Kelompok 4
Mifta Ulzanah
(3101412053)
Prita Wulandari
(3101412059)
Syaiful Yuhdi
(3101412074)
Intan Wahyuningsih
(3101412077)
Siti Rahmawati
(3101412079)
Aminatul Fitriah
(3101412083)
Riwan Sutandi
(3101412084)
DINAMIKA KEBUDAYAAN TIONGHOA DI INDONESIA
“Pada Era Demokrasi Terpimpin sampai
Orde Baru”
Rumusan
Masalah:
1) Bagaimana
kebijakan politik di Indonesia dalam mempengaruhi kebudayaan Cina di Indonesia
pada era Demokrasi Terpimpin sampai Orde Baru ?
2) Bagaimana
peran tokoh-tokoh Indonesia terhadap Perkembangan kebudayaan Tionghoa ?
3) Bagaimana
Kebudayaan Tionghoa dalam mempengaruhi Perkembangan Ekonomi, sosial dan Budaya
di Indonesia?
SUB
JUDUL:
1) Bagaimana
kebijakan politik di Indonesia dalam mempengaruhi kebudayaan Tionghoa di
Indonesia pada era Demokrasi Terpimpin sampai Orde Baru ?
a. Sejarah
Masuknya kebudayaan tionghoa Di Indonesia
b. Perkembangan
Kebudayaan tionghoa di Indonesia
c. Pengaruh
kebijakan politik pada masa demokrasi terpimpin terhadap kebudayaan tionghoa
d. Pengaruh
kebijakan politik pada masa orde baru terhadap kebudayaan tionghoa
e. Dampak
kebijakan politik terhadap kebudayaan tionghoa pada masa demokrasi terpimpin
dan orde baru.
2) Bagaimana
peran tokoh- tokoh Indonesia terhadap perkembangan kebudayaan Tionghoa ?
a. Soekarno
dan kebudayaan tionghoa
b. Soeharto
dan kebudayaan tionghoa
c. Abdurrahman
wahid dan kebudayaan tionghoa
3) Bagaimana
Kebudayaan Tionghoa dalam mempengaruhi Perkembangan Ekonomi, sosial dan Budaya
di Indonesia ?
a. Pengaruh
Kebudayaan Tionghoa dalam Perkembangan Ekonomi di Indonesia
b. Pengaruh
kebudayaan Tionghoa dalam perkembangan Sosial di Indonesia
c. Pengaruh
Kebudayaan Tionghoa dalam Perkembangan Budaya di Indonesia
d. Bentuk-Bentuk Kebudayaan Tionghoa di Indonesia.
ASUMSI
AWAL:
1. Bagaimana
kebijakan politik di Indonesia dalam mempengaruhi kebudayaan Tionghoa di
Indonesia pada era Demokrasi Terpimpin sampai Orde Baru ?
Perkembangan
kebudayaan tionghoa di Indonesia tidak serta merta mulus tanpa ada hambatan.
Dimana pada saat kekuasaan di tangan penguasa maka segala sesuatu ditentukan
oleh penguasa yang bersangkutan dalam memenuhi kepentingannya untuk menjalankan
roda pemerintahan. Yaitu salah satunya kebijakan politik yang diambil oleh
penguasa pada saat itu, dimana kebijakan politik pada saat itu sangat
menentukan bagaimana perkembangan kebudayaan tionghoa pada saat itu. Etnis
Tionghoa adalah etnis yang sejak lama ada di Indonesia yang merupakan etnis
nomor dua setelah masyarakat kulit putih pada masa era kolonial, baru kemudian
etnis pribumi, atau warga Indonesia asli. Di Indonesia masyarakat Tionghoa
dibagi menjadi dua yaitu masyarakat Tionghoa asli (totok), atau yang memang
datang langsung dari China, sehingga masih kaku dan sulit berbahasa Indonesia
dan berbudaya Indonesia. Kemudian yang kedua adalah masyarakat Tionghoa
peranakan yang merupakan masyarakat Tionghoa keturunan, atau tidak langsung
datang dari China. Sehingga sudah seperti rakyat Indonesia sendiri (penduduk
pribumi). Pada saat Orde Baru terjadi diskriminasi terhadap kebudayaan
Tionghoa, hal tersebut bisa dilihat dalam beberapa bidang
1. Budaya
Pada
masa Orde Baru warga keturunan Tionghoa dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967,
warga keturunan Tionghoa dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia
kedudukannya pun berada di bawah warga pribumi. Pelarangan terhadap Kesenian
barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, Etnis Tionghoa harus
mengganti nama Tionghoa mereka, pelarangan penggunaan bahasa sehari-hari yang
jelas mempersulit mereka untuk melestarikan bahasa sosial antar sesama etnis,
pengobatan Tionghoa tradisional dan pemakaian Bahasa Mandarin.
2. Agama
Agama
yang dianut oleh para etnis Tionghoa yaitu Kong Hu Cuisme. Agama Kong Hu
Chuisme dipermasalahkan oleh pemerintah pada saat zaman Soeharto. Pada Bulan
April 1979 Pemerintah Indonesia bersama Menteri Agama Alamsjah Perwiranegara
membuat kebijakan bahwa agama Kong Hu Cu
akan dikelola di bawah Dirjen Hindu dan Budha.
3. Politik
Para
pelaksana birokrasi melakukan praktik diskriminatif kepada WNI keturunan
Tionghoa. Biro-biro pelayanan umum sengaja mempersulit pelayanan kepada etnis
Tionghoa. Adanya penerapan ketentuan administratif tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik
Indonesia (SBKRI),dan tujukan kepada
warga negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa beserta keturunan-keturunannya.
Namun penerapan SBKRI sama artinya dengan upaya yang menempatkan WNI Tionghoa
pada posisi status hukum WNI yang "masih dipertanyakan".
4. Sosial
Pemerintah
ingin membentuk sebuah masyarakat multietnis menjadi sebuah bangsa, satu tanah
air, satu bahasa. Motto Bhineka Tunggal Ika (Persatuan dalam perbedaan)
mengakui berbagai kelompok etnis di Indonesia. Moto tersebut berlaku terhadap
minoritas pribumi regional ini tetapi tidak berlaku terhadap etnis Tionghoa. Tujuan
kebijakan Indonesia ini adalah menyerap Etnis Tionghoa ke dalam kelompok
pribumi.
Surat kabar pun yang berbahasa Mandarin yang
ada di Indonesia yang diizinkan terbit hanya Harian Indonesia yang sebagian
artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia, dimana surat kabar ini biasanya
terdiri dari 8 halaman, 4 halaman ditulis dengan menggunakan Bahasa
Mandarin/Tionghoa sedangkan halaman yang lain ditulis dengan Bahasa Indonesia.
Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI.
2.
Bagaimana peran tokoh- tokoh Indonesia
terhadap perkembangan kebudayaan Tionghoa ?
3.
Bagaimana Kebudayaan Tionghoa dalam
mempengaruhi Perkembangan Ekonomi, sosial dan Budaya di Indonesia ?
Masuknya
kebudayaan asing ke dalam suatu daerah tidak serta merta hanya sebagai penghias
atau penambah koleksi budaya di daerah tersebut. Dimana kebudayaan yang masuk
pasti akan mempengaruhi setiap bidang kehidupan masyarakat yang ada di
sekitarnya, baik di bidang ekonomi, sosial, dan Budaya. Kebudayaan tionghoa
yang masuk ke indonesia juga mempengaruhi perkembangan bidang-bidang tersebut.
Di dalam bidang ekonomi kita ketahui pada saat pemerintahan soekarno maupun
soeharto hampir di setiap daerah di Indonesia perekonomiannya di dominan oleh
orang-orang tiongho terutama di dalam perdagangan. Mengapa hal ini bisa
terjadi? Hal ini disebabkan karena ketekunan dan keuletan orang-orang tionghoa
dalam menjalankan prinsip mereka dalam berdangan, yaitu “Boleh untung sedikit
tapi laku banyak”. Hal inilah yang juga banyak ditiru oleh orang-orang
indonesia dalam melakukan usaha-usaha mereka. Di bidang sosial dan kebudayaan,
kebudayaan tionghoa juga mempengaruhi kebudayaan Indonesia, dimana kita temukan
akulturasi-akulturasi dari 2 kebudayaan sehingga menjadi lebih menarik. Selain
itu juga prilaku sosial kehidupan masyarakat indonesia seperti makan
menggunakan sumpit dan masuknya makanan-makanan khas tionghoa juga mempengaruhi
kehidupan sosial dan mata pencaharian baru bagi masyarakat Indonesia.

No comments:
Post a Comment