About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 8 June 2019

DATANGNYA SAUDARA TUA



DATANGNYA SAUDARA TUA

Hindia Belanda menyerah atau kalah, Jepang mengambil alih kuasa atas Nusantara sejak 1 Maret 1942 resmi berada di bawah pendudukan Militer Jepang. Namun di saat bersamaan, Perang Pasifik sedang bergejolak di Asia, sebagai negara blok fasis, Jepang dikeroyok sekutu, seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia. Dan demi menghadapi tentara-tentara sekutu tersebut dalam Perang Pasifik pemerintah Jepang memperdayakan daerah pendudukannya, baik sumber daya alam maupun manusia.
Ketika balatentara Jepang mulai terdesak oleh kekuatan sekutu Pasifik petinggi Militer Jepang berinisiatif membentuk organisasi tentara sukarela pada tahun 1943-1944.
Rencana Jepang dalam pembentukan tentara cadangan sudah disiapkan sejak awal pendudukannya, pasukan yang nantinya akan direkrut itu adalah penduduk bumiputra di daerah selatan termasuk Indonesia. Kebijakan ini tercantum dalam rencana induk (Tairkhushi) yang dikeluarkan markas besar angkatan bersenjata tertinggi, Tokyo.
Langkah ekspansionis balatentara Jepang itu mulai berhenti sejak awal 1943, hal ini dikarenakan pasukan sekutu mampu bertahan bahkan sedikit menekan tentara Jepang. Jepang pun merasa terkepung oleh tentara sekutu.
Di Indonesia, hanya di bagian barat saja pasukan cadangan di bentuk karena daerah-daerah Indonesia timur lebih dianggap daerah yang terpengaruh barat (Kristen). Pusat-pusat pelatihan militer yang dibentuk pemerintah militer Jepang ada tiga, yaitu Heiho, Gyugun, dan PETA.
Ø  Heiho
Heiho (tentara pembantu) merupakan pasukan yang terdiri dari orang-orang pribumi. Pasukan ini dibentuk pada tanggal 2 september 1942. Heiho dibentuk tidak hanya di Indonesia saja melainkan juga dibentuk di Malaya dan Burma. Para pejabat memilih pemuda berusia antara enam belas hingga dua puluh lima tahun. Pada awalnya Heiho dibentuk sebagai pembantu kasar militer, misalnya membangun kubu dan parit pertahanan.
Dalam perkembangannya Heiho dibekali senjata dan dilatih untuk diterjunkan di medan perang. Pembentukan Heiho diumumkan pada tanggal 22 april 1943, namun realisasi dilakukan pada Mei 1943. Dimata orang Indonesia orang-orang Heiho cuma kuli dengan status militer. Namun meskipun begitu, Heiho punya arti penting dalam peperangan bahkan bisa berfungsi daripada PETA. Heiho kemudian dibubarkan panitia persiapan kemerdekaan Indonesia setelah Jepang kalah dengan sekutu. Sebagian besar anggotanya dialihkan menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Beberapa tokoh penting yang pernah menjadi anggota Heiho adalah Ahmad Yani dan Untung. Ada juga anggota Heiho yang ikut bertempur di Asia Pasifik. Mereka ada yang tertangkap pasukan sekutu tetapi digunakan lagi oleh sekutu dengan dimasukan kedalam ketentaraan Belanda yang kemudian kembali ke Indonesia.
Ø  Gyugun
Gyugun merupakan tentara suka rela selain Heiho yang dilaksanakan di Sumatera. Peanggung jawab gyugun adalah panglima tentara ke-25 yakni Jendral Moritake Tanabe. Perekrutan gyugun dilakukan mulai September 1943, hampir bersamaan dengan perekrutan PETA di Jawa. Pusat pelatihan gyugun terdapat dibeberapa tempat di Sumatra seperti Padang, Medan, Lahat dan Aceh.
Pendaftaran gyugun bersifat sukarela usia 19-30, berbadan sehat, pernah atau masih duduk dibangku sekolah (artinya dapat berhitung dan baca tulis). Tokoh masyarakat setempat diwajibkan untuk mempropagandakan program pelatihan gyugun, menjalani latihan dasar militer antara 3-6 bulan. Lulusan dari pusat pelatihan militer ini lalu akan dibagi menjadi dua, yaitu untuk bintara dan perwira. Bagi perwira mereka akan diwajibkan untuk melanjutkan pendidikan selama 3 bulan di sekolah lanjut perwira, dimana mereka akan menyandang sebagai komandan pleton (shodanco) dan komandan kompi (chudanco).
Program pelatihan gyugun diadakan secara otonom. Otoritas penuh dipegang oleh komandan militer Jepang, umumnya para pemuda dilatih menjadi gyugun direncanakan untuk menjaga pantai pesisir Sumatra. Juga mereka diberikan materi tentang perang gerilya agar mereka dapat bergerilya di pedalaman Sumatra. Mereka di persiapkan hanya berada di daerah teritorialnya saja berbeda dengan Heiho yang bisa pindah tempat sewaktu-waktu. Tiap kompi dalam penempatan gyugun terdiri dari 200-250 personil ditambah 5-6 perwira. Gyugun tidak dirancang sebagai satuan tempur yang memiliki daya pemukul, meski memang dilatih untuk betempur nmun mereka diprioritaskan sebagai pasukan pertahanan teritorial. Setiap kompi gyugun dibekali persenjataan infantri seperti senapan ringan atau mesin berat, pistol, granat, mortir dan peluru-peluru tajam. Karenanya tiap kompi terdapat regu-regu mortir.
Salah seorang mantan Gyugun paling terkenal adalah Jendral Maraden Panggabean dan Mayor Jendral Alamsyah Ratu Prawiranegara. Mereka kemudian menjadi petinggi TNI semasa Orde Barum dimana banyak bekas perwira-perwira didikan Jepang naik daun menjadi petinggi TNI.
Ø  PETA
PETA dibentuk berdasarkan maklumat Osamu Seirei NO.44 tanggal 3 Oktober 1943. Maklumat itu diumumkan Panglima Tentara Keenambelas, Letnan Jenderal Kumakichi Harada. Pelatihan pasukan PETA dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Gyugun Kanbu Resentai.
Akan tetapi, ide pembentukan PETA diawali dari surat R.Gatot Mangkuprajdja kepada gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) bulan September 1943. Surat itu secara garis besar berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintah militer Jepang di medan perang.
Akhirnya, terbentuk badan bernama Beppan. Tugasnya, merancang ketentaraan baru di Hindia. Yanagawa Munenari adalah salah satu tokoh penting dalam pembentukan tentara baru. Beppan memulainya dengan sekelompok pemuda yang dilatih oleh  Munenari. Salah satu pemuda itu Zulkifli Lubis yang dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia. Mereka dilatih di Tangerang Seinen Dojo, dekat Jakarta awal 1943. Tentara Jepang berusaha untuk memotivasi semangat anti-kolonial di daerah penduduknya. Tidak heran jika kemudian, banyak mantan PETA tidak bisa bersatu dengan bekas KNIL yang jelas terpengaruh barat.
Pusat pelatihan pemuda Tangerang telah melatih 50 orang pemuda dengan usia antara 16-25 tahun. Para pemuda itu dibawa secara rahasia ke Tangerang. Banayk orang tua pemuda yang masuk Seinen Dojo Tangerang, tidak tahu kemana anak mereka pergi. Selama enam bulan mereka dilatih secara “spartan”. Dan dari 50 orang itu hanya 2 orang yang dinyatakan tidak lulus.
Kesuksesan angkatan Pertama membuat Beppan dan petinggi Tentara ke-16 mengadakan Angkatan Kedua, namun hanya berjumlah 35 orang peserta saja. Selanjutnya, bekas peserta Seinen Dojo mengalir ke lembaga pelatihan perwira PETA.
Boei Gyugun renseitai Bogor dibuka akhir tahun 1943. Dalam pelatihan di Bogor ini, sedianya terdapat tiga macam kelas: (1) untuk melatih calon daidancho (komandan batalion), (2) calon chudancho (komandan kompi) dan (3) calon shodancho (komandan pleton).
Calon daidancho diambil dari tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh dalam masyarakatnya. Prestise mereka dianggap cukup untuk mempimpin pasukan lebih dari 500 orang di Karesidenan tempat mereka berasal. Dan hanya dilatih selama satu setengah bulan saja
Chudancho dilatih selama tiga bulan. Mereka belajar istilah istilah komando Jepang. Mereka dilatih cukup keras dibanding calon daidancho. Tujuan pelatihan militer mereka adalah untuk menghasilkan orang orang Indonesia bermental kuat terhadap cobaan cobaan. Seperti halya niho sheisin (semangat Jepang).
Calon Chodancho biasanya berusia 30-an tahun. Selesai pelatihan selama tiga bulan mereka di tugaskan ke berbagai tempat di Jawa untuk mencari calon prajurit dan melatih chudan (kompi)-nya. Mereka tidak dibekali buku panduan dan memakai persenjataan yang berbeda dari yang ada di Bogor.
Kelas shodancho adalah kelas yang paling banyak mendapat pelatihan keras dan rata rata berusian 20-an tahum. Kelas ini nantinya adalah kelompok penting dalam pertempuran. Diharapkan pelatihan calon shodancho adalah setara dengan para kadet sekolah militer.
PETA tidak pernah mengadakan pelatihan perwira tingkat lanjut yang terpusat. Sehingga antara Daidan satu dengan Daidan lain tidak bisa berhubungan dengan baik, terutama dengan formal. Bulan Februari 1944, Letnan Tsuchiya pergi ke Bali untuk melatih dan membentuk Daidan di Bali. Mereka melatih sekitar 500 orang yang nantinya akan disebar menjadi 3 daidan.
Masalah terbesar dalam pelatihan ini adalah pejabat angkatan darat tidak begitu menyukai pelatihan ini karena mereka yang dilatih itu nantinya tidak akan berada dibawah komando angkatan laut armada kedua yang membawahi Bali dan Indonesia sebelah timur lainnya. 
Jumlah seluruh Tentara PETA akhirnya mencapai 66 Daidan atau sekitar 60.000 prajurit, yang tersebar di Jawa dan Bali. Prajurit prajurit itu dilatih oleh Perwira PETA sendiri. Sebelumnya mereka di latih di Jawa Boei Gyubun Kanbu Rensentai (Pusat Pelatihan Perwira Tentara Sukarela Jawa) di Bogor. Pemerintah balantentara Jepang akhirnya membentuk sebuah Tentara Sukarela di bawah pelatihan orang orang Beppan di bawah pimpinan Letnan Yanagawa Munenari.
Meski dilatih dan kemudian digaji oleh tentara Jepang sebagai militer, tidak membuat prajurit PETA hilang kepedulian akan derita rakyat sipil di desa desa. Sejak tahun 1944, banyak anggota PETA mulai kecewa dengan pemerintah Balatentara Jepang atas kondisi Indonesia, khususnya di Jawa.
PETA adalah tentara sukarela Pembela Tanah Air yang berada dibawah komando tentara AD ke XVI yang menguasai daerah Jawa dan Bali. PETA adalah usulan kaum Nasionalis Indonesia yang rencana awal pembentukannya dirahasiakan oleh Yanagawa.
Yanagawa melatih pasukan itu dibekas barak tua yang dulunya tangsi KNIL di Bogor. Tempat itu bawah komando Yanagawa lalu bernama Bogor Renseitai. Pengajarannya berasal dari Nakano Gakko (Sekolah Intelejen di Tokyo), seperti halnya Yanagawa. Pelatihan ini berbeda di bawah koordinasi Beppan.
Bagi Yanagawa, perwira bekas KNIL sudah tercemar pemikiran Barat. Segala yang sesuatu yang berbau Barat, menurut Yanagawa sangatlah buruk, merugikan, dan merusak. Namun Yanawaga tidak sepenuhnya bisa menyeleksi dengan ketat apakah siswanya sudah terpengaruh paham Barat atau tidak.
Pembentukan tentara pribumi oleh Jepang pada dasarnya sama saja dengan tujuan pembentukan tentara kolonial, KNIL yaitu tidak lain kebutuhan untuk menghadapi musuh pemerintahan yang menguasai Indonesia demi mempertahankan kekuasaan mereka juga. Perbedaannya terletak pada lawan yang akan dihadapinya saja.
Bulan Desember 1944, tentara ke-16 mulai melatih pasukan gerilya untuk mengantisipasi serbuan sekutu. Satuan yang dilatih disebut igo kimutai (satuan tugas pertama). Markas satuan ini di Bandung dengan cabang di Salatiga dan Malang. Satuan ini mulai dilatih sejak Jnauari 1945 hingga Juni 1945. Selanjutnya disebar ke daerah asalnya untuk melatih dan mencari prajurit prajurit baru.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...