Perang Dunia II : Ramuan Kekuasaan
HUBUNGAN SIPIL MILITER DI DALAM KEADAAN
PERANG TOTAL
Tiga
kunci aspek hubungan sipil-militer Amerika di dalam Perang Dunia II hanya
mungkin dinyatakan secara terang terangan melalui penyederhanaanminor.
Pertama, sepanjang perihal keputusan
besar didalam kebijakan dan strategi, pihak militer menngendalikan perang.
Kedua, dalam area ebijakan dan strategi militer enjalankan perang seerti yang
diinginkan masyarakat Amerika dan para negarawan. Ketiga, pada front dalam
negeri, kendali atas mobilitas dikuasai antara militer dan agen-agen sipil.
Hubungan militer sipil pada Perang Dunia II sejajar didalam beberapa hal dengan
yang ada di Jerman pada Perang Dunia I, seperti halnya dengan korps perwira
sebelum tahun 1913, korps perwira Amerika sebelum tahun 1939 dijadikan sangat
profesional sekalipun mereka semakin kecil dan disingkirkan dari pusat
kehidupan bangsa. Dikedua negara tersebut peridode pasca perang sebagian hanya
ditandai oleh usaha-usaha untuk membentuk kembali suatu keseimbangan yang layak
bagi hubungan militer-sipil.
OTORITAS MILITER DAN PENGARUHNYA Di DALAM
STRATEGI BESAR
DASAR
KEKUASAAN MILITER, kekuasaan para pimpinan militer dimasa perang berakar pada
sikap liberal Amerika terhadap perang dan militer. Masyarakat Amerika dan para
negarawan Amerika sepakat untuk tetap berpegangan pada filsafat Ludendorff.
Pusat kepemimpinan militer perang merupakan organisasi bersama dari para kepala
militer senior. Sebelum bulan Februari 1942 organisasi ini merupakan Dewan
Gabungan yang terdiri dari empat perwira
tinggi dari setiap angkatan. Perluasan Dewan Gabungan pada tahun 1939 dan
pembentukan JCS pada tahun 1942 benar-benar mencerminkan kebutuhan militer:
kebutuhan akan kebersamaan an gabungan antara perencanaan dan pemerintah.
Gabungan kepala staf, kedua setelah Presiden menjadi kekuatan tunggal yang
terpentig didalam keseluruhan pelaksanaan perang, tingkat dan ruang lingkup
mereka jauh melebihi mereka yang merupakan badan profesional yang murni.
KEPALA
GABUNGAN DAN PRESIDEN, sebelum tahun 1939, para kepala militer secara
bersama0sama tidak memiliki hak akses langsung kepada Presiden. Dewan Gabungan
itu merupakan komite antardepartemen yang diddirikan berdasarkan kesepakata
antara para mentri kedua angkatan. Posisi formal Gabungan Ketua diperkuat oleh
hubungan pribadi yang mereka miliki dengan Presiden.
KETERLIBATAN
NASIHAT SIPIL, fakta soal akses langsung ke Presiden tidak membuktikan otoritas
Kepala Gabungan dalam pelaksanaan perang. Kekuasaan mereka lebih menyerupai
hasil dari akses langsung mereka yang bergabung dengan pengecualian nasehat
sipil. Selama perang kepala eksekutif
berhubungan dengan para penasehat militernya. Selama pemerintahan Roosevelt
yang ketiga, menteri perang dan menteri Angkatan Laut ditiadakan dari
permasalahan strategi utama. Departemen luar negeri memainkan peran kecil
didalam pengarahan perang karena alasan politik, ribadi dan organisasional.
Secara ideologi, departemen Luarnegeri AS pada khususnya kudang diperlengkapi
untuk menagani berbagai permasalahan dimasa perang maupun periode pascaperag.
Selama tahun 1930-an Departemen telah dipenuhi oleh permasalahan Amerika Latin
kebijakan lingkungan yang baik disatu sisi, dan permasalahan ekonomi, program
kesepakatan pertukaran barang disisi lain. Organisasi Departemen Luar Negeri AS
selama masa perang juga mengalami kebingugan mengenai tujuan dan peran
stettinius berusaha mereorgaisasikan Departemen setelah penunjukannnya sebagai
Asisten Mentri pada tahun 1943, tetapi ia tidak berhasil. Keunggulan kepala
Gabungan dalam memberikan nasehat kepada Presiden tercermin dalam jarangnya
Roosevelt menolak rekomendasi yang mereka berikan.
LINGKUP
OTORITAS MILITER, sebagai pengganti sebuah dewan perang, Kepala Gabungan
memperluas kegiatan dan kepentingan mereka memiliki dan memasuki area
diplomasi, politik dan ekonomi. Dari keputusan awal yang besar untuk mengalahan
Jerman hingga serangkaian keputusan akhir yang besar mengenai akhir perang
dengan Jepang, strategi perang dan permasalahannya dipecahkan oleh presiden,
para pemimpin dan Harry Hopkins. Ditahun-tahun awal terjadinya perang rumusan
kebijakan Amerika mengalami ketimpangan dengan tidak adanya tidakan koordinasi
ditingkat atas. Pihak militer berjuang tapa rambu-rambu yang jelas mengenai
kebijakan pemerintah. Sebagai akibatnya mereka berada dalam kondisi yang tidak
menguntungkan dalam berurusan dengan Inggris. Tidak hanya kepala gabungan yang
meningkatkan diri mereka melebihi ligkup kemampuan militer mereka, teteapi saat
perang berlangsung keterlibatan dalam organ-organ dalam pengambilan keputusan
perang meresap kepada tingkatan bawwah herarki militer.
MILITER
DAN KONGRES, dua cara utama pegawasan kongres atas militer merupakan kekuasaan
dalam hal keuangan dan kekuasaan dalam hal penyelidikan. Kurangnya sumber daya
selama Perang Dunia II membuat kekuasaan dalam hhal keuagan tidak berfugsi.
Pengawasan Dollar digantikan oleh prioritas administratif dan alokasi langsung.
Instrumen lain pengawasaan Kongres yang memungkinkan yang merupakan kekuasan
investigatif, dikendalikan sukarela oleh kongres. Bayangan komite atas
pelaksanaan perang masih tetap menghantui Capotol Hill. Rasa takut akan
keterliatan dalam permasalahan teknis militer.
PENYESUAIAN MILITER TERHADAP KEKUASAAN DI
MASA PERANG
KEHARMONISAN
DAN AKARNYA, sebuah keharmonisan yang luar biasa ada didalam dewan tinggi
pemerintahan Amerika dalam hal strategi dasar perang. Apakah yang menjadi
sumber –sumber keharmonisan diantara para tentara dan negarawan? Pendekatan
sipil dan militer terhadap kebijakan nasional sama sekali bertolak belakang
sejak tahun 1930an. Kesatuan pandangan dalam perang bisa dicapai hanya jika
pimpinan politik melepaskan posisi mereka dan menerima pandangan militer
konsevatisme profesioal mereka dan berpegang pada cara pandang sipil Amerika
yang pertama. Perbedaan yang sebenarnya antara sistem pelaksanaan perang
Amerika dan Inggris adalah lingkup yang luas dari para pimpinan militer Amerika
yang memaksa mereka mengadopsi cara pandag politik yang luas, sementara lingkup
kegiatan militer inggris yang terbatas membuat mereka berpegangan pada
pandangan militer yang profesional. Parra pimpinan inggris memandang perang
dari cara pandang perang militer dan memiliki cara pandang yang berbeda dengan
pemerintah memandang perang dari cara pandang politik.
KEBIJAKAN
NASIONAL : KESIMBANGAN KEKUASAAN MENUJU KEMENAGAN TOTAL. Pandangan pimpinan
militer yang mulai mencapai kejayaan pada akhir tahun 1930-an mencerminkan
etika militer profesional konservatif didalam korps perwira Amerika selama
dekade antara dua peperangan. Tidak hanya dalam dukungan ereka terhadap
kekuatan militer dan pertahanan diplomatik, tetapi juga didalam seluruh
pendekatan mereka terhadap situasi iternasional dalam tahun-tahun peperangan
ini para pipinan militer Amerika tetap mematuhi etika militer profesional.
Bahkan pada masa masa ini para pimpinan militer masih berpikir konservatif
mengenai kebijakan nasional. Tujuan jangka panjang Amerika serikat bukanlah
untuk mengalahkan Jerman dan Jepang, melainkan pembentukan suatu kekuasaan yang
seimbang di Eropa dan Asia.
Pada
awal perang Presiden Suharto membuat kebijakan bahwa seluruh perencanaan
militer Amerika harus didasari pada anggapan bahwa tujuan politik Amerika
adalah kemenangan militer yang mutlak. Dari pandangan militer, hal yang
diinginkan adalah untuk mengalahkan terlebih dahulu segalan ancaman utama
terhadap keamanan Amerika. Tekanan terhadap militer tentu saja bervariasi,
dengan pangkat dan posisi mereka. Selama perang, para perwira militer yang
berpangkat rendah dan jurnal-jurnal militer mengingatkan akan perbedaan
antaradunia pasca perang dengan keadaan dunia pasca perang.
PERAN
PEMERINTAH: PENGAWASAN SIPIL TERHADAP DOMINASI MILITER. Perubahan sifat
pemikiran militer mungkin juga tampak di dalam sikap para komandan militer
mengenai pengawasan sipil. Sikap militer terhadap pengawasan sipil benar-benar
berubah selama perang terjadi. Kontrol sipil merupakan suatu peninggalan masa
lalu yang mendapat sedikit tempat di mas depan. Sebelum tahun 1941 suatu unsur
yang terus berulang di dalam otoritas organisasi militer adalah dewan
pertahanan nasional yang membentuk panduan otoritatif untuk militer. Sebagai
akibatnya Kepala Gabungan bebas dalam berhubungan langsung dengan Presiden
mengenai strategi dan anggaran militer tanpa organisasi sekertariat sipil pusat
yang mengimbangi mereka.
HUBUNGAN
MILITER-SIPIL DI DALAM MOBILISASI EKONOMI
Aspek yang membedakan hubungan
sipil- militer didalam mobiltas ekonomi adalah bahwa apada akhirnya seluruh
kepentingan terkait mendapat perwujudan organisasi tertentu. Pada pertengahan
tahun 1943, berjalan suatu sistem keseimbangan yang kasr namun efektif dalam
hubungan sipil-militer dimana tuntuan akan jabatan dari badan-badan lain oleh
seorang wasit-kantor mobilisasi perang- dengan dukungan yang sepenuhnya oleh
dari Presiden. Badan pertama adalam mobilisasi ekonomi adalah Army an Navy
Munitions Board (ANMB) yang terdiri Asisten Menteri Menteri Angkatan Darat dan Laut.
BUAH
KEHARMONISAN DAN KEBENCIAN
Pola yang berbeda dari hubungan
milliter-sipil di dalam kebijakan dan strategi luar negeri, di satu pihak
memberikan bahan pemikiran yang masuk akal dan pihak terdapat kerjasama dan
keharmonisan di lain pihak terdapat konflik dan kebencian. Perbedaan diantara
formuasi kebijakan eksternal dan internal perang Amerika semakin mencolok
dengan adanya peranan sipil dengan militer. Seperti yang dikatakan WPD pada tahun
1940 bahwa fungdi pimpinan politik adalah untuk menentukan “apa” dan pihak
militerlah yang memutuskan “bagaimana”. Fungsi militer adalah untuk menentukan
kebijakan-kebijakan yang luas. Dalam setiap hal, instrumen “bagaimana”
memliliki fungsi penting dalam mewakili kemampuan dan prospek yang
berkelanjutan yang memberikan kemampuan tersebut. Sisi instrumental dapat
bertindak baik senagai pengendali atau pendorong dalam mobilisasi kemampuan
untuk mencapai tujuan kebijakan apakah kebijakan tersebut merupakan pertahanan
dari suatu teritori tertentu maupun produksi dari sejumlah tank. Kekurangan
dalam pelaksanaan perang dunia II adalah tidak cukupnya perwakilan dari
pandangan militer dalam perumusan strategi nasional. Kepentingan ini yang
seharusnya memainkan peran utama namun malaj diremehkan. Kesalahan besar dalam
perang adalah dalam biang strategi bukan dari bidang mobilisasi.

No comments:
Post a Comment