DATANGNYA SAUDARA
TUA
Hindia
Belanda menyerah atau kalah, Jepang mengambil alih kuasa atas Nusantara sejak 1
Maret 1942 resmi berada di bawah pendudukan Militer Jepang. Namun di saat
bersamaan, Perang Pasifik sedang bergejolak di Asia, sebagai negara blok fasis,
Jepang dikeroyok sekutu, seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan
Australia. Dan demi menghadapi tentara-tentara sekutu tersebut dalam Perang
Pasifik pemerintah Jepang memperdayakan daerah pendudukannya, baik sumber daya alam
maupun manusia.
Ketika
balatentara Jepang mulai terdesak oleh kekuatan sekutu Pasifik petinggi Militer
Jepang berinisiatif membentuk organisasi tentara sukarela pada tahun 1943-1944.
Rencana
Jepang dalam pembentukan tentara cadangan sudah disiapkan sejak awal
pendudukannya, pasukan yang nantinya akan direkrut itu adalah penduduk
bumiputra di daerah selatan termasuk Indonesia. Kebijakan ini tercantum dalam
rencana induk (Tairkhushi) yang
dikeluarkan markas besar angkatan bersenjata tertinggi, Tokyo.
Langkah
ekspansionis balatentara Jepang itu mulai berhenti sejak awal 1943, hal ini
dikarenakan pasukan sekutu mampu bertahan bahkan sedikit menekan tentara
Jepang. Jepang pun merasa terkepung oleh tentara sekutu.
Di
Indonesia, hanya di bagian barat saja pasukan cadangan di bentuk karena
daerah-daerah Indonesia timur lebih dianggap daerah yang terpengaruh barat
(Kristen). Pusat-pusat pelatihan militer yang dibentuk pemerintah militer
Jepang ada tiga, yaitu Heiho, Gyugun, dan PETA.
Ø Heiho
Heiho
(tentara pembantu) merupakan pasukan yang terdiri dari orang-orang pribumi.
Pasukan ini dibentuk pada tanggal 2 september 1942. Heiho dibentuk tidak hanya
di Indonesia saja melainkan juga dibentuk di Malaya dan Burma. Para pejabat
memilih pemuda berusia antara enam belas hingga dua puluh lima tahun. Pada
awalnya Heiho dibentuk sebagai pembantu kasar militer, misalnya membangun kubu
dan parit pertahanan.
Dalam
perkembangannya Heiho dibekali senjata dan dilatih untuk diterjunkan di medan
perang. Pembentukan Heiho diumumkan pada tanggal 22 april 1943, namun realisasi
dilakukan pada Mei 1943. Dimata orang Indonesia orang-orang Heiho cuma kuli
dengan status militer. Namun meskipun begitu, Heiho punya arti penting dalam
peperangan bahkan bisa berfungsi daripada PETA. Heiho kemudian dibubarkan
panitia persiapan kemerdekaan Indonesia setelah Jepang kalah dengan sekutu.
Sebagian besar anggotanya dialihkan menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Beberapa
tokoh penting yang pernah menjadi anggota Heiho adalah Ahmad Yani dan Untung.
Ada juga anggota Heiho yang ikut bertempur di Asia Pasifik. Mereka ada yang
tertangkap pasukan sekutu tetapi digunakan lagi oleh sekutu dengan dimasukan
kedalam ketentaraan Belanda yang kemudian kembali ke Indonesia.
Ø Gyugun
Gyugun
merupakan tentara suka rela selain Heiho yang dilaksanakan di Sumatera.
Peanggung jawab gyugun adalah panglima tentara ke-25 yakni Jendral Moritake
Tanabe. Perekrutan gyugun dilakukan mulai September 1943, hampir bersamaan
dengan perekrutan PETA di Jawa. Pusat pelatihan gyugun terdapat dibeberapa
tempat di Sumatra seperti Padang, Medan, Lahat dan Aceh.
Pendaftaran
gyugun bersifat sukarela usia 19-30, berbadan sehat, pernah atau masih duduk
dibangku sekolah (artinya dapat berhitung dan baca tulis). Tokoh masyarakat
setempat diwajibkan untuk mempropagandakan program pelatihan gyugun, menjalani
latihan dasar militer antara 3-6 bulan. Lulusan dari pusat pelatihan militer
ini lalu akan dibagi menjadi dua, yaitu untuk bintara dan perwira. Bagi perwira
mereka akan diwajibkan untuk melanjutkan pendidikan selama 3 bulan di sekolah
lanjut perwira, dimana mereka akan menyandang sebagai komandan pleton (shodanco)
dan komandan kompi (chudanco).
Program
pelatihan gyugun diadakan secara otonom. Otoritas penuh dipegang oleh komandan
militer Jepang, umumnya para pemuda dilatih menjadi gyugun direncanakan untuk
menjaga pantai pesisir Sumatra. Juga mereka diberikan materi tentang perang gerilya
agar mereka dapat bergerilya di pedalaman Sumatra. Mereka di persiapkan hanya
berada di daerah teritorialnya saja berbeda dengan Heiho yang bisa pindah
tempat sewaktu-waktu. Tiap kompi dalam penempatan gyugun terdiri dari 200-250
personil ditambah 5-6 perwira. Gyugun tidak dirancang sebagai satuan tempur
yang memiliki daya pemukul, meski memang dilatih untuk betempur nmun mereka
diprioritaskan sebagai pasukan pertahanan teritorial. Setiap kompi gyugun
dibekali persenjataan infantri seperti senapan ringan atau mesin berat, pistol,
granat, mortir dan peluru-peluru tajam. Karenanya tiap kompi terdapat regu-regu
mortir.
Salah
seorang mantan Gyugun paling terkenal adalah Jendral Maraden Panggabean dan
Mayor Jendral Alamsyah Ratu Prawiranegara. Mereka kemudian menjadi petinggi TNI
semasa Orde Barum dimana banyak bekas perwira-perwira didikan Jepang naik daun
menjadi petinggi TNI.
Ø PETA
PETA
dibentuk berdasarkan maklumat Osamu Seirei NO.44 tanggal 3 Oktober 1943.
Maklumat itu diumumkan Panglima Tentara Keenambelas, Letnan Jenderal Kumakichi
Harada. Pelatihan pasukan PETA dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi
nama Jawa Bo-ei Gyugun Kanbu Resentai.
Akan
tetapi, ide pembentukan PETA diawali dari surat R.Gatot Mangkuprajdja kepada gunseikan (kepala pemerintahan militer
Jepang) bulan September 1943. Surat itu secara garis besar berisi permohonan
agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintah militer Jepang di medan
perang.
Akhirnya,
terbentuk badan bernama Beppan. Tugasnya, merancang ketentaraan baru di Hindia.
Yanagawa Munenari adalah salah satu tokoh penting dalam pembentukan tentara
baru. Beppan memulainya dengan sekelompok pemuda yang dilatih oleh Munenari. Salah satu pemuda itu Zulkifli
Lubis yang dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia. Mereka dilatih di
Tangerang Seinen Dojo, dekat Jakarta
awal 1943. Tentara Jepang berusaha untuk memotivasi semangat anti-kolonial di
daerah penduduknya. Tidak heran jika kemudian, banyak mantan PETA tidak bisa
bersatu dengan bekas KNIL yang jelas terpengaruh barat.
Pusat
pelatihan pemuda Tangerang telah melatih 50 orang pemuda dengan usia antara
16-25 tahun. Para pemuda itu dibawa secara rahasia ke Tangerang. Banayk orang
tua pemuda yang masuk Seinen Dojo Tangerang,
tidak tahu kemana anak mereka pergi. Selama enam bulan mereka dilatih secara “spartan”. Dan dari 50 orang itu hanya 2
orang yang dinyatakan tidak lulus.
Kesuksesan
angkatan Pertama membuat Beppan dan petinggi Tentara ke-16 mengadakan Angkatan
Kedua, namun hanya berjumlah 35 orang peserta saja. Selanjutnya, bekas peserta
Seinen Dojo mengalir ke lembaga pelatihan perwira PETA.
Boei
Gyugun renseitai Bogor dibuka akhir tahun 1943. Dalam pelatihan di Bogor ini,
sedianya terdapat tiga macam kelas: (1) untuk melatih calon daidancho (komandan batalion), (2) calon chudancho (komandan kompi) dan (3) calon shodancho (komandan pleton).
Calon
daidancho diambil dari tokoh
masyarakat yang sangat berpengaruh dalam masyarakatnya. Prestise mereka
dianggap cukup untuk mempimpin pasukan lebih dari 500 orang di Karesidenan
tempat mereka berasal. Dan hanya dilatih selama satu setengah bulan saja
Chudancho dilatih
selama tiga bulan. Mereka belajar istilah istilah komando Jepang. Mereka
dilatih cukup keras dibanding calon daidancho.
Tujuan pelatihan militer mereka adalah untuk menghasilkan orang orang
Indonesia bermental kuat terhadap cobaan cobaan. Seperti halya niho sheisin (semangat Jepang).
Calon
Chodancho biasanya berusia 30-an
tahun. Selesai pelatihan selama tiga bulan mereka di tugaskan ke berbagai
tempat di Jawa untuk mencari calon prajurit dan melatih chudan (kompi)-nya. Mereka tidak dibekali buku panduan dan memakai
persenjataan yang berbeda dari yang ada di Bogor.
Kelas
shodancho adalah kelas yang paling
banyak mendapat pelatihan keras dan rata rata berusian 20-an tahum. Kelas ini
nantinya adalah kelompok penting dalam pertempuran. Diharapkan pelatihan calon shodancho adalah setara dengan para
kadet sekolah militer.
PETA
tidak pernah mengadakan pelatihan perwira tingkat lanjut yang terpusat.
Sehingga antara Daidan satu dengan Daidan lain tidak bisa berhubungan
dengan baik, terutama dengan formal. Bulan Februari 1944, Letnan Tsuchiya pergi
ke Bali untuk melatih dan membentuk Daidan di Bali. Mereka melatih sekitar 500
orang yang nantinya akan disebar menjadi 3 daidan.
Masalah
terbesar dalam pelatihan ini adalah pejabat angkatan darat tidak begitu
menyukai pelatihan ini karena mereka yang dilatih itu nantinya tidak akan
berada dibawah komando angkatan laut armada kedua yang membawahi Bali dan
Indonesia sebelah timur lainnya.
Jumlah
seluruh Tentara PETA akhirnya mencapai 66 Daidan atau sekitar 60.000 prajurit,
yang tersebar di Jawa dan Bali. Prajurit prajurit itu dilatih oleh Perwira PETA
sendiri. Sebelumnya mereka di latih di Jawa
Boei Gyubun Kanbu Rensentai (Pusat Pelatihan Perwira Tentara Sukarela Jawa)
di Bogor. Pemerintah balantentara Jepang akhirnya membentuk sebuah Tentara
Sukarela di bawah pelatihan orang orang Beppan
di bawah pimpinan Letnan Yanagawa Munenari.
Meski
dilatih dan kemudian digaji oleh tentara Jepang sebagai militer, tidak membuat
prajurit PETA hilang kepedulian akan derita rakyat sipil di desa desa. Sejak
tahun 1944, banyak anggota PETA mulai kecewa dengan pemerintah Balatentara
Jepang atas kondisi Indonesia, khususnya di Jawa.
PETA
adalah tentara sukarela Pembela Tanah Air yang berada dibawah komando tentara
AD ke XVI yang menguasai daerah Jawa dan Bali. PETA adalah usulan kaum
Nasionalis Indonesia yang rencana awal pembentukannya dirahasiakan oleh
Yanagawa.
Yanagawa
melatih pasukan itu dibekas barak tua yang dulunya tangsi KNIL di Bogor. Tempat
itu bawah komando Yanagawa lalu bernama Bogor Renseitai. Pengajarannya berasal
dari Nakano Gakko (Sekolah Intelejen di Tokyo), seperti halnya Yanagawa.
Pelatihan ini berbeda di bawah koordinasi Beppan.
Bagi
Yanagawa, perwira bekas KNIL sudah tercemar pemikiran Barat. Segala yang
sesuatu yang berbau Barat, menurut Yanagawa sangatlah buruk, merugikan, dan
merusak. Namun Yanawaga tidak sepenuhnya bisa menyeleksi dengan ketat apakah
siswanya sudah terpengaruh paham Barat atau tidak.
Pembentukan
tentara pribumi oleh Jepang pada dasarnya sama saja dengan tujuan pembentukan
tentara kolonial, KNIL yaitu tidak lain kebutuhan untuk menghadapi musuh
pemerintahan yang menguasai Indonesia demi mempertahankan kekuasaan mereka
juga. Perbedaannya terletak pada lawan yang akan dihadapinya saja.
Bulan
Desember 1944, tentara ke-16 mulai melatih pasukan gerilya untuk mengantisipasi
serbuan sekutu. Satuan yang dilatih disebut igo
kimutai (satuan tugas pertama). Markas satuan ini di Bandung dengan cabang
di Salatiga dan Malang. Satuan ini mulai dilatih sejak Jnauari 1945 hingga Juni
1945. Selanjutnya disebar ke daerah asalnya untuk melatih dan mencari prajurit
prajurit baru.

No comments:
Post a Comment