About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 1 May 2015

Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965

Identitas Mahasiswa
Nama
: DYAH SETYORINI
NIM
: 3101412054
Program Studi
: Pendidikan Sejarah
Rombel
: 5B

A.      Identitas Buku.
Penulis                              : Onghokham
Judul                                : Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965
Kota Penerbit                   : Jakarta
Penerbit                            : Komunitas Bambu
Tahun Terbit                     : 2013
Tebal Buku                       : xii + 220 hlm

B.       Sinopsis Buku.

Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965
Di dalam buku yang berjudul “Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S 1965” yang di tulis oleh Onghokham seorang sejarawan Indonesia. Di dalam buku ini menjelaskan dan membuktikan bahwa sukarno adalah seorang revolusioner, orang kiri dan orang yang berpengaruh pada G30S 1965. Di dalam buku ini terdapat sebelas bagian, yaitu sebagai berikut: 1) Sukarno: Mitos dan Realitas, 2) Sukarno: Pemikir atau Politikus, 3) Sukarno dan Partai Politik, 4) Jurang Generasi dan Mitos Sukarno, 5) Proklamasi 17 Agustus 1945 dari Sudut Negeri Belanda, 6) Negara, Rakyat dan Golongan Kiri Konteks Sosial dan Ragam Gerakan Rakyat, 7) Pemberontakan Madiun 1948: Drama Manusia dalam Revolusi, 8) Pedesaan dan Kekerasan, 9) Refleksi Tentang Peristiwa G30S (Gestok) 1965 dan Akibat-akibatnya, 10) Sukarno Menjadi Korban peandangan Politiknya Sendiri, dan 11) Saya, Sejarah dan G30S 1965.
Pada bagian pertama buku ini menjelaskan tentang Sukarno yang mempunyai kepribadian kompleks, yang lahir berbintang Gemini, yang menurut pada pendapatnya sendiri, memberi corak beranekaragam pada kepribadian tersbut.Sukarno berasal dari keluarga priyayi rendahan, ayahnya seorang guru.Sukarno bersekolah di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan HBS (Sekolah Menengah Belanda).Dan Sukarno pun meneruskan pendidikannya di THS atau ITB sekarang, pada saat bersekolah Sukarno senang membaca buku-buku mengenai nasionalisme, marxisme dan persoalan-persoalan internasional dalam sejarah. Yang mengakibatkan Sukarno berpidato di depan pengadilan kolonial (1930) dengan judul pidato “Inonesia Menggugat”.
Pada tahun 1926-1927, Sukarno tampil menjadi pemimpin politik dengan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia)   sebagai jawaban bagi tawaran kerja sama pihak Belanda ini. Tampilnya Sukarno dengan konsep nasionalisme pada saat masa pergerakan yang pada waktu itu pergerakan Indonesia dalam keadaan sangat suram, Sukarno mendapatkan banyak pukulan dan hambatan. Ditengah-tengah kekacauan tujuan, Sukarno membuka suatu babak baru  dalam perkembnagan nasionalisme Indonesia. Focus baru diberikan bagi pergerakan dan bagi semua orang yang terlibat dalam politik atau yang sadar politik. Sukarno pun akhirnya berhasil mendirikan PPPKI (Permufakatan Perhimpunan- perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia), di mana PNI mendapatkan peranan penting.Namun sangat disayangkan Sukarno di tangkap dan dipenjara selama 2 tahun.Salah satu sebab Sukarno ditangkap 1930 adalah pemakaian bahasa yang keras.Sukarno sering memakai kata revolusi dan istilah-istilah yang radikal.Sukarno menyangkal bahwa tujuan PNI adalah untuk menggulingkan Hindia Belanda dengan kekerasan.Pemakaian bahasa yang radikal hanya untuk menggelorakan semangat rakyat yang diisi dengan keberanian serta kepercayaan.
Gaya kepemimpinan Sukarno yang radikal membuat keretakan antara Hatta dan Sjahrir. Sukarno di satu pihak dan Hatta serta Sjahrir berada di pihak lain. Hal ini mengakibatkan Mr. Sartono membubarkan PNI namun tanpa konsultasi dengan Sukarno.Hatta dan Sjahrir mendirikan PNI baru.Keretakan antara Sukarno dan Hatta serta Sjahrir semakin mendalam. Sjahrir mengatakan bahwa gaya kepemimpinan Sukarno ini seperti orang yang memberikan jimat-jimat kepada rakyat dan membangkitkan perang jihad. Keretakan antara tiga tokoh pergerakan tersebut kemudian berubah menjadi saling tuduh-menuduh.
Peranan Sukarno dan Hatta yang bersatu kembali sudah banyak diketahui.Selama tahun 1945-1950 antara Sukarno dan Hatta tidak ada persaingan atau perpecahan.Sukarno menyokong segala politik kebinet, juga mengahadapi persoalan-persoalan dalam negeri seperti pemberontakan Madiun.Diplomasi pribadi Sukarno menjadi identik dengan revolusinya. Simbolisme Sukarno bagi revolusi ini menyebabkan semua lapisan masyarakat Indonesia percaya akan realitas revolusi Indonesia.
Pada bagian kedua buku ini menjelaskan tentang kepribadian Sukarno sebagai seorang pemikir atau politikus.Di dalam buku karya Bernhard Dahm yang membahas mengenai Sukarno sebagai pemikir sampai pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesiadan menjadi presiden Indonesia yang pertama.Di dalam buku Dahm menyatakan bahwa Sukarno adalah seorang pemikir yang sangat dipengaruhi tradisi Jawa. Dalam pidato-pidatonya Sukarno menggambarkan perjuangan nasional sebagai perjuangan kaum sana dan sini, antara Pandawa dan Kurawa. Sukarno sendiri menggamberkan dirinya sebagai Bima dan Gatotkaca,  Sang Jago yang mendobrak dan berada di luar sistem baik feudal maupun kolonial. Tokoh-tokoh seperti Bima dan Gatotkaca di ambil oleh Sukarno untuk menarik perhatian rakyat yang dijajah dan sang penjajah.
Dalam buku ini Bernhard Dahm juga menjelaskan bahwa Sukarno juga berkesan dan mengesankan diri sebagai Ratu Adil. Banyak gerakan protes dan pemberontakan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa (akhir abad XVIII dan permulaan abad XIX) harapan yang akan mendatangkan Ratu Adil. Ratu Adil adalah yang akan menyelesikan semua permasalahan ekonomi, sosial, dan masyarakat dan yang akan membebaskan rakyat dan yang akan menjadi pembangun “jembatan emas” bagi rakyat yan tertindas. Ini merupakan kunci popularitas Sukarno dikalangan massa. Citra tersebut dipertinggi oleh Sukarno dengan memakai citra wayang dan menaik turunkan suaranya dalam berpidato seperti seorang dalang.Retorika wayang menambah populerisme Sukarno.
Pribadi Sukarno sendiri tidak dapat dipisahkan dari Bernhard Dahm sebagai political animal, homo politicud.Sukarno adalah semata-mata seorang politikus. Lebih dari pemikir, Sukarno adalah pemain politik, Sukarno adalah seorang politikus yang populis yang dapat memanfaatkan apa saja, baik kepercayaan rakyat akan Ratu Adil maupun kegemaran dan pengertian rakyat tentang epos wayang dan sebagainya. Sukarno sebagai seorang politikus, khususnya terlihat pada peranannya sebagai pemersatu, sebagai seorang pemimpin yang memiliki pengikut beribu-ribu bahkan berjuta-juta.
Dalam buku ini penulis menggunakan pendekatan politis, Sukarno dilihat sebagai seorang pribadi politis, dan juga latar belakangnya baik masyarakat maupun negara, dilihat dari sudut politik, yakni sebagai suatu masyarakat yang berpengalaman penjajahan langsung dan negara kolonial kepolisian.Pribadi Sukarno harus beroperasi dalam keadaan tersebut.Dalam tulisan di buku ini penulis tidak menyangkal pendapat Bernhard Dahm bahwa Sukarno adalah seorang tradisionalis dalam arti kebudayaan Jawa; bahwa Sukarno menyajikan diri, di anggap sebagai Ratu Adil dan mengemukakan berbagai pemikiran persatuan atau sinkretis, menurut pendekatan budaya Dahm.Tulisan dalam buku ini tidak menolak pendapat Dahm yang mana pun, dan harus dianggap sebagai komplementer terhadap pendekatan Dahm, yakni dalam memandang dan menilai Sukarno orang tidak dapat melepaskannya dari politik maupun zamannya.
Pada bagian ketiga buku ini menjelaskan tentang Sukarno dan partai pelopornya. Dua kali dalam hidupnya, Sukarno diberi kesempatan untuk mendirikan partai pelopor, yaitu partai yang akan memperjuangkan cita-cita Indonesia merdeka. Yang pertama kali adalah semasa pemerintahan colonial Belanda.Namun pada waktu golongan-golongan politik di Indonesia sudah terpecah-belah, perpecahan juga mulai terjadi di antara pemimpin partai pelopor sendiri seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir dll.Selain perpecahan-perpecahan terjadi pual penindasan pemerintah kolonial Belanda.Tahun 1930 Sukarno ditangkap oleh Belanda, kemudian dilepaskan setelah beberapa tahun. Akan tetapi, tahun 1933 Sukarno di tangkap lagi oleh Belanda, hal ini  berlangsung sampai Jepang menduduki Indonesia (1942).
Kesempatan Sukarno yang kedua datang pada tahun 1945, yaitu pada saat setelah proklamasi.Pada waktu itu direncanakan berdiri partai pelopor atau partai negara Republik Indonesia. Akan tetapi, keperluan untuk berunding dengan sekutu menjadi suatu masalah lain yang mendominasi kehidupan politik Indonesia pada waktu itu. Segala sesuatu dikorbankan demi diplomasi.
Pada bagian keempat buku ini menjelaskan tentang jurang generasi dan mitos Sukarno.Suatu gejala yang sering muncul di masyarakat Barat adalah generation gap atau jurang antargenerasi.Gejala ini dikatakan berasal dari konflik dan kemudian banyak dibicarakan.Begitu pula di Indonesia, masalah ini sudah disinyalir para sejarawan, seperti Taufik Abdullah dengan tulisan-tulisannya mengenai gerakan kaum muda di Mingkabau, juga tulisannya tentang Banten.Juga dijelaskan oleh Antropolog Jepang M. Nakamura, yang meneliti fenomena orang muda yang masuk ke Muhammadiyah pada permulaan abad ke-20, menganggap dinamika utama lahirnya organisasi antara kaum muda kepada yang tua-tua.
Munculnya gambar-gambar Sukarno di jalan-jalan yang berkaitan dengan peristiwa seperti pemilu, maknanya sebagai mitos bisa dikatakan setaraf dengan mitos-mitos politis lain: mitos Sultan Agung bagi orang Jawa Tengah. Demikian pula Sukarno adalah penghancur mitos bahwa seorang inlander tidak dapat menjadi penguasa, bahkan menjadikan Indonesia merdeka. Nilai mitos Sukarno sama dengan cita-cita yang digantungkan di bintang-bintang.
Pada bagian kelima buku ini menjelaskan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dari sudut negeri Belanda.Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan saat yang penting bagi bangsa Indonesia.Namun bukan hanya untuk Indonesia saja, hal ini juga penting bagi Belanda.Sebab peristiwa ini menghadapkan Negeri Belanda dengan pemberontakan di tanah koloninya.
Pada tanggal 20 Agustus 1945 Van Mook memberitahukan pada kabinet di Negeri Belanda lalu secara sepintas mengenai Proklamasi Kemerdekaan  tiga hari setalah kemerdekaan. Reaksi Belanda terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan pimpinan Republik Indonesia sangat keras sekali.Belanda menganggap bahwa Sukarno-Hatta sebagai pengkhianat-pengkhianat yang sering disamakan oleh kolaborator Eropa dengan tentara penduduk Jepang.Pada akhir September 1945, Inggris mendarat di Jakarta dan penglima Inggris, Jendral Christison seakan-akan mengakui republik Indonesia secara de facto.Namun Inggris merasa enggan untuk berperang dengan republik.Mereka datang ke Indonesia dengan tugas utama adalah untuk membebaskan tawanan kamp-kamp Jepang dan pelecutan senjata Jepang serta pengembalian tentara Jepang dari Indonesia. Tugas-tugas ini ditekankan oleh Inggris dan tidak dalam rangka mengembaliakn status quo di Indonesia seperti apa yang diinginkan oleh Belanda. Namun Inggris mempunyai kepentingan akan hubungan baik dengan Belanda. Hal ini dimanfaatkan oleh Belanda agar Inggris mengembalikan status quo di Indonesia.
Bagi sejarawan, orang Indonesia atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada akhir 1949, telah berlangsung lima tahun penderitaan dan pengerbanan di kedua belah pihak.  
Pada bagian keenam buku ini menjelaskan tentang golongan kiri yang berada di negara dan rakyat.Golongan kiri di Indonesia bukan melainkan campur baur berbagai unsur.Sifatnya lemah, karena terlalu longgar, mencakup kaum elite dan rakyat, yang beragama dan yang tidak beragama, antimodernisme dan sebagainya. Kiri dapat disimpulkan sebagai gerakan massa rakyat pertama di Indonesia. Sifatnya populis menyangkut massa rakyat sebagai gerakan, artinya rakyat dalam jumlah besar menggabungkan diri dan bersifat mengancam. Gerakan kiri di Indonesia terbilang sudah tua, bahkan hampir seumur dengan pergerakan nasional itu sendiri.Selama itu gerakan kiri berkali-kali mengalami pergerakan.Yang pertama kali pada tahun 1926/1927 dengan meletusnya pemberotakan antikolonial pertama yang diorganisir dalam skala nasional.Meletusnya pada saat Hindia Belanda.Pemberontakan melawan Belanda ini adalah satu-satunya pemberontakan nasional sebelum Revolusi 1949, namun pemberontakan tersebut dapat diatasi dengan mudah oleh Belanda.Tokoh-tokoh dari gerakan kiri itu sendiri adalah Amir Syarifudding, Tan Malaka, Jusuf dan lain-lain.
Berikut ini adalah kesimpulan pada bagian pertama buku ini mengenai gerakan kiri di Indonesia, yaitu :
1.         Gerakan kiri Indonesia sudah memiliki sejarah yang tua dan menentukan corak pergerakan nasional.
2.         Gerakan kiri ini sangat mempengaruhi revolusi dan ikut serta membentuk politik Republik Indonesia dan cukup besar warisan yang ditinggalkannya.
3.         Berkali-kali golongan kiri ini muncul dan rupanya memiliki kemampuan untuk menarik cukup banyak massa rakyat. Ini disebabkan oleh struktur di Indonesia, seperti jurang antara kaya dan miskin, eksploitasi dan lain-lain atau karena sebab-sebab kultural seperti harapan-harapan akan datangnya seorang Ratu Adil yang membuat tanah Indonesia subur bagi gerakan Ratu Adil.
Pada 1942 ketika Belanda tamat dan digantikan oleh Jepang. Jepangpun akan mulai mengahadapi musuh-musuh besar, sekutu dan persoalan-persoalan pemerintah yang besar. Berbagai gerakan revolusioner timbul pada masa pemerintahan Jepang, misalnya para penduduk desa menolak membayar pajak dan melakukan kerja bakti atau rodi, munculnya gerakan Antiwwapraja di Surakarta yang akan menjadi inti kekuatan kiri menuju ke peristiwa Madiun, gerakan ini muncul karena sikap kaku raja di sana yang berlainan dengan sikap Sultan Yogyakarta.
Dalam keadaan Revolusi 1945 terlihat ada gerakan dan perubahan yang besar, perubahan dalam Revolusi 1945 adalah suatu siklik seperti jatuh bangunnya dinasti-dinasti kerajaan lama dan tidak mengakibatkan perubahan struktural. Di pihak lain, revolusi membuka bab baru dalam konsepsi rakyat mengenai perbaikan nasib melalui aktivitas sendiri, mereka ingin mengubah masib mereka. 
Pada bagian ketujuh buku ini menjelaskan tentang pemberontakan Madiun 1948 sebagai drama manusia dari bawah.Dalam buku ini meninjau tentang pemberontakan Madiun, September 1948, dari sudut lokal. Maka, peristiwa tersebut akan ditinjau dari sudut hubungan-hubungan pimpinan revolusi pusat, yaitu Sukarno-Hatta dan para politisi nasional, dengan daerah dan revolusi yang terjadi di bawah. Peristiwa pemberontakan Madiun sendiri memperlihatkan adanya persoalan-persoalan manusia dan pilihan-pilihan yang dihadapinya pada wakti itu.Jika dilihat dari sudut hubungan pimpinan revolusi dan evolusi, ada suatu persoalan yang menonjol, yaitu pertentangan antara politik diplomasi pemerintah pusat dan konsepsi kedaulatan rakyat.
Pada tahun 1948, terdapat tiga persoalan struktur setempat yang penting, yaitu sebagai berikut :
1.        Rasionalisasi organisasi TNI, hal ini membawa akibat hancurnya struktur kekuasaan lokal dan diperkuatnya struktur kekuasaan di pusat.
2.        Keadaan-keadaan ekonomi yang memburuk selalu membawa revolusi ke kiri dan usaha-usaha ke arah yang lain. Pada keadaan ini ditinjau dari struktur-struktur politik, sosial, militer dan ekonomi di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadikan pemberontakan madiun menjadi peristiwa unik.
3.        Pengaruh perkembangan politik nasional dan internasional.
Dengan adanya peristiwa Madiun tersebut muncul revolusi dan diplomasi di masyarakat Indonesia.Republik Indonesia berdiri pada saat Jepang menyerah kepada sekutu dan belum datangnya Belanda ke Indonesia.Republik Indonesia seakan-akan mengisi lowongan kekuasaan yang ditimbulkan revolusi.Dalam keadaan ini Inggris yang ditugaskan menduduki kembali Indonesia oleh sekutu mengakui Indonesia secara de facto, walaupun harus menghadapi protes-protes Belanda.Fakta ini oleh Republik Indonesia dijadikan sebagai modal untuk berunding dengan sekutu dan Belanda atau yang dikenal sebagai “diplomasi”.
Selain dengan diplomasi ada bentuk-bentuk perlawanan dengan pertempuran-pertempuran.Dua tokoh utama Sjahrir dan Amir Sjarifudin, dua tokoh ini mempunyai sejarah yang baik dalam pergerakan nasional dan termasuk pula tokoh-tokoh perlawanan bawah tanah dalam menentang Jepang.Oleh dua tokoh tersebut didirikan pula partai-partai.Terjadi pula pertempuran-pertempuran, seperti di Surabaya yaitu pertempuran antara Indonesia dengan Sekutu, namun dihentikan dan Sukarno tampil sebagai penengah.
Pada bagian kedelapan buku ini menjelaskan tentang pedesaan dan kekerasan di Indonesia.Dalam periode “Demokrasi Terpimpin” (1958-1966), keseimbangan politik merupakan suatu segitiga. Bung Karno sebagai pucuknya adalah Pemimpin Besar Revolusi yang memainkan politik perimbangan antara dua pendukungnya yang utama, yakni ABRI dan PKI. ABRI adalah kekuatan nyata, terutama setelah perebutan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia. Bung Karno pada waktu itu mencurigai oknum-oknumnya, namun tentara lah yang menjadikan Indonesia kembali ke UUD 1945 dengan sistem kekuasaan presidensil yang kuat dan sentral. Dengan kekuasaan yang besar, Bung Karno menjadi presiden seumur hidup.Pada waktu itu pula, PKI adalah partai yang baik organisasinya dibandingkan partai-partai politik lainnya. Setelah pemilu pertama pada 1955, ia menempati peringkat no.4.
Keadaan politik “Demokrasi Terpimpin” ditandai oleh gejala keruntuhan sosial ekonomi masyarakat Indonesia, seperti inflasi 600%, korupsi, kemacetan birokrasi, serba kekurangan dan sebagainya. Suasana politik yang “revolusioner” waktu itu juga ada mengandung suasana totaliter, bahkan terjadi terror di sana sini. Hal ini disebabkan pemberontakan PRRI/Permesta baru terjadi, ada usaha pembunuhan terhadap Sukarno, keadaan darurat perang (SOB) serta konfrontasi dengan Malaysia.
Pada masa ini pula terjadi konflik tanah dan akhirnya Sukarno menghasilkan Undang-Undang Landreformyang terkenal dengan Undang-Undang Pokok Perubahan Agraria (UUPA). Dalam UUPA ini, kepemilikan tanah ditentukan maksimal adalah lima hektar. Selain itu, ada ketentuan baru tentang bagi hasil antara pemilik dan penggarap, yang menguntungkan pihak terakhir.Pada umumnya, para petani Jawa berada dalam keadaan “cekap” (cukup saja). Kalau bagi hasil di ubah, maka mereka yang tidak berkelebihan itu akan menjadi kurang cekap alias “miskin”. Dengan demikian, UUPA kelihatan “revolusioner” untuk melawan elite pedesaan yang sejak dulu mapan.Bukan hanya masalah sistem bagi hasil saja yang menjadi sumber konflik dipedesaan pada tahun tersebut, melainkan juga faktof kecurangan lurah, bentrokan antar generasi dan sebagainya.
Pada bagian kesembilan buku ini menjelaskan tentang refleksi dari peristiwa G30S (GESTOK) 1965 beserta akibat-akibatnya.Pada 1965, dunia menjadi dua kubu yang saling berhadapan dan bermusuhan.Pertama, kubu kapitalis liberal yang menamakan diri demokrat.Kedua, kubu komunis yang terbagi menjadi dua, yaitu Uni Soviet dan RRC.Polarisasi ini disebut Perang Dingin. Pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh  Perang Dingin. Indonesia pun tidak luput dari Perang Dingin, bisa dilihat pada Peristiwa Madiun (1948), PRRI/PERMESTA.
Pada tahun 1965 ini ada berbgai aksi untuk mendongkel beberapa misteri penting yang diduga musuh PKI dan didemonstrasi untuk diminta turun oleh PKI dan sekutu-sekutu kirinya.Ada dua menteri (menko) yang menjadi sasarn yakni, Chaerul Saleh dan Adam Malik. Namun agitasi politik yang paling hebat adalah tuntutan front kiri untuk membubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Pada tahun 1965 pula terdapat tiga pola kekuasaan, yakni presiden, tentara dan PKI. Menurut pendapat Herbert Feith yang terdapat pada buku ini, ia mensiyalir bahwa di antara ketiga poros kekuatan tersebut, kekuatan bergeser kearah PKI dan akan dikuatirkan jatuh ke tangan komunis. Apalagi dengan diperkuatnya, oleh Presiden Soekarno dikatakan poros: Jakarta-Pyong Yang-Beijing-Hanoi. Kudeta yang dikenal sebagai G30S berasal dari Divisi Diponegoro di Jawa Tengah.Ketujuh Asisten Panglima Surjo Sumpeno, Panglima Diponegoro, terlibat dalam kudeta di Jawa Tengah, tempat gerakan tersebut berhasil mengambil alih kekuasaan lebih lama di Jakarta.Kolonel Untung dari Diponegoro yang memimpin G30S di Jakarta.
Teka-teki terbesar dalam seluruh peristiwa G30S ini adalah tindak tanduk PKI.Peristiwa pengganyangan terhadap PKI hanya alasan. Namun yang seperti kita tahu bahwa sebelum tahun 1965, bahwa PKI sudah pernah dibantai pada tahun 1926 dan 1948, namun PKI tetap tumbuh dan menjadi besar lagi. PKI selau berambisi merebur kekuasaan melalui kekerasan dan non-parlementer.Untuk kembali ke masalah G30S, apakah mungkin G30S ini suatu gerakan otonom yang tidak ada dalang dan keterlibatan, baik Sukarno, PKI, CIA dan Suharto.
Pada bagian kesepuluh buku ini menjelaskan tentang Sukarno yang menjadi korban dari pandangan politiknya sendiri.Akhir-akhir ini muncul perdebatan yang memanas mengenai keterlibatan Sukarno dalam percobaan kudeta yang dikenal dengan G30S.Dari berbagai buku-buku yang telah diterbitkan, mengenai keterlibatan Sukarno dalam kudeta ini tidak pernah terjadi, bahkan Sukarno sendiri tidak mengetahui gerakan tersebut sebelumnya.Kecurigaan mengenai tekerlibatan Sukarno muncul dan diperkuat dengan kebijakannya yang pro dengan PKI.
G30S adalah kudeta untuk menjatuhkan pemerintahan Sukarno.Hingga kini tidak ada bukti bahwa Sukarno mengetahui atau terlibat dalam G30S. Hal ini benar-benar tak terpikirkan bahwa seorang presiden akan mengadakan kudeta terhadap dirinya sendiri, sebagaimana yang dimaksud atas keterlibatannya dalam G30S. Tindakan Sukarno untuk melindungi komando tertinggi AU dan pemimpin PKI dari tuduhan terlibat G30S dijadikan bukti keterlibatan Sukarno dalam gerakan tersebut. Terlebih lagi juga karena Sukarno memiliki gagasan perjuangan bangsa Indonesia, yang terdiri atas tiga kekuatan politik pada saat itu, yakni: Nasionalis, Agama dan Komunis, dalam rangka melawan kolonialisme. Dalam waktu yang cepat, komunis menjadi bagian penting atas impian-impian revolusinya.
Dan pada bagian yang terakhir atau bagian kesebelas buku ini menjaskan tentang Penulis, sejarah dan G30S 1965.Ong adalah seorang sejarawan, dalam menulis buku ini beserta penyataann-pernyataannya ketika muncul malapetaka 1965-1966, yang menyebabkan dirinya dipenjara dan kemudian mengalami gangguan mental.Kemudian psikiaternya menyarankan Ong untuk melakukan suatu pemahaman diri dengan menuliskan kisah hidupnya dan menekankan pada hal-hal yang menurutnya paling berpengaruh dalam perkembangannya.
Ong lahir di Surabaya pada 1933.Ong adlah anak tertua dari perkawinan kedua.Kedua orang tuannya adalah keturunan Cina-Indonesia yang telah tinggal selama tujuh generasi dan telah lama tinggal di Jawa, keluarganya tidak terlalu mementingkan kekayaan namun memliki relasi yang bagus.Agama orang tuanya dan kehidupan religious atau spriritua dalam keluarga saya, kurang lebih seperti tipikal orang Jawa timur.Penekannan terbesar dilakukan pada ritual dan berbagai penanda.Ibunya sangat mempercayai ramalan-ramalan, ibunya menganggap bahwa “vegetarian” adalah agama paling baik karena tidak membunuh binatang dan memakannya.Ong bersekolah di sekolah Belanda, namun dipindahkan ke sekolah Indonesia untuk menghadapi sebuah dunia yang jauh lebih terbuka.
Ong menyusun tulisan ini atas permintaan dari dr. Kusumanto Setyonegoro. Ong telah menjadi pasiennya selama hampir satu tahun setelah melewati massa yang membingungkan dan mengalami beberapa peristiwa tidak menyenangkan. Saya tidak tahu penyebab “gangguan syaraf” atau “kekacauan mental” yang dialami sekitar setahun lalu.Namun menurut Ong karena dia adalah orang yang sensitif atau memiliki beberapa emosi tertentu yang dapat Ong kendalikan dengan mudah.
Ong adalah seorang mahasiswa sejarah, tidak ada dibenaknya selain menjadi seorang sarjana.Sebagai seorang sejarawan Ong harus dapat menganalisa mesyarakat, kecenderungan politik atau perkembangan sosial dan segala hal yang berkeitan dengan masyarakat Indonesia. Sebagai seorang sejarawan dan dengan berbahasa Belanda serta latar belakang keluarga dan lain-lain, Ong sangat mudah bergerak antara kelompok usi 60-an, yang hidup bersama kenangan padamasa 1930-an dan kelompok usia 80-an yang mangalami hidup di keratin para raja besar Jawa Tengah.
Tahun 1960-1965 merupakan periode penting sebagai penyebab “gangguan” sementra yang terjadi pada dirinya.Periode ini adalah masa ketika Ong memperlajari kesenian, agama, mistisisme dan konsep sejarah Jawa dan lain-lain dengan serius.Pada saat itu Ong mulai mengamati mistisisme dan mulai mencari beberapa benda seni, namun Ong lebih tertarik pada benda-benda mistis yang menjadi warisan turun-menurun dari keluarga-keluarga tertentu. Ong memliki perasaan melalui pertanda-pertanda istimewa atau firasat, terlebih lagi selama tiga atau empat bulan  sebelum peristiwa Oktober 1965. Ketegangan meningkat pada bulan-bulan tersebut, akibatnya tujuh orang jenderal terbunuh dan pembantaian terhadap orang-orang komunis.
Pada Mei 1965, Ong menuliskan esai pendek.Ketika sedang mendiskusikan esai tersebut dengan teman-teman, saya hampir bisa meramalkan peristiwa Oktober tahun itu.Dalam beberapa hal, akhir periode Soekarno dianggap sebagai peristiwa paling penting dalam masyarakat, seperti sebuah “perubahan yang periodik”.Tanpa pengaruh siapa pun, ramalan-ramalannya terhadap kejadian-kejadian tersebut benar-benar terjadi.Hal tersebut membuatnya sangat frustasi apabila harus berbicara dengan teman-temannya.Ketika terjadi peristiwa tersebut, Ong merasakan arus inflasi, ketidakpastian politis sehingga membuat merasa lelah secara fisik maupun psikis.
Kelebihan, Kekurangan dan Kesimpulan Buku
*      Kelebihan Buku
·           Buku “Sukarno Orang Kiri Revolusi & G30S” dapat menjadi referensi bagi mahasiswa untuk bahan pembelajaran sejarah.
·           Buku ini cocok dibaca untuk para pencinta Presiden Soekarno.
·           Dalam penulisannya, buku ini sudah menggunakan standar EYD.
·           Dalam ini sudah membahas mengenai Soekarno  dengan detail.
·           Buku ini juga cukup berguna dalam menerangkan bahwa Soekarno adalah orang kiri dan juga menjelaskan mengenai G30S.


*      Kekurangan Buku
·           Ada beberapa kata yang menjadikan kalimat yang tumpang tindih kata, sehingga ada beberapa kata atau kalimat yang sulit dipahami.
·           Kata-kata yang digunakan dalam buku ini sulit untuk dipahami dan dimengerti untuk para pembaca.
·           Terdapat penulisan kata yang menggunakan kata tidak baku.

*      Kesimpulan Buku
Dari buku ini saya dapat menyimpulkan bahwa buku ini layak menjadi referensi pegangan untuk pembelajaran maupun hanya untuk pengetahuan, karena buku ini cukup menarik dan isinya pun dapat menjadi pengantarnya. Namun dalam buku ini harus lebih diperbaiki cara bentuk penulisannya, karena semua itu akan memudahkan para pembacanya untuk menikmati buku ini secara lebih mudah untuk membacanya.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...