About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 8 June 2019

HUBUNGAN MIITER-SIPIL dalam DEKADE PASCAPERANG ALTERNATIF HUBUNGAN MILITER SIPIL


HUBUNGAN MIITER-SIPIL dalam DEKADE PASCAPERANG
ALTERNATIF HUBUNGAN MILITER SIPIL
Aspek yang mengemuka mengenai hubungan sipil di dalam dekade setelah perang PD II adalah menungkatnya dan bertahannya ketegangan masa damai antara kepentikan militer dan masyarakat liberal Amerika. Ketegangan ini merupakan produk dari kekuasaan liberalisme yang berkelanjutan di dalam pikiran Amerika dan diterimanya secara terus-menerus pendekatan militer-sipil. Setelah perang dunia II, unsur diplomatik relatif statis- negara-negara yang pada umumnya berada pada satu sisi atau lainnya di dalam perang dingin dan unsur dinamisnya adalah kekatan relatif militer dan perekonomian dari dua koalisi. Perubahan Cina dan Yugoslavia dari satu ke sisi lainnya dalam perang dingin mengubah keseimbangan kekuasaan, tetapi peran penting mereka melemah jika dibandingkan dengan kemajuan relatif Uni Soviet dan Amerika Serikat dalam mengembangkan teknologi termonuklir. Persyaratan militer yang demikian menjadi sebuah u sur mendasar kebijakan luar negeri, dan para militer berbagai institusi memperoleh otoritas dan pengaruh yang jauh melampaui segala sesuatu yang pernah dimiliki para profesioanal militer dalam sejarah militer. Dalam kenyataannya hubungan sipil-milier Amerika dalam dekade  setelah perang dunia II sama sekali tidak mengalami secara eksklusif. Ketegangan antara militer yang konservatif, nilai-nilai sosial liberal dan kekuasaan militer yang mengikat semakin tidak trepecahkan. Kecenderungan yang dominan di dalam kebijakan dan praktek, bagaimanapun, cenderung mengarah pada solusi pertama dan solusi kedua yakni pendekatan liberal yang tradisional terhadap penghancuran atau perubahan-perubahan nilai-nilai dan institusi militer.
CARA PANDANG PASCA PERANG MENGENAI HUBUNGAN MILITER-SIPIL
HIPOTESA GARRISON STATE, dekade pasca perang adalah masa munculnya gambaran Amerika mengenai teori hubungan militer-sipil yang pertama kali disadari, sistematik, dan rumit sejak pandangan bisnis berpaham cinta damai dari Spencer, Sumner, dan Carnegie. Sejarah secara alami selalu berkembang dan meningkat dari golongan masyarakat yang militeristis yang gemar berperang hingga masyarakat yang demokratis yang cinta damai. Ujung yang berlawanan dari keadaan perang atau Garrison State adalah keadaan bisnisme yang pada abad kesembilan belas semakin dominan. Tujuan masyarakat pada masa itu adalah ekonomi “ pengejaran kemakmuran” dengan cara damai dan dibangkitkannya hubugan perniagaan. Garrison State merupakan produk logis dari revolusi dunia atau sebuah reaksi yang menentangnya.
PENGARUH MILITER DALAM MASYARAKAT AMERIKA
Pengaruh para militer profesional di dalam masyarakat Amerika antara tahun 1946 dan 1955 sangatlah kurang dibandingkan dengan yang ada di dalam perang dunia II. Namun demikian, hal tersebut tetap berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya saat tidak ada perang sama sekali. Perkembangan yang memeperlihatkan bahwa para perwira militer profesional terlibat dalam peran nonmiliter dalam pemerintahan, industri, dan politik, dan mengembangkan afiliasi dengan kelompok-kelompok nonmiliter, merupakan sebuah fenomena baru di dalam sejarah Amerika. Para perwira militer menggunakan kekuasaan yang jauh lebih besar di Amerika Serikat selama periode ini dibandingkan dengan yang ada di negara besar lainnya. Tiga perwujudan yang paling penting dari pengaruh mereka adalah:
1.      Masuknya para perwira militer ke dalam posisi pemerintahan yang biasanya diduduki oleh warga sipil.
2.      Eratnya ikatan yang berkembang antara para pemimpin militer dan kepemimpinan bisnis,
3.      Kepopuleran yang tersebar luas dan gengsi pribadi para tokoh militer.
Dalam menganalisa peran perwira di pascaperang ini, ada dua permasalahan yang memiliki kepentingan yang unik. Pertama, apakah pengaruh militer yang meningkat karena beberapa faktor berhunbungan dengan perang dunia II, dan, sebagai akibatnya, menimbulkan sebuah fenomena sementara? Atau apakah hal tersebut muncul dari penyebab-penyebab yang berhubungan dengan perang dingin dan sebagai akibatnya, sesuatu yang mungkin akan berlanjut dalam jangka waktu yang tak terbatas di masa depan? Tidak diragukan lagi, meningkatnya kepentingan militer akibat keterlibatan amerika di dalam di dunia politik mendorong meningkatnya pengaruh militer dari apa yang pernah terjadi sebelum tahun 1940. Namun demikian, pengaruh militer selama dekade perang dunia pertama juga ada di dalam begitu banyak hal setelah perang dunia II, suatu dampak yang masuk ke dalam masa perdamaian, baik gengsi dan pengaruh yang diperoleh pihak militer antara tahun 1940 dan 1945 dan kelemahan institusi dan kepemimpinan militer selama tahun-tahun tersebut.
Kedua, apakah meningkatnya pengaruh militer disertai oleh lebih tersebarnya penerimaan akan cara pandang militer profesional? Pada umumnya, hubungan terbalik antara dua faktor ini dahulu yang pernah ada di Amerika terus berlanjut selama periode tahun 1946-1955. Ada sebuah jurang pemisah antara meningkatnya pengaruh militer secara pesat dan luas dan kurangnya berhasilnya tuntutan militer dan permohon militer. Unsur-unsur militer yang memperoleh pengaruh politik terkuat jauh meninggalkan etika profesional, dan berbagai macam peran mereka menjadikannya lebih mudah untuk menolak teori mengenai pemikiran militer profesional. Mengeai berbagia permasalahan dimana terdapat sebuah perbedaan yang sangat jelas antara cara pandang militer profesional dan sikap warga sipil amerika yang tradisional, seperti tugas militer yang universal, dan besarnya anggaran militer, permasalahan mengenai besarnya anggaran militer biasanya lebih diangkat. Tentu saja, kebijaksanaan militer Amerika selama tahun-tahun ini dalam banyak cara merupakan serangkaian usaha yang berkelanjutan untuk lari dari kesimpulan militer profesional sehingga cara terbaik untuk memperoleh keamanan militer adalah melalui pemeliharaan kekuatan bersenjata yang tangguh.
PARTISIPASI DALAM PEMERINTAHAN SIPIL. Penetrasi para perwira profesional ke dalam posisi pemerintahan yang tidak membutuhkan keahlian militer memiliki dua bentuk: kedudukan militer pada posisi kerjasama dan fungsi politik, dan kedudukan militer pada posisi kerjasama dan fungsi politik, dan kedudukan militer pada posisi warga sipil dengan fungsi-fungsi militer secara khusus.
Contoh yang paling jelas mengenai posisi kerjasama adalah: 1. Posisi militer di berbagai teritori yang diduduki seperti yang ada di jerman sampai tahun 1949 dan di jepang sampai tahun 1952. 2. Komando militer internasional seperti SHAPE milik North Atlantic Treaty Organization, dan United Nations Korean Command, dan 3. Nasihat dan kelompok pelatihan militer di bangsa-bangsa yang menerima bantuan amerika. Posisi kerjasama itu mencerminkan kegagalan organisasi pemerintah untuk dengan segera menyesuaikan diri dengan spesialisasi fungsional yang meningkat. Semua hal tersebut adalah satu area dimana teori penggabungan diwujudkan secara nyata. Dengan tidak adanya mekanisme institusional yang tepat untuk kinerja tanggung jawab militer dan politik yang terpisah, maka orang-orang yang menduduki jabatan posisi campuran tersebut menghilangkan kedua tugas tersebut. Jabatan gubernur merupakan sebuah fenomena sementara yang berkembang dari perang dunia II. Pada saat konflik berlangsung dan segera setelah itu, pemisahan fungsi politik dan militer sebenarnya mustahil. Pemerintah sipil dan permasalahan sipil biasanya ditangani melalui organisasi komando militer. Setelah perang berakhir, fungsi keamanan militer di dalam daerah-daerah pendudukan menjadi kurang penting: masalah-masalah yang muncul kemudian adalah masalah perekonomian, sosial, politik dan konstitusional. Secara teori, kendali militer pada masalah ini seharusnya telah membuka jalan bagi pengarahan sipil, dan di dalam zona jerman di Francis, inggris dan Rusia, kendali sipil telah menggantikan pengawasan militer. Dengan kepopuleran nasional dan dukungan politik Jendral McArthur, mustahil untuk menurunkannya ke status militer di bawah seorang gubernur sipil. Di Jerman, keraguan Departemen Luar Negeri untuk menjalankan tanggung jawab untuk tata tertib kedudukan memperpanjang pengawasan militer hingga tahun 1949. Di Timur jauh dan Jerman, staf besar, yang secara murni menyerahkan diri pada permasalahan politik dan permasalahan militer berkembang untuk menolong gubernur militer dalam menghilangkan tanggung jawab politik yang dimilikinya. Dalam satu bentuk atau lainnya, staf-staf ini, yang sebagian besar terdiri dari warga sipil, digolongkan di bawah atau disertakan pada organisasi komando militer. Komando militer internasional merupakan suatu reaksi terhadap ancaman keamanan militer yang berasal dari perang dingin. Sebagai akibatnya, tipe mereka adalah suatu perwujudan yang sifatnya lebih permanen dari kantor kerja sama.
PENYATUAN KEMBALI MILITER-BISNIS. Beberapa perkembangan dramatis melambangkan lebih jelas status baru pihak militer di dalam dekade pascaperang dibandingkan dengan hubungan dekat yang mereka kembangkan dengan para kaum elit bisnis masyarakat amerika. Sebelum perang dunia II, para perwira profesional dan pelaku bisnis Amerika kurang memanfaatkan kebutuhan militer kebutuhan militer, kurang menghargai pandangan militer, dan kurang menghormati kaum militer. Sikap pihak militer pun seperti itu terhadap lingkungan bisnis setelah perang dunia II, sebuah perubahan yang tajam terjadi dalam hubungan ini. Para perwira profesional dan pelaku bisnis saling memberikan rasa hormat satu sama lain. Para pensiunan laksamana dalm jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya bergerak memasuki staf eksekutif berbagai perusahaan Amerika; organisasi-organisasi baru muncul untuk menjembatani jurang antara manajemen perusahaan dan kepemimpinan militer. Bagi para perwira militer, bisnis mewakili karakter jalan hidup Amerika. Hubungan dengan bisnis secara positif membuktikan dan memastikan bahwa mereka telah menjadi anggota terhormat dari komunitas masyarakat Amerika. Secara keuangan dan kejiwaan, para militer yang pindah dari korps keperwiraan ke perusahaan memperoleh keamanan, penerimaan, dan kesejahteraan. Firma-firma bisnis, sebaliknya memanfaatkan gengsi para komandan yang terkenal, keahlian khusus dan keahlian perwira yang berada di bidang teknik non militer, kemampuan administrasi dan pengorganisasian umum, dan bantuan mereka terhadap atau dalam melakukan bisnis dengan depertemen pertahanan. Ikatan kedua kelompok ini dalam dekade pasca perang dunia sebenarnya banyak dan kuat. Secara aktual, mereka bersandar pada dua dasar yang berbeda: satu luas lingkupnya, tetapi durasinya hanya sementara sedangkan lainnya lebih terbatas lingkupnya, tetapi lebih permanen.
MACS DAN IKES : KEMBALINYA SAMURAI. Didalam sebuah artikel yang menarik, T, Harry Williams menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki dua tradisi militer. Satu diwakili oleh tentara yang bersahabat, ramah dan luwes yang mencerminkan pemikiran peradaban yang demokratis dan industri yang bekerjasama dengan mudah dengan para pemimpin sipilnya. Tradisi ini disebut “ike”, lawan dari tradisi “ike” adalah tradisi “mac” yang terwujud dalam diri Winfield Scott, George B. McClellan, dan Douglas MacArthur – para perwira yang cerdas, angkuh, dingin dan dramatis, yang memperoleh nilai-nilai dan sikap dari warisan kuno dan bersifat aristokrat dan sulit untuk menjadi bawahan otoritas sipil.
            Perbedaan mendasar bukanlah antara tradisi Ike dan Mac, tetapi “Ike Macs” dan “Uncle Billies” atau “Black jacks.” Perbedaan antara keduanya adalah perbedaan antara dua jenis politisi: Pemimpin politik yang karismatik, inspirasional, dan teguh yang memimpin karena dia adalah pemimpin bagi para pengikutnya. Pada umumnya tradisi Ike lebih berhasil dibanding tradisi Mac dalam pengerjaan politik mereka, yang hanya mengindikasikan bahwa  lingkungan Amerika pada umumnya lebih menyukai tipe Ike, lepas dari ia adalah warga sipil atau militer.
            Hal yang terpenting, Williams tidak menyebutkan perwakilan dari tradisi Ike maupun tradisi Mac antara pahlawan perang Sipil dan tokoh-tokoh pascaperang Dunia II.  Selama tahun-tahun itu, kedua unsur politik tradisi Amerika dibawahi profesionalsme yang berlaku. Untuk pertamakalinya dalam sejarah Amerika pada dekade pascaperang, para perwira profesional tidak hanya menjadi tokoh publik yang populer, tetapi juga terlibat dalam politik pencalonan dan pemilihan domestik, gerakan politik dan partai politik.
            Konflik antara mac dan ike didalam dekade pascaperang adalah nyata, tetapi hal tersebut merupakan konflik kepribadian bukan tradisi. Akarnya terletak didalam kejadian Perang Dunia I yang membingungkan dan didalam ketegangan dan perselisihan yang sifatnya batiniah, tersembunyi dari pandangan. Selama dan setelah Perang Dunia I, suatu pertentangan, yang diwarnai dengan serangkaian kejadian dan kesalahpahaman, berkembang diantara mereka. Sebenarnya semua partisipasi yang penting dari para perwira militer secara pribadi di dalam kontrovesi partisan merupakan suatu pertentangan antara kedua kepribadian tersebut. Di satu pihak terdapat Marshall-Eisenhower Eropa, SHAEF-Shape, kelompok pentagon; dilain pihak berdiri  MacArthur, Asia, SCAP, Kelompok “bataan”. Para perwira yang sudah pensiun memainkan peran aktif, mewakili satu ayau jendral lainnya; MacArthur menugaskan Wademeyer dan Bonner Fellers, Eisenhower menugaskan Clay dan Bedell Smith. Para perwira lainnya menyusun sebuah peran netral atau membuat satu pilihan yang sulit antara keduanya. Dampak dari kontroversi ini berlanjut untuk beberapa saat setelah terjadinya perang, tetapi dalam berlalunya Perang Dunia Ii, generasi para pemimpin militer dan korps jendral yang baru bergeser dari segala permusuhan, takdiragukan lagi akan menghapus partisipasi politik militer.
            Keterlibatan Eisenhower dan MacArthur tidak hanya mempengaruhi korps dan perwira tetapi juga diei mereka sendiri. Tidak ada satupun yang sanggup berpegang pada dasar-dasar etika militer profesional. Secara kronologis keduanya muncul sebagai para militer yang “tidak militer”, menyimpang dari standar propesional, tokoh-tokoh yang heroik dan simbol dari berjuta-juta rakyat Amerika. Keterlibatab MacArthur dan Eisenhower yang sama-sama menyimpang dari etika militer profsional. Ideologi macArthur yang berkembang pada 1920-an dan 1930-an pada dasarnya bersifat  religius , mistik, dan emosinil, bertentangan dengan pendekatan tentara profesional yang biasanya praktis, realistis dan materialistis. Bertentangan dengan penekanan profesional pada kekuatan militer, ia menekankan aspek moral dan rohani mengenai perang dan pentingnya tentara rakyat.
            Bertentangan dengan MacArthur, Eisenhower tetap menjadi seorang letnan kolonel yang tidak dikenal pada saat bangsa bergerak menuju keterlibatan didalam Perang dunia II. Ketika memperoleh pangkat tinggi dan ketenaran, dengan mudah muncul sebagai “pikiran sipil” yang sangat jelas. Ia sedikit berbicara dan lebih banyak tersenyum daripada MacArthur, dan memunculkan perwujudan konsensus dan bukannya kontroversi. MacArthur adalah mercusuar,Eisenhower adalah cermin. Pada saat MacArthur berusaha untuk membangun berbagai macam jembatan menuju kesadaran Amerika, Eisenhower menunggu dan membiarkan jembatan-jembatan itu dibangun dibawahnya. Dengan beberapa tuntutan terhadap filsafat dan inovasi kreatif, Eisenhower memiliki sedikit kebutuhan untuk membuat dirinya terikat pada permasalahan umum atau mengidentifikasi dirinya dengan segala hal kecuali nila-nilai Amerika yang paling dijunjung tinggi. Ideologi Eisenhower mudah dilupakan karena sifatnya yang tidak asing dan dapat diterima. Sebagai gantinya adalah suatu pemahaman yang hangat, simpatik, namun tidak mengikat.
            Sejak awal sikap MacArthur terhadap perang mewujudkan pemikiran dominan tradisi liberal Amerika. Selama tahun 1920-an dan 1930-an ia membenarkan perang atas dasar moral dan agama, dan melindungi seni kepahlawanan dengan sebuah romantisme yang sentimentil. MacArthur tidak seperti Dennis Hart Mahan, namun serupa dengan lawan Mahan yaitu Jackson. Ia menyukai semangat perang untuk semangat militer. Beberapa peneliti mendeteksi adanya ironi bertahun-tahun kemudian di tahun 1951 dan tahun 1952, ketika MacArthur mengumumkan bahayanya ”pikiran militer”. Tetapi para jendral tetap berpendirian teguh. Ada jurang yang begitu luas antara pemikirannya dengan para perwira profesional. Setelah Perang Dunia II ia mengadopsi pemikiran paham cinta damai yang telah dicelanya pada tahun 1920-an dan 1930-an, sambil menekankan pernyataan Kellogh-Briand bahwa perang harus “dihapuskan dari dalam dunia.” Sangat jarang seorang militer yang terlatih secara prefesional benar-benar terpisah dari doktrin militer yang mengatakan bahwa perang benar-benar tidak terelakkan dan berada di luar kekuasaan manusia untuk mencegahnya.
            Sementara MacArthur muncul sebagai penasihat bangsa yang terpandai mengenai penghapusan perang, Eisenhower menjadi alatnya yang paling efektif didalam pengurangan kekuatan militer Amerika. Dalam hal ini lagi Eisenhower menunjukkan responnya terhadap kekuatan dirinya, mengerjakan tugas ganda untuk partai republik. Sebagai seorang pahllawan militer yang terkenal, ia membantu partai minoritas untuk mengawasi pemerintah nasional untuk pertamakalinya dalam dua dekade.

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...