AKIBAT KEDEKATAN SOEKARNO DENGAN PKI
ARTIKEL
Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Sejarah Politik
Dosen Pangampu :
Hamdan Tri Atmaja
Insan Fahmi Siregar
Insan Fahmi Siregar
Oleh :
Intan Wahyuningsih
3101412077
Rombel 5B
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
AKIBAT KEDEKATAN SOEKARNO DENGAN PKI
Sikap politik yang dipilih Presiden Soekarno dalam demokrasi
terpimpin yaitu anti imperialisme dan kapitalisme mengakibatkan nagara barat
tidak suka pada hal tersebut. Dari keadaan yang ada Presiden Soekarno mencari
sekutu dari Partai Komunis yang dianggap tepat dan dapat mendukung sikap
politiknya. Sebagaimana diketahui, pada masa Demokrasi terpimpin satu-satunya
partai politik yang paling berperan adalah PKI, sementara partai-partai lain
hanyalah pemain pinggiran. Selain itu Soekarno dan PKI merupakan dua kekuatan
yang saling membutuhkan. Soekarno membutuhkan PKI, karena PKI merupakan
satu-satunya partai politik yang mendukung penuh gagasan dan kebijakan
Soekarno, dan PKI dibutuhkan Soekarno untu mendapat dukungan dari kalangan
sipil yang mempunyai pemikiran dan sifat gerakan yang revolusioner. Hal ini
dibutuhkan Soekarno untuk mengimbangi kekuatan tentara, terutama Angkatan
Darat. Sedangkan PKI membutuhkan Soekarno untuk melindunginya dari tekanan
tentara dan untuk mendapatkan kekuasaan.
Adanya saling ketergantungan dan kepentingan yang sama antara
Soekarno dan PKI, maka semakin mempererat kedua belah pihak untuk bekerjasama. Akibat
yang timbul dari sikap Presiden Soekarno yang semakin dekat dengan Partai
Komunis tersebut yaitu, pertama Soekarno semakin menjauh dari Partai Islam,
kedua terjadi ketegangan dengan TNI AD dan yang ketiga negara barat yang anti
komunis semakin tidak suka dengan Soekarno. Untuk lebih jelasnya dijabarkan
sebagai berikut :
A.
Soekarno Menjauh dari Partai Islam
Soekarno menerbitkan Keppres Nomor 200/1960 tanggal 15 Agustus
1960, yang isinya membubarkan Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Namun pelaksanaan pembubaran itu harus dilakukan sendiri oleh Masyumi dan PSI.
Jika dalam tempoh seratus hari kedua partai itu tidak membubarkan diri, maka
partai itu akan dinyatakan sebagai partai terlarang. Sebab itulah Ketua Umum
Masyumi Prawoto Mangkusasmito dan Sekjennya Muhammad Yunan Nasution,
mengeluarkan pernyataan politik membubarkan Masyumi, mulai dari pusat sampai ke
daerah-daerah.
Apa yang ada di kepala orang Masyumi waktu itu ialah Soekarno
mulai menjadi diktator dan negara makin bergerak ke arah kiri. Dalam
perhitungan mereka, tanpa Masyumi, maka kekuatan PKI akan semakin besar dan
sukar dibendung. PNI sebagai representasi kelompok nasionalis, telah dintrik
dan diintervensi oleh kekuatan kiri melalui kelompok Ali Sastroamidjojo dan
Surachman. Kendatipun memiliki basis massa yang besar, elit politisi NU dibawah
pimpinan Idham Chalid dan Saifuddin Zuhri, takkan kuat menghadapi Soekarno dan
PKI sendirian.
Apalagi, makin nampak kecenderungan akomodatif NU untuk menerima
posisi representasi kelompok agama dalam poros Nasakom (Nasionalis, Agama dan
Komunis), suatu hal yang ditentang keras oleh Masyumi. Tokoh-tokoh Masyumi
memang dihadapkan pada dilema dengan Keppres 200/1960 itu. Menolak melaksanakan
pembubaran diri, berarti secara hukum, partai itu akan dinyatakan sebagai
partai terlarang.
Karena itu, mereka memilih alternatif yang juga tidak menyenangkan
yakni membubarkan diri, dengan harapan suatu ketika partai itu akan hidup
kembali, jika situasi politik telah berubah. Prawoto sendiri mengatakan,
Keppres 200/1960 itu ibarat vonis mati dengan hukuman gantung, sementara
eksekusinya dilakukan oleh si terhukum itu sendiri. Memang terasa menyakitkan.
Meskipun Masyumi telah membubarkan diri, dan tokoh-tokohnya yang terlibat dalam
PRRI telah memenuhi panggilan amnesti umum dan mereka menyerah, namun perlakuan
terhadap mereka tetap saja jauh dari hukum dan keadilan.
Tokoh-tokoh Masyumi yang menyerah itu, Natsir, Sjafruddin
Prawiranegara dan Boerhanoeddin Harahap ditangkapi. Bahkan mereka yang tidak
terlibat PRRI seperti Prawoto, Mohamad Roem, Yunan Nasution, Isa Anshary,
Kasman Singodimedjo, Buya Hamka dan yang lain, juga ditangkapi tanpa alasan
yang jelas. Bertahun-tahun mereka mendekam dalam tahanan di Jalan Keagungan,
Jakarta, tanpa proses hukum. Ini terang suatu bentuk pelanggaran HAM yang
dilakukan Sukarno. Tokoh utama PSI, Sutan Sjahrir bahkan mendekam dalam penjara
di sebuah pulau di lautan Hindia, di sebelah selatan daerah Banten.
Dalam kondisi tahanan yang buruk, Sjahrir sakit, sampai akhirnya
wafat walau mendapat perawatan di Swiss. Tokoh PSI yang lain, Soebadio
Sastrosatomo dan Hamid Algadri juga ditahan. Perlakuan terhadap anak-anak dan
keluarga orang Masyumi di masa itu hampir sama saja dengan perlakuan keluarga
PKI di masa Orde Baru. Ketika itu PKI sedang jaya. Ketika mereka sedang jaya,
mereka juga membantai orang-orang Masyumi di Madiun tahun 1948, dan menculik
dan menghilangkan paksa orang-orang Masyumi di Jawa Barat dan tempat-tempat
lain. Hendaknya sejarah jangan melupakan semua peristiwa ini.
Di era Reformasi sekarang, banyak aktivis HAM hanya berbicara
tentang orang-orang PKI pasca G 30 S yang menjadi korban pembantaian Orde Baru,
tetapi mereka melupakan orang-orang Masyumi yang menjadi korban pembantaian dan
penghilangan paksa PKI, ketika mereka masih jaya-jayanya. Sebab itulah, ketika
Orde Lama runtuh pasca Gerakan 30 September 1965, ada secercah harapan di kalangan
keluarga besar Masyumi agar mereka hidup dan berkiprah kembali. Presiden
Soekarno yang dianggap berbuat sewenang-wenang kepada Masyumi dengan dukungan
PKI, dicabut kekuasaannya oleh MPRS pada tahun 1967.
Pembubaran Masyumi
sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari hasil propaganda PKI. PKI cukup
berhasil dalam mempengaruhi Soekarno untuk membubarkan Partai Masyumi.
Sebagaimana diketahui, pada masa Demokrasi terpimpin satu-satunya partai
politik yang paling berperan adalah PKI, sementara partai-partai lain hanyalah
pemain pinggiran. Selain itu Soekarno dan PKI merupakan dua kekuatan yang
saling membutuhkan. Soekarno membutuhkan PKI, karena PKI merupakan satu-satunya
partai politik yang mendukung penuh gagasan dan kebijakan Soekarno, dan PKI
dibutuhkan Soekarno untu mendapat dukungan dari kalangan sipil yang mempunyai
pemikiran dan sifat gerakan yang revolusioner. Hal ini dibutuhkan Soekarno
untuk mengimbangi kekuatan tentara, terutama Angkatan Darat. Sedangkan PKI
membutuhkan Soekarno untuk melindunginya dari tekanan tentara dan untuk
mendapatkan kekuasaan.
B.
Terjadi Ketegangan antara TNI AD dengan Soekarno
Semenjak kemerdekaan, Indonesia sudah menjadi ladang operasi
intelejen dari berbagai negara. Jaringan yang cukup berpengaruh adalah M-16
dari Inggris dan CIA dari AS di samping intelejen RRC dan KGB-nya Uni Soviet.
Semua jaringan intelejen ini bekerja di bidang pengawasan, pengaruh, pengarahan
operasi, sampai pengambilalihan kekuasaan di tahun 1965 dari Presiden Soekarno
oleh Soeharto yang dilandasi dengan satu kepentingan yang pembuktiannya hanya
bisa dilihat dalam kelanjutan setelah kudeta 1965. Kelanjutannya adalah
pembantaian massal, pelarangan ideologi komunis,soekarnois dan PKI, dan semua
partai maupun organisasi masyarakat yang dekat dengan Soekarno. Bagaimanapun,
kejatuhan Soekarno dari kepemimpinan nasional sebagai presiden pertama RI tetap
merupakan misteri sejarah. Namun, rentetan peristiwa setelah kejatuhan Soekarno
membuktikan peristiwa tersebut terencana sangat matang dan canggih.
Pada dekade tahun 60-an, peta politik Indonesia sudah meruncing
dan menimbulkan tiga kekuatan politik, Soekarno, PKI dan tentara AD. Antara PKI
dengan tentara AD timbul persaingan politik. Persaingan antara PKI dengan AD
memuncak pada tanggal 30 September 1965 dengan diculiknya tujuh perwira AD oleh
anggota PKI dari resimen Cakrabirawa di bawah komando Letnan Kolonel Untung.
Ketujuh perwira tinggi AD ini dibawa ke daerah Lobang Buaya dan ditemukan tewas
semuannya. PKI juga menyusup ke tubuh ABRI dengan menghasut perwira-perwira
rendah ABRI yang tidak puas dengan atasannya.
Kepentingan Soekarno terhadap PKI dan TNI sangat besar. PKI
sebagai Partai Komunis memberikan suara terhadap Soekarno ketika Soekarno
mengeluarkan kebijakan dengan landasan sosialis. Dukungan penuh selalu
diberikan oleh PKI kepada Soekarno dikarenakan kesamaan pandangan politik kiri.
Namun Soekarno juga tidak bisa melepaskan peranan TNI terutama AD. TNI adalah
militer yang memiliki kekuasaan untuk mengamankan Negara. Maka Soekarno
berusaha untuk tetap menyeimbangkan politik terhadap TNI-PKI agar salah satu
dari mereka tidak berperang secara terbuka. Karena jika salah satu dari mereka
menjadi “pemenang” maka kekuasaan Soekarno akan hancur. Jika TNI menang dan PKI
kalah, maka pendukung dari kebijakan Soekarno akan habis diberangus. Sebaliknya
jika PKI menang dan TNI kalah, maka Soekarno akan kewalahan dengan ambisi PKI dengan revolusi nya untuk mencapai
tatanan masyarakat sosialis (Negara Komunis) dan tetap saja posisi Soekarno
akan hilang.
Permusuhan anatara PKI dan AD sudah dimulai sejak lama, peristiwa
pemberontakan PKI Madiun 1948 adalah salah satu contoh. PKI yang secara massif
terus mendekati Presiden Soekarno dengan persamaan ideologinya yaitu Sosialis.
Manuver-manuver dilakukan oleh PKI demi kelancaran politknya. Penyusupan
kedalam tubuh TNI dilakukan oleh Sjam Kamaruzaman. Kemudian PKI juga membentuk
sayap-sayap ormas seperti Lekra (bidang kebudayaan), Partai Buruh Indonesia,
SOBSI, Partai Sosialis, PESINDO, BTI dan Lasykar Rakyat.
Permusuhan ini meruncing ketika Perdana Menteri Cina Chou En Lai
datang ke Indonesia dan menyerahkan sumbangan senjata ke Indonesia. PKI menghendaki
senjata tersebut diserahkan kepada buruh tani dan membentuk Angkatan Kelima
selain dari Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Darat dan Angkatan
Kepolisian. Namun, pihak tentara AD yang sudah faham dengan strategi yang
dilancarkan oleh PKI menolak dengan keras pembentukan Angkatan Kelima tersebut
dengan alasan sulitnya jalur koordinasi.
Pembentukan Angkatan Kelima ini menurut PKI sangat diperlukan
untuk mempersejatai relawan-relawan yang akan dikirim untuk mengganjang
Malaysia. Pada 17 Maret 1961 Soekarno mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia.
Menurut Soekarno, Malaysia itu adalah proyek Nekolm dari Inggris.
Selain itu, faktor yang selanjutnya adalah ditemukannya dokumen
Gilcrist oleh simpatisan PKI. Dokumen ini ditemukan ketika simpatisan PKI membakar
gedung keduataan Inggris dalam rangka demonstrasi. Menurut dokumen itu, tentara
AD membentuk Dewan Jenderal yang akan melakukan coup d’etat atas kekuasaan
Soekarno pada hari ulang tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965. PKI dengan alibi
ingin menyelamatkan Negara dari rencana kudeta militer, maka PKI mendahului
gerakan mereka dengan menculik tujuh perwira tinggi AD pada tanggal 30
September 1965.
Penculikan perwira AD oleh PKI menimbulkan instabilitas politik
dan ekonomi di Indonesia. Pada tanggal 2 Oktober 1965 Mayjen Soeharto diserahi
tugas oleh Soekarno untuk mengambil alih komando tentara. Kekuasaan ini
dilembagakan dengan pembentukan Kopkamtib (Komando Oprasi Pemulihan Keamanan
dan Ketertiban). Tujuannya adalah untuk memulihkan keamanan dan ketertiban
pasca penculikan perwira AD.
Pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan surat
perintah kepada Mayjen Soeharto yang disebut dengan SUPERSEMAR untuk
mengamankan jalannya pemerintahan dan untuk mengembalikan kestabilan politik.
Namun dengan berbekal Surat Perintah yang berisi kewenangan Soeharto melakukan
tindakan apa saja demi kestabilan Negara, tindakan yang pertama Soeharto adalah
membubarkan PKI. Pembubaran PKI berarti pelemahan terhadap Soekarno, karena
dukungan terbesar dari Soekarno adalah PKI.
Peristiwa G30S dan proses penanganannya yang dilakukan oleh TNI-AD
telah terbangun persepsi dalam masyarakat bahwa terjadi dualisme kepemimpinan
yakni, Mayjen Soeharto yang pada waktu itu sebagai Panglima Kostrad yang
mencanangkan tema melaksanakan Pancasila dan dan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen seperti berada di atas angin karena momentum dan sepertinya mengambil
alih dalam melakukan pembantaian terhadap PKI, karena PKI yang dituduh
merongrong Pancasila harus dilawan. Namun disisi lain Presiden Soekarno sebagai
pemimpin negara yang seharusnya diminta pendapat tidak dilibatkan.
Ditambah dengan munculnya sosok Soeharto sebagai penyelamat bangsa
dari kehancuran oleh PKI. Rakyat larut dalam euforia kemenangan dari PKI dan
melupakan Presiden Soekarno. Dukungan muncul dari seluruh rakyat kepada
Soeharto untuk membubarkan PKI dengan gerakan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat).
Dari situlah kekuasaan Soekarno menurun dan rakyat lebih patuh kepada kekuasaan
Soeharto. Selain itu, rakyat sudah muak dengan konsepsi-konsepsi yang terus
dikeluarkan oleh Soekarno seperti Nasakom, Manipol Usdek, Berdikari dan
lainnya. Namun di sisi lain kemerosotan ekonomi yang mengalami inflasi 600%
menyengsarakan rakyat tanpa ada perbaikan dari pemerintah Soekarno.
Krisis ketatanegaraan dan pemerintahan yang terjadi pada tahun
1950-an memuncak dengan keluarnya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Presiden
Soekarno membubarkan Kabinet Djuanda dan membentuk Kabinet Kerja. Presiden
Soekarno juga membubarkan DPR hasil pemilu 1955 karena menolak anggaran belanja
negara yang diajukan pemerintah. Bung Karno kemudian membentuk Dewan Perwakilan
Rakyat Gotong Royong (DPRGR) tanggal 24 Juni 1960.
Perbandingan keanggotaan DPRGR yang seluruh anggotanya dipilih
Bung Karno adalah nasionalis (94), Islam (67), dan komunis (81). Dengan
demikian, PKI memperoleh banyak keuntungan dari kebijakan Bung Karno. DPRGR
dilantik Bung Karno tanggal 25 Juni 1960. Tugasnya adalah melaksanakan manipol,
merealisasikan amanat penderitaan rakyat, dan melaksanakan demokrasi terpimpin.
Presiden Soekarno benar-benar menjadi inisiator dan operator politik tunggal
demokrasi terpimpin. Garis kebijakannya tentang demokrasi terpimpin tertuang
dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi
Kita. Langkah yang ditempuh adalah membentuk Front Nasional, menggabungkan
lembaga tinggi dan tertinggi negara di bawah kendalinya, serta membentuk
Musyawarah Pembantu Pemimpin Revolusi (MPPR).
PKI berusaha keras berada di belakang pengaruh Bung Karno. PKI
senantiasa memainkan peranan sebagai golongan yang paling Pancasilais. Gagasan
Bung Karno tentang Nasakom jelas menguntungkan gerakan PKI. Bahkan, D.N. Aidit
pada tahun 1964 berani berkata, ”bila kita telah mencapai taraf hidup adil dan
makmur dan telah sampai kepada sosialisme Indonesia, maka kita tidak lagi
membutuhkan Pancasila.” Gerakan PKI ini dihadang golongan Islam dan TNI AD.
Bahkan, sejak pembentukan DPRGR kedua kelompok ini telah menentang secara
keras. Namun, upaya itu mendapat rintangan karena Bung Karno memang melindungi
keberadaan PKI. Kondisi politik saat itu benar-benar panas karena PKI melakukan
beberapa aksi dan kerusuhan. Konflik antara PKI dan TNI AD pun tidak
terhindarkan.
Peristiwa G30S dan perkembangan sejarah selanjutnya harus dilihat
dari konteks keadaan politik Indonesia pada awal 1960-an. Suasana politik saat
itu semakin tegang dalam tatanan kekuatan utama, yaitu Presiden Soekarno, TNI
AD, dan PKI. Pemerintah menjalankan
politik Demokrasi terpimpin di bawah Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno.
Presiden Soekarno mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang luas. Demokrasi
terpimpin yang dijalankan Soekarno bersifat revolusioner. Selain itu, Soekarno
pun mengumandangkan apa yang disebut sebagai Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan
Komunisme). Banyak peneliti Barat yang mengatakan bahwa Soekarno adalah seorang
pemimpin yang diktator. Hal tersebut didukung dengan beberapa alasan, misalnya
Soekarno yang memiliki peran politik dominan dan sering kali mendapatkan
pertentangan dari elite politik dan pihak pimpinan TNI-AD dalam memutuskan
kebijakannya.
Faktor lain yang tidak kalah penting dalam pemerintahan Demokrasi
Terpimpin yang carut marut adalah kondisi kesehatan Soekarno yang menurun.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh dua kekuatan yang sudah lama berseberangan, yaitu
PKI dan TNI-AD. Kedua pihak saling mencurigai bahwa mereka sama-sama sudah
mempersiapkan sebuah kudeta terhadap Soekarno yang sedang sakit.
Menilik ke belakang, bahwa PKI merupakan sebuah organisasi yang
secara organisatoris telah mampu menentukan tujuan perjuangan, landasan, metode
mencari kawan dan mencapai tujuan, penetapan kawan yang dijadikan sekutu dan
lawan sebagai musuh yang semestinya dimusnahkan, maka PKI selalu melakukan
hal-hal yang bersifat revolusioner. PKI pun secara jelas menuliskan bahwa
tujuan perjuangan selanjutnya adalah Revolusi Indonesia yang komunis.
Sejak mencetuskan penggunaan Metode Kombinasi Tiga Bentuk
perjuangan (MKTB), PKI berhasil keluar sebagai pemenang Pemilu 1955, terutama
setelah keluar Dekrit 5 Juli 1959, mereka semakin pesat. Strategi merangkul
Soekarno dan mampu memanfaatkan kesempatan politik nasional untuk
mengimplementasikan program-program perjuangan partai, seperti Manipol dan
UUPA. Presiden Soekarno saat menjalankan pemerintahan memerlukan dukungan dari
ABRI, namun kebijakan yang dikeluarkan Soekarno cenderung sejalan dengan PKI.
Di sisi lain, Soekarno pun membutuhkan sekutu untuk menghadapi TNI AD yang
tidak serta merta mau tunduk dengan kebijakan Soekarno. Dalam kondisi seperti
itulah, hubungan Soekarno, PKI, dan TNI AD semakin memanas seiring timbulnya
persaingan yang semakin kuat.
PKI merupakan partai terbesar di dunia di luar negara komunis.
Pada tahun 1964 PKI telah berubah menjadi kekuatan yang besar dan agresif dalam
perpolitikan Indonesia. PKI mengusulkan kepada Bung Karno agar dibentuk
”Angkatan Kelima”. Yang dimaksud PKI adalah agar rakyat yang di bawah
pengaruhnya dipersenjatai. Oleh karena itu, para gerilyawan PKI memperoleh
latihan kemiliteran di pangkalan udara Halim Perdanakusuma. Jumlah kader PKI
yang ikut kursus dan latihan hingga bulan September adalah dua ribu orang.
Mendekati akhir bulan September 1965, ribuan tentara berkumpul di Jakarta.
Orang menduga bahwa itu dilakukan untuk menyambut hari ABRI tanggal 5 Oktober.
Dengan kedudukan dan potensi itu, PKI mempersiapkan perebutan kekuasaan.
Persiapan dilakukan secara matang dilakukan oleh Biro Khusus yang dipimpin Sjam
Kamaruzzaman.
Biro Khusus menyarankan kepada pimpinan PKI D.N. Aidit untuk
mengadakan perebutan kekuasaan (pemberontakan). Hal ini diputuskan dalam rapat
pimpinan biro tersebut pada bulan Agustus 1965. Keputusan itu ditindaklanjuti
dengan rapat rahasia secara maraton. Setelah melalui serangkaian rapat, PKI
kemudian mengambil keputusan akhir. Keputusannya adalah komandan gerakan
dijabat Letkol Untung (Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa). Resimen ini
sehari-hari bertugas mengawal presiden.
Pertentangan PKI, TNI AD, dan Soekarno berawal dari perbedaan
orientasi ideologis. Perbedaan-perbedaan itu juga akan mencerminkan kedudukan
ideologis kelompok itu masing-masing. Soekarno memang memerlukan dukungan
politik yang terorganisir dalam hal ini dapat diperolehnya dari Partai Komunis
Indonesia (PKI) demi mempertahankan kekuasaannya. Di sisi lain juga Soekarno
hendak memperkuat dan mempertahankan kekuasaan yang berasal dari dukungan
tentara (AD) kendatipun ini persoalan ini tidak berjalan linier. Hal ini
disebabkan sedikit banyak panglima-panglima militer di daerah-daerah yang
bermuka dua terhadap kekuasan Presiden Soekarno.
C.
Negara Anti-Komunis semakin Tidak Suka terhadap Soekarno
Pada tahun 1967, MPRS yang diketuai oleh A.H. Nasution mengadakan
Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden Soekarno selama
menjabat Presiden. Pada pertanggungjawaban, laporan yang diberikan oleh
Soekarno yang dirangkum dalam Nawaksara akhirnya ditolak oleh Sidang Istimewa
MPRS 1967. Dengan ditolaknya laporan itu maka kekuasaan Soekarno sebagai
Presiden berakhir dengan dikeluarkannya Tap MPR(S) Nomor XXXIII Tahun 1967
tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan dari Presiden Soekarno.
Peristiwa G30S ikut melemahkan posisi Soekarno sebagai Presiden
dengan dilanjutkan oleh kecerdasan Soeharto menghambil tindakan yang dianggap
perlu dari SUPERSEMAR sehaingga menjadi seorang pahlawan kala itu karena telah
membubarkan PKI. Dengan penolakan SI MPRS tahun 1967, maka secara resmi
Presiden Soekarno tidak menjabat lagi sebagai kepala Negara.
Selain Pemberontakan PKI tahun 1965, jatuhnya pemerintahan Orde
Lama disebabkan karena beberapa faktor. Mulai dari faktor ekonomi,
sosial-politik, budaya. Dari segi perekonomian, selama demokrasi terpimpin Bung
Karno menempatkan politik sebagai panglima. Beragam kebijakan dan pengaturan
menjadi sia-sia karena besarnya anggaran untuk proyek-proyek mercusuar. Bung
Karno saat itu sangat getol membangun jaringan dengan negara-negara sosialis
komunis. Beliau mempelopori pembentukan Conferences of the Emerging Forces
(Conefo). Oleh karena itu, dibangunlah gedung Conefo yang kini menjadi gedung
MPR/DPR. Untuk keperluan Games of the New Emerging Forces (Ganefo), Bung Karno
membangun Istora Senayan. Selain untuk proyek tersebut, anggaran pemerintah
juga dihabiskan untuk membiayai politik konfrontasi. Saat cadangan anggaran
habis, pemerintah menghimpun dana-dana revolusi dan memperbanyak utang luar
negeri. Dampak dari kebijakan tersebut adalah tingginya inflasi, melonjaknya
harga kebutuhan masyarakat, dan melemahnya perekonomian rakyat. Bukan
pemandangan yang aneh apabila selama demokrasi terpimpin banyak terjadi antrean
beras dan minyak. Di sisi lain, Presiden Soekarno pun sangat gemar melakukan
perjalanan ke luar negeri yang tentu saja menghabiskan anggaran negara.
Dari segi sosial-politik, kejatuhan pemerintahan Orde Lama
disebabkan karena kondisi sosial-politik yang carut marut, banyak terjadi
pertentangan antara Presiden, PKI, dan TNI AD, hal tersebut tentu saja
mempengaruhi kondisi negara yang semakin lama semakin tidak kondusif dan ini
membuat rakyat semakin jenuh dengan rezim Orde Lama.
Doktrin Nasakom yang disuarakan Bung Karno mempengaruhi kehidupan
sosial kemasyarakatan. Hal ini terlihat sekali dalamkehidupan pers. Surat kabar
yang menentang Nasakom atau PKI diberedel. Misalnya Pedoman, Nusantara, Keng
Po, Pos Indonesia, dan Star Weekly. Sebaliknya, surat kabar PKI merajai dunia
penerbitan pers saat itu, seperti Harian Rakyat, Bintang Timur, dan Warta
Bhakti. Mereka juga menerbitkan surat kabar Bintang Muda, Zaman Baru, dan
Harian Rakyat Minggu. Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) milik
pemerintah didominasi oleh golongan komunis. Surat kabar milik PKI melakukan
propaganda dan agitasi terhadap lawan-lawan politiknya. Dengan jalan itu, PKI
berhasil mendominasi kehidupan sosial politik masyarakat.
Untuk memurnikan ajaran Bung Karno dari pengaruh komunis, beberapa
tokoh membentuk Barisan Pendukung Soekarnoisme (BPS). BPS diketuai oleh Adam
Malik dibantu oleh B.M. Diah, Sumantoro, dan kawan-kawan. Berdirinya BPS
mendapat tekanan dari PKI. Bahkan, PKI memfitnah bahwa BPS merupakan bentukan
Amerika. Bung Karno kemudian mendukung PKI dengan melarang kegiatan BPS.
Saat PKI merajai kehidupan politik, semua kegiatan kebudayaan
terpengaruh. Sejak tahun 1950 PKI telah membentuk Lembaga Kebudayaan Rakyat
(Lekra) dengan tokoh utamanya Pramoedya Ananta Toer. Lekra dengan kejam
menindas dan meneror kaum intelektual dan sastrawan Indonesia yang tidak mau
bergabung dengannya. Pada saat yang sama, Lekra mempropagandakan misi dan
kepentingan PKI terutama berkaitan dengan penyebaran ideologi komunis. Para
mahasiswa PKI bergabung dalam Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI).
Mereka meneror mahasiswa lain yang tidak mau bergabung.
Para sastrawan dan cendekiawan penentang Lekra membuat Manifes
Kebudayaan tanggal 17 Agustus 1963. Mereka mendukung Pancasila, tetapi menolak
bergabung dengan Nasakom. Para sastrawan dan intelektual itu menghendaki suatu
kebudayaan Indonesia yang tidak didominasi oleh ideologi tertentu. Tokoh
manifes ini adalah H.B. Jassin. PKI kemudian menggunakan kekuasaan Bung Karno
untuk melarang kegiatan manifes kebudayaan. Akhirnya, Bung Karno benar-benar
melarangnya tanggal 8 Mei 1964. Bahkan H.B. Jassin kemudian dipecat sebagai
dosen di Universitas Indonesia Jakarta. Demikianlah cara PKI menciptakan
suasana yang menguntungkan untuk kepentingan politiknya. Mereka menempel setiap
kebijakan Bung Karno dengan membentuk lembaga-lembaga pendukung. Teror dan
fitnah mereka jalankan untuk menghadapi kelompok antikomunis. Berkat dukungan
dan perlindungan Bung Karno, PKI mampu memasuki seluruh sendi kehidupan bangsa.
Oleh karena itu, PKI tinggal menunggu waktu untuk merebut kekuasaan sesuai
dengan doktrin komunisme.
Rubuhnya Republik Demokrasi Rakyat Indonesia yang diproklamasikan
tokoh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Sumarsono, pada 18 September 1948,
memberikan pukulan berat bagi Partai Komunis Indonesia (PKI). Ribuan komunis
dibunuh dan ditangkapi tentara republik.
Namun begitu, tidak semua kekuatan komunis saat itu hancur.
Sejumlah tokohnya masih hidup. Bahkan proklamator Republik Demokrasi Rakyat
yang kemudian disebut Pemerintah Front Nasional dan Negara Republik Indonesia
Soviet dengan Presidennya Musso dan Perdana Menterinya Amir Sjarifuddin,
berhasil meloloskan diri. Dengan susah payah, sejumlah tokoh komunis yang
selamat melakukan konsolidasi. Mereka kembali memperbaiki kerusakan partai yang
telah hancur berantakan digempur Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta.
Berbeda dengan Hatta yang bersikap keras dengan menganggap
peristiwa Madiun sebagai suatu pemberontakan yang gagal dari pihak komunis,
Soekarno justru berbelok ke kiri dan merangkul kaum komunis yang sudah hancur.
Sikap Soekarno ini dinilai sebagai penyesalan atas politiknya menumpas komunis
di Madiun.
Bahkan, dalam tulisannya "Konfrontasi Peristiwa Madiun 1948,
Peristiwa Sumatera 1956" dengan tegas DN Aidit membela Presiden Soekarno
dan menyalahkan Hatta. Dia menyebut, Hatta-lah yang bertanggung jawab atas
pembunuhan dan penangkapan ribuan komunis di Madiun.
Padahal, setelah peristiwa Madiun meletus Soekarno yang berpidato
di corong RRI Yogyakarta dan menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk
bersama-sama "membasmi kaum pengacau" di Madiun. Adapun yang maksud
pengacau adalah kaum Komunis dan kaum progresif. Sedang membasmi yang dia
maksud adalah secara jasmaniah.
Lebih lanjut, Aidit mengatakan, karena Hatta tahu pengaruhnya
sangat kecil di kalangan angkatan bersenjata dan alat-alat negara lainnya,
apalagi di kalangan masyarakat. Maka, dia menggunakan mulut Soekarno dan
meminjam kewibawaan Soekarno untuk membasmi Amir Syarifuddin, dan ribuan rakyat
di Madiun.
Tidak butuh waktu lama, tahun 1950 PKI bangkit kembali. Beberapa
tahun kemudian, pada 16-20 Maret 1954, di Jakarta, PKI menggelar Kongres
Nasional Ke-V PKI. Dalam kongres itu, Aidit terpilih menjadi Central Comite PKI
yang baru.
Dalam sambutannya, Aidit mengakui, peristiwa Madiun memberikan
pukulan yang kuat terhadap seluruh gerakan kemerdekaan. Dia juga mengungkapkan,
peristiwa Madiun adalah kesempatan yang diciptakan oleh kaum imperialis dan
partai-partai yang menjadi tulang punggungnya, yaitu Masyumi dan PSI untuk
berkuasa.
Tujuan partai-partai itu, adalah untuk mengonsolidasi diri guna
memudahkan kompromi Indonesia dengan Belanda dan guna melemahkan gerakan
kemerdekaan rakyat. Ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa pemerintah Hatta
membikin persetujuan KMB dengan Belanda, dan pemerintah Natsir dan Sukiman
mengekang hak-hak demokrasi rakyat.
Menurutnya, peristiwa Madiun seujung rambut pun tidak
menguntungkan kaum nasionalis dan kaum agama yang jujur. Untuk itu, tudingannya
itu ditujukan kepada oknum-oknum yang berada di dalam Masyumi dan PSI.
Dalam kongres itu juga Aidit menyatakan kembali sikap PKI untuk
mengikuti "Jalan Baru" untuk Republik Indonesia Musso dengan
menggalang front persatuan nasional. Hal itu bahkan sudah dijalankan dalam
politik PKI sehari-hari, terutama dalam lapangan politik yang diwujudkan dengan
menggalang persatuan di kalangan kaum buruh, tani, pemuda, pelajar, dan wanita.
Sejak provokasi Madiun, PKI tidak henti-hentinya menganjurkan persatuan di
tiap-tiap golongan dengan tidak memandang perbedaan keyakinan politik dan
agama. Pola persatuan nasional, katanya, sudah terbukti membawa sukses besar di
negara-negara jajahan, seperti Korea, Vietnam, Malaya, Birma, dan India. Inilah
babak baru kebangkitan komunisme di Indonesia.
Setelah terjadinya peristiwa G30S atau juga sering disebut Gestok
terjadilah suatu gejolak dibidang keamanan dan politik di dalam Indonesia.
Pasalnya peristiwa itu ibarat sebuah magnet bagi para pemegang-pemegang
kepentingan. Dalam perkembangan politik Indonesia pada tahun 1960-an, muncul
kekuatan-kekuatan yang berusaha saling berebut hegemoni, yaitu kekuatan PKI,
Soekarno dan Angkatan Darat. Angkatan Darat sendiri terbagi menjadi dua
kekuatan yaitu kekuatan Soeharto dan kekuatan Nasution.
Peristiwa Gestok telah memberi suatu kesempatan untuk para
pemegang kepentingan melancarkan aksinya. Blok PKI yang dipimpin oleh Aidit,
dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab dari sebuah penculikan para
Jendral Angkatan Darat tersebut. Pasalnya pihak PKI sendiri secara emosi
memiliki sentimen kepada para perwira Angkatan Darat, hal ini diakibatkan
karena perwira Angkatan Darat (terlebih Ahmad Yani) tidak menghendaki adanya
sebuah angkatan kelima, yang rencananya akan dibentuk dari masa-masa petani
yang tidak lain adalah PKI. Hal ini bertambah kronis ketika munculnya isu Dewan
Jendral dari dokumen yang ditemukan di rumah duta besar Inggris yang terdapat
kata-kata a local army friends yang kemudian diintepretasikan sebagai Dewan
Jendral. Yang dengan alasan ini G30S itu dilancarkan.
G30S itu hanya suatu peristiwa yang kemudian dijadikan suatu alat
untuk menjatuhkan musuh-musuh politik, dari pihak-pihak pemegang kepentingan.
Soekarno, PKI, Angkatan Darat semua saling berebut pengaruh untuk menanamkan
hegemoni. Soekarno boleh dikatakan terjepit, retorika-retorika yang ia
keluarkan seperti tidak memiliki dampak yang signifikan, semangat yang
berkobar-kobar dan menyala-nyala mulai redup, cakraningrat yang dimiliki selama
ini telah menghilang. Hal ini dikarenakan pada saat itu kondisi ekonomi begitu
mencekik orang-orang miskin, terlebih karena ambisinya yang ingin mendapat perhatian
dari mata dunia dengan jalan politik mercusuar telah membunuh rakyat secara
perlahan, hal ini menimbulkan munculnya rasa tidak percaya terhadap sang
proklamator itu. Terlebih desakan dari mahasiswa-mahasiswa yang menuntut
Tritura pun semakin menjadi-jadi. Sehingga masa Soekarno bisa dikatakan hanya
para loyalis-loyalis yang masih setia, sedangkan rakyat sudah menjauh secara
perlahan namun pasti. Sedangkan PKI yang menjadi partai besar juga mulai
kehilangan gaungnya, mereka merasa tertekan dengan adanya suatu terror yang
dilakukan oleh TNI AD, setelah terjadinya G30S, semua tuduhan negatif menuju ke
arah PKI, rakyat pun mulai tidak percaya lagi dengan partai tersebut. TNI AD
dan Soeharto mencoba melakukan suatu kisah heroik dengan cara menjadi sesosok
pahlawan yang diharapkan oleh rakyat, dengan kendaraan TNI AD, Soeharto
berhasil mendapatkan kekuatan politik yang kuat, Soeharto tidak memikirkan
mindset rakyat, ia hanya cukup melakukan suatu semangat kepada rakyat supaya
mereka membenci PKI. Soeharto dengan sendirinya terangkat menjadi sosok
superhero ditengah kekalutan perpolitikan yang tengah terjadi.
Terlebih ketika Presiden Soekarno memberikan sebuah “mandat”, yang
kemudian dikenal dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret
1966. Soeharto bagaikan di atas angin, ia menggunakan Surat Perintah itu
sebagai suatu senjata ampuh untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan politik PKI.
Walaupun Soekarno pada waktu itu merasa risih dengan tindakan Soeharto yang
main tangkap terhadap para menteri yang dianggap bertanggungjawab terhadap
terjadinya G30S, namun Soekarno tidak bisa berbuat lebih banyak lagi kecuali
beretorika dan menyebar paradigma dengan kata-kata yang mungkin dianggapnya
menenangkan hati rakyat. Bukan karena Soekarno tidak punya tenaga, bukan karena
Soekarno tidak punya power tetapi hal itu dilakukan karena Soekarno menempatkan
dirinya sebagai seorang bapak yang kemudian ingin melerai anak-anaknya yang
sedang terlibat perkelahian. Namun hal ini malah memicu munculnya anggapan bahwa
Soekarno terlibat pada gerakan G30S tersebut. Sehingga hal ini mengakibatkan ia
bernasib sama seperti PKI. Dan cahaya kegemilangan Soekarno pun mulai meredup
dengan hal ini.
Di saat kondisi kekuatan politik dari Soekarno mengalami suatu
penurunan, maka Soeharto dan Nasution melakukan suatu kerjasama yang begitu
kompak dan mesra untuk menyingkirkan PKI dan juga untuk menyingkirkan Soekarno
tentunya. Surat Perintah Sebelas Maret ditangan Soeharto seolah-olah dijadikan
sebagai suatu transfer of authority dari Presiden Soekarno. Terlebih sidang
umum MPRS tahun 1966 mengukuhkan Surat Perintah Maret sebagai ketetapan MPR.
Sehingga kekuasaan pemerintah praktis berada di tangan Soeharto. Langkah
pertama yang ia lakukan adalah mengganti anggota-anggota DPR-GR dengan orang
yang pro terhadap dirinya, dan membersihkan DPR-GR dari unsur-unsur yang pro
PKI dan pro Soekarno. Maka setelah itulah digelar Sidang Istimewa MPRS untuk
meminta pertanggungjawaban Presiden Soekarno atas tragedi nasional yang
terjadi. Dan Presiden Soekarno menyampaikan pidato pertanggungjawabannya yang
dikenal dengan pidato “Nawaksara”. Namun Nawaksara ditolak, MPRS dalam sidang
MPRS tahun 1967 memberhentikan Soekarno dari jabatan Presiden dan mengangkat
Presiden Soeharto sebagai Presiden.
Daftar Pustaka
Dahm, Bernhard. 1987. Soekarno
dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta: LP3ES.
Leirissa, R.Z. 1997. PRRI PERMESTA: Strategi Membangun Indonesia
Tanpa Komunis. Jakarta: Pustaka Utama Graffiti.
Fahmi, Insan Siregar. 2012. Partai Masyumi Dalam Dinamika
Demokrasi di Indonesia. Semarang: Widya Karya.
Adam, Asvi Warman. 2010. Bung
Karno Dibunuh Tiga Kali?. Jakarta: Kompas.

No comments:
Post a Comment