
MAKALAH
PEMBERONTAKAN APRA (ANGKATAN
PERANG RATU ADIL) DAN RMS (REPUBLIK MALUKU SELATAN)
Disusun
guna memenuhi tugas Sejarah
Dosen
pengampu :
Insan Fahmi Siregar
Hamdan Tri Atmaja
Oleh
: Kelompok 5
1. Fitria Susilowati 3101412085
2. Musonef 3101412086
3. Ima Fitriasya 3101412090
4. Ahmad Saefudin 31014120
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Perjuangan bangsa Indonesia
dalam mempertahankan Negara Kesaruan Republik Indonesia yang berlandaskan
pancasila dan UUD-45 dalam rangka melestarikan dan menagmankan cita-cita
Proklamasi 17 Agustus 1945 mengalami berbagai rintangan.
Pada masa Republik Indonesia
serikat tidak sedikit kesukaran yang dihadapi oleh pemerintah dan rakyat. Sebagai negara yang baru diakui
kedaulatannya Indonesia harus menghadapi rongrongan dari dalam yang dilakukan
oleh beberapa golongan yang mendapat dukungan dari pihak Belanda atau mereka
yang takut akan kehilangan hak-haknya jika Belanda
meninggalkan Indonesia.
RIS lahir dari hasil kompromi
antara RIS dan negara Federal ciptaan Belanda yang dicapai dalam komperensi inter Indonesia dan
dilanjutkan dalam KMB. Ini merupakan kompromi antara elit politik. Akan tetapi
rakyat dinegara-negara federal sejak akhir tahun 1949 mejadi negara bagian RIS
tetap menghendaki bentuk negara kesatuan
sejak awal tahun 1950 sudah muncul gerakan-gerakan yang menuntut
pembubaran negara bagian dan penggabunganya dengan RI pemberontakan yang dilancarkan oleh kelompok
kecil pendukung federalis seperti APRA, Andi Azis, RMS.
Banyak masyayarakat Indonesia yang kurang menyetujui hasil Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan
suatu bentuk negara Federal untuk Indonesia dengan nama RIS (Republik Indonesia
Serikat). Suatu bentuk negara ini merupakan suatu proses untuk kembali ke NKRI,
karena memang hampir semua masyarakat dan perangkat-perangkat pemerintahan di
Indonesai tidak setuju dengan bentuk negara federal. Tapi juga tidak sedikit
yang tetap menginginkan Indonesia dengan bentuk negara federal, hal ini
menimbulkan banyak pemberontakan-pemberontakan atau kekacauan-kekacauan yang
terjadi pada saat itu. Pemberontakan- pemberontakan ini dilakukan oleh
golongan- golongan tertentu yang mendapatkan dukungan dari Belanda karena
merasa takutjika Belanda meninggalkan Indonesia maka hak-haknya atas Indonesia
akan hilang.
B. RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan masalah yang
dapat diambil dari judul makalah mengenai Pemberontakan APRA dan RMS yaitu:
1.
Apa
yang menyebabkan munculnya atau latar belang pemberontakan APRA dan siapa yang pelakunya?
2.
Bagaimana
aksi yang dilancarkan oleh pemberontakan APRA dan bagaimana reaksi pemerintah?
3.
Apa
yang menyebabkan munculnya atau latar belakang pemberontakan RMS dan siapa pelakunya?
4.
Bagaimana
aksi yang dilancarkan oleh pemberontak RMS dan bagaimana reaksi pemerintah?
C. TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai setelah perkuliahan
ini yaitu:
1.
Untuk
mengetahui penyebab atau latar belakang munculnya pemberontakan APRA dan pelaku
yang menggawangi pemberontakan APRA
2.
Untuk
mengetahui aksi yang dilakukan oleh pemberontak APRA dan reaksi pemerintah
dalam meredam pemberontak APRA
3.
Untuk
mengetahui penyebab atau latar belakang munculnya pemberontak RMS dan pelaku
yang menggawangi pemberontakan RMS
4.
Untuk
mengetahui aksi yang dilakukan oleh pemberontak RMS dan reaksi pemerintah dalam
meredam pemberontak RMS
BAB
II
PEMBAHASAN
A. LATAR
BELAKANG DAN PELAKU PEMBERONTAKAN APRA
APRA merupakan pemberontakan yang paling awal
terjadi setelah Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda. Hasil Konferensi
Meja Bundar yang menghasilkan suatu bentuk negara Federal untuk Indonesia
dengan nama RIS (Republik Indonesia Serikat). Suatu bentuk negara ini merupakan
suatu proses untuk kembali ke NKRI, karena memang hampir semua masyarakat dan
perangkat-perangkat pemerintahan di Indonesai tidak setuju dengan bentuk negara
federal. Tapi juga tidak sedikit yang tetap menginginkan Indonesia dengan
bentuk negara federal, hal ini menimbulkan banyak pemberontakan-pemberontakan
atau kekacauan-kekacauan yang terjadi pada saat itu. Pemberontakan-
pemberontakan ini dilakukan oleh golongan- golongan tertentu yang mendapatkan
dukungan dari Belanda karena merasa takut jika Belanda meninggalkan Indonesia maka hak-haknya atas Indonesia akan
hilang.
Tujuan dari pemberontakan
Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dan kaum kolonialis yang ada dibelakangnya
adalah mempertahankan bentuk federal di Indonesia dan memepertahankan adanya
tentara sendiri dinegara-negara bagian RIS (Republik Indonesia Serikat).[1]
Padahal pada konferensi antar Indonesia
di kota Jogjakarta bahwa APRIS (Angkatan
Perang Republik Indonesia Serikat) adalah angkatan Perang Nasional.
Gerakan yang dikenal dengan
dikenal dengan nama Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dibawah pimpinan
bekas Kapten Raymond Westerling. Gerakan ini di dalangi oleh kelompok
kolonialis Belanda yang ingin mengamankan kepentingan ekonominya.[2]
Sehingga Belanda tetap memiliki pengaruh diwilayah Indonesia. Kemudian salah
satu cara untuk memeperoleh dukungan
bagi gerakannya, Westerling memepermainkan kepercayaan rakyat tentang
akan datangnya ratu adil. Yang akan
memahami keadaan rakyat Indoenesia yang telah lama menderita karena penjajahan
baik dari penajajah Belanda maupun penjajahan Jepang yang sangat mendambakan
datangnya kemakmuran seperti yang telah diramalkan oleh Jayabaya.
Sebagian besar masyarakat Indonesia mempercayai akan
ramalan Jayabaya yang berisi tentang
akan datang seorang pemimpin yang disebut ratu adil yang akan memerintah rakyat
dengan adil dan bijaksana sehingga keadaan akan aman dan damai sehingga rakyat
akan makmur dan sejahtera.
B. AKSI-AKSI
PEMBERONTAKAN APRA DAN REAKSI PEMERINTAH
Dalam menjalanakan aksinya
APRA cenderung anarkis dimana pasukan
APRA yang terdiri dari lebih kurang 532 orang diantaranya kira-kira 300 anggota
KL bersenjata lengkap menyerang kota Bandung pada pagi hari tanggal 23 Januari
1950. Sehari sebelumnya sebetulnya
pimpinan divisi Siliwangi sudah menyisinyalir adanya suatu gerakan dari
sekelompok orang bersenjata diluar kota Bandung. Akan tetapi sebelum merekaa
sempat mengadakan persiapan untuk mengantisipasi gerakan itu Westerling telah
bertindak terlebih dahulu. Dalam gerakan ke Bandung pasukan APRA melucuti
pasukan dipos Cimindi, Cibeuruem dan Pabrik Mecaf. Didalam kota mereka membunuh
anggota TNI dan berhasil menduduki markas staf divisi Siliwangi setelah
membunuh membunuh semua regu jaga yang berjumlah 15 orang dan Letanan Kolonel
Lembong sedangkan jumlah gerombolan penyerbu lebih dari 150 orang hanya tiga
orang yang selamat karena dapat meloloskan diri dari pengeboman .
Gerakan APRA di Kota Bandung
ini menewaskan lebih dari 79 anggota APRIS dan banyak penduduk yang yang ikut
menjadi korban pemerintah RIS segera
mengirimkan bala bantuan ke Bandung, kepolisian RIS mengerahkan satuan Mobiele
Brigade Polisi dari Jawa Timur dibawah pimpinan Komisaris Polisi II Sucipto
Judodiharjo. Pasukan ini diangkut dengan pesawat terbang dari Jakarta sementara itu di Jakarta diadakan perundingan
antara Perdana Menteri Moh. Hatta dan
Komisaris tinggi Belanda. Sesuai dengan perundingan itu Komisaris tinggi
belanda memerintahkan Mayor Jendral Engeles Komandan tentara Belanda di Bandung
agar memaksa Westerling dan pasukannya meninggalkan Bandung. Sore itu juga APRA
meninggalkan Bandung kemudian menyebar keberbagi tempat.
Pasukan APRA yang bergerak ke
Jakarta dihancurkan APRIS di daerah Cianjur. Setelah gerombolan APRA meninggalakan Bandung APRIS kemudian
mengadakan razia secara intensif. Tokoh
yang diduga terlibat ditangkap dimana mereka yaitu Anwar TJokroaminoto (Perdana
Menteri Pasundan) Komisaris besar Jusuf, Komisari besar Djanakum, Surja karta legawa dan Male Wiranata Kusuma.[3]
Selain di Bandung APRA juga merencanakan gerakan di Jakarta
disini Westerling mengadakan kerja sama dengan Sultan Hamid II, menteri negara
tanpa portopolio didalam cabinet RIS. Menurut rencana geromboln APRA akan
menyerang gedung tempat cabinet di sidang. Mereka akan menculik semua menteri
dan membunuh menteri pertahanan yaitu Sultan Hamengkubuono IX, sekertris jenderal
kementrian pertahanan Mr. Ali Budiarjo dan pejabat staf angkatan perang colonel
T.B. Simatupang. Sebagai kemuplase Sultan Hamid akan di tembak dikakinya dimana
rencana ini akan dilaksnakan pada 24 Januari tetapi tercium oleh aparat intelejent . Sultan
Hamid ditangkap sedangkan Westerling 22
Februari 1950 meninggalkan Indonesia menuju Malaya dengan pesawat terbang
Belanda. Dengan perginya Westerling para pengikutnya menjadi bubar.
C. LATAR
BELAKANG DAN PELAKU PEMBERONTAKAN RMS
Pendiri
dari gerakan RMS adalah Mr.Dr. Christian Robert Steven Soumokil yaitu mantan
Jaksa Agung NIT. Kedudukannya sebagai Jaksa Agung NIT memudahkan Soumokul untuk
nepergian kebeberapa tempat di Indonesia Timur dengan menggunakan pesawat
militer. Sebelum menuju Ambon, pada tanggal 13 April ia berkunjung ke Manado.[4]
Di
Ambon gejala-gejala pemisahan dengan NIT sudah tampak. Pada tanggal 4 April Ir.
Manusama mengundang rapat para rajapati (penguasa desa) dari pulai Ambon bertempat
di kantornya. Kepada rajapati dikemukakan bahwa penggabungan Maluku Selatan
dengan wilayah Indonesia lainnya mengundang bahaya. Untuk memperingatkan
seluruh rakyat Ambon mengenai bahaya ini, para rajapati menyetujui jika
Manusama mengadakan rapat umum di kota Ambon. Rapat umum diselenggarakan pada
tanggal 18 April 1950.
Perkembangan
selanjutnya setelah rapat umum setidak-tidaknya dipengaruhi oleh Soumokil.
Perannya yang aktif dalam proses pembentukannya RMS tampak ketika ia mengadakan
rapat secara rahasia di Tulehu tanpa mengikutsertakan para pamong praja. Dalam
rapat yang dihadiri oleh para pemuka KNIL dan Ir. Manusama itu, Soumokil
menganjurkan agar KNIL bertindak. Seluruh anggota Dewan Maluku Selatan
disarankan untuk dibunuh, kemudian daerah itu dinyatakan sebagai Negara
merdeka. Sebagian peserta rapat menolak gagasan untuk melakukan pembunuhan.
Untuk melaksanakan proklamasi disarankan agar Pemerintah daerah sendirilah yang
melaksanakannya. Pada rapat kedua sore itu Kepala Daerah Maluku Selatan, J.
Manuhutu dipaksa hadir dibawah ancaman pasukan KNIL.
Praktik-praktik
mengintimidasi masa dengan terror telah mulai tampak dilaksanakan sejak bulan
Februari 1950 dengan menggunakan tenaga polisi. Pihak-pihak yang pro Republik
mengalami tekanan-tekanan. Serangkaian pembunuhan terjadi dibeberapa tempat.
Pelaksanaan gerakan ini selain mendapat bantuan polisi didukung pula oleh
pasukan istimewa KNIL yang merupakan bagian dari Korps Speciale Treopen yang
dibentuk oleh Kapten Raymond Westerling di Batujajar (dekat Bandung). Mereka
ikut mengambil bagian dalam pemberontakan Westerling di Bandung pada awal tahun
1950. Semula mereka hanya berjumlah 60 orang di Ambon, tetapi kemudian pada
bulan April 1950 bertambah menjadi sekitar 200 orang. Mereka kemudian menjadi pengikut
Soumokil dan melakukan terror terhadap golongan Republikein. Ketua Persatuan
Pemuda Indonesia Maluku, Wim Reawaru, mereka tangkap dan mereka bunuh. Sampai
bulan April di Ambon terdapat 2000 orang anggota KNIL. Sebag9ian tiba disana
dalam rangka pengembalian ke masyarakat dan sebagian lagi ingin bergabung
dengan APRIS.[5]
Disamping
itu, terdapat pula kelompok yang sengaja dikirim ke sana lengkap dengan senjata
untuk tujuan-tujuan lain. Suatu ketika timbul huru-hara antara anggota-anggota
KNIL dan pemimpin mereka yang berkebangsaan Belanda. Guna mengatasi hal ini,
Kementrian Pertahanan RIS mengirim Letkol Tahiya, yang pada waktu itu menjadi
pejabat sebagai Perwira Staf KSAP. Tahiya dengan kepala daerah mencatat nama
para prajurit KNIL yang ingin masuk APRIS. Pekerjaan itu terhenti karena
terjadi kekacauan.
Pada
masa prolog sebelum dicanangkan proklamasi “RMS”, dilancarkan
propaganda-propoganda separatis oleh Gabungan Sembilan Serangkai yang
beranggotakan KNIL dan Partai Timur Besar. Menjelang Proklamasi tanggal 24
April 1950, Soumokil berhasil menghimpun kekuatan yang ada di lingkungan
Masyarakat Maluku Selatan. Selain KNIL dan polisi yang dapat dipengaruhi, juga
para rajapati melalui Manusama, serta Pemerintah daerah melalui Manuhutu dan
sebagian golongan cendekiawan. Orang-orang yang menyatakan dukungannya kepada
Republik dipenjarakan atau diancam.
D. AKSI-AKSI
PEMBERONTAKAN RMS DAN REAKSI PEMERINTAH DALAM MENUMPAS GERAKAN REPUBLIK MALUKU
SELATAN
Pemerintah
RIS berusaha mengatasi masalah ini secara damai dengan mengirim dr. Leimena.
Akan tetapi, misi damai ini ditolak oleh Soumokil, bahkan mereka meminta
bantuan, perhatian, dan pengakuan dari dunia luar, terutama dari Negara
Belanda, Amerika Serikat, dan Komisi PBB untuk Indonesia.
Masyarakat Ambon pun ikut membantu
mencoba mencari penyelesaiannya. Bekas anggota-angggota badan perjuangan
mengadakan pertemuan untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya kepada
masyarakat Ambon. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mencegah meluasnya provokasi
dari kelompok-kelompok yang mendukung RMS.
Masih dalam rangkaian usaha
membendung meluasnya pengaruh RMS, pada tanggal 12 sampai 13 Juni 1950
diselenggarakan Konferensi Maluku di Semarang. Dalam konferensi tersebut para
politikus asal Ambon yang umumnya terdiri dari tokoh-tokoh zaman pergerakan
nasional menganjurkan agar masyarakat
Maluku mengirim misi perdamaian ke Ambon. Mereka juga menyusun daftar usul
kepada Pemerintah agar diberikan otonomi kepada Maluku Selatan. Para pemuda
dari kelompok badan-badan perjuangan tidak menyetujui gagasan itu dan
menganjurkan agar Pemerintah melaksanakan operasi militer.[6]
Misi perdamaian dikirimkan terdiri
dari para politikus, pendeta, dokter, dan wartawan. Meskipun berhasil
diberangkatkan, mereka tidak dapat bertemu dengan pengikut Soumokil. Karena
usaha kompromi mengalami jalan buntu, akhirnya Pemerintah terpaksa menumpas
petualangan itu dengan kekuatan senjata. Ekspedisi militer untuk menumpas RMS
disebut Gerakan Operasi Militer (GOM) III. Selaku pemimpin ekspedisi ditunjuk
Kolonel Kawilarang, Panglima Tentara dan Territorium Indonesia Timur.
Pada tanggal 14 Juli pagi, pasukan
ekspedisi APRIS sebanyak 850 orang dibawah pemimpin Kolonel Kawilarang mendarat
di Namlea, Pulau Buru. Dengan susah payah, karena belum mengenal medannya,
APRIS berhasil merebut pos-pos penting di Pulau Buru. Komandan pasukan RMS
menyerah dan menghadap Kolonel Kawilarang. Setelah Pulau Buru dikuasai, pasukan
Apris bergerak menuju Seram. Pendaratan dilakukan se Seram Barat pada tanggal
19 Juli 1950, dan dengan mudah Seram Barat dapat dikuasai pada hari itu juga.
Dari sini gerakan pasukan APRIS dilanjutkan ke bagian lain Pulau Seram. Rupanya
RMS bermaksud memusatkan kekuatan dan kekuasaannya di pulau Seram dan Ambon.
Pertempuran kemudian terjadi di Piru. Pada tanggal 28 september 1950 pasukan
ekspedisi mendarat di Ambon, dan dengan demikian Pulau Ambon bagian utara
berhasil dikuasai. Serangan selanjutnya ditujukan ke Teluk Passo. Dalam
serangan itu pasukan dibagi atas tiga grup, yaitu Grup I dipimpin oleh Mayor
Achmad Wiranatakusumah, Grup II dipimpin oleh Letkol Kolonel Slamet Riyadi, dan
Grup III dipimpin oleh Mayor Surjo Subandrio. Grup III berhasil menguasai
lapangan terbang Laha, sedangkan Grup II ketika mendarat di Tulehu disambut
dengan gembira oleh rakyat. Serangan-serangan ini dilindungi oleh
tembakan-tembakan dari udara dan dari laut. Sementara Grup II menyerang
Waitatiri, pada tanggal 3 November 1950 Grup I didaratkan di Ambon dan berusaha
merebut benteng Nieuw Victoria. Pada hari itu juga kota Ambon dapat dikuasai
setelah terjadi pertempuran dramatis.pasukan RMS dengan menyamar sebagai
anggota APRIS serta membawa bendera Merah Putih berhasil menguasai benteng itu
kembali. Beberapa saat setelah peristiwa itu, datang Grup II dibawah pimpinan
Letnan Kolonel Slamet Riyadi. Dalam pertempuran jarak dekat di depan benteng
Nieuw Victoria, Letnan Kolonel Slamet Riyadi tertembak dan gugur.
Dengan jatuhnya Ambon, perlawanan
RMS praktis telah dipatahkan. Banyak tokohnya yang melarikan diri ke pedalaman
Pulau Seram dan selama beberapa tahun mengadakan serangkaian kekacauan.[7]
Gerakan Operasi Pengejaran Terhadap
Pemberontak
Untuk mengejar dan menumpas sisa
pemberontakan, terus diadakan pengejaran sampai tertangkapnya pemimpin RMS
yaitu Soumokil yang bertahan dan bergerilya di pulau Ceram.[8] Operasi-operasi pengejaran
terhadap sisa-sisa pemberontak itu antara lain :
1.
Operasi
Haruku
Berlangsung
pada tanggal 31 Desember 1950, dengan tujuan untuk menyerang dan menduduki
pulau Haruku. Operasi itu berhasil pada hari itu juga, sehingga pulau Haruku
dapat dikuasai dan sebagian musuh melarikan diri ke pulau Saparua dan pulau
Ceram.
2.
Operasi
Bulan Siang
Sebagai
dasar operasi Bulan Siang yaitu :
PO No. 076/I/IS.II/D/51,
tanggal 7 Maret 1951. Adapun hari H jatuh pada tanggal 14 Maret 1951. Operasi
tersebut bertujuan untuk merebut dan menduduki pulau Saparua. Dua hari kemudian
pulau tersebut dapat direbut. Perlawanan musuh dapat dikatakan tidak berarti
dan mereka banyak yang melarikan ke pulau Ceram.
3.
Operasi
Kole-kole I
Sebagai
dasar operasi Kole-kole yaitu PO No. 0271/0104/IV/S-II/D/51/K. adapun hari H
jatuh pada tanggal 1 Mei 1951. Gerakan operasi ini bertujuan untuk menduduki
Sukaraja/Uwin-Patahu (Pantai Utara pulau Ceram Barat) dan merebut serta
menguasai daerah segi tiga antara pegunungan Cicilia dan Naimakina.
Pendaratan
pasukan dapat berhasil dengan baik sehingga kubu musuh dapat dihancurkan.
Sebagian musuh dapat melarikan diri. Pihak APRIS tidak memberi kesempatan bagi
musuh untuk mengkonsilidasi kekuatan guna mengadakan perlawanan. Rakyat yang
melarikan diri kehutan dapat dikembalikan lagi ke negerinya masing-masing.
Gerakan operasi ini disebut Combat Team “A”.
4.
Operasi
Kole-kole II
Sebagai
dasar untuk melaksanakan operasi Kole-kole II adalah PO No.
0313/0104/V/S.II/D/51/K. tangggal 23 April 1951. Adapun hari H jatuh pada
tanggal 29 Mei 1951. Operasi tersebut bertujuan untuk penyempurnaan penutupan
daerah pulau Ceram bagian Barat. Gerakan operasi ini disebut Combat Team “B”.
setelah berhasil menduduki Taniwel dengan tidak mengalami perlawanan yang
berarti, pasukan terus bergerak untuk menguasai pantai dan daerah pedalaman
antara Tanjung Hanna dan Pegunungan Cicilia yang subur. Didaerah ini banyak
bahan makanan seperti sagu dan palawija. Gerakan ini mengutamakan pemisahan
antara rakyat dan pemberontak, karena sangat dipengaruhioleh pihak pemberontak.
5.
Operasi
Harimau
Untuk
pelaksanaan operasi ini berdasarkan pada PO. No. X019/S I/712/0104, tanggal 25
Juni 1951. Operasi ini jatuh pada tanggal 29 Juni 1951. Operasi tersebut
bertujuan untuk melakukan penutupan jalan hubungan antara daerah Sukaraja –
Ahiolo – Liang di pulau Ceram bagian Barat. Selain itu gerakan operasi ini
bermaksud juga untuk menduduki daerah perkebunan Waraka – Awaya – Elpaputih –
Wairanatan – Samasuru. Daerah tersebut merupakan gudang logistic makanan musuh,
sehingga operasi harus dapat memisahkan antara rakyat dengan pihak pemberontak.
Pihak pemberontak terus-menerus menghasut rakyat dengan cara mengancam karena
banyak rakyat yang kembali ke pangkuan RIS.
6.
Operasi
Garuda II
Operasi
ini dilaksanakan atas dasar PO. No. X085 148 8135/0104, tanggal 20 September
1951 dan hari H jatuh pada tanggal 25 September 1951, tujuan Operasi Garuda II
yaitu mengadakan pendaratan di Kairatu, penghancuran dan pengejaran ke daerah
pedalaman. Dalam operasi ini waktu melakukan pendaratan, APRIS mendapat
gangguan karena ranjau buatan yang dipasang oleh musuh. Musuh melarikan diri ke
pedalaman sambil membakar kampong dan asrama-asrama mereka.
7.
Operasi
Garuda III
Pelaksanaan
operasi ini berdasarkan pada PS No. X 1465 1824/S/0104 pada tanggal 8 Desember
1951. Hari H dalam operasi tersebut jatuh pada tanggal 1 Januari 1952. Tujuan
dari Gerakan operasi ini untuk menghancurkan musuh di Ceram Barat serta
melakukan pengejaran. Dalam gerakan ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu :
a. Pasukan
Garuda III (A), melakukan penyerbuan dari arah Honitepu ke Ahiolo dilaksanakan
oleh Yon 208.
b. Pasukan
Garuda III (B), melakukan penyerbuan dari arah Honitepu ke Hukuanakota – Huku
Kecil, dilakukan oleh Yon 709.
c. Pasukan
Garuda III (C), dilakukan oleh Yon 423, Yon 411, Yon 710, Yon 701, dan Yon 203
untuk melaksanakan patrol tempur guna menutup perbatasan Ceram Barat, Ceram
Tengah dan daerah-daerah sekitarnya.
Pada
tanggal 4 Januari 1952 telah menyerah Presiden RMS Y.H. Manuhutu serta beberapa
orang menterinya, 2000 orang rakyat dan beberapa anggota APRMS dengan
senjatanya Kepada Yon 208 di daerah Abio. Aktifitas musuh menjadi
kelompok-kelompok kecil antara 5 s/d 7 orang. Mereka mengadakan hambatan
sedangkan pimpinan mereka selalu berada pada pasukan yang kekuatannya dalam
jumlah besar.
8.
Pasukan
Garuda IV
Pelaksanaan
Pasukan Garuda IV didasarkan atas PS No. Xo 17508483/0104 tanggal 2 Januari
1952. Operasi ini bertujuan untuk menduduki Bessy dan Roho. Pendudukan daerah
tersebut disebabkan karena musuh terus mengusahakan dan menyelenggarakan pada
pihak luar melalui Bessy dan Roho. Oleh karena itu diusahakan penutupan
terhadap daerah Ceram Barat dan Ceram Timur. Pengejaran ke daerah pedalaman
terus dilakukan. Blokade pantai terus diperketat.
9.
Operasi
Masohi
Operasi
ini berjalan lama sekali dengan tugas utama ialah mengadakan penumpasan
terhadap sisa-sisa gerombolan RMS. Kegiatan yang dilakukan pada umumnya
melakukan operasi-operasi yang terdahulu. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu
:
a. Pada
tahun 1960 melakukan penumpasan-penumpasan sisa-sisa gerombolan RMS.
b. Pada
tahun 1961-1962 mengadakan penumpasan sisa-sisa RMS di Piru – Kairatu dan
Hanitepu.
c. Pada
tahun 1960-1965 mengadakan penumpasan sisa-sisa RMS di Pulau Ceram.
d. Pada
tahun 1962-1963 mengadakan penumpasan sisa-sisa RMS di Kairatu
e. Pada
tahun 1962 Yon If 508 mengadakan penumpasan sisa-sisa RMS di daerah Sukaraja –
Taniwel.
f.
Pada tanggal 15 Juli 1963 s/d 1964 (awal
tahun), Brigif XV/Tirtayasa yang dipimpin oleh Letkol Natakusumah melakukan
kegiatan operasinya
g. Pada
tanggal 22 September jam 05.30 tertangkap tokoh militer APRMS Kolonel APRMS
W.F. Sopacua (sebagai Komandan Sektor Pertahanan APRMS Ceram Timur) oleh Kompi
IV/320 (Lettu M. Nawawi sebagai Komandan Kompi IV) di kompleks Walili.
h. Pada
tanggal 2 Desember 1963 jam 05.00 tertangkap juga gembong utama dari pimpinan
RMS yaitu Mr. Dr. Soumokil oleh Peleton 2/2/320 (Pelda Rukhiyat cs) disebelah
utara Hasinepe, 14 jam perjalanan biasa dari pantai Sawai (Pulau Ceram). Dalam
penangkapan tersebut tanpa letusan senjata.
i.
Pada tanggal 6 Desember 1963 jam 17.00
Kepala Staf APRMS L. Supacua (Kolonel APRMS) telah tertangkap oleh pasukan yang
dipinpin oleh Mayor Banuarli.
Suatu
hal yang harus diperhatikan yaitu jarak waktu antara suatu operasi dengan
operasi yang berikutnya dalam rangka penumpasan-penumpasan sisa-sisa gerombolan
RMS itu sangat jauh. Hal itu mungkin dikarenakan kurangnya personil, karena
harus menunggu Yon – Yon yang datang dari T.T. lain, disamping mengembalikan
Yon – Yon yang telah bertugas ke T.T. induknya[9].
Sejak
tahun 1952 bantuan pengiriman Yon – Yon dari T.T. lain mulai dikurangi. Yang
pada waktu itu tiap-tiap Kwartal kurang lebih 10 Yon dikirim ke Maluku. Pada
umumnya Yon yang baru datang dikerahkan kedaerah operasi baru. Penggantian
pasukan yang dilakukan di Maluku pada waktu itu ialah dengan cara memindahkan
pasukan yang telah lama bertugas ditempat itu, kemudian ditempatkan ke tempat
yang kegiatan musuh mulai berkurang seraya menunggu giliran kembali ke induk
pasukannya.[10]
Setelah
Mr. Dr. Soumokil tertangkap, ia mengeluarkan statement yang ditujukan kepada
ara pengikutnya untuk menghentikan segala tindakan dan pekerjaan yang bersifat
anti Republik Indonesia. Dengan tertangkapnya Mr. Dr. Soumokil maka riwayat
hidup RMS telah selesai. Hal itu sesuai dengan statement yang dikeluarkan oleh
Soumokil yang menyatakan bahwa “sejak tanggal 2 Desember 1963 maka hapuslah
riwayat hipup dari pada RMS seperti sebuah fatamorgana, maka segala
hak-hak/kuasa-kuasa dari Dr. Nikijuluw dan Ir. J Manusama yang berdiam di
Nederland dibatalkan”.
Tetapi
kenyataannya tidaklah demikian, karena pengikut yang menamakan dirinya “Para
Patriot Gerilya RMS” tidak mengakui adanya statement yang dikeluarkan oleh
Soumokil. Mereka akan tetap melanjutkan perjuangannya.
Begitu
juga yang menamakan dirinya Perwakilan Pemerintah RMS di Neterland melakukan
kegiatan-kegiatan yang tetap menginginkan kemerdekaan RMS. Gembong-gembong RMS
yang dapat meloloskan dirinya dari Maluku dengan mengharap pertolongan Belanda
terus bergerak di negeri Belanda. Dr. Nikijuluw, Ir. J. Manusama dan P.W.
Lakollo merupakan tokoh-tokoh yang akan menegakkan perjuangan RMS di Nederland.
Ir. J. Manusama yang menamakan dirinya Kepala Misi Politik RMS dan merangkap sebagai menteri Pertahanan, ia
diangkat oleh Pemerintah Belanda dari Irian Barat ke negeri Belanda. Jadi
jelaslah bahwa Belanda memberi fasilitas, merupakan satu “tempat berteduh” bagi
anasir-anasir yang berlindung dibawah panji-panji RMS.
Beberapa
kali Pemerintah Indonesia mengadakan protes terhadap aktifitas Ir. J. Manusama
yang anti Pemerintah Indonesia, akan tetapi Pemerintah Belanda tetap tidak
melarang dengan adanya aktifitas gerakan tersebut. Hal itu menunjukkan kepada
kita bahwa Belanda telah memberikan dukungan moril atau setidak-tidaknya mereka
berdiri dibelakang aksi tersebut. Selama ini taktik RMS di negeri Belanda ialah
dengan mengadakan penyiaran berita sensasional untuk memancing perhatian dunia
tentang adanya persoalan dan gerakan RMS. Hal itu terbukti dengan adanya rencana
serangan terhadap kota Ambon, sehingga keadaan pada bulan Desember 1954 menjadi
sangat genting.
Setelah Irian Barat kembali ke
pangkuan Republik Indonesia makin sempit pula gerak dari RMS baik di dalam
maupun luar negeri. Dalam hal itu Belanda masih berusaha memperalat RMS untuk
mengembalikan kepentingan-kepentingannya di Indonesia. RMS hanya melakukan
kegiatan-kegiatannya di negeri Belanda saja, karena dianggap tempat yang baik
bagi mereka.
Peristiwa Wessenaar adalah
peristiwa penyerbuan terhadap Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda oleh
gerombolan RMS, merupakan suatu masalah yang harus dihadapi oleh Belanda.
Dengan adanya peristiwa tersebut yang terjadi pada tanggal 31 Agustus 1970,
tetapi dengan adanya peristiwa itu kemudian diundur 2 x 24 jam, sehingga baru
dilaksanakan pada tanggal 2 September 1970.[11]
Pada waktu dilakukan penyerbuan
terhadap kediaman duta besar di Wessenaar, den Haag Gerombolan RMS berhasil
menahan istri, anak Duta Besar RI, serta beberapa anggota Staf Kedutaan Besar
RI. Mereka disekap sebagai Sandera oleh gerombolan pemuda-pemuda RMS, dengan
harapan agar penyelesaian tuntutannya berhasil. Kurang lebih selama 12 jam, 40
orang pemuda keturunan Maluku di Nederland menduduki kediaman Duta Besar RI,
dengan bersenjatakan senapan mesin, revolver dan stengun. Akhirnya kira-kira
pada jam 17.30 waktu setempat gerombolan RMS itu menyerahkan diri kepada pihak
Polisi.
Rupa-rupanya penyerbuan itu ialah
untuk menarik perhatian umum terhadap apa yang mereka anggap sebagai penaklukan
dan exploitasi terhadap pulau-pulau milik mereka oleh Indonesia. Mereka juga
menuntut agar pemerintah Ambon yang
berjumlah 30000[12]
orang di Negeri Belanda pimpinannya diberi kesempatan bertemu dengan Presiden
RI. Hal itu mungkin untuk mendesak tuntutan “otonominya”. Pimpinan mereka yang
menganggap dirinya sebagai Presiden RMS – Ir. Manusama – telah menemui Perdana
Menteri Belanda Piet de Yong dengan suatu desakan supaya ia mengusulkan kepada
Presiden RI agar bersedia untuk bertemu dengan Ir. Manusama. Keputusan
Pemerintah Republik Indonesia tetap menyatakan menolak keinginan Ir. Manusama
itu. Presiden RI hanya bertemu dengan apa yang menamakan dirinya RMS.
Apabila diteliti lebih dalam lagi
terhadap tuntutan pemuda-pemuda RMS itu agar Ir. Manusama dapat diterima oleh
presiden RI, agak mengherankan apabila dilihat dari tindakan yang dilakukan
oleh mereka dalam mengajukan tuntutannya itu. Dengan cara kekerasan dan
pemerasan seperti yang mereka lakukan itu, pasti tidak mungkin bagi Presiden RI
memenuhi Ir. Manusama. Pemuda-pemuda RMS melakukan tindakan serupa itu sebagi
suatu langkah propaganda untuk menyatakan kepada dunia bahwa “Republik Maluku
Selatan” itu masih ada.[13]
Peristiwa
Wessenaar akan membuat Pemerintah Belanda dalam kedudukan yang amat pelik.
Penyelesaian RMS akan memberi nama baik dan prestise Pemerintah dan segenap
rakyat Belanda dalam pandangan Pemerintah serta rakyat Indonesia. Hal itu
mengingat hubungan antara Indonesia Belanda itu telah dipulihkan kembali.
Kejadian itu tidak akan menggangu hubungan baik antara rakyat Belanda dengan
Rakyat Indonesia, tetapi kiranya sudah tiba waktunya bagi Pemerintah Belanda
dan rakyat Belanda agar memberi ajaran sopan santun kepada gerombolan Ir.
Manusama yang tidak tau berterima kasih, mengenai hal yang telah diberikan
kepadanya. Sudah tiba waktunya bahwa pemerintah Belanda dan rakyat Belanda
bersikap secara tegas dank eras kepada gerombolan Ir. Manusama itu. Hal itu
sesuai dengan apa yang dikatakan dalam peribahasa Belanda yaitu :
“Wat gij niet wilt dat gij geschiedt
doet da took een ander niet”. (Apa yang anda tidak ingin diperlakukan orang
terhadap diri anda, jangan pulalah memperlakukan orang seperti itu) .
BAB
III
PENUTUP
SIMPULAN
Dalam masa pemerintahan RIS lahir dari hasil kompromi
antara RIS dan negara Federal ciptaan Belanda yang dicapai dalam komperensi inter Indonesia dan
dilanjutkan dalam KMB. Ini merupakan kompromi antara elit politik. Akan tetapi
rakyat dinegara-negara federal sejak akhir tahun 1949 mejadi negara bagian RIS
tetap menghendaki bentuk negara kesatuan
sejak awal tahun 1950 sudah muncul gerakan-gerakan yang menuntut
pembubaran negara bagian dan penggabunganya dengan Republik Indonesia
pemberontakan yang dilancarkan oelh kelompok kecil pendukung federalis seperti
APRA dan RMS.
DAFTAR
PUSTAKA
Notosusanto, Nugroho dan marwati Djoened
Poesponegoro.2008. Sejarah Nasional
Indonesia IV. Jakarta:Balai Pustaka
Suryanegara, Ahmad Mansur.2002. Api Sejarah 2. Jakarta: Salamadani Pustaka Semesta (hal 308-3014)
Subajadi.1985. Penumpasan
Pemberontakan Separataisme Di Indonesia. Bandung: Dinas sejarah TNI-AD 1985
Trijono,Lambang.2001.
Keluar Dari Kemelut Maluku.Yogyakarta:
Putaka Pelajar
[1] Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia VI: Balai
Pustaka. Jakarta. 2008 hlm 346
[8]Subajadi. Penumpasan
Pemberontakan Sparatisme di Indonesia. Dinas Sejarah TNI AD . Bandung 1985
hlm 100
[9] Subajadi.op cit hlm 103

No comments:
Post a Comment