Peran Politik dari
Gabungan Pimpinan
PERAN
POLITIK : SUBSTANSIF DAN PENASIHAT
Keterlibatan
politik dari sebuah institusi kepimimpinan militer seperti Gabungan Pimpinan
memiliki dua bentuk yang berbeda. Para pemimpin militer mungkin menganut atau
merekomendasikan kebijakan-kebijakan yang berasal dari sumber-sumber nonmiliter
dan yang tidak ada hubungannya atau bertentangan dengan pandangan militer
profesional. Dalam hal ini para pemimpin militer menerima sebuah peran politik
yang substansif. Secara bergantian, para
pemimpin militer memainkan bagian yang aktif dalam pembelaan publik atau
memperlengkap kebijakan (tidak menyangkut isi pokoknya) di hadapan Kongres dan
publik. Keterlibatan politik dalam hal ini tidak berasal dari pandangan yang
sebenarnya mengenai para pemimpin militer tetapi dari tempat, sikap, waktu, dan
pengaruh dari ungkapan mereka mengenai pandangan-pandangan itu. Hal ini
merupakan sebuah peran penasihat politik.
Selama
pemerintahan Truman, pandangan Gabungan Pimpinan mengenai kebijakan sejalan
dengan luasnya etika militer profesional. Para pimpinan Truman jelas-jelas
terlibat dalam peran penasihat politik sebagai pembela kebijakan di hadapan
Kongres dan Publik. Dalam dua tahun pertama pemerintahan Eisenhower, di sisi
lain, kebalikannya juga benar. Sekalipun menerima sebuah peran politik
substantif, para pimpinan Eisenhower sangat pendiam dibandingkan dengan para
pendahulu mereka pada saat pendapat mereka diekspos di muka umum. Dalam jangka
panjang, tentu saja, lingkungan nasional yang sifatnya menentukan, tetapi dalam
jangka pendek kedua lingkungan tersebut mungkin berbeda. Perbedaan antara
Kepala Staf Truman dan Eisenhower berasal dari perbedaan antara pengaturan
lingkungan pemerintahan Truman dan Eisenhower.
GABUNGAN
PIMPINAN DI DALAM PEMERINTAHAN TRUMAN
DUALITAS.
Dua alasan sikap perilaku Gabungan Pimpinan Truman dapat ditemukan di dalam
salah satu sifat yang paling menonjol dari pemerintahan Truman : pemisahan
kepribadiannya antara masalah luar negeri dan pertahanan, di satu pihak, dan
permasalahan dalam negeri, dilain pihak. Dalam permasalahan dalam negeri,
pemerintahan berusaha untuk mengejar suatu kebijakan reformasi liberal yang
dirumuskan dan dilaksanakan oleh suatu susunan pejabat. Dalam permasalahan luar
negeri, pemerintahan mengikuti suatu kebijakan konservatif yang dirumuskan dan
dilaksanakan oleh suatu susunan pejabat yang berbeda.
Dualitas
ini mungkin paling tercermin dengan baik di dalam diri personil yang
diperkerjakan oleh pemerintahan untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan di
dalam dua bidang pada sisi dalam negeri, Truman bersandar pada tipe yang sama
dari para pejabat yang hadir selama New Deal diadakan. Situasinya berbeda dari
sisi kebijakan luar negeri pada masa pemerintahan Truman. Para pimpinan
kebijakan luar negeri dan asisten mereka berbeda dengan para pimpinan kebijakan
dalam negeri, yang hampir benar-benar terpisah dari politik partisan.
PERTAHANAN
KONSERVATISME. Pentingnya dikotomi yang tajam di dalam personil antara sisi
luar negeri dan dalam negeri pemerintahan Truman terletak pada perbedaan tajam
di dalam kebijakan yang dicerminkannya. Tujuannya adaah pembentukan
“keadaan kuat”, persekutuan angkatan
persenjata, dan penguatan pemerintahan non-komunis.
Sumber-sumber
dari kebijakan luar negeri yang konservatif empat kali lebih banyak. Hal yang
terutama adalah presiden. Liberal di dalam negeri, Harry Truman dianggap
konservatif dalam hal luar negeri. Sumber kedua dari kebijakan konservatisme
luar negeri pemerintahan Truman berada di puncak kepimiminan sipil pemerintah.
Latar belakang para bankir dan pengacara memberikan mereka sebuah cara pandang
terhadap berbagai permasalahan sedikit berbeda dari yang biasa dikemukakan oleh
kelompok industrialis Amerika. Kelompok industrialis biasanya adalah tipe orang
pejuang, seorang ‘operator’. Yang bertujuan untuk membangun barang dengan
biasaya yang sekecil-kecilnya dalam jangka waktu yang paling singkat.
Sumber
terakhir dari konservatisme kebijakan asing pemerintahan Truman adalah pihak
militer sendiri. Dengan memerhatikan tekanan dan keuangan militer, para
Pimpinan Truman secara konsisten memberikan kepeluan pihak militer secara adil.
Sebagai akibatnya, pemikiran strategis mereka seringkali terpisah dari
realitias politik dan ekonomi. Biasanya tuntutan keuangan mereka mengalami
pemotongan dana yang besar. Mengenai penerapan kekuatan militer, Gabungan
Pimpinan Truman sepertinya sama-sama mengikuti perintah yang hati-hati dan
konservatif.
IMPLEMENTASI.
Kemampuan pemerintahan Truman untuk melaksanakan kebijakan luar negerinya yang
konservatif tergantung pada besarnya sikap tidak peduli akan permasalahan luar
negeri, di mana keputusan kebijakan luar negeri dapat digeser dari pengawasan
publik, dan batasan di mana masyarakat tidak dapat mengalahkan cara pandang
pemerintahan.
Faktor
kunci pada pemerintahan adalah perbedaan yang relatif kecil para pendukung
kebijakan luar negerinya. Jalan buntu dalam bidang politik yang ada di antara
berbagai kepentingan koalisi memastikan bahwa tidak akan ada kelompok dominan
yang memaksakan agar pendangannya berlaku baik di dalam kebijakan dalam negeri
maupun luar negeri.
Pemerintah berusaha untuk mengisolasi
kebijakan luar negeri sejauh mungkin dari pengawasan Kongres dan publik.
Ironisnya, tradisi kepemimpinan eksekutif dan pembuatan keputusan yang
dikembangkan Roosevelt untuk mengimplementasikan sebuah kebijakan dalam negeri
yang dijalankan dan suatu kebijakan luar negeri perang yang liberal
dilaksanakan pemerintahan Truman untuk melaksanakan suatu kebijakan luar negeri
yang tidak berjalan dan konservatif.
Pemerintahan Truman menyatakan hak
istimewa kepresidenan tidak seperti “mimbar masyarakat” Jackson, tetapi
sebenernya lebih menyerupai perwakilan Bangsa Burke. Untuk hal hal yang
sifatnya non-legislatif adalah untuk keputusan yang dibaut pertama kali dan
kemudian diumumkan dihadapan publik dan diperdebatkan, diratifikasi, atau
dimodifikasi di dalam kongres.
Terkadang pada pemerintahan Truman terjadi
jurang pemisah yang serius antara kebijakan politik yang dikehendaki dengan
kepentingan eksternal dan kebijakan yang secara politik mungkin untuk
dijalankan. Seperti halnya digambarkan oleh sejarah dari “NSC 68”: rancangan
untuk pembentukan persiapan kekuatan persenjataan Amerika pada musim dingin
tahun 1949-1950 sebagai suatu reaksi terhadap peledakan bom atom Soviet. Kesimpulan
dari NSC 68 pada umumnya didukung secara aktif oleh Departemen Luar Negeri dan
oleh eselon militer Departemen Pertahanan. Dan pada musim semi tahun 1950
sebagai akibatnya pemerintahan memiliki dua kebijakan pertahanan: pertahanan
publik terwujud di dalam anggaran pertahanan sebesar tiga belas juta dolar yang
direkomendasikan untuk tahun fiskal berikutnya dan pertahanan swasta terwujud
di dlaam NSC 68.
Pembulikasian pencegahan perluasan
kekuasaan penduduk Amerika pada kenyataannya jauh dari sumber daya politik pada
pemerintahan Truman. Presiden sendiri tidak memerintah dengan berwibawa dan
menghargai betapa penting kedudukannya. Ketika para kaum Republik atau kaum
konservatif Demokrat yang biasanya dinilai sebagai Pemerintahan Demokrat yang
liberal, pimpinan masyarakat untuk urusan luar negeri secara politik menjadi
steril. Anggota New Deal dan anggota partai Repubikan keduannya mencurigai
Lovett ataupun Hoffman.
Sebagai akibatnya pemerintah dipaksa untuk
beralih pada para militer profesional untuk menjelaskan dan menjustifikasi
kebijakan kebijakan di hadapan Kongres dan publik. Dalam banyak hal, hal ini
dilakukan dengan menunjuk orang orang seperti Marshall untuk posisi sipil.
Kepercayaan ditempatkan pada Gabungan Pimpinan. Gabungan pimpinan masih tetap
memegang gengsi yang begitu besar dari Perang Dunia II. Mereka menuntut
perhatian khusus sebagai suatu badan profesional, tidak berkepentingan, dan
sikap para anggotanya yang benar benar menjauh dari permasalahan umum sebelum
tahun 1940 menjadikannya mustahil untuk bekerjasama dengan radikalisme atau
bentuk politik kotor lainnya.
Pada sisi permasalahan luar negeri
pemerintahan, ketegangan antara militer profesional dan negarawan sipil yang
telah menandai hubungan militer-sipil Amerika selama tujuh puluh lima tahun
berubah menjadi kesatuan pandangan yang sama nyatanya seperti yang ada di dalam
Perang Dunia II, tetapi jauh berbeda pada substansinya.
Untuk sementara Gabungan Pimpinan berhasil
dalam peran mereka memberikan saran, memanfaatkan gabungan prestise pahlawan
militer dan ahli bidang teknik. Kongres mendengarkan Bradley dan pada saat yang
bersamaan melalaikan Acheson. Tapi pada akhirnya, nilai kemiliteran semakin
senyap. Gabungan pimpinan tidak terelakan lagi harus membuka diri bagi
penilaian anggota partai dengan cara membela dengan gigih penilaian anggota
partai dengan cara membela denga gigih kebijakan di hadapan masyarakat umum
atas nama pemerintahan yang telah mengadopsinya sebagai suatu arah politik.
Pelaksanaan kebijakan luar negeri konservatif
selama enam tahun atas nama bangsa yang pada dasarnya bersifat liberal,
merupakan keberhasilan politik yang cukup besar bagi pemerintahan Truman.
Tetapi tidak terelakkan hal tersebut tidak berlangsung lama. Sama halnya dengan
mustahilnya militer untuk tetap bersikap konservatif di dalam Perang Dunia II,
mustahil pula bagi kantor kantor kebijakan luar negeri gabungan militer-sipil
untuk dapat mempertahankan suatu kebijakan konservatif di dalam Perang Dingin.
Permasalahan tersebut muncul sebelum terjadi Perang Korea dan barangkali
merupakan elemen kunci kekalahan partai Demokrat pada tahun 1952.
PERANG KOREA: PARA JENDERAL PASUKAN DAN
PUBLIK.
Perang Korea menghancurkan pola hubungan
militer-sipil Truman. Hal tersebut membangkitkan ketertarikan masyarakat umum
dan rasa marah atas kebijakan luar negeri, hal tersebut menstimulasi
perlawanan, keberpihakan dan hal hal lainnya. Di dalam kongres hal tersebut
melemahkan pengaruh politik Gabungan Pimpinan.
Perang bersifat luar biasa dalam segala
hal, tetapi tidak demikian hanya dengan hubungan yang unik dalam pemerintahan
yang melakukan perang, para jenderal yang memberikan pengarahan di medan
perang, para pasukan yang bertempur digaris depan, dan orang orang yang
mendukungnya di rumah. Keputusan mendasar pemerintahan Truman adalah melakukan
perang demi tujuan politik yang terbatas untuk mempertahankan kemerdekaan Korea
Selatan.
Pemerintahan mencapai sebuah keberhasilan
dalam hal pasukan. Pada awal terjadinya perang, Angkatan Perang Amerika Serikat
sangatlah lemah. Unit unit mengalami kesulitan ketika mendadak ditarik keluar
dari kehidupan yang menyenangkan di daerah penjajahan Jepang dan dilempar ke
dalam suatu pertempuran melawan begitu banyak musuh. Tujuan politik pemerintah
adalah untuk tidak memberikan izin baik untuk mendorong atau memperlengkap
kemenangan militer ataupun menarik pasukan dari peninsula. Sebagai akibatnya,
yang menjadi masalah adalah pertahanan moral pasukan di dalam sebuah konflik
yang tampaknya tidak menentu da meragukan di ujung bumi ini.
Hal yang sama pentingnya dalam mengamankan
penerimaan perang oleh para pasukan adalah strategi pertukaran posisi yang
membentuk kejiwaan para pasukan garis depan. Tidak seperti penyediaan
keuntungan materi, hal ini mewakili suatu perubahan yang besar dari masa lalu
Amerika. Di korea, perputaraan menghancurkan tujuan pribadi para pasukan dari
tujuan politik pemerintah. Tujuan dari tujuan adalah sekedar mempertahankan
masa sembilan bulan yang dimilikimya untuk berada di garis depan dan kemudian
keluar dari sana.
Satu satunya tujuan perang yang tepat
adalah kemenangan militer, dan mereka tidak dapat memahami mengapa hal ini
seharusnya disangkal mereka. Jika Angkatan Darat diperintahkan untuk mundur
dari pertempuran Perang Korea pada tahun 1939, maka tidak terdapat suatu
keraguan selain hal tersebut, dari Kepala Staf sampai bawah dengan taat akan
berperang dalam kondisi hal itu adalah perintah.
Suatu keadaan dimana para jenderal
bertindak sebagai sebuah kelompok komandan di medan perang yang tidak
bersimpati akan kebijakan pemerintah mungkin memiliki petunjuk dari kejadian
masa lalu di dalam sejarah Amerika. Hubungan paralel terdekat yang ada dengan
ketidakpuasaan masal dari para komandan di medan perang Korea adalah
ketidakpuasaan para ilmuwan atom dengan kebijakan pemerintah terhadap
konstruksi senjata nuklir dengan termonuklir.
Dalam analisis terakhir, kehidupan yang
berlanjut dari kebijakan pemerintahan Truman tergantung pada penerimaannya oleh
masyarakat umum. Tetapi mesti masyarakat mungkin mengambilnya untuk sementara
waktu, masyarakat tidak ingin mengambilnya dengan perasaan yakin. Masyarakat
Amerika masih berpegang pada sikap sikap yang diungkapkan secara intelektual
oleh Harold Lasswell dalam tulisannya mengenai Garrison State. Tanggapan
tradisional menolak untuk hilang begitu saja. Jika para pasukan memihak
pemerintahan, maka masyarakat memihak para jenderal.
GABUNGAN PIMPINAN PADA DUA TAHUN PERTAMA
PEMERINTAHAN EISENHOWER
PERSATUAN. Salah satu perubahan yang
paling mendasar yang dilakukan oleh pemerintahan Eisenhower dalam pola
pemerintahan para pendahulunya adalah menyatukan kembali kebijakan luar negeri
dan dalam negeri sesuai dengan pandangan yang umum.
Tidak seperti pemerintahan Truman, tipe
orang yang sama menjalankan kedua kantor dalam negeri tersebut dan unit
pertahanan luar negeri pemerintah. Proposi para pelaku bisnis di dalam
Departemen Pertahanan sama tingginya dengan proporsi di dalam Departemen
Perdagangan. Pertahanan adalah para pelaku bisnis dan kaum eksekutif
perusahaan. Jurang pemisah yang tajam
dalam hal latar belakang dan karakter pandangan pemerintahan Truman telah
lenyap.
Persatuan pemerintahan Eisenhower
mencerminkan perkembangan yang pesat dalam politik dan pendapat publik. Secara
tradisional, liberalisme Amerika dipisahkan antara cabang Whig, yang
mencerminkan kepentingan bisnis dan kelompok masyarakat yang lebih baik secara
ekonomi, dan cabang demokrasi dari reformasi liberalisme yang akarnya ada pada
para petani, bisnis kecil, dan kaum buruh.
LIBERALISME PERTANAHAN. Sikap alami tradisional
dari liberalisme Amerika terwujud dalam kebijakan pertahanan pemerintahan
Eisenhower melalui berbagai cara. Kebijakan pemerintahan dituntun oleh “sikap
terbuka, kesederhanaan, dan kebenaran”.
Permusuhan tradisional liberal terhadap
institusi militer dan kekuatan militer mewujudkan dirinya di dalam usaha yang
besar sebagai suatu cara menuju keamanan nasional.
Pemerintahan Eisenhower mengharapkan
Gabungan Pimpinan Staf memiliki pandangan yang sama dalam filsafat liberal ini.
Hal ini berarti bahwa kualifikasi anggota JCS diinginkan oleh pemerintahan
Eisenhower sangat berbeda dari pemerintahan yang lama. Pemerintahan Truman
memerlukan para pimpinan militer yang mempunyai prestise politikm untuk memikul
kebijakan pemerintahan. Sednagkan Pemerintahan Eisenhower menginginkan
kesepakatan dan bukannya nasihat dari para pimpinan militer.
Diluar seluruh ragam usaha yang dilakukan
oleh pemerintah untuk memastikan suatu cara pandang yang harmonis, pimpinan
Gabungan baru membutuhkan waktu sejenak untuk menyesuaikan pemikiran mereka
terhadap filsafat baru.
IMPLEMENTASI. Kekuatan politik
pemerintahan Eisenhower, popularitas dari pimpinan militernya, dan popularitas
kebijakannya menjadikannya tidak penting bagi Gabungan Pimpinan untuk
dilibatkan di dalam pembelaan publik mengenai kebijakan atas segala sesuatu
seperti skala para pendahulu mereka.
Kegagalan pemerintahan militer untu
memanfaatkan pimpinan militer untuk berbagai tujuan advokasi mencerminkan
kurangnya kebutuhan akan dukungan politik dari sumber ini.

No comments:
Post a Comment