa pemerintahan Jepang, misalnya para penduduk desa
menolak membayar pajak dan melakukan kerja bakti atau rodi, munculnya gerakan
Antiwwapraja di Surakarta yang akan menjadi inti kekuatan kiri menuju ke
peristiwa Madiun, gerakan ini muncul karena sikap kaku raja di sana yang
berlainan dengan sikap Sultan Yogyakarta.
Dalam keadaan Revolusi 1945
terlihat ada gerakan dan perubahan yang besar, perubahan dalam Revolusi 1945
adalah suatu siklik seperti jatuh bangunnya dinasti-dinasti kerajaan lama dan
tidak mengakibatkan perubahan struktural. Di pihak lain, revolusi membuka bab
baru dalam konsepsi rakyat mengenai perbaikan nasib melalui aktivitas sendiri,
mereka ingin mengubah masib mereka.
Pada
bagian ketujuh buku ini menjelaskan tentang
pemberontakan Madiun 1948 sebagai drama manusia dari bawah.Dalam buku ini
meninjau tentang pemberontakan Madiun, September 1948, dari sudut lokal. Maka,
peristiwa tersebut akan ditinjau dari sudut hubungan-hubungan pimpinan revolusi
pusat, yaitu Sukarno-Hatta dan para politisi nasional, dengan daerah dan
revolusi yang terjadi di bawah. Peristiwa pemberontakan Madiun sendiri
memperlihatkan adanya persoalan-persoalan manusia dan pilihan-pilihan yang
dihadapinya pada wakti itu.Jika dilihat dari sudut hubungan pimpinan revolusi
dan evolusi, ada suatu persoalan yang menonjol, yaitu pertentangan antara
politik diplomasi pemerintah pusat dan konsepsi kedaulatan rakyat.
Pada tahun 1948, terdapat tiga persoalan
struktur setempat yang penting, yaitu sebagai berikut :
1.
Rasionalisasi organisasi TNI,
hal ini membawa akibat hancurnya struktur kekuasaan lokal dan diperkuatnya
struktur kekuasaan di pusat.
2.
Keadaan-keadaan ekonomi yang
memburuk selalu membawa revolusi ke kiri dan usaha-usaha ke arah yang lain.
Pada keadaan ini ditinjau dari struktur-struktur politik, sosial, militer dan
ekonomi di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadikan pemberontakan madiun
menjadi peristiwa unik.
3.
Pengaruh perkembangan politik
nasional dan internasional.
Dengan adanya peristiwa Madiun
tersebut muncul revolusi dan diplomasi di masyarakat Indonesia.Republik
Indonesia berdiri pada saat Jepang menyerah kepada sekutu dan belum datangnya
Belanda ke Indonesia.Republik Indonesia seakan-akan mengisi lowongan kekuasaan
yang ditimbulkan revolusi.Dalam keadaan ini Inggris yang ditugaskan menduduki
kembali Indonesia oleh sekutu mengakui Indonesia secara de facto, walaupun
harus menghadapi protes-protes Belanda.Fakta ini oleh Republik Indonesia dijadikan
sebagai modal untuk berunding dengan sekutu dan Belanda atau yang dikenal
sebagai “diplomasi”.
Selain dengan diplomasi ada
bentuk-bentuk perlawanan dengan pertempuran-pertempuran.Dua tokoh utama Sjahrir
dan Amir Sjarifudin, dua tokoh ini mempunyai sejarah yang baik dalam pergerakan
nasional dan termasuk pula tokoh-tokoh perlawanan bawah tanah dalam menentang
Jepang.Oleh dua tokoh tersebut didirikan pula partai-partai.Terjadi pula
pertempuran-pertempuran, seperti di Surabaya yaitu pertempuran antara Indonesia
dengan Sekutu, namun dihentikan dan Sukarno tampil sebagai penengah.
Pada
bagian kedelapan buku ini menjelaskan tentang
pedesaan dan kekerasan di Indonesia.Dalam periode “Demokrasi Terpimpin”
(1958-1966), keseimbangan politik merupakan suatu segitiga. Bung Karno sebagai
pucuknya adalah Pemimpin Besar Revolusi yang memainkan politik perimbangan
antara dua pendukungnya yang utama, yakni ABRI dan PKI. ABRI adalah kekuatan
nyata, terutama setelah perebutan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.
Bung Karno pada waktu itu mencurigai oknum-oknumnya, namun tentara lah yang
menjadikan Indonesia kembali ke UUD 1945 dengan sistem kekuasaan presidensil
yang kuat dan sentral. Dengan kekuasaan yang besar, Bung Karno menjadi presiden
seumur hidup.Pada waktu itu pula, PKI adalah partai yang baik organisasinya
dibandingkan partai-partai politik lainnya. Setelah pemilu pertama pada 1955,
ia menempati peringkat no.4.
Keadaan politik “Demokrasi
Terpimpin” ditandai oleh gejala keruntuhan sosial ekonomi masyarakat Indonesia,
seperti inflasi 600%, korupsi, kemacetan birokrasi, serba kekurangan dan
sebagainya. Suasana politik yang “revolusioner” waktu itu juga ada mengandung
suasana totaliter, bahkan terjadi terror di sana sini. Hal ini disebabkan
pemberontakan PRRI/Permesta baru terjadi, ada usaha pembunuhan terhadap
Sukarno, keadaan darurat perang (SOB) serta konfrontasi dengan Malaysia.
Pada masa ini pula terjadi konflik
tanah dan akhirnya Sukarno menghasilkan Undang-Undang Landreformyang terkenal dengan Undang-Undang Pokok Perubahan
Agraria (UUPA). Dalam UUPA ini, kepemilikan tanah ditentukan maksimal adalah
lima hektar. Selain itu, ada ketentuan baru tentang bagi hasil antara pemilik
dan penggarap, yang menguntungkan pihak terakhir.Pada umumnya, para petani Jawa
berada dalam keadaan “cekap” (cukup saja). Kalau bagi hasil di ubah, maka
mereka yang tidak berkelebihan itu akan menjadi kurang cekap alias “miskin”.
Dengan demikian, UUPA kelihatan “revolusioner” untuk melawan elite pedesaan
yang sejak dulu mapan.Bukan hanya masalah sistem bagi hasil saja yang menjadi
sumber konflik dipedesaan pada tahun tersebut, melainkan juga faktof kecurangan
lurah, bentrokan antar generasi dan sebagainya.
Pada
bagian kesembilan buku ini menjelaskan
tentang refleksi dari peristiwa G30S (GESTOK) 1965 beserta
akibat-akibatnya.Pada 1965, dunia menjadi dua kubu yang saling berhadapan dan
bermusuhan.Pertama, kubu kapitalis liberal yang menamakan diri demokrat.Kedua,
kubu komunis yang terbagi menjadi dua, yaitu Uni Soviet dan RRC.Polarisasi ini
disebut Perang Dingin. Pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia
sebagian besar dipengaruhi oleh Perang
Dingin. Indonesia pun tidak luput dari Perang Dingin, bisa dilihat pada
Peristiwa Madiun (1948), PRRI/PERMESTA.
Pada tahun 1965 ini ada berbgai
aksi untuk mendongkel beberapa misteri penting yang diduga musuh PKI dan
didemonstrasi untuk diminta turun oleh PKI dan sekutu-sekutu kirinya.Ada dua
menteri (menko) yang menjadi sasarn yakni, Chaerul Saleh dan Adam Malik. Namun
agitasi politik yang paling hebat adalah tuntutan front kiri untuk membubarkan
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Pada tahun 1965 pula terdapat tiga pola
kekuasaan, yakni presiden, tentara dan PKI. Menurut pendapat Herbert Feith yang
terdapat pada buku ini, ia mensiyalir bahwa di antara ketiga poros kekuatan
tersebut, kekuatan bergeser kearah PKI dan akan dikuatirkan jatuh ke tangan
komunis. Apalagi dengan diperkuatnya, oleh Presiden Soekarno dikatakan poros:
Jakarta-Pyong Yang-Beijing-Hanoi. Kudeta yang dikenal sebagai G30S berasal dari
Divisi Diponegoro di Jawa Tengah.Ketujuh Asisten Panglima Surjo Sumpeno,
Panglima Diponegoro, terlibat dalam kudeta di Jawa Tengah, tempat gerakan
tersebut berhasil mengambil alih kekuasaan lebih lama di Jakarta.Kolonel Untung
dari Diponegoro yang memimpin G30S di Jakarta.
Teka-teki terbesar dalam seluruh
peristiwa G30S ini adalah tindak tanduk PKI.Peristiwa pengganyangan terhadap
PKI hanya alasan. Namun yang seperti kita tahu bahwa sebelum tahun 1965, bahwa
PKI sudah pernah dibantai pada tahun 1926 dan 1948, namun PKI tetap tumbuh dan
menjadi besar lagi. PKI selau berambisi merebur kekuasaan melalui kekerasan dan
non-parlementer.Untuk kembali ke masalah G30S, apakah mungkin G30S ini suatu
gerakan otonom yang tidak ada dalang dan keterlibatan, baik Sukarno, PKI, CIA
dan Suharto.
Pada
bagian kesepuluh buku ini menjelaskan tentang
Sukarno yang menjadi korban dari pandangan politiknya sendiri.Akhir-akhir ini
muncul perdebatan yang memanas mengenai keterlibatan Sukarno dalam percobaan
kudeta yang dikenal dengan G30S.Dari berbagai buku-buku yang telah diterbitkan,
mengenai keterlibatan Sukarno dalam kudeta ini tidak pernah terjadi, bahkan
Sukarno sendiri tidak mengetahui gerakan tersebut sebelumnya.Kecurigaan
mengenai tekerlibatan Sukarno muncul dan diperkuat dengan kebijakannya yang pro
dengan PKI.
G30S adalah kudeta untuk
menjatuhkan pemerintahan Sukarno.Hingga kini tidak ada bukti bahwa Sukarno
mengetahui atau terlibat dalam G30S. Hal ini benar-benar tak terpikirkan bahwa
seorang presiden akan mengadakan kudeta terhadap dirinya sendiri, sebagaimana
yang dimaksud atas keterlibatannya dalam G30S. Tindakan Sukarno untuk
melindungi komando tertinggi AU dan pemimpin PKI dari tuduhan terlibat G30S
dijadikan bukti keterlibatan Sukarno dalam gerakan tersebut. Terlebih lagi juga
karena Sukarno memiliki gagasan perjuangan bangsa Indonesia, yang terdiri atas
tiga kekuatan politik pada saat itu, yakni: Nasionalis, Agama dan Komunis,
dalam rangka melawan kolonialisme. Dalam waktu yang cepat, komunis menjadi
bagian penting atas impian-impian revolusinya.
Dan
pada bagian yang terakhir atau bagian kesebelas
buku ini menjaskan tentang Penulis, sejarah dan G30S 1965.Ong adalah seorang
sejarawan, dalam menulis buku ini beserta penyataann-pernyataannya ketika
muncul malapetaka 1965-1966, yang menyebabkan dirinya dipenjara dan kemudian
mengalami gangguan mental.Kemudian psikiaternya menyarankan Ong untuk melakukan
suatu pemahaman diri dengan menuliskan kisah hidupnya dan menekankan pada
hal-hal yang menurutnya paling berpengaruh dalam perkembangannya.
Ong lahir di Surabaya pada 1933.Ong
adlah anak tertua dari perkawinan kedua.Kedua orang tuannya adalah keturunan
Cina-Indonesia yang telah tinggal selama tujuh generasi dan telah lama tinggal
di Jawa, keluarganya tidak terlalu mementingkan kekayaan namun memliki relasi
yang bagus.Agama orang tuanya dan kehidupan religious atau spriritua dalam
keluarga saya, kurang lebih seperti tipikal orang Jawa timur.Penekannan
terbesar dilakukan pada ritual dan berbagai penanda.Ibunya sangat mempercayai
ramalan-ramalan, ibunya menganggap bahwa “vegetarian” adalah agama paling baik
karena tidak membunuh binatang dan memakannya.Ong bersekolah di sekolah
Belanda, namun dipindahkan ke sekolah Indonesia untuk menghadapi sebuah dunia
yang jauh lebih terbuka.
Ong menyusun tulisan ini atas
permintaan dari dr. Kusumanto Setyonegoro. Ong telah menjadi pasiennya selama
hampir satu tahun setelah melewati massa yang membingungkan dan mengalami
beberapa peristiwa tidak menyenangkan. Saya tidak tahu penyebab “gangguan
syaraf” atau “kekacauan mental” yang dialami sekitar setahun lalu.Namun menurut
Ong karena dia adalah orang yang sensitif atau memiliki beberapa emosi tertentu
yang dapat Ong kendalikan dengan mudah.
Ong adalah seorang mahasiswa
sejarah, tidak ada dibenaknya selain menjadi seorang sarjana.Sebagai seorang
sejarawan Ong harus dapat menganalisa mesyarakat, kecenderungan politik atau
perkembangan sosial dan segala hal yang berkeitan dengan masyarakat Indonesia.
Sebagai seorang sejarawan dan dengan berbahasa Belanda serta latar belakang
keluarga dan lain-lain, Ong sangat mudah bergerak antara kelompok usi 60-an,
yang hidup bersama kenangan padamasa 1930-an dan kelompok usia 80-an yang
mangalami hidup di keratin para raja besar Jawa Tengah.
Tahun 1960-1965 merupakan periode
penting sebagai penyebab “gangguan” sementra yang terjadi pada dirinya.Periode
ini adalah masa ketika Ong memperlajari kesenian, agama, mistisisme dan konsep
sejarah Jawa dan lain-lain dengan serius.Pada saat itu Ong mulai mengamati
mistisisme dan mulai mencari beberapa benda seni, namun Ong lebih tertarik pada
benda-benda mistis yang menjadi warisan turun-menurun dari keluarga-keluarga
tertentu. Ong memliki perasaan melalui pertanda-pertanda istimewa atau firasat,
terlebih lagi selama tiga atau empat bulan
sebelum peristiwa Oktober 1965. Ketegangan meningkat pada bulan-bulan
tersebut, akibatnya tujuh orang jenderal terbunuh dan pembantaian terhadap
orang-orang komunis.
Pada Mei 1965, Ong menuliskan esai
pendek.Ketika sedang mendiskusikan esai tersebut dengan teman-teman, saya
hampir bisa meramalkan peristiwa Oktober tahun itu.Dalam beberapa hal, akhir
periode Soekarno dianggap sebagai peristiwa paling penting dalam masyarakat,
seperti sebuah “perubahan yang periodik”.Tanpa pengaruh siapa pun,
ramalan-ramalannya terhadap kejadian-kejadian tersebut benar-benar terjadi.Hal
tersebut membuatnya sangat frustasi apabila harus berbicara dengan
teman-temannya.Ketika terjadi peristiwa tersebut, Ong merasakan arus inflasi,
ketidakpastian politis sehingga membuat merasa lelah secara fisik maupun
psikis.
Kelebihan,
Kekurangan dan Kesimpulan Buku
·
Buku “Sukarno Orang Kiri
Revolusi & G30S” dapat menjadi referensi bagi mahasiswa untuk bahan
pembelajaran sejarah.
·
Buku ini cocok dibaca untuk
para pencinta Presiden Soekarno.
·
Dalam penulisannya, buku ini sudah menggunakan standar EYD.
·
Dalam ini sudah membahas mengenai Soekarno dengan detail.
·
Buku ini juga cukup berguna
dalam menerangkan bahwa Soekarno adalah orang kiri dan juga menjelaskan
mengenai G30S.
·
Ada beberapa kata yang menjadikan kalimat yang tumpang tindih kata,
sehingga ada beberapa kata atau kalimat yang sulit dipahami.
·
Kata-kata yang digunakan dalam buku ini sulit untuk dipahami dan
dimengerti untuk para pembaca.
·
Terdapat penulisan kata yang menggunakan kata tidak baku.


No comments:
Post a Comment