BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Sejarah merupakan ilmu yang dapat berguna untuk merefleksikan dan
mengevaluasi serta mengambil nilai dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
Melalui sejarah, kita dapat belajar dan membekali diri untuk hidup yang lebih
baik. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh bangsa Indonesia pada masa lalu
telah memberikan berbagai pelajaran. Pelajaran dari peristiwa lampau dapat
membuat Indonesia menjadi negara yang besar dan mencapai kejayaan yang telah
dicita-citakan oleh para pendahulu. Oleh karena itu, sejarah sangat penting
untuk ditelaah dan dipelajari.
Sejarah panjang bangsa Indonesia pada masa lalu dalam menjalani
kehidupan tentu memiliki banyak nilai dan pelajaran. Nilai dan pelajaran
tersebut sangat berguna bagi generasi penerus untuk mengarungi perjalanan
bangsa selanjutnya. Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan
mempertahankan kedaulatan sangat kental akan nilai-nilai positif. Baik
perjuangan dalam bentuk konfrontasi maupun diplomasi. Perjuangan konfrontasi dapat
memberikan nilai tentang semangat perjuangan dan pengorbanan dalam melawan
pihak musuh. Sedangkan perjuangan diplomasi dapat memberikan nilai tentang
strategi, kepandaian, keuletan, kesabaran, kecerdikan, dan kecerdasan bangsa
Indonesia dalam melakukan diplomasi.
Perjungan melalui diplomasi dan konfrontasi dilakukan oleh bangsa
Indonesia dalam berbagai peristiwa, diantaranya ketika terjadinya agresi
militer Belanda. Agresi militer yang dilakukan oleh Belanda terjadi dua kali.
Hal tersebut tentunya membuat bangsa Indonesia semakin menderita. Perjuanganpun
dilakukan melalui diplomasi dan konfrontasi hingga Indonesia terlepas dari
cengkeraman Belanda. Dari perjuangan melawan agresi militer Belanda, kita dapat
mengambil berbagai pelajaran untuk kehidupan yang jauh lebih baik. Hal
tersebutlah yang menjadi latar belakang disusunnya makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
pada makalah ini, yaitu :
1. Bagaimana Agresi Militer Belanda 1 ?
2. Bagaimana Agresi Militer Belanda 2 ?
C.
Tujuan
Adapun tujuan pada
makalah ini, yaitu :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah
Revolusi Indonesia
2. Untuk mengetahui tentang Agresi Militer Belanda
1
3. Untuk mengetahui tentang Agresi Militer Belanda
2
D.
Manfaat
Dengan
menerangkan materi tentang Agresi Militer Belanda 1 dan 2 ini akan memberi
pengetahuan bagi para pembaca. Hal ini juga perlu diterangkan karena peristiwa
ini merupakan peristiwa penting dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara
Indonesia. Pengetahuan tentang sejarah bangsa dan negara ini akan membawa
sebuah pencapaian hidup yang lebih baik bagi para pewaris.
BAB II
Pembahasan
A.
Agresi Militer Belanda 1
a.
Latar Belakang Terjadinya
Agresi Militer Belanda1
Perselisihan
pendapat sebagai akibat perbedaan penafsiran ketentuan-ketentuan dalam
persetujuan Linggarjati makin memuncak. Belanda tetap mendasarkan tafsir pada
pidato Ratu Wilhelmina tanggal 7 Desember 1942 bahwa Indonesia akan dijadikan
anggota “commonwealth” dan akan berbentuk federasi, sedangkan hubungan luar
negerinya di urus Belanda. Sedang Pemerintah Republik Indonesia memperjuangkan
terwujudnya Republik Indonesia yang berdaulat penuh dan diakui oleh pihak
Belanda. Belanda juga menuntut agar segera diadakan gendarmerie (pasukan
keamanan) bersama. [1]
Di
tambah dengan kesulitan ekonomi negaranya yang kian memburuk, Belanda berusaha
menyelesaikan “masalah Indonesia” dengan cepat. Pada tanggal 27 Mei 1947
Belanda mengirimkan nota yang merupakan ultimatum dan harus dijawab oleh
Pemerintah Republik Indonesia dalam waktu 14 hari. Pokok-pokok nota tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Membentuk Pemerintahan AD interim bersama,
2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan
lembaga devisa bersama,
3. Republik Indonesia harus mengirimkan beras
untuk rakyat di daerah-daerah yang diduduki Belanda,
4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban
bersama, termasuk daerah-daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda yaitu
gendarmerie (pasukan keamanan) bersama, dan
5. Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor
dan ekspor.[2]
Perdana
Menteri Syahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama
masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie (pasukan keamanan). Jawaban ini
mendatangkan reaksi keras dari kalangan
partai-partai politik dan berakibat jatuhnya kebinet Syahrir.[3]
Pada
tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur
pasukan sejauh 10 km dari garis demarkasi.[4] Pada saat itu Belanda
tetap menuntut adanya gendarmerie (pasukan keamanan) bersama dan minta agar
Republik Indonesia menghentikan permusuhan terhadap Belanda. Nota tersebut
kemudian disusul lagi dengan sebuah ultimatum bahwa dalam waktu 32 jam Republik
Indonesia harus memberi jawaban terhadap tuntutan Belanda.[5] Jawaban Pemerintah
Republik Indonesia yang disampaikan oleh perdana Menteri Amir Syarifuddin pada
tanggal 17 Juli 1947 melalui RRI Yogyakarta ditolak oleh Belanda. [6]
Tujuan
utama Agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan
daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak dan juga secara perlahan
Belanda ingin menghancurkan RI. Namun usaha tersebut tidak dilakukannya
sekaligus, karena itu pada tahap pertama Belanda harus
mencapai sasaran sebagai berikut:
- Politik, yaitu pengepungan
ibukota RI dan penghapusan RI dari peta (menghilangkan de facto
RI);
- Ekonomi, yaitu merebut
daerah-daerah penghasil bahan makanan (daerah beras di Jawa Barat dan Jawa
Timur) dan bahan ekspor (perkebunan di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera
serta pertambangan di Sumatera);
- Militer, yaitu penghancuran
TNI.[7]
Sebagai kedok kepada dunia internasional,
Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan
tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr.
H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda
tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggarjati.[8]
b.
Kronologis Terjadinya Agresi Militer Belanda 1
Konferensi
pers pada malam 20 Juli di istana, di mana Gubernur Jenderal HJ Van Mook
mengumumkan pada wartawan tentang dimulainya Aksi Polisionil Belanda pertama.
Serangan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, bahkan telah dilancarkan
tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli malam, sehingga dalam bukunya, J. A. Moor
menulis agresi militer Belanda I dimulai tanggal 20 Juli 1947.[9] Belanda berhasil menerobos
ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatera, Jawa Barat,
Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat,
yaitu Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara), Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di
Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa
Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran
utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik
gula.[10]
Pada
agresi militer pertama ini, Belanda juga mengerahkan kedua pasukan khusus,
yaitu Korps Speciale Troepen (KST) di bawah Westerling dan Pasukan
Para I (1e para compagnie) di bawah Kapten C. Sisselaar.[11] Pasukan KST (pengembangan
dari DST) yang sejak kembali dari Pembantaian Westerling pembantaian di Sulawesi Selatan belum pernah
beraksi lagi, kini ditugaskan tidak hanya di Jawa, melainkan dikirim juga ke
Sumatera Barat. Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang
Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura, sumbangan
Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan tewasnya
Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda
Udara dr. Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo.
Serangan
yang dilakukan oleh Belanda dilatarbelakangi oleh tidak dikabulkannya tuntutan
Belanda. Pasukan bersenjata Belanda dengan bantuan angkatan udara yang kuat,
menyebar ke daratan dari pangkalan pelabuhan laut mereka di Jawa dan Sumatra. Mereka
menyusup ke dalam wilayah Republik. Dalam waktu dua minggu, Belanda sudah
menguasai kebanyakan kota besar dan kota-kota kecil utama di Jawa Barat dan
Jawa Timur, sebagian hubungan-hubungan komunikasi utama di antara kota-kota
tersebut, dan telah menduduki pelabuhan-pelabuhan perairan laut dalam Republik
lainnya, yang terletak di Jawa.[12] Selain itu mereka
berhasil menguasai daerah-daerah penghasil minyak yang berharga di sekitar kota
Palembang serta pelabuhan-pelabuhan utama di pantai Sumatra Barat. Agresi
tentara Belanda berhasil merebut daerah-daerah di wilayah Republik Indonesia
yang sangat penting dan kaya seperti kota pelabuhan, perkebunan dan
pertambangan. Agresi terbuka Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 menimbulkan
reaksi yang hebat dari dunia.[13]
c.
Upaya Penyelesaian Agresi Militer Belanda 1
Pada
tanggal 28 Juli, India melalui perdana menteri Nehru mengumumkan bahwa India
akan menyerahkan situasi Indonesia kepada PBB. Dua hari kemudian, India dan
Australia membawa pertikaian antara Indonesia dan Belanda ke hadapan PBB.
Austrlia meminta campur tangan PBB dengan alasan bahwa saat itu sudah terjadi
suatu pelanggaran perdamaian, sedangkan alasan India adalah pemeliharaan
perdamaian dan keamanan internasional berada dalam bahaya. Australia
mengusulkan suatu resolusi yang menyerukan agar Belanda dan Indonesia segera
menghentikan pertempuran, dan meyerahkan pertikaian mereka kepada wasit pihak
ketiga seperti yang disebutkan dalam persetujuan Linggartjati.[14]
Tanggal
1 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian permusuhan kedua
belah pihak yang dimulai pada tanggal 4 Agustus 1947.[15] Penghentian permusuhan
ini dilakukan dengan dibentuknya Komisi Tiga Negara (KTN). Pemerintah Indonesia
meminta Australia untuk menjadi anggota komisi, sedangkan Belanda memilih
Belgia. Kedua negara sepakat memilih Amerika Serikat. Australia diwakili oleh
Richard Kirby, Belgia oleh Paul van Zealand, dan Amerika diwakili oleh Dr.
Frank Graham, untuk melaksanakan tugas tersebut Komisi Tiga Negara mengadakan
pertemuannya di Sydney pada tanggal 20 Oktober 1947.[16] Dan pada tanggal 8
Desember, KTN mengadakan sidang resminya yang pertama dengan delegasi Republik
dan delegasi Belanda dalam wilayah yang netral, yaitu di geladak kapal Renville yang berlabuh di pelabuhan
Batavia. KTN berhasil mempertemukan kembali kedua belah pihak untuk
menandatangani perstujuan genjatan senjata dengan prinsip-prinsip politik yang
telah disetujui bersama dengan disaksikan KTN di atas kapal Renville pada 17 Januari 1948.
B.
Agresi Militer Belanda 2
a.
Latar Belakang Terjadinya Agresi Militer Belanda
2
Perundingan-perundingan
yang dilakukan di bawah pengawasan KTN selalu menemui jalan buntu, sebab
Belanda sengaja mengemukakan hal-hal yang tidak mungkin diterima Republik
Indonesia, seperti penafsiran “Garis Van Mook” sebagai garis demarkasi antara
daerah yang masuk kekuasaan Republik dan Daerah yang menjadi kekuasaan Belanda,
serta masalah pembentukan Pemerintahan adinterim Negara Indonesia Serikat.
Tawaran
rencana KTN yang terkenal dengan “Usul Chritchley-Dobuis” (anggota KTN dari
Australia dan Amerika) ditolak pula oleh pihak Belanda karena tidak
menguntungkan.
Pemerintah
Belanda memperhitungkan pula bahwa pertikaian yang terjadi di kalangan Republik
Indonesia sebagai akibat dari perjanjian Renville, kegoncangan di kalangan TNI
sehubungan dengan adanya rekontruksi dan rasionalisasi, serta penumpasan
pemberontakan PKI Madiun yang menelan daya upaya dan kekuatan Republik,
memberikan kesempatan bagi Belanda untuk lebih menekan Republik Indonesia.
Dalam
situasi yang gawat ini, akhirnya pada tanggal 13 Desember 1948 Bung Hatta
selaku pimpinan pemerintahan meminta kembali KTN untuk menyelenggarakan
perundingan dengan Belanda, bahkan dengan syarat “kesediaan Republik Indonesia
mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan”. Uluran tangan tersebut
dijawab oleh Belanda pada tanggal itu juga bahwa perundingan tidak akan
diadakan lagi apabila tidak didasarkan pada tuntutan-tuntutan yang diajukan
Belanda.[17]
b. Kronologis Terjadinya Agresi Militer Belanda 2
Pada
21.00 tanggal 18 Desember 1948 pihak Belanda menyampaikan surat kepada Jusuf
Ronodipuro, liaison officer delegasi
RI di Jakarta. Isinya, terhitung mulai pukul 00.00 tanggal 19 Desember 1948
Belanda tidak lagi terikat dengan persetujuan Renville dan perjanjian genjatan senjat.[18]
Berita ini tidak berhasil disampaikan ke pemerintahan RI di Yogyakarta pada
malam itu juga karena dihalangi oleh Belanda. Berita pertama tentang Belanda
memutuskan Perjanjian Genjatan Senjata Renville
diterima di Yogyakarta pada jam 5.30
berupa suatu serangan pesawat pembom Belanda (Mitchel buatan Amerika) di atas
lapangan udara terdeka.[19] Pertahanan
TNI di Maguwo hanya terdiri dari 150 orang pasukan pertahanan pangkalan udara
dengan persenjataan yang sangat minim, yaitu beberapa senapan dan satu senapan
anti pesawat 12,7. Senjata berat sedang dalam keadaan rusak. Pertahanan
pangkalan hanya diperkuat dengan satu kompi TNI bersenjata lengkap. Pukul
06.45, 15 pesawat Dakota menerjunkan pasukan KST Belanda di atas Maguwo.
Pertempuran merebut Maguwo hanya berlangsung sekitar 25 menit. Pukul 7.10
bandara Maguwo telah jatuh ke tangan pasukan Kapten Eekhout. Di pihak Republik
tercatat 128 tentara tewas, sedangkan di pihak penyerang, tak satu pun jatuh
korban.[20]
Sekitar pukul 9.00, seluruh 432 anggota
pasukan KST telah mendarat di Maguwo, dan pukul 11.00, seluruh kekuatan Grup
Tempur M sebanyak 2.600 orang –termasuk dua batalyon, 1.900 orang, dari Brigade
T- beserta persenjataan beratnya di bawah pimpinan Kolonel D.R.A. van Langen
telah terkumpul di Maguwo dan mulai bergerak ke Yogyakarta. Serangan terhadap
kota Yogyakarta juga dimulai dengan pemboman serta menerjunkan pasukan payung
di kota. Di daerah-daerah lain di Jawa antara lain di Jawa Timur, dilaporkan
bahwa penyerangan bahkan telah dilakukan sejak tanggal 18 Desember malam hari.
Menjelang tengah petang, setelah mengepung kota, Brigade Marinir Belanda,
dibantu oleh sejumlah besar pasukan Ambon dari KNIL berhasil mencapai pusat
kota ke istana Presiden. Taktik cepat yang digunakan Belanda berhasil menangkap
Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan separuh anggota kabinet Republik. Sebelum
tertangkap, kabinet sempat bersidang. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa
Presiden dan Wakil Presiden tidak akan meninggalkan ibukota.[21]
Hal ini dikarenakan tidak adanya pasukan yang mengawal mereka ke luar kota.
Selain itu, apabila tetap di dalam kota, hubungan dengan KTN masih dapat
dilakukan dan dengan perantaraan KTN, perundingan dengan Belanda dapat dibuka
kembali. Keputusan yang lain dari sidang pada tanggal 19 Desember 1948
adalah memberikan mandat kepada Menteri
Kemakmuran, Sjafruddin Prawiranegara yang ketika itu berada di Bukittinggi
untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra.[22]
Mandat juga diberikan kepada dr. Sudarsono, A. A. Maramis, dan L. N, Palar
untuk membentuk exile government di
luar negeri bila usaha Sjafruddin Prawiranegara gagal.
c. Upaya Penyelesaian Agresi Militer Belanda 2
Pada tanggal 20 Desember 1948 pagi, Belanda meminta agar Soekarno
memerintahkan pasukan Republik menghentikan perlawanan. Soekarno menolak dan
pada tanggal 22 Desember ia, Hatta, Sjahrir, Mr. Assaat, Mr Abdul Gafar
Pringgodigdo, H Agoes Salim, Mr Ali Sastroamodjojo, dan Komodor Udara
Suriadarma diterbangkan Belanda ke Pulau Bangka. Di sana, Soekarno, Sjahrir,
dan Salim dipisahkan dengan yang lainnya dan diterbangkan ke Berastagi,
kemudian ke Prapat dan Danau Toba.[23]
Jatuhnya Yogyakarta ke tangan
Belanda dan tertangkapnya pemimpin negara yang kemudian di asingkan membuat
Penglima Besar Soedirman Berangkat ke luar kota untuk memimpin perang gerilya.
Sesuai dengan rencana, Angakatan Perang mengundurkan diri ke luar kota untuk
melakukan perang gerilya. Perjalanan bergerilya
selama delapan bulan ditempuh kurang lebih 1000 km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tidak jarang Soedirman harus ditandu atau digendong karena dalam keadaan sakit
keras. Setelah berpindah-pindah dari beberapa desa rombongan Soedirman kembali
ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli
1949.
Kolonel A.H. Nasution,
selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter
yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1
Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari
daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis
musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan
menjadi medan gerilya yang luas.Pasukan yang tadinya dipindahkan akibat
persetujuan Renville melakukan wingate ke daerah asal mereka. Pasukan Siliwangi melakukan long march dari Jawa Tengah ke Jawa
Barat. TNI membentuk daerah-daerah pertahanan (wehrkreise) di luar kota. Setelah berhasil melakukan konsolidasi,
TNI mulai melakukan pukulan-pukulan terhadap Belanda. Pukulan yang pertama
adalah garis-garis komunikasi pasukan Belanda. Mereka merusak jaringan telepon,
jaringan rel kereta api, dan konvoi-konvoi Belanda di hadang dan dihancurkan.
Situasi perang mulai berbalik. TNI yang pada awalnya bertahan mulai
beralih dengan taktik menyerang. Mereka tidak lagi hanya mencegat dan menyerang
konvoi-konvoi Belanda serta menyerang pos-pos terpencil, tetapi mereka juga
menyerang kota-kota yang diduduki oleh Belanda. Serangan terhadap kota
Yogyakarta tanggal 1 Maret 1949 dibawah pimpinan Letkol Soeharto berhasil
dilakukan selama enam jam. Hal ini membuktikan kepada dunia luar bahwa TNI dan
Republik Indonesia masih eksis.[24]
Adanya Agresi Militer Belanda 2 ini tentunya dilihat oleh mata dunia
Internasional. Setelah pada Agresi Militer Belanda 1, Belanda mendapat kecaman,
sekarang Belanda pun dikutuk. Dunia bahkan mendukung perjuangan Bangsa
Indonesia untuk mempertahankan kemerdakaannya. Negara Indonesia Timur dan
Negara Pasundan “Negara boneka” karya Belanda ikut mengutuk tindakan Agresi
Militer Belanda 2 tersebut. Pada tanggal 20 hingga 23 Januari 1949, atas usulan
Burma (sekarang Mnyanmar) dan India, digelarlah Konferensi Asia di New Delhi,
India. Kenferensi itu sendiri dihadiri oleh beberapa negara di Asia, Afrika dan
Australia. Hasilnya berupa resolusi tentang permasalahan Indonesia yang lalu
disampaikan kepada Dewan Keamanan PBB.[25]
PBB juga mengutuk Agresi Militer Belanda 2, sebab menurut pandanga PBB,
Belanda sudah secara terang-terangan menginjak-injak kesepakatan dalam
Perjanjian Renville yang ketika itu ditandatangani oleh Komisi Tiga Negara
(KTN), wakil dari PBB. Pada tanggal 4 Januari 1949, Dewan Keamanan PBB
mengeluarkan resolusi supaya Indonesia dan Belanda segera menghentikan
permusuhan dan kembali ke meja perundingan. Belanda akhirnya menghentikan
aksinya. Kegagalan mereka di berbagai pertempuran dan tekanan dunia
Internasional, khususnya dari negara adi daya Amerika Serikat, memaksa Belanda
untuk kembali ke meja perundingan. [26]
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
Agresi militer yang
dilakukan oleh Belanda disebabkan oleh tuntutan-tuntutan yang tidak dapat
dipenuhi oleh pihak Indonesia. Indonesia tidak dapat memenuhi, karena
tuntutan-tuntutan tersebut sangat merugikan Indonesia. Pada saat itu, Indonesia
yang merupakan negara baru masih lemah dalam berbagai kekutan, baik militer,
ekonomi, maupun diplomasi. Sehingga menjadi wajar apabila Belanda bersikap
sewenang-wenang dalam perjanjian, bahkan mengkhianati perjanjian yang telah
disetujui.
Enam
puluh tujuh tahun setelah terjadinya agresi militer Belanda I, keadaan
Indonesia sudah jauh lebih baik. Sumber daya manusia dan sumber daya alam sudah
diolah jauh lebih baik jika dibandingkan pada saat itu. Oleh karena itu,
pemerintah seharusnya selalu berusaha secara maksimal dalam diplomasi dengan
negara lain. Diplomasi yang dilakukan harus menguntungkan pihak Indonesia. Hal
ini dikarenakan akan berpengaruh terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Indonesia pasti bisa.
Daftar Pustaka
- Sumber Buku
A.B. Lapian dkk. 1996. Terminologi Sejarah 1945-1950 & 1950-1959. Jakarta: cv. Defit
Prima Karya
Kahin, George Mc Turnan.
1995. Nasionalisme dan Revolusi di
Indonesia, cetakan kedua. Solo: UNS Press
Tim
Nasional Penulisan Sejarah Indonesia. 2010. Sejarah
Nasional Indoesia VI, edisi pemutakhiran, cetakan keempat. Jakarta: Balai
Pustaka
- Sumber Internet
Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I, di akses pada Kamis 9 Oktober 2014, pukul 23.41 WIB
Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_II, diakses pada Selasa 7 Oktober 2014,
pukul 22.00 WIB
Bimbie http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda.htm, diakses pada Senin, 20 Oktober
2014, pukul 12.00 WIB
Seo http://www.tuanguru.com/2012/09/tujuan-agresi-militer-belanda-i.html, diakses pada Senin, 20 oktober 2014, pukul
19.00 WIB
Bimbie http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda-dua.htm, di akses pada Senin, 20 Oktober 2014, pukul
19.30 WIB
[1] A.B. Lapian dkk. 1996. Terminologi
Sejarah 1945-1950 & 1950-1959. Jakarta: cv. Defit Prima Karya hal 145
[4] Wikipedia,
http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I, di
akses pada Kamis 9 Oktober 2014, pukul
23.41 WIB
[7] Seo, http://www.tuanguru.com/2012/09/tujuan-agresi-militer-belanda-i.html, Senin, 20 oktober 2014, pukul 19.00 WIB
[8] Wikipedia,
http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I, di
akses pada Kamis 9 Oktober 2014, pukul
23.41 WIB
[9] J.A.Moor
dalam Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I, di
akses pada Kamis 9 Oktober 2014, pukul 23.41 WIB
[10] Bimbie,
http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda.htm di akses pada Senin, 20 Oktober
2014, pukul 12.00 WIB
[11]Bimbie,
http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda.htm, di akses pada Senin 20 Oktober 2014,
pukul 12.00 WIB
[12] Kahin, George Mc Turnan. 1995, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, cetakan
kedua, Solo, UNS Press, hlm. 268
[13] Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 2010, Sejarah Nasional Indoesia VI, edisi
pemutakhiran, cetakan keempat, Jakarta, Balai Pustak, hlm. 220
[20] Wikipedia,
http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_II, diakses pada Selasa 7 Oktober 2014,
pukul 22.00 WIB
[23] Bimbie, http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda-dua.htm, di akses
pada Senin, 20 Oktober 2014, pukul 19.30 WIB
[24] Bimbie,
http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda-dua.htm, di akses pada Senin, 20 Oktober 2014, pukul
19.30 WIB
[25] Bimbie,
http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda-dua.htm, di akses pada Senin, 20 Oktober 2014, pukul
19.30 WIB
[26] Bimbie, http://www.bimbie.com/agresi-militer-belanda-dua.htm, di akses pada Senin, 20 Oktober 2014, pukul
19.30 WIB

No comments:
Post a Comment