
Makalah
“Politik
Luar Negeri Australia”
Kelompok
5:
Ardhian
Ramadhany 3101412075
Riwan
Sutandi 3101412084
Heri
Muladi 3101412147
Ardi
Wahyudi 3111411002
Bebet
Adi Wibawa 3111411008
Akbar
Hakim 3111411140
Dosen
Pengampu:
Drs.
Ba’in, M. Hum
JURUSAN
SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap
negara mempunyai politik luar negerinya sendiri, dimana politik luar negerinya
inilah yang akan menjadi penentu arah kebijakan luar negeri negara tersebut. Hal
tersebut tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing
negara yang pastinya mengarah kepada kepentingan nasional. Tujuan-tujuan yang
dimaksud berkaitan dengan bidang politik, keamanan, ekonomi. Politik luar negeri
secara sederhana dapat diartikan sebagai segala bentuk kebijakan suatu negara
terhadap lingkungan luarnya yang menjadi subjek dari kepentingan dan aktivitas
resmi negara itu. Aspek resmi ini ditonjolkan karena, dapat saja
individu-individu atau kelompok didalam suatu negara, sesuai dengan
kepentingannya masing-masing, memiliki hubungan dengan luar. Politik luar
negeri, atau kadang disebut pula sebagai kebijakan luar negeri, sangat
ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai oleh Negara tersebut sesuai dengan
kepentingan nasionalnya. Tujuan-tujuan yang dimaksud adalah tujuan politik,
keamanan dan ekonomi. Kepentingan nasional itu ditentukan oleh para penentu
kebijakan luar negeri sebagai hasil dari proses politik.
Australia
merupakan salah satu negara yang memiliki sejarah menarik. Australia bisa maju
seperti sekarang ini tidak terlepas dari peran serta negara maju yang menjadi
negara induknya terdahulu yaitu Inggris. Inggris merupakan negara induk
Australia karena Australia pada awalnya adalah daerah koloni milik Inggris.
Selain itu, hubungan luar negeri Australia dengan negara tetangga juga
merupakan faktor penting yang menjadikan Australia seperti sekarang ini.
Pada awal berdirinya
Commonwealth of Australia, merupakan tonggak sejarah baru bagi Australia. Saat
itu adalah suatu era, dimana enam koloni yang berdiri sendiri secara
terpisah-pisah, bergabung menjadi satu yang kemudian disebut sebagai Federasi
Colonial. Saat itu satu bangsa siap untuk lahir yaitu Australia. Pada masa itu
Australia memiliki wewenang untuk mengatur kedaan negaranya sendiri dan
terbebas dari Inggris. Namun Australia belum mampu untuk menjalankan negara itu
sendiri, Australia masih membutuhkan bantuan dari negara induknya yaitu
Inggris.
Untuk
urusan dalam negeri, Australia telah diberi kemerdekaan oleh Inggris. Namun
urusan luar negeri Australia masih memerlukan pengawasan dari pemerintah
Inggris. Semua hubungan bangsa lain masih harus diatur oleh pemerintah Inggris.
Pada saat itu lahirlah pendapat dari kalangan pemerintah Federal Australia
bahwa “tidak ada perbedaan kepentingan antara Australia dengan Inggris”. Namun
akhirnya pendapat ini dipatahkan karena adanya kepentingan Australia akan suatu
pulau yaitu Irian. Keadaan ini telah di sadari lebih dulu oleh Quensland.
Akibat dari letak yang jauh dari Inggris, Australia tidak banyak mendapat
dukungan dari Inggris untuk mempertahankan maupun menduduki Quensland. Akibat
dari adanya keadaan yang demikian, pemerintah Australia mulai berfikir
bagaimana caranya mereka mempertahankan diri tanpa selalu mengharapkan bantuan
dari Inggris.
Pada tahun
1907, Australia diberi status dominion. Dengan demikian statusnya sebagai
koloni Inggris mulai ditinggalkan. Status dominion ini memungkinkan Austalia
untuk mulai memikirkan sendiri urusan hubungan luar negerinya. Untuk
selanjutnya Australia tidak lagi ditangani oleh Inggris dalam melakukan
hubungan luar negerinya. Dan pada tahun 1909, Australia mengeluarkan
undang-undang yang disebut The Defence Act. Australia mulai mengambil inisiatif
sendiri pembinaan pertahanannya.
B. Rumusan Masalah
A.
Bagaimanakah kebijakan politik Australia pada Masa Perang Dunia I,
Perang Dunia II, dan Pasca Perang Dunia II ?
B.
Bagaimanakah Politik Luar Negeri Australia Saat Ini ?
C.
Bagaimanakah Kebijakan Luar Negeri Australia ?
D.
Bagaimanakah Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Luar Negeri
Australia ?
E.
Bagaimanakh Kecenderungan Politik Luar Negeri Australia ?
C. Tujuan Penulisan
A.
Mengetahui kebijakan politik Australia pada Masa Perang Dunia I,
Perang Dunia II, dan Pasca Perang Dunia II.
B.
Mengetahui Politik Luar Negeri Australia Saat Ini.
C.
Mengetahui Kebijakan Luar Negeri Australia.
D.
Mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Luar Negeri
Australia
E.
Mengetahui Kecenderungan Politik Luar Negeri Australia
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kebijakan politik
Australia pada Masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Pasca Perang Dunia II.
a. Australia pada Masa
Perang Dunia I
Selama perang dunia
pertama berlangsung. Australia selalu berada dibelakang Inggris. Inggris selalu
membantu Australia terutama di bidang militer. Australia masih bersandar pada
angkatan bersenjata milik Inggris yang dikenal baik dalam urusan berperang.
Alasan
Inggris selalu membantu Australia karena:
1)
Australia merupakan negara bekas koloni Inggris, meskipun sudah
berdiri sendiri namun ikatan tersebut masih terjaga.
2)
Rakyat dan pemerintah Australia tidak merasa keberatan atas campur
tangan Inggris terhadap politik luar negerinya.
3)
Pada saat itu angkatan perang Australia relatif masih sangat lemah dan
kecil.
4)
Australia membutuhkan perlindungan dan bantuan Inggris untuk kemanan
serta pertahanan wilayahnya.
Dalam
perang dunia pertama, Australia berperang menghadapi beberapa negara, yaitu:
1)
Tahun 1914, Australia menghadapi Jerman di New Guinea dan pada saat
itu pula Guinea menyerah.
2)
Pasukan Australia diberangkatkan menuju Timur Tengah dan kawasan
Eropa untuk membantu pasukan Inggris melawan pasukan Jermen, Australia dan
Turki. Pada 9 November 1914, pasukan Australia berhasil menenggelamkan kapal
Emden (kapal perang Jerman) yang berada di Samudra Hindia.
3)
ANZAC yaitu pasukan gabungan Australia dan New Zealand Army Corps,
bersama-sama dengan pasukan Inggris dan Perancis bermaksud membantu Rusia yang
pada saat itu mengalami tekanan dari pihak Jerman. Namun upaya ini mengalami
kagagalan.
Setelah
perang dunia pertama usai, timbul kesadaran dalam diri rakyat Australia bahwa
Australia berhak disejajarkan dengan negara-negara lain yang sudah lama
berdiri. Perdana menteri Australia, William Highes mendesak agar Australia
diakui dan memiliki hak yang sama dengan bangsa merdeka lainnya. Dan pada
akhinya tuntutan Highes tersebut dikabulkan oleh Inggris. Untuk pertama kalinya
Australia mendatangani perundingan perdamaian Versailles. Dan ketika Liga
Bangsa-Bangsa di bentuk, Australia ikut menjadi anggota di dalamnya.
Pada tahun
1931, Atatue Of West Minster secara resmi mengakhiri kekuasaan Inggris. Dengan
demikian Inggris tidak lagi berkuasa untuk mengawasi hubungan luar negeri
Australia. Namun Australia masih tetap mengandalkan Inggris dalam kepentingan
luar negerinya.
b.
Australia pada Masa Perang Dunia II
Perang
Dunia II diawali dengan serangan Jerman terhadap Polandia pada tanggal 1
September 1939. Tidak lama kemudian Inggris menyatakan perang terhadap Jerman,
dan Australia siap membantu Inggris. Dua tahun setelah meletusnya Perang Dunia
II, Jepang menyerang pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbor (7 Desember
1941). Serangan Jepang ini melibatkan Amerika Serikat secara langsung dalam
Perang Dunia II. Kemudian Jepang berhasil menguasai Malaya, Filipina, dan
Indonesia. Serangan Jepang ini merupakan ancaman langsung bagi Australia.
Australia meminta perlindungan angkatan laut dan angkatan udara kepada Amerika
Serikat. Dan Australiapun dapat menghindari serbuan Jepang.
c.
Hubungan Luar Negeri Australia Pasca Perang Dunia II
Setelah
berakhirnya Perang Dunia II, banyak terjadi perubahan di seluruh bagian dunia.
Perubahan yang menonjol adalah banyaknya daerah di Asia dan Afrika yang awalnya
dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa telah terlepas dan merdeka. Berakhirnya Perang
Dunia II membuat Inggris kehilangan koloninya di Asia dan Inggris Raya,
mengalami kemunduran.
Perubahan-perubahan ini,
berpengaruh pada politik luar negeri Australia. Australia yang pernah mendapat
bantuan Amerika dalam menghindari serangan Jepang, telah membuat Australia
perlahan-lahan lepas dari Inggris. Pada tahun 1951, Australia mulai mengadakan
kerjasama dengan New Zealand dan Amerika Serikat. Kerjasama ini menghasilkan
perjanjian yaitu perjanjian ANZUS TREATY. Perjanjian ini adalah perjanjian
pertama yang di tandatangani Australia tanpa campur tangan Inggris.
Berakhirnya Perang Dunia II ini
menyadarkan Australia bahwa negaranya berada di wilayah Asia, khususnya wilayah
Asia Tenggara, dan terletak di Pasifik. Dengan munculnya kesadaran tersebut,
Australia mulai memiliki keinginan untuk menjalin hubungan baik dengan negara
tetangganya. Pada tahun 1950, Australia berkeinginan untuk menderikan suatu
organisasi yang menjadi wadah bagi negara-negara Asia (Asia Selatan dan Asia
Tenggara) yang disebut dengan Colombo Plan.
Latar belakang berdirinya Colombo
Plan adalah adanya kesadaran bahwa kepentingan penduduk Asia meliputi
kepentingan seperempat penduduk dunia. Colombo memiliki dua program pokok yaitu
Economic Development Programmed dan Technical Cooperation Sceheme. Hasil yang
telah ada dari program tersebut adalah adanya peningkatan dalam bidang produksi
pertanian, pengairan, dan perluasan tanah yang di olah. Technical Cooperation
Scheme bertidak sebagai penyedia para ahli untuk memberikan latihan bagi
teknisi-teknisi dan memberi bantuan dalam berbagai proyek pembangunan. Selain
itu para teknisi juga mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dan latihan
khusus di Australia. Walaupun Australia masih terikat oleh Inggris dalam
British Commonwealth Of Nations, namun ikatan Inggris semakin longgar. Inggris
tidak lagi menjadi partner dagang utama Australia, karena Australia lebih
memilih Jepang dan negara-negara asean sebagai partner dagangnya. Sebagai
negara yang ikut menanda tangani piagam PBB, Australia mulai aktif dalam
berbagai kegiatan badan internasional.
B.
Politik Luar Negeri
Australia Saat Ini
Pada masa
ini orientasi politik luar negeri Australia ditetapkan melalui upaya membendung
perluasan komunis melalui cara memberikan bantuan militer dan memperkuat
pertahanannya melalui perjanjian pertahanan bersama dengan Amerika Serikat,
melaksanakan bantuan ekonomi terutama kepada negara-negara yang berada di
sekitarnya yang tergabung dalam Commonwealth of Nation. Australia membantu
membendung ekspansi Korea Utara melalui kekuatan militernya. Australia juga
memberikan bantuan militer kepada Malaysia (sebagai sesama anggota British
Commonwealth of Nations) dalam rangka membandung kekuatan komunis di Asia
Tenggara.
Dalam kasus
perang Vietnam, keterlibatan militer Australia adalah dengan mengirimkan “army
advisers” untuk melatih tentara Vietnam Selatan dalam strategi perang di
hutan-hutan, bahkan tahun 1966 militer Australia ditingkatkan kontribusinya
sebagai akibat diberlakukannya wajib militer. Hal ini dilakukan agar Australia
mampu membendung agresifitas komunis. Di sini terlihat bahwa periode tahun
1950an sampai 1960an Australia menganut konsep pertahanan yang disebut dengan
Forward Defence, yakni membangun pertahanan dengan menempatkan pasukan di luar
wilayah negaranya (lihat keterlibatan tentara Australia pada perang Korea, perang
Vietnam, dan Malaysia & Singapura). Setelah itu, pada periode berikutnya
orientasi pertahanan Australia menganut konsep Defence of Australia. Konsep
pertahanan ini menggunakan self reliance sebagai dasar utamanya. Di sini,
militer Australia harus mampu melaksanakan operasi secara mandiri dan harus
mampu menangkal jangkauan senjata musuh dengan memanfaatkan geografi Australia.
Kini Australia menerapkan Regional Defence dengan strategi varian kerjasama
pengembangan pertahanan misil bersama Amerika Serikat.
Meskipun
berbagai konsep pertahanan dikembangkan oleh Australia, tetapi pada dasarnya
kedekatan dengan Amerika Serikat menjadi dasar dari segalanya. Setelah
melepaskan diri dari keterikatan dengan Inggris, Australia menyandarkan dirinya
pada Amerika Serikat. Lebih jauh Steven Pailah (2008) mengemukakan bahwa
national interest Australia lebih ditujukan pada pembentukan lingkar Pasifik
Barat yang dimanifestasikan dalam bentuk Australia’s Maritime Identification
System (AMIS). AMIS merupakan manifestasi konsep keamanan maritim regional
Amerika Serikat yang diterjemahkan oleh Australia sebagai penguatan strategi
pertahanan maritimnya. Menarik untuk disimak pendapat Petrov (2008) yang
menggambarkan tiga pilar tradisi politik luar negeri Australia yakni:
1.
Tradisi Menzies (partai Liberal) yang digambarkan sebagai tradisi
realistik, pragmatis, dan berpusat pada kekuatan. Di sini pandangan Menzies
difokuskan pada kenyataan keterisolasian Australia dapat diatasi dengan
menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat.
2.
Tradisi Evatt (partai Buruh) yang memperlihatkan gambaran
nasionalis dan internasionalis, sebab Evatt berpedoman organisasi internasional
(dalam hal ini PBB) merupakan forum yang cukup efektif untuk mengatasi
masalah-masalah yang muncul. Arah pilar kedua ini adalah kekuatan dan nilai
kebebasan dan pemahaman terhadap identitas diri suatu bangsa.
3.
Tradisi Spender & Casey (Partai Liberal) menekankan pada
pentingnya wilayah regional dan kerjasama aktif dengan Asia. Sampai saat ini,
ketiga pilar tersebut masih relevan dijadikan bahan kajian terhadap
perkembangan politik luar negeri Australia, meskipun penekanannya sangat
ditentukan oleh kondisi dari partai manakah perdana menteri Australia berasal.
C.
Kebijakan Luar Negeri
Australia
Kebijakan
luar negeri Australia berpatokan pada tujuan dan kepentingan nasional yang
ingin dicapai. Berikut ini adalah mengenai Tujuan Nasional dan Kepentingan
Nasional Australia:
1.
Tujuan Nasional Australia
Tujuan
dasar politik luar negeri Australia adalah menjaga integritas dalam lingkungan
internasional yang saling bersaing. Integritas suatu bangsa bukan hanya
mencakup perlindungan terhadap aset-aset yang penting seperti wilayah teritori,
sumber daya alam dan manusia dalam batas negara tetapi juga memelihara sistem
ekonomi, politik, sosial, budaya masyarakat yang turun temurun secara singkat.
Hal-hal tadi disebut sebagai etos fisik dan sosial dari sebuah negara. Ada dua
sikap kelompok nilai yang membangun etos nasional Australia. Sikap kelompok
nilai yang pertama adalah campuran antara nilai budaya, etika, agama dan etnis
yang menentukan sikap dan moralitas masyarakat. Sedangkan kelompok nilai yang
kedua adalah campuran antara nilai, sosial, politik dan ekonomi yang dipelihara
oleh masyarakat dalam aturan-aturan administrative. Tujuan utama dari politik
luar negeri suatu Negara adalah kelangsungan hidup dan untuk itu keamanan
Negara adalah suatu hal yang mutlak. Keamanan Negara bukan hanya keamanan
secara fisik dari serangan maupun invasi, tetapi berarti juga perlindungan dari
agresi ekonomi Negara lain, yang juga berarti mengamankan dasar nilai dan
budaya masyarakat dari penerapan ideologi luar negeri yang bertentangan.
2.
Kepentingan Nasional Australia
Dalam melihat
kepentingan nasional Australia, terdapat empat prioritas pokok:
a.
Memelihara keamanan yang positif dan lingkungan strategis dalam
kawasannya. Berarti Australia memiliki kepentingan langsung dalam menjamin
situasi yang aman dan damai di Negara-negara sekitarnya agar tetap terpelihara
dengan stabil.
b.
Mendukung terciptanya keamanan global.
c.
Kerjasama ekonomi, investasi dan perdagangan. Australia ingin
memobilisasi pengaruh politik internasional untuk mendukung tujuan ekonomi
internasional dengan cara membuka pasar barang ekspor, memperluas
kesempatan-kesempatan ekonomi bagi sektor industri Australia dan terus
menciptakan persepsi bahwa Australia merupakan tempat yang menarik untuk
melakukan penanaman modal asing serta menempatkan pemerintah Australia sebagai
mitra yang ideal untuk kerjasama.
d.
Menjadi warga dunia yang baik dengan Australia terus memainkan
peranan yang positif dan konstruktif diantara aneka ragam isu yang sekarang
menjadi subyek diplomasi multilateral, seperti penanganan masalah pengungsi,
terorisme, perdagangan obat-obatan terlarang dan masalah kesehatan dunia.
Berdasarkan
Tujuan dan Kepentingan Nasional Australia yang telah ditetapkan oleh Pemerintah
Australia, Perdana Menteri Howard pada masa pemerintahannya menetapkan
kebijakan politik luar negerinya sebagai berikut:
a.
Melindungi teritorial Australia dari serangan fisik dan memelihara
kapasitas Australia dalam membuat kebijakan independen.
b.
Membangun dan melanjutkan kapasitas kompetensi perdagangan dan
investasi pada skala internasional, tapi dengan penekanan pada pasar
Asia-Pasifik.
c.
Menghapuskan senjata pemusnah massal dan untuk menahan konflik
regional (di dalam dan di luar Asia), peningkatan keamanan dalam menghadapi
terorisme internasional, melalui migrasi tidak sah, tentang penyakit, arus
pengungsi, penurunan kualitas lingkungan, narkotika dan kejahatan transnational,
sehingga dapat meminimalisasikan risiko konflik global.
d.
Memelihara dan mempromosikan Australia sebagai negara yang memiliki
nilai demokrasi liberal yang direfleksikan dari intelektual Eropa dan
peninggalan budaya, untuk menarik minat negara-negara Asia Pasifik yang
memiliki sejarah dan budaya yang berbeda.
D.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kebijakan Luar Negeri Australia
Kebijakan
luar negeri Australia sangat ditentukan oleh berbagai faktor baik dari faktor
internal maupun eksternal. Faktor-faktor internal dan eksternal yang amat
mempengaruhi kebijakan luar negeri Australia antara lain:
Pertama,
“Historical Culture” atau budaya historis dan demografis. Dari sisi budaya
historis dan demografis ini, ada dua negara yang amat berpegaruh dalam
pembentukan kebijakan luar negeri Australia, yaitu Inggris dan Amerika. Kedua,
adalah faktor geografis. Sebagai Negara benua di selatan khatulistiwa yang
dihuni oleh sebagian besar masyarakat keturunan inggris (Anglo Celtic),
masyaraka Australia merasa terisolir oleh lingkungan luarnya. Ketiga, perubahan
konstelasi politik, ekonomi, dan keamanan regional dan internasional tidaklah
bersifat statis melainkan dinamis. Keempat, tujuan yang inin diraih dari
kebijakan luar negeri adalah kepentingan nasional. Tujuan politik dari
kebijakan luar negeri Australia ini dapat disimpulkan kedalam empat hal:
a.
Suatu Australia yang lebih aman, baik dari segi fisik, ekonomi,
budaya, dan politi, termasuk ideology dan national etosnya.
b.
Suatu dunia yang lebih aman.
c.
Suatu dunia yang lebih kaya.
d.
Suatu dunia yang lebih baik.
E.
Kecenderungan Politik
Luar Negeri
Kecenderungan
politik luar negeri Australia untuk menjalin kerja sama dan membuka diri
terhadap kawasan asia pasifik dengan tetap tidak meninggalkan hubungannya
dengan AS dan inggris adalah langkah nyata arah kebijakan luar negeri Australia
pada masa sekarang. Walaupun hubungannya dengan negara induk yakni Inggris
sekarang agak melemah dikarenakan jarak antara Australia dan negara induk
tersebut menyebabkan Australia lebih memilih untuk mendekatkan diri ke Amerika
Serikat yang mana notabenenya memiliki pengaruh yang lebih kuat dari pada
inggris di kawsan asia pasifik. Jadi menurut Australia hubungannya sebagai
orang western tetap dijaga dengan kerjasama keamanan bersama AS selain itu
untuk masalah kerjasama ekonomi dan lainnya Australia mulai membuka diri di
kawasan asia pasifik.
Sedangkan dengan
kawasan regional asia pasifik Australia memberikan dukungan terhadap berbagai
organisasi yang ada di kawasan asia pasifik ini. Dukungan tersebut terlihat
pada organisasi berikut :
a.
Pacific Islands Forum Secretariat (PIFS) adalah Forum Kepulauan
Pasifik (sebelumnya dikenal sebagai Forum Pasifik Selatan sebelum 2000), yang
pelayanan Sekretariat, menyatukan independen dan mengatur diri-negara di
Pasifik dalam tahunan pemimpin sebuah KTT.
b.
South Pacific Applied Geoscience Commission (SOPAC) yang membantu
anggota untuk menilai, eksplorasi dan pengembangan mineral dan sumber daya yang
tidak hidup lainnya.
c.
Pacific Regional Environment Program (SPREP) mempromosikan kerjasama
regional dalam masalah lingkungandi asia pasifik.
d.
Forum Fisheries Agency (FFA) yang bertujuan membantu anggota untuk
memaksimalkan manfaat yang berkelanjutan dari konservasi dan pemanfaatan
berkelanjutan sumber daya perikanan mereka.
e.
South Pacific Board of Educational Assessment (SPBEA) yaitu suatu
daerah, organisasi antar pemerintah yang didirikan pada tahun 1980 untuk
membantu negara-negara anggota dan wilayah untuk mengembangkan prosedur
penilaian terhadap dan / atau regional sertifikat nasional.
f.
University of South Pacific (USP) yang merupakan penyedia utama
pendidikan tersier di wilayah Pasifik dan pusat internasional keunggulan untuk
pengajaran, penelitian dan konsultasi pada semua aspek kehidupan Pasifik.
g.
Fiji School of Medicine (FSMed) yang merupakan lembaga kesehatan
tersier yang melatih dan mendidik profesional kesehatan untuk melayani
masyarakat di Pasifik.
Selain dukungan
Australia juga merupakan anggota dari organisasi regional asia pasifik yaitu:
a.
APEC yaitu program kerjasama ekonomi di kawasan asia-pasifik.
b.
ASEAN-Australian Development Cooperation Programme (AADCP) Program
Kerjasama Pembangunan ASEAN-Australia adalah demonstrasi praktis dari komitmen
Australia untuk bekerja sama dengan ASEAN untuk meningkatkan pembangunan
ekonomi dan sosial yang berkelanjutan di Asia Tenggara. Hal ini mencerminkan
prioritas saat ini dan tantangan yang dihadapi kedua pasangan untuk memperluas
hubungan ekonomi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan keamanan di
kawasan negara-negara dengan tantangan pembangunan yang berbeda. Tujuan dari
program ini adalah untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan di dalam
ASEAN, dengan membantu ASEAN untuk mengatasi tantangan pembangunan daerah
prioritas melalui kerjasama regional.
Tujuan khusus dari AADCP adalah:
1.
untuk memperkuat kerjasama ekonomi dan sosial regional
(termasuk-ekonomi dan keuangan kerjasama makro, integrasi ekonomi, perumusan
kebijakan sosial dan sistem, dan hubungan AFTA-CER).
2.
untuk memperkuat kapasitas kelembagaan daerah
3.
untuk memperkuat ilmu pengetahuan, teknologi dan kerjasama lingkungan;
4.
untuk mempercepat baru Negara-negara Anggota ASEAN 'integrasi ke ASEAN
dengan mendukung partisipasi mereka dalam program-program kerjasama ASEAN.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan:
Setiap
negara tidak bisa memenuhi kebutuhan negaranya sendiri, perlu adanya hubungan
kerja sama dengan negara lain untuk memenuhu tujuan negara tersebut. Dan di
dalam melakukan hubungan luar negeri atau dengan negara lain setiap negara juga
mempunyai cara atau kebijakan politik luar negerinya sendiri-sendiri. Arah kebijakan
luar negeri Australia mengalami perubahan seiring periode pergantian kepemimpinan
di negara kangguru tersebut, Walaupun bukan hanya pengaruh pemimpin yang
mempengaruhi kebijakan luar negeri Australia tetapi juga berbagai faktor
seperti letak geografi dan lainnya. Kebijakan politik luar negeri suatu negara
dapat dipengaruhi beberapa faktor, baik dari dalam negeri sendiri atau faktor
dari luar negeri dan hal itu tidak terlepas dari tujuan negara tersebut dalam
memenuhi kebutuhan negaranya. Selain untuk memenuhi kebutuhan negaranya kerja
sama dengan negara lain yang dilakukan australia juga untuk menjaga keamanan
wilayah mereka, tentu dengan kerja sama maka akses keluar masuk negara juga
mudah dipantau atau dijaga.
DAFTAR PUSTAKA
Ba’in. 2011. Paparan Kuliah
Sejarah Australia- Oceania. Semarang: Universitas Negeri Sem Kitley, P. e. al.(1989). Australia di mata
Indonesia. Jakarta : Gramedia
Ratih Hardjono. (1992). Suku Putihnya Asia Perjalanan Australia
Mencari Jati Dirinya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Siboro, J. 1989. Sejarah Australia. Jakarta : P2LPTKarang.
http://penelitian.lppm.upi.edu/detil/109/politik-luar-negri-australia-pasca-perang-pasifik-dalam-hubungannya-dengan-negara-negara-lain (diakses pada tanggal
12 Juni 2015)
http://www.academia.edu/5306893/ARAH_POLITIK_LUAR_NEGERI_AUSTRALIA_MASA_KINI (diakses pada tanggal
12 Juni 2015)
http://arianto-w--fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-77120-Umum
Kebijakan%20Luar%20Negeri%20Australia.html (diakses pada tanggal 12 Juni 2015)

No comments:
Post a Comment