HUBUNGAN
MIITER-SIPIL dalam DEKADE PASCAPERANG
ALTERNATIF HUBUNGAN MILITER SIPIL
Aspek
yang mengemuka mengenai hubungan sipil di dalam dekade setelah perang PD II
adalah menungkatnya dan bertahannya ketegangan masa damai antara kepentikan
militer dan masyarakat liberal Amerika. Ketegangan ini merupakan produk dari
kekuasaan liberalisme yang berkelanjutan di dalam pikiran Amerika dan
diterimanya secara terus-menerus pendekatan militer-sipil. Setelah perang dunia
II, unsur diplomatik relatif statis- negara-negara yang pada umumnya berada
pada satu sisi atau lainnya di dalam perang dingin dan unsur dinamisnya adalah
kekatan relatif militer dan perekonomian dari dua koalisi. Perubahan Cina dan
Yugoslavia dari satu ke sisi lainnya dalam perang dingin mengubah keseimbangan
kekuasaan, tetapi peran penting mereka melemah jika dibandingkan dengan
kemajuan relatif Uni Soviet dan Amerika Serikat dalam mengembangkan teknologi
termonuklir. Persyaratan militer yang demikian menjadi sebuah u sur mendasar
kebijakan luar negeri, dan para militer berbagai institusi memperoleh otoritas
dan pengaruh yang jauh melampaui segala sesuatu yang pernah dimiliki para
profesioanal militer dalam sejarah militer. Dalam kenyataannya hubungan
sipil-milier Amerika dalam dekade
setelah perang dunia II sama sekali tidak mengalami secara eksklusif.
Ketegangan antara militer yang konservatif, nilai-nilai sosial liberal dan
kekuasaan militer yang mengikat semakin tidak trepecahkan. Kecenderungan yang
dominan di dalam kebijakan dan praktek, bagaimanapun, cenderung mengarah pada
solusi pertama dan solusi kedua yakni pendekatan liberal yang tradisional
terhadap penghancuran atau perubahan-perubahan nilai-nilai dan institusi
militer.
CARA
PANDANG PASCA PERANG MENGENAI HUBUNGAN MILITER-SIPIL
HIPOTESA
GARRISON STATE, dekade pasca perang adalah masa munculnya gambaran Amerika
mengenai teori hubungan militer-sipil yang pertama kali disadari, sistematik,
dan rumit sejak pandangan bisnis berpaham cinta damai dari Spencer, Sumner, dan
Carnegie. Sejarah secara alami selalu berkembang dan meningkat dari golongan
masyarakat yang militeristis yang gemar berperang hingga masyarakat yang
demokratis yang cinta damai. Ujung yang berlawanan dari keadaan perang atau
Garrison State adalah keadaan bisnisme yang pada abad kesembilan belas semakin
dominan. Tujuan masyarakat pada masa itu adalah ekonomi “ pengejaran kemakmuran”
dengan cara damai dan dibangkitkannya hubugan perniagaan. Garrison State
merupakan produk logis dari revolusi dunia atau sebuah reaksi yang
menentangnya.
PENGARUH
MILITER DALAM MASYARAKAT AMERIKA
Pengaruh
para militer profesional di dalam masyarakat Amerika antara tahun 1946 dan 1955
sangatlah kurang dibandingkan dengan yang ada di dalam perang dunia II. Namun
demikian, hal tersebut tetap berada pada tingkat yang belum pernah terjadi
sebelumnya saat tidak ada perang sama sekali. Perkembangan yang memeperlihatkan
bahwa para perwira militer profesional terlibat dalam peran nonmiliter dalam
pemerintahan, industri, dan politik, dan mengembangkan afiliasi dengan
kelompok-kelompok nonmiliter, merupakan sebuah fenomena baru di dalam sejarah
Amerika. Para perwira militer menggunakan kekuasaan yang jauh lebih besar di
Amerika Serikat selama periode ini dibandingkan dengan yang ada di negara besar
lainnya. Tiga perwujudan yang paling penting dari pengaruh mereka adalah:
1. Masuknya
para perwira militer ke dalam posisi pemerintahan yang biasanya diduduki oleh
warga sipil.
2. Eratnya
ikatan yang berkembang antara para pemimpin militer dan kepemimpinan bisnis,
3. Kepopuleran
yang tersebar luas dan gengsi pribadi para tokoh militer.
Dalam
menganalisa peran perwira di pascaperang ini, ada dua permasalahan yang
memiliki kepentingan yang unik. Pertama, apakah pengaruh militer yang meningkat
karena beberapa faktor berhunbungan dengan perang dunia II, dan, sebagai
akibatnya, menimbulkan sebuah fenomena sementara? Atau apakah hal tersebut
muncul dari penyebab-penyebab yang berhubungan dengan perang dingin dan sebagai
akibatnya, sesuatu yang mungkin akan berlanjut dalam jangka waktu yang tak
terbatas di masa depan? Tidak diragukan lagi, meningkatnya kepentingan militer
akibat keterlibatan amerika di dalam di dunia politik mendorong meningkatnya
pengaruh militer dari apa yang pernah terjadi sebelum tahun 1940. Namun
demikian, pengaruh militer selama dekade perang dunia pertama juga ada di dalam
begitu banyak hal setelah perang dunia II, suatu dampak yang masuk ke dalam
masa perdamaian, baik gengsi dan pengaruh yang diperoleh pihak militer antara
tahun 1940 dan 1945 dan kelemahan institusi dan kepemimpinan militer selama
tahun-tahun tersebut.
Kedua,
apakah meningkatnya pengaruh militer disertai oleh lebih tersebarnya penerimaan
akan cara pandang militer profesional? Pada umumnya, hubungan terbalik antara
dua faktor ini dahulu yang pernah ada di Amerika terus berlanjut selama periode
tahun 1946-1955. Ada sebuah jurang pemisah antara meningkatnya pengaruh militer
secara pesat dan luas dan kurangnya berhasilnya tuntutan militer dan permohon
militer. Unsur-unsur militer yang memperoleh pengaruh politik terkuat jauh
meninggalkan etika profesional, dan berbagai macam peran mereka menjadikannya
lebih mudah untuk menolak teori mengenai pemikiran militer profesional. Mengeai
berbagia permasalahan dimana terdapat sebuah perbedaan yang sangat jelas antara
cara pandang militer profesional dan sikap warga sipil amerika yang
tradisional, seperti tugas militer yang universal, dan besarnya anggaran
militer, permasalahan mengenai besarnya anggaran militer biasanya lebih
diangkat. Tentu saja, kebijaksanaan militer Amerika selama tahun-tahun ini
dalam banyak cara merupakan serangkaian usaha yang berkelanjutan untuk lari
dari kesimpulan militer profesional sehingga cara terbaik untuk memperoleh
keamanan militer adalah melalui pemeliharaan kekuatan bersenjata yang tangguh.
PARTISIPASI
DALAM PEMERINTAHAN SIPIL. Penetrasi
para perwira profesional ke dalam posisi pemerintahan yang tidak membutuhkan
keahlian militer memiliki dua bentuk: kedudukan militer pada posisi kerjasama
dan fungsi politik, dan kedudukan militer pada posisi kerjasama dan fungsi
politik, dan kedudukan militer pada posisi warga sipil dengan fungsi-fungsi
militer secara khusus.
Contoh
yang paling jelas mengenai posisi kerjasama adalah: 1. Posisi militer di
berbagai teritori yang diduduki seperti yang ada di jerman sampai tahun 1949
dan di jepang sampai tahun 1952. 2. Komando militer internasional seperti SHAPE
milik North Atlantic Treaty Organization, dan United Nations Korean Command,
dan 3. Nasihat dan kelompok pelatihan militer di bangsa-bangsa yang menerima
bantuan amerika. Posisi kerjasama itu mencerminkan kegagalan organisasi
pemerintah untuk dengan segera menyesuaikan diri dengan spesialisasi fungsional
yang meningkat. Semua hal tersebut adalah satu area dimana teori penggabungan
diwujudkan secara nyata. Dengan tidak adanya mekanisme institusional yang tepat
untuk kinerja tanggung jawab militer dan politik yang terpisah, maka
orang-orang yang menduduki jabatan posisi campuran tersebut menghilangkan kedua
tugas tersebut. Jabatan gubernur merupakan sebuah fenomena sementara yang
berkembang dari perang dunia II. Pada saat konflik berlangsung dan segera
setelah itu, pemisahan fungsi politik dan militer sebenarnya mustahil.
Pemerintah sipil dan permasalahan sipil biasanya ditangani melalui organisasi
komando militer. Setelah perang berakhir, fungsi keamanan militer di dalam
daerah-daerah pendudukan menjadi kurang penting: masalah-masalah yang muncul
kemudian adalah masalah perekonomian, sosial, politik dan konstitusional.
Secara teori, kendali militer pada masalah ini seharusnya telah membuka jalan
bagi pengarahan sipil, dan di dalam zona jerman di Francis, inggris dan Rusia,
kendali sipil telah menggantikan pengawasan militer. Dengan kepopuleran
nasional dan dukungan politik Jendral McArthur, mustahil untuk menurunkannya ke
status militer di bawah seorang gubernur sipil. Di Jerman, keraguan Departemen
Luar Negeri untuk menjalankan tanggung jawab untuk tata tertib kedudukan
memperpanjang pengawasan militer hingga tahun 1949. Di Timur jauh dan Jerman,
staf besar, yang secara murni menyerahkan diri pada permasalahan politik dan
permasalahan militer berkembang untuk menolong gubernur militer dalam
menghilangkan tanggung jawab politik yang dimilikinya. Dalam satu bentuk atau
lainnya, staf-staf ini, yang sebagian besar terdiri dari warga sipil,
digolongkan di bawah atau disertakan pada organisasi komando militer. Komando
militer internasional merupakan suatu reaksi terhadap ancaman keamanan militer
yang berasal dari perang dingin. Sebagai akibatnya, tipe mereka adalah suatu
perwujudan yang sifatnya lebih permanen dari kantor kerja sama.
PENYATUAN
KEMBALI MILITER-BISNIS. Beberapa perkembangan dramatis melambangkan lebih jelas
status baru pihak militer di dalam dekade pascaperang dibandingkan dengan
hubungan dekat yang mereka kembangkan dengan para kaum elit bisnis masyarakat
amerika. Sebelum perang dunia II, para perwira profesional dan pelaku bisnis
Amerika kurang memanfaatkan kebutuhan militer kebutuhan militer, kurang
menghargai pandangan militer, dan kurang menghormati kaum militer. Sikap pihak
militer pun seperti itu terhadap lingkungan bisnis setelah perang dunia II,
sebuah perubahan yang tajam terjadi dalam hubungan ini. Para perwira
profesional dan pelaku bisnis saling memberikan rasa hormat satu sama lain.
Para pensiunan laksamana dalm jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya
bergerak memasuki staf eksekutif berbagai perusahaan Amerika;
organisasi-organisasi baru muncul untuk menjembatani jurang antara manajemen
perusahaan dan kepemimpinan militer. Bagi para perwira militer, bisnis mewakili
karakter jalan hidup Amerika. Hubungan dengan bisnis secara positif membuktikan
dan memastikan bahwa mereka telah menjadi anggota terhormat dari komunitas
masyarakat Amerika. Secara keuangan dan kejiwaan, para militer yang pindah dari
korps keperwiraan ke perusahaan memperoleh keamanan, penerimaan, dan kesejahteraan.
Firma-firma bisnis, sebaliknya memanfaatkan gengsi para komandan yang terkenal,
keahlian khusus dan keahlian perwira yang berada di bidang teknik non militer,
kemampuan administrasi dan pengorganisasian umum, dan bantuan mereka terhadap
atau dalam melakukan bisnis dengan depertemen pertahanan. Ikatan kedua kelompok
ini dalam dekade pasca perang dunia sebenarnya banyak dan kuat. Secara aktual,
mereka bersandar pada dua dasar yang berbeda: satu luas lingkupnya, tetapi
durasinya hanya sementara sedangkan lainnya lebih terbatas lingkupnya, tetapi
lebih permanen.
MACS DAN IKES : KEMBALINYA SAMURAI.
Didalam sebuah artikel yang menarik, T, Harry Williams menyatakan bahwa Amerika
Serikat memiliki dua tradisi militer. Satu diwakili oleh tentara yang
bersahabat, ramah dan luwes yang mencerminkan pemikiran peradaban yang
demokratis dan industri yang bekerjasama dengan mudah dengan para pemimpin
sipilnya. Tradisi ini disebut “ike”, lawan dari tradisi “ike” adalah tradisi
“mac” yang terwujud dalam diri Winfield Scott, George B. McClellan, dan Douglas
MacArthur – para perwira yang cerdas, angkuh, dingin dan dramatis, yang
memperoleh nilai-nilai dan sikap dari warisan kuno dan bersifat aristokrat dan
sulit untuk menjadi bawahan otoritas sipil.
Perbedaan
mendasar bukanlah antara tradisi Ike dan Mac, tetapi “Ike Macs” dan “Uncle
Billies” atau “Black jacks.” Perbedaan antara keduanya adalah perbedaan antara
dua jenis politisi: Pemimpin politik yang karismatik, inspirasional, dan teguh
yang memimpin karena dia adalah pemimpin bagi para pengikutnya. Pada umumnya
tradisi Ike lebih berhasil dibanding tradisi Mac dalam pengerjaan politik
mereka, yang hanya mengindikasikan bahwa
lingkungan Amerika pada umumnya lebih menyukai tipe Ike, lepas dari ia
adalah warga sipil atau militer.
Hal
yang terpenting, Williams tidak menyebutkan perwakilan dari tradisi Ike maupun
tradisi Mac antara pahlawan perang Sipil dan tokoh-tokoh pascaperang Dunia
II. Selama tahun-tahun itu, kedua unsur
politik tradisi Amerika dibawahi profesionalsme yang berlaku. Untuk
pertamakalinya dalam sejarah Amerika pada dekade pascaperang, para perwira
profesional tidak hanya menjadi tokoh publik yang populer, tetapi juga terlibat
dalam politik pencalonan dan pemilihan domestik, gerakan politik dan partai
politik.
Konflik
antara mac dan ike didalam dekade pascaperang adalah nyata, tetapi hal tersebut
merupakan konflik kepribadian bukan tradisi. Akarnya terletak didalam kejadian
Perang Dunia I yang membingungkan dan didalam ketegangan dan perselisihan yang
sifatnya batiniah, tersembunyi dari pandangan. Selama dan setelah Perang Dunia
I, suatu pertentangan, yang diwarnai dengan serangkaian kejadian dan
kesalahpahaman, berkembang diantara mereka. Sebenarnya semua partisipasi yang
penting dari para perwira militer secara pribadi di dalam kontrovesi partisan
merupakan suatu pertentangan antara kedua kepribadian tersebut. Di satu pihak
terdapat Marshall-Eisenhower Eropa, SHAEF-Shape, kelompok pentagon; dilain
pihak berdiri MacArthur, Asia, SCAP,
Kelompok “bataan”. Para perwira yang sudah pensiun memainkan peran aktif,
mewakili satu ayau jendral lainnya; MacArthur menugaskan Wademeyer dan Bonner
Fellers, Eisenhower menugaskan Clay dan Bedell Smith. Para perwira lainnya
menyusun sebuah peran netral atau membuat satu pilihan yang sulit antara
keduanya. Dampak dari kontroversi ini berlanjut untuk beberapa saat setelah
terjadinya perang, tetapi dalam berlalunya Perang Dunia Ii, generasi para
pemimpin militer dan korps jendral yang baru bergeser dari segala permusuhan,
takdiragukan lagi akan menghapus partisipasi politik militer.
Keterlibatan
Eisenhower dan MacArthur tidak hanya mempengaruhi korps dan perwira tetapi juga
diei mereka sendiri. Tidak ada satupun yang sanggup berpegang pada dasar-dasar
etika militer profesional. Secara kronologis keduanya muncul sebagai para
militer yang “tidak militer”, menyimpang dari standar propesional, tokoh-tokoh
yang heroik dan simbol dari berjuta-juta rakyat Amerika. Keterlibatab MacArthur
dan Eisenhower yang sama-sama menyimpang dari etika militer profsional.
Ideologi macArthur yang berkembang pada 1920-an dan 1930-an pada dasarnya
bersifat religius , mistik, dan
emosinil, bertentangan dengan pendekatan tentara profesional yang biasanya
praktis, realistis dan materialistis. Bertentangan dengan penekanan profesional
pada kekuatan militer, ia menekankan aspek moral dan rohani mengenai perang dan
pentingnya tentara rakyat.
Bertentangan
dengan MacArthur, Eisenhower tetap menjadi seorang letnan kolonel yang tidak
dikenal pada saat bangsa bergerak menuju keterlibatan didalam Perang dunia II.
Ketika memperoleh pangkat tinggi dan ketenaran, dengan mudah muncul sebagai
“pikiran sipil” yang sangat jelas. Ia sedikit berbicara dan lebih banyak
tersenyum daripada MacArthur, dan memunculkan perwujudan konsensus dan bukannya
kontroversi. MacArthur adalah mercusuar,Eisenhower adalah cermin. Pada saat
MacArthur berusaha untuk membangun berbagai macam jembatan menuju kesadaran
Amerika, Eisenhower menunggu dan membiarkan jembatan-jembatan itu dibangun
dibawahnya. Dengan beberapa tuntutan terhadap filsafat dan inovasi kreatif,
Eisenhower memiliki sedikit kebutuhan untuk membuat dirinya terikat pada
permasalahan umum atau mengidentifikasi dirinya dengan segala hal kecuali
nila-nilai Amerika yang paling dijunjung tinggi. Ideologi Eisenhower mudah
dilupakan karena sifatnya yang tidak asing dan dapat diterima. Sebagai gantinya
adalah suatu pemahaman yang hangat, simpatik, namun tidak mengikat.
Sejak
awal sikap MacArthur terhadap perang mewujudkan pemikiran dominan tradisi
liberal Amerika. Selama tahun 1920-an dan 1930-an ia membenarkan perang atas
dasar moral dan agama, dan melindungi seni kepahlawanan dengan sebuah
romantisme yang sentimentil. MacArthur tidak seperti Dennis Hart Mahan, namun
serupa dengan lawan Mahan yaitu Jackson. Ia menyukai semangat perang untuk
semangat militer. Beberapa peneliti mendeteksi adanya ironi bertahun-tahun
kemudian di tahun 1951 dan tahun 1952, ketika MacArthur mengumumkan bahayanya
”pikiran militer”. Tetapi para jendral tetap berpendirian teguh. Ada jurang
yang begitu luas antara pemikirannya dengan para perwira profesional. Setelah
Perang Dunia II ia mengadopsi pemikiran paham cinta damai yang telah dicelanya
pada tahun 1920-an dan 1930-an, sambil menekankan pernyataan Kellogh-Briand bahwa
perang harus “dihapuskan dari dalam dunia.” Sangat jarang seorang militer yang
terlatih secara prefesional benar-benar terpisah dari doktrin militer yang
mengatakan bahwa perang benar-benar tidak terelakkan dan berada di luar
kekuasaan manusia untuk mencegahnya.
Sementara
MacArthur muncul sebagai penasihat bangsa yang terpandai mengenai penghapusan
perang, Eisenhower menjadi alatnya yang paling efektif didalam pengurangan
kekuatan militer Amerika. Dalam hal ini lagi Eisenhower menunjukkan responnya terhadap
kekuatan dirinya, mengerjakan tugas ganda untuk partai republik. Sebagai
seorang pahllawan militer yang terkenal, ia membantu partai minoritas untuk
mengawasi pemerintah nasional untuk pertamakalinya dalam dua dekade.

No comments:
Post a Comment