PEMBERONTAKAN
PRRI/PERMESTA
1.
Perubahan
sistem pemerintahan parlementer (Liberal) ke presidensial
Suatu hal yang tidak dapat dibantah adalah bahwa
peristiwa PRRI terjadi disaat bangsa Indonesia hidup dalam alam Demokrasi
Liberal. Perjalanan demokrasi Indonesia sebagai sebuah cara bangsa Indonesia
mencari identitas dirinya dalam kedemokrasian, telah menjeumuskan bangsa
Indonesia dalam sebuah kancah perang saudara yang sangat menyakitkan. Sakit itu
masih tetap terasa bagi segenap kalangan samapi saat ini. Bagi sebagian
kalangan, mungkin bisa berkata bahwa permasalahan itu harus terjadi sebagai
konsekuensi penentangan terhadap sebuah negara yang sah dan berdaulat. Namun
demikian, satu hal pokok adalah bahwa permasalahan tersebut tidak harus terjadi
bila masing-masing pihak sudah betul-betul dewasa dalam berdemokrasi sehingga
percobaan demokrasi pasca revolusi tidak melahirkan suatu episode sejarah yang
menyakitkan di Indonesia.
Demokrasi adalah suatu konsep yang cukup enak didengar
dan menjanjikan kebahagiaan bagi kehidupan sebagaian manusia dimasa depan. Satu
hal yang pasti adalah bahwa demokrasi berusaha menjamin hak-hak individu
terutama hak asasi yang telah dimiliki oleh manusia sejak dilahirkan. Tetapi
karena suatu hal, demokrasi itu menjadi beragam dari segi manifestasinya,
sehingga hampir setiap negara memiliki demokrasi yang nyaris berbeda-beda.
Dalam Demokrasi Parlementer, perbedaan terjadi
merupakan kewajaran sebagai konsekuen keberagaman yang dimiliki manusia.
Paksaan yang diberikan oleh seseorang kepada individu lain tidak lain adalah
pemerkosaan hal-hal dasar yang dimiliki oleh manusia. Namun di Indonesia,
kediktatoran yang memandang rendah nilai-nilai kemanusiaan cenderung jauh lebih
dihormati oleh kebanyakan pemimpin Indonesia daripada nilai-nilai kemanusiaan
yang tinggi dalam mengelola manusia lain. Tidak heran dalam perjalanan
sejarahnya, Indonesia penuh dengan intrik-intrik politik yang sangat kejam
sampai mengorbankan ribuan bahkan jutaan nyawa manusia.
Antar pemimpin itu sendiri sebenarnya mempunyai
pemahaman yang berbeda dalam pelaksanaan Demokrasi Parlementer. Perbedaan
pemahaman itu telah membuat mereka berselisih satu sama lain, seperti halnya
pemahaman dari dua tokoh petinggi Indonesia, Sukarno dan Hatta. Bagi Sukarno,
Demokrasi Liberal, yang cenderung disebutnya dengan Demokrasi Barat, yang telah
dilaksanakan di Indonesia tahun 1950-an, tidak lebih dari hal yang bersifat
politik yang hanya menguntungkan satu kelompok, yaitu kaum borjuis sedangkan
kaum proletar sebagai kelompok yang tertindas justru akan selalu mengalami
kerugian dan penindasan. Sukarno tidak bisa berharap terlalu banyak dengan
demokrasi semacam itu. Setidaknya pemikiran Sukarno ini dapat dilihat dalam
sebuah tulisannya dimajalah Fikiran Ra’jat (1932) yang berjudul “Demokrasi
Politik dan Demokrasi Ekonomi”
“...Ah, Parlemen! Tiap-tiap koem proletar kini namaja
bisa ikoet memilih wakil dan ‘ikoet dipilih jadi wakil kedalam perlemen itoe,
tiap-tiap koem proleter kini namanja bisa ‘ikoet memerinta’, Ja, tiap-tiap kaum
proleter kini namanja bisa mengoesir minister-minister, mendjatohkan
minister-minister djatoh terpelanting dari koersinja. Tetapi pada saat ity
djoega ia sendiri bisa dioesir dari pekerdjaan dimana ia dilemparkan diatas
djalan rajanya pengangoeran, jang basah karena air mata bini dan anak-anak jang
kelaparan...inikah mokrasi mendjadi impian kita?Tidak, dan sekali lagi
tidak!... Sebab ‘demokrasi’ politik sadja... demokrasi ekonomi, kerajatan
ekonomi, kesama-rasa sama-rataan ekonomi tidak, tidak ada baoe-baoenja sedikit
djoegapan ...”
Hatta sebenarnya kurang setuju dengan demokrasi yang
dikembangkan di Barat karena dominasi prinsip individualismenya. Oleh karena
itu, Hatta menawarkan bentuk lain dari demokrasi yang mengisi kekurangan
demokrasi Barat tersebut. Menurut Hatta, dalam alam Indonesia, sesungguhnya
telah terdapat dan tumbuh suatu prinsip demokrasi yang hidup dialam pedesaan.
Hatta menyebut demokrasi tersebut sebagai demokrasi kedaulatan rakyat. Sistem
demokrasi tersebut dipandang oleh Hatta sebagai bentuk tua dan asli dari
demokrasi yang ada di Indonesia. Dalam demokrasi tua tersebut terdapat tiga
wujud yang mencirikan demokrasi, yaitu cita-cita rapat, cita-cita protes masa
dan cita-cita tolong menolong. Dalam ketiga wujud tersebut, menurut Hatta,
terdapat unsur kolektivitas atau kebersaaman dan bukan kolektivitasme yang
dipimpin oleh seseorang secara diktator. Didalamnya juga tidak banyak terdapat
individualis yang berlebihan karena segala sesuatu diusahakan secara bersama.
Hatta juga mengatakan bahwa tempat yang tepat untuk itu adalah Demokrasi
Parlementer, dimana kebebasan rakyat dalam menentukan nasibnya sendiri lebih
utama, seperti kebebasan dalam berpendapat, berserikat dan berkumpul. Rakyat
melalui wakil-wakil berusaha menyusun agenda untuk membangun dirinya sendiri.
Pelaksaan demokrasi yang dapat digambarkan Hatta tersebut dapat dilihat pada
rapat-rapat, dimana rakyat memang menjadi penentu dari segala keputusan dan
bukan menjadi oarang yan menderita seperti yang dikhawatirkan oleh Soekarno,
Kalau memang tidak terwakil aspirasinya bukan tidak mungkin rakyat melakukan
gerakan protes massal seperti aksi pepe, yang menjadi tradisi rakyat di jawa
dalam memprotes kebijakan sultan yang tidak disetujui.
Aksi pepe hanya salah satu bentuk aksi rakyat dalam
memprotes para pemimpin mereka. Pada hakekatnya setiap daerah yang berbeda pula
untuk melakukan protes. Sesuai dengan budayana, rakyat Jawa yang secara garis
besar terdiri atas dua tingkat stratifikasi sosial yaitu hamba dan tuan
(kawala-gusti), tidak bisa melakukan penentangan secara terbuka kepada tuannya
karena jurang lebar yang memisahkan dua kelompok kuno, tidak lebih dari milik
pribadi dari sang raja atau sultan. Bisa suatu kerajaan telah ditaklukan oleh
kerajaan lainnya, maka seluruhnya rakyat dan adapun yang terdapat dikerajaan
tersebut, otomatis menjadi milik kerajaan yang telah menaklukkannya. Rakyat
tidak bisa protes apa-apa, kecuali hanya menurut dan menerima nasib. Hal itu
tentu berbeda dengan taradisi Minagkabau misalnya, ang lebih egaliter, yang
memandang setiap orang pada hakekatnya adalah sederajat, dudek samo randah,
taga sama tinggi. Protes yang bisa dibuat oleh orang-orang Minangkabau kalau
tidak melakukan perlawanan secara formal adalah pergi meninggalkan kampung
halamanya atau apatis sama sekali dengan keadaan yang ada. Dalam perjalanan
sejarah Minangkabau, ketiga hal ini seringkali terjadi.
Dalam konteks PPRI, terdapat beberapa pertanyaan yang
sampai sekarang belum terjawab. Apakah dalam suatu sistem yang lebih menjamin
kebebasan berserikat, berkumpul mengeluarkan pendapat baik secara lisan maupun
tulisan seperti pada masa Demokrasi Liberal yang tengah dilaksanakan di
Indonesia pada tahun 1950-an rakyat tidak dibenarkan memanfaatkan apa yang
menjadi haknya? Apakah sejarah dapat membenarkan mereka, dikala sistem sendiri
menggelengkan mereka untuk berbuat demikian? Dan mengapa hak demokrasinya harus
dijawab dengan husunan pedagang meriam?[1]
2.
Pemutusan
Hubungan Diplomatik dengan Australia
Ketika pergolakan daerah Sumatera dan Sulawesi Utar
mulai menentang pemerintah pusat, dan sumitro memihak pemberontakan, maka
Sumitro ditugaskan oleh pemberontak untuk melobi negara-negara lain guna
mendapat bantuan baik bantuan material maupun bantuan moril. Pertama, Sumitro
mendekati Critchely di Ibu Kota Malaysia, dimana Critchely pada waktu itu
sebagai Australia High Commissioner di negara tersebut. Pertemuan Sumitro dan
Crithely segera dilaporkan oleh Crithely kepada Canberra dan sekaligus minta
petunjuk dari menlu Ausralia, Casey.
Laporan-laporan Crichely ke Canberra tentang
pertemuan-pertemuannya dengan Sumitro salah satunya adalah memorandum
tertanggal 24 Desember 1957, dia menjelaskan:
(Sumitro menemui
saya di Singapura di akhir pekan Dia bilang kepada saya bahwa sesudah ada
dikoloni ini selama seminngu saat mereka membahas jalannya tindakan yang akan
diambil oleh Sumatera dan Indonesia Timur di belakang hari sehubungan dengan
kampanye anti Belanda dan Konsekuensinya....)
Selanjutnya dalam butir 5 memorandum tersebut
menjelaskan: ( Sumitro menekaknkan bahwa
kelompok Dewan Benteng memppunyai kebijakan yang sama dengan Pemerintahan
puasat mengenai Irian Barat. Namun dia menambahkan bahwa mereka akan menangani
masalah itu dengan cara yang sangat berlainan).
Dalam butir 10 memorandum ini menjelaskan : ( Sumitro dapat memberihatu saya, dengan
sangat rahasia, bahwa pertemuan yang lebih awal akan diadakan di Sumatera,
dalam pertemuan mengumkan otonominya tetapi bukan menyatakan kemerdekaan
politik sama sekali.)
Kemudian pada butir 21 momarundum yang sama tersebut
dijelaskan pula: (Sumitro cenderung mencela kegagalan negara-negra barat
mendukung maksudnya baik. Gerakannya telah menunjukan ketetapan hati dan
kemampuan mendirikan suatu front yang anti komunis. Andaikan dukungan diberikan
lebih awal mungkin dapat mencegah situasi politik dan ekomomi yang akhir-akhir
ini makin memburuk di Indonesia. Menurut dia negara-negara barat harus bertindak
cepat, kalau tidak situasinya akan menjadi makin buruk diluar kendali)
Kesemua isi laporan Crichley seperti tersebut diatas
menunjukan bahwa Aaustralia telah lama mengadakan hubungan dengan kaum
pemberontaka di Indonesia dan mengadakan pembicaraan-pembicaraan yang mengarah
kepada dukungan Australia terhadap pemberontakan di Indonesia. Kemudian ketika
blok Uni Soviet dan Cina komunis mulai mengadakan pendekatan terhadap Indonesia
dan mendukung tuntutan Indonesia atas wilayah Irian Barat maka Amerika Serikat
mulai curiga bahka menduga bahwa Indonesia mulai berkiblat ke blok komunis
internasional. Kecurugaan Amerika Serikat terhadap Indonesia mau tidak mau
diikuti oleh sekutu setianya, Australia. Hal inilah merupakan mengapa Australia
mendukung dan membantu pemberontakan PRRI/PERMESTA.
Hubungan bilateral Australia-Indonesia, merupakan
hubungan dua negara yang menarik untuk disimak karena hubungan kedua negra
tersebut memiliki sifat yang unik. Keunikan ini disebakan pada suatu saat
hubungan kedua negara tersebut sangat begitu erat atau baik, akan tetapi disaat
lain hubungan kedua negara menjadi sangat tegang. Hal ini disebabkan
masalah-masalah yang sangat sensitif yang berkaitan dengan politik dalam negeri
kedua negara. Hal ini dapat terjadi karena sebetulnya kedua negara sama-sama
menduduki atau berada dalam posisi strategis, walaupun harus diakui bahwa pihak
Australia kadang-kadang ada perasaan takut akan adanya ancaman dari Indonesia.
Pada kurun waktu pasca 1939. politik luar negeri Autralia mulai berubah,
dan mulai mencoba melepaskan diri dari keterlibatannya dengan Inggris dengan
lebih memperhatikan wilayah Asia Tengara. Sejak PD II berakhir Australia mulai
berusaha untuk mengalihkan perhatiannya ke wilayah Asia Tenggara terutama ke
negara tetangga terdekatnya Indonesia. Hal ini karena posisi yang ditempati
Australia adalah sangat strategis ditengah kawasan Asia Tenggara.
Spender, Menteri Luar negeri Australia pada masa
pemerintahan Partai Liberal-Country Party, memandang kawasan Asia Tenggara dari
sudut pandang geografis terletak dekat denagn bunua Australia. Menurut Spamder,
Autralia harus bekerja sama denagan
negara-negara dikawasan ini dan secara bersamaan-sama dapat menyebar
kewilayah Asia Tenggara, yang pada akhirnya baik secara langsung maupun tidak
akan merupakan ancaman terhadap Australia.
Kesediaan Australia untuk lebih memperhatikan
tetangganya dikawasan Asia Tenggara didasarkan atas pengalaman-pengalamanya
yang didapat selama PD II dan sesudahnya. Perkembangan-perkembangan baru memang
terjadi di Asia, munculnya gerakan nasionalisme menentang kolonialisme. Jepang
misalnya tumbuh menjadi kekuatan militer yang tangguh dikawasan Asia, dan pada
masa PD II, serangan Jepang ke wilayah Asia Tenggara sampai ke arah paling
selatan, mau tidak mau menyadarkan Australia akan bahaya ancaman secara
langsung dari Jepang terhadap wilayahnya.
Hubungan awal Ausrtralia-Indonesia seperti telah
dikemukakan sebelunya terjadi setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan
Indonesia. Pada kurun wwaktu 1945-1949 ketika partai buruh yang berkuasa di
Austaralia hubungan kedua negara relatif sangat mesra, isu Irian Barat pada
saat itu belum kepermukaan. Secara teoritis sebetulnya ada beberapa tahapan
perkembangan sikap Australia terhad Indonesia. Pada kuru waktu 1946-1949, sikap
Australia terhadap Indonesia, berubah dari memihak Belanda kemudian bersimpati
terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dukungan Australia terhadap
perjuanggan kemerdekaan bangsa Indonesia ini juga dilakukan oleh Waterside
Workers Union. Mereka melakukan aksi boikot terhadap kapal-kapal Belanda yang
akan berlayar ke Indonesia. Sikap Australia ini menimbulkan simpati yang sangat
dalam terhadap para pemimpin nasionalis Indonesia.
Australia bahkan menentang dan mengutuk dua aksi
militer yang dilancarkan Belanda terhadap Indonesia. Hal ini membuktikan oleh
Australia dengan keikutsertaan Australia dalam perundingan gencatan senjata
antar Indonesia-Belanda. Bahkan Indonesia kemudian dipilih oleh Indonesia untuk
duduk dalam Good Offices Comittee, sebagai wakil Indonesia. Akan tetapi sikap
Australia terhadap Indonesia kemudian berubah lagi setelah perjanjian
Konferensi Meja Bundar antar Indonesia-Belanda, karena Indonesia meneuntut atas
wilayah Irian Barat. Masalah Irian Barrat inilah yang menggangu hubungan
Indonesia-Australia untuk masa yang lama yaitu kurang lebih 13 tahun.[2]
Indonesia adalah negara tetangga Australia yang paling
penting. Indonesia adalah negara kepulauan serta terletak diantara Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik, sebagai mata rantai geografis yang menghubungkan
Australia dan benua Asia, Indonesia menduduki posisi strategi dalam politik
pertahanan dan luar negeri. akaebutuhan yang bersifat ini dapat diubah dan
kedua negara harus memelihara hubungan yang sehat yang dapat menjamin
stabilitas kedua daerah tersebut. Hal ini memang telah dilakukan meskipun dalam
pertumbuhannya ada unsur-unsur yang telah memberi pengaruh yang merugikan
hubungan tersebut. Perbedaan budaya dan perioritas kebijakan politik dalam dan
luar negara merupakan beberapa dari unsur tersebut.
Seperti telah diterangkan dimuka, hubungan Australia
dan Indonesia dimulai sekittar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dimulai
sekitar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dukungan pemerintahan
Australia kepada Indonesia, yang telah menjadi jajahan Belanda selama 350
tahun, adalah paling aktif antara tahun 1947-1950. Pada mulanya tidak mau
terlibat erat dalam masalah kolonialisme di Indonesia dan mendukung
tindakan-tindakan yang diambil oleh pemerintah Belanda dan orang masional
Indonesia guna memecahkan masalah kemerdekaan.
Ketika kaum nasionalis, yang dipimpin oleh Soekarno
dan Hatta memproklmrirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Aggustus 1945,
pekerja pelabuhan Australia mengumkan dukungan dan simpati mereka dengan
melarang masuk kapal-kapal Belanda. Hal ini disebabkan Belanda mempergunakan
pelabuhan-pelabuhan Australia sebagai tempat transit dalam upaya mendirikan
kembali kekuasaan mereka di Indonesia dengan menggunakan kekuatan militer.
Tindakan ini mempersatukan rakyat Australia dan rakyat Indonesia serta membuat
Australia menjadi sahabat Indonesia dalam opini publik Indonesia.
Dikalangan Internasional Australia tidak bepangku
tangan melainkan mendukung perjuangan Indonesia untuk mendapatkan
kemerdekaanya. Tindakan ini menggambarkan kepentingan politik luar negeri
Australia dibawah P.M. Chifley. Hal ini diperkuat dengan peran yang dimainkan
oleh wakil tetap Australia di PBB, Sir Richad Kirby dan Deputinya, Tom
Critchely. Austaralia mengikuti dari dekat peristiwa-peristiwa di Indonesia dan
dipilih Indonesia sebagai anggota Komisi Tiga Negara (GOC). Peran Australia
dalam komisi Tiga Negara sangat penting bagi suburnya perjuangan kemerdekaan
Indonesia. Melalui keanggotaanya didalam komite PBB untuk Indonesia (UNCI)
Australia mendesak Amerika Serikat agar mempergunakan pengarunya untuk memaksa
Belanda segera memasuki perundingan guna menyelesaikan pertahanan kedaulatan
kepada Republik Indonesia. Akhirnya dalam Konferensi Meja Bundar tanggal 27
Desember 1949 Belanda menyerahkan kedaullatan atas wilayahnya sebagai besar
karena usaha Australia. Selanjutnya, Australia mensponsori Indonesia untuk
menjadi anggota ke-60 dalam PBB.
Pergantian pemerintahan di Australia dari Partai Buruh
ke koalisi Partai Liberal-Country juga membawa perubahan hubungan
Australia-Indonesia. Pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh perdana Menteri
Menzies mempunyai konsep politik luar negeri yang berlawanan. Hal ini
dipengaruhi oleh Perang Dingin dan sikap Australia adalah memihak Barat yang
dipimpin oleh Amerika Serikat. Sikap ini gambarkan oleh oposisi Australia bahwa
Belanda harus tetap menguasi Irian Barat. Posisi ini bukanya tanpa dasar.
Australia mempunyai pengalaman pahit karena Irian (Timur dan Barat) diduduki
Jepang dalam Perang Dunia II. Akibatnya, baik rakyat maupun pemerintahan
Australia sadar bahwa Irian sangat penting bagi keamanan Australia. Sebagai
sesama “kulit putih” dalam blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat,
Australia lebih suka kalau Belanda ada Irian Barat sebagai jaminan keamanan
wilayahnya.
Karena hal tersebut kurun waktu antara Australia dan
Indonesia. Indonesia mengambil sikap keras mengenai Irian Barat ini
memobilisasi angakatan bersenjatanya untuk merebut propinsi ini dengan kekuatan
militer. Bersamaan dengan ini Presiden Soekarno meningkatkan serangan
diplomatik dengan Dunia Ketiga. Sikap Indonesia yang agresif ini memperkuat
keputusan Australia bahwa Irian Barat harus ada di bawah kekuasaan Belanda.
Ketetapan hati ini diperkuat oleh sikap anti Barat Presiden Soekarno, sementara
membina hubungan persahabatan denggan negara-negara sosialis/komunis seperti
Vietnam Utara, Korea Utara, RRC, dan Uni Soviet. Hal ini dan munculnya Partai
Komunis Indonesia (PKI) sebagai salah satu dari empat partai besar dalam
pemilihan umum tahun 1955 dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Australia
adalah suatu kenyataan bahwa PKI selalu mendukung politik luar negeri Soekarno
yang kekiri-kirian yang sangat agresif, terutama sehubungan denagan Irian Barat.
Pada akhirnya Australia ttak kuasa mempengaruhi hasilnya setelah Amerika
Serikat mendukung tuntutan Indonesia untuk mendapatkan Irian Barat pada tahun
1962. Perubahan kebijakan Amerika Serikat ini tidak menyenangkan Australia [3]meskipun demikian terpaksa
mengikuti keputusan tersebut. Hubungan antar Indonesia dan Australia menjadi
dingin. Australia selalu mengkritik tajam terhadap politik Perdana Menteri dia mengirimkan
pasukan ke Singapura dan Malaysia untuk menentang “konfrontasi” Soekarno
terhadap Malaysia dari tahu 1963-1965.
Perlu ditekankan bahwa Australia dengan Amerika
Serikat dan Inggris dalam mendukung pemberontaka PRRI/PERMESTA adalah untuk
menjaga keamanan Australia. Tujuannya adalah mencegah agar Indonesia tidak
dapat mengambil alih Irian Barat yang dianggap vital bagi keamanan Australia.
Disamping itu, Australia sebagai sekutu Amerika Serikat dan Inggris, mersa
mempunyai tugas membantu menekankan arus ekspansi global komunis, dan karena
ada dikawasan yang sama pertumbuhan komunisme di Indonesia merupakan penebab
keprihatinan. Bagi Australia Amerika Serikat dan Inggris, dukungan bagi PRRI/PERMESTA
merupakan kebutuhan. Selama tahun-tahun 1950-1960 Amerika Serikat dan Inggris
akan mengubah kebijakan mereka dari netral dan menyeetujui tuntutan Indonesia
menjadi mendukung Belanda. Dengan timbulnya pemberontakan PRRI/PERMESTA,
Australia berharap bahwa Amerika Serikat dan Inggris akan mebgubah kebujakann
mereka dari netral menjadi menyetujui tuntutan Indinesia mendukung Belanda.
Namun harapan Australia sirna pada tahun 1958 Amerika
Serikat mengubah politiknya terhadap Indonesia dengan menarik dukungan kepada
PRRI/Permesta dan diganti mendukung kekuatan-kekuatan anti komunis didalam
pemerintahan RI. Hal ini khususnya ditunjukan kepada Angkatan Bersenjata
Indonesia. Maka persenjataan mulai menggalir. Proses Australia kepada Amerika
Serikat dan Inggris mengenai pasokan senjata ini tiak terdengar. Perubahan ini
menjadi pengalaman pahit bagi pemerintahan Australia, tetapi pemerintah
Australia tak kuasa mengubahnya.
Pemerintahan Indonesia memobilitasi semua usahanya
untuk menghacurkan pemberontakan PRRI/Permesta karena Nasution mempunyai
informasi intelejen bbahwa Amerika Serikat akan memberi bantuan kepada kaum
pemberontak. Bahaya paling besar bagi pemrintahan Indonesia adalah kemungkinan
bahwa pasukan bersenjata Amerika Serikat akan memepergunakan pemberontakan
tersebut sebagai alassan untuk memasuki wilayah Indonesia guna melindungi warga
negaranya beserta kekayaan mereka. Menurut para ahli strategi militer
Indonesia, ini mungkin akan terjadi di Riau Daratan dimana perusahaan Amerika
Caltex memproduksi minyak. Karena terletek di Sumatra Tengah, maka dinyatakan
termasuk dibawah kekuasaan pemberontakan.
Kegagalan PRRI mempertahankan wilayah dengan lapangan
udara serta pelabuhan-pelabuhannya berarti bahwa pengiriman bantuan luar negeri
jadi sangat sulit. Hal ini memaksa Amerika Serikat dan Inggris berpikir kembali
kebijakan mereka mengenai RI dan PRRI. Meskipun tulisan-tulisannya ada dinding
tetapi tidak menyenangkan pemerintahan Australia.
Campur tangan Ameria Serikat, Inggris dan Australia
ini merupakan kegagalan besar. Bantuan mereka ini bukan saja gagal membuat
PRRI/Permesta mengalahkan pasukan pemerintahan tetapi bahkan memperkuat posisi
PKI.
Sebelum Perang Dunia II “tardisi dasr” politik luar
negeri Australia adalah “doktrin bahwa Australia akan pergi kemana Inggris
pergi dan berperang diman Inggris berperang”. Hal ini dapat mengerti karena
ikatan “perasaan dan pertalian keluarga” sangat kuat. Lagi pula Inggris masih
merupakan suatu kekuatan besar di Pasifik dan negara-negara tetangga Australia
di Asia masih ada dibawah kolonialisme Barat.
Namun setelah perang dunia II situasinya berubah.
Negra-negara tetangga Australia memperoleh kemerdekaannya dan Inggris menarik
diri dari Pasifik. Dengan demikian, di satu pihak Australia mempunyai tetangga Asia
yang dekat tetapi tidak lagi dapat mengandalkan Inggris untuk menjamin
keamananna. Autralia harus berurusan langsung dengan mereka untuk melindungi
kepentingannya dan kini harus menggantungkan diri dari pada kekuatan Amerika
Seriakt di Psifik.
Setelah kaum komunis mengambil alih kekuasaan di Cina
daratan, Cina Komunis yang dipimpin oleh Mao berpandangan seperti doktrin
Amerika Serikat memandang dunia ini. Mao beranggapan bahwa dunia ini dibagi
menjadi dua kubu (two camps) yaitu kubu sosialis dan kubu imperialis.
Selanjutnya Mao juga mengidentifikasi iga kontradiksi diantara negara-negara di
dunia :
1. Kontradiksi
antar kubu sosialis dan kubu imperialisme
2. Kontradiksi
antara negara-negara terjajah dan negara-negara imperialisme
3. Kontradiksi
diantara negara-negara imperialisme sendiri
Menurut
Mao, perdamaian dunia tidak mungkin tercapai antara sosialis dan kubu
imperialis, karena kubu imperialis dipandang sumber terjadinya peperangan. Oleh
[4]karena itu selama masih ada
negara-negara imperialis maka perdamaian tidak akan terwujud
Berdasarkan gambaran seperti tersebut
diatas, maka Cina membagi negara-negara di dunia secara tajam mana “musuh” dan
mana “sahabat”:
Who
are our enemies? Who are our friends? This is a question of the first
importance for the revolution...we must pay attention to unifying our real
friends in order to attack our real enemies.**
(Siapa musuh-musuh kita? Siapa
sahabat-sahabat kita? Ini merupakan pertanyaan yang paling penting bagi
revolusi... kita harus memperhatikan upaya mempersatukan sahabbat-sahabat kita
yang sebenarnya untuk menyerang musuh-musuh kita yang sebenarnya.**)
Cina dengan tegas disini menyatakan bahwa
Amerika Serikat adalah pemimpin dari kubu imperialis, dan oleh karena itu musuh
utama Cina dan kubu sosialis yang dipimpin oleh Uni Soviet. Dengan demikian Mao
beranggapan bahwa semua negara imperialis didunia adalah musuh Cina. Mao juga
beranggapan bahwa tidak mungkin mendapatkan kemerdekaanya kembali tanpa bantuan
dan dukungan dari kubu sosialis dan peroletariat internsional, dan menolak
bantuan Uni Soviet maka revolusi akan gagal.**
Dalam keadaan konflik dua kubu di dunia
internasional, maka Cina harus memilih salah satu kubu karena tidak ada kubu
ketiga. Cina memilih untuk condong kekubuUni Soviet untuk memerangi
imperialisme dan kolonialisme.
Once the conflict between
the socialist Soviet Union and the imperialist powers grows sharper; China will
have to takeber stand on one side or the other: This is an inevitable
trend...the world will be swept into one or the other of these front,and
neotrality will then be merely a deceptive term.**
(Sekali
konflik antar Uni Soviet sosialis dan kekuatan imperialis menjadi tajam, Cina
harus mengambil sikap memihak kepada salah satu. Ini merupakan kecenderungan
yang tak dapat dilakukan...dunia akan disapu menjadi salah satu dari kedua
front tersebut. Netralis hanya akan merupakan istilah yang menyelesaikan.**)
3.
Pertentangan
politik dan Perpecahan Aangkatan Darat
Pemberontakan PRRI di Sumatra dan PERMESTA di
Indonesia Bagian Timur terutama karena adanya pertentangan politik dan
perpecahan dilingkungan Angkatan Darat. Adapun pertentangan politik terjadi
karena adanya akumulasi dari berbagai politik, dengan dimulai dari kekecewaan
Presiden Sukarno terhadap tidak diikut sertakan PKI pada Kabinet Ali
Sastroamidjoyo hasil pemilihan umum 1955, pengunduran dari wakil Presiden Moh.
Hatta dari jabatannya, Konsepsi Presiden yang mengakibatkan jatuhnya Kabinrt
Ali, keikut sertaan Kabinet Djuanda, samapai denagn puncaknya pada penerapan Demokrasi Terpimpin besrta Manipol-Usdeknya dengan diikut peran
dominan dari PKI diberbagai program dan penyelengaraan bermula dari diangkatnya
kembali Nasution menjadi KASAD pada tanggal 28 Oktober 1955, setelah bersama
Kepala Staf Angkatan Perang Mayor Jendral Simatupang mengundurkan diri akibat
peristiwa 27 Oktober 1952.
Pertentangan Politik dan perpecahan di lingkungan
Angkatan Darat ini tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan meluas dengan hebat
di daerah-daerah dengan memicu sentimen kedaerahan terhadap Jakarta dan bahkan
terhadap Jawa, karena merasa di anak tirikan dengan tidak adanya perimbangan
keuangan antar Pusat dan Daerah, sementara penerimaan devisa negara datangnya
dari prusahan-perusahaan perkebunan yang ada didaerah, terutama Sumatera dan
Sulawesi Utara. Pertentangan atau gejolak politik ini menjadi semakin sengit,
manakala didaerah terbentuk suatu kesepakatan antara para Komandan Tentara da
para Tokoh Politik untuk menentang Pemerintahan Pusat, yang membuat situasi
nasional menjadi semakin gawat.
Mulai dari bulan Desember 1965, setelah Wakil Presiden
Moh. Hatta mengundurkan diri dari jabatannya, secara berturut-turut samapai
bulan Maret 1957 dibentuk Dewan Benteng di Padang, Dewan Gajah Medan, Dewan
Garuda di Palembang, dan Dewan Manguni di Manado serta terhimpunya kesepakatan
di Makasar yang dituangkan dalam bentuk piagam yang dinamakan Piagam Perjuangan
Semntara atau singakat Permesta. Kemudian sebagai puncaknya diselengarakan pertemuan
besar disungai Dareh Sumatera Barat yang dihadiri oleh tokoh pembolot, yaitu :
·
Letkol Ahmad Husein, Ketua Dewan Benteng
·
Kolonel Simbolon, Ketua Dewan Gajah
·
Letkol Ventje Sumual, Ketua Dewan Mangawi
·
Kolonel Dahlan Djambek, dari Mabes AD
Jakarta
·
Kolonel Julkifli Lubis, dari Mabes AD
Jakarta
·
M. Natsir, ex Perdana Menteri (Masyumi)
·
Buharudin Harahap, ex Prdana Menteri
(Masyumi)
·
syarifudin Prawiranegara, ex Presiden
Pemerintahan Darurat (Masyumi)
Adapun
hasil dari pertemuan ini dumumkan pada tanggal 10 Februari 1958 pada rapat
raksasa dikota Padang yang berisikan ultimatum kepada Pemerintahan Pusat, yang
berbunyi sebagai berikut :
·
Dalam waktu 5 x 24 jam, agar Kabinet
Djuanda menyerahkan mandatnya kepada Presiden
·
Agar Presiden menugaskan Drs. Moh. Hatta
dan Sultan Hamengkubowono IX membentuk “Zaken Kabinet”
·
Agar Presiden kembali kepada kedudukanna
sebagai Presiden Konstitusional.
Apabila pada tanggal 11 Februari 1958,
Sidang Dewan Menteri di Jakarta mengambil keputusan untuk menolak ultimatum
tersebut, dan bahkan Pemerintahan memecat perwira-perwira yang terlibat dalam
pertemuan Sungai Dareh, maka pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein
memaklumkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di singakat
PRRI serta sekaligus membentuk kabinetnya dengan Syarifudin Prawiranegara
sebagai Perdana Menteri. Keputuan ini disambut oleh Sulawesi Utara dengan
mendukung PRRI dan menyatakan putus hubungan dengan Jakarta. Langkah ini
dikenal dengan Gerakan Permesta.[5]
Dengan diproklamisikannya PRRI di Sumatera
dan Gerakan Permesta di Indonesia Bagian Timur, Pemerintah memutuskan untuk
melakukan gerakan militer menumpas pemberontakan.
Operasi Penumpasan PRRI,
Pemberontakan PRRI dan Permesta mendapat dukungan dari pemerintah Amerika
Serikat dan Inggris, baik berupa dukungan politik maupun dukungan pemberian
bantuan senjata. Hal ini dapat dimengerti dalam gejolak perang dingin pada saat
itu antar Barat dan Komunis, politik luar negeri pemerintah Indonesia dengan
pengaruh PKI yang sangat kuat, memang lebih condong memihak ke Blok-Timur.
Gerakan militer yang pertama-tama
dilakukan pada tanggal 12 Maret 1958 oleh Angkatan Perang RI ditunjukan untuk
menguasai daerah Riau dengan pertimbangan untuk mengamankan instalansi minyak
asing dan sekaligus untuk mencegah campur tangan Amerika. Gerakan ini dinamakan
Operasi Tegas dibawah pimpinan Letkol Kaharudin Nasution, yang merupakan
operasi lintas-udara dengan menerjunkan pasukan RPKAD dan PGT dari Angkatan
Udara di lapangan terbang Pekan Baru. Pasukan Terjun Payung ini dalam merebut
lapangan terbang denagn cara pendekatan dapat merampas senjata-senjata yang
dijatuhkan malam hari sebelumnya oleh Amerika. Kemudian pasukan Batalyon Infari
yang disusulkan langsung dapat menguasai intalasi-instalai minyak di adaumsi
dan Rumbai dan kemudian Operasi dan seterusnya kearah Bukittinggi. Kekuatan
dari Operasi Tegas ii adalah satu Rezim Tim Pertempuran. (RTP)
Dengan operasi-operasi militer yang
dilancarkan secara gancar dari berbagai jurusan, akhirnya seluruk kekuatan PRRI
patah dan pimpinannya Achmad Husein menyerah besrta dengan pasukannya pada
tanggal 29 Mei 1961.
Operasi Penumpasan Permesta, Operasi
militer yang dilakukan terhadap Permesta di Indonesia Bagian Timur merupakan
operasi yang lebih berat dibandingakan dengan menghadapi PRRI di Sumatera
karena letak geografi yang lebih sukar berupa kepulauan, dan perlawanan yang
lebih kuat karena dimilkinya peswat-pesawat dengan keunggulan pembom B-26
Konsentrasi kekuatan Permesta berada di
Minahasa denagan kota Menado sebagai pusat pertahanan, karenanya operasi
militer dilakukan melaui stategi pengepungan dengan menguasai terlebih dahulu
daerah Sulawesi Tengah di sebelah selatan, daerah Gorontalo di sebelah barat,
dan kepulauan Sangir Talaud disebelah utara.
Strategi pengepungan dilakukan denagan
sebutan Operasi Saptamarga yang terbagi dalam empat gerakan. Gerakan I untuk
menguasai Sulawesi Tengah yang berhasil diduduki pada tanggal 24 Mei 1958
dimana lawan dipukul mundur dan lari bergabung dengan pemberontak DI/TII di
Sulawesi Tengara. Gerakan II untuk menguasai Gorontalo dengan pendaratan di
Bilangan dan mendudukinya pada tanggal 15 Mei 1958. Gerakan ke Gorontalo
mendapatkan perlawanan kersa dari permesta dengan menggunakan pesawat terbang,
dimana mereka behasil mengebom sampai rusak ssalah satu kapal perang jenis
korvet dari ALRI.
Dengan dikuasainya kota-kota ang disebut
diatas, baik di Sumatera maupun di Sulawesi, secara praktis kekuatan
PRRI/Permesta sudah lumpuh. Namun, untuk beberapa waktu lamanya mereka masih
mengadakan perlawanan secara geriliya. Secara keseluruhan, perlawanan ini
berakhir pada tahun 1961 dengan menyerahkan para pemimpin PRRI/Permesta.
Dalam melaksanakan operasi militer ini
APRI mendapat bntuan dari kekuatan anti PRRI/Permesta yang terdapat di daerah.
Disumatera Barat terdapat satuan polisi dibawah pimpinsan komisaris Besar
Polisi Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (Kepala Kepolisian Sumatera Tengah).[6]
DAFTAR PUSTAKA
Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho
Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI, Balai Pustaka. Jakarta.
Setyohhadi, Tuk, 1930- Sejarah Perjalanan
Indonesia dari masa kemasa / oleh Tuk setyohadi. Rajawali Coorporation. Bogor.
Hadi Soebadio. 2002. Keterlibatan Autralia
dalam Pemberontakan PRRI/PERMESTA, PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Syamadi.2009. PRRI Pemberontakan atau
Bukan ?, MedPerss. Yogyakarta.
Syahmadi. 2001. Kontroversi Sejarah di
Indonesia, MedPerss. Yogyakarta.
[1]
Sukarno,”Demokrasi-Politik dan Demokrasi Ekonomi”, dalam Di Bawah Bendera
Revolusi, (Jakarta; Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, cetakan ke-2,
1965), hlm. 318-319. Sukarno menyebutkan Demokrasi Politik dan Ekonomi itu
sebagai demokrasi sosial dan hal itu dianggapnya sebagai demokrasi yang sejati.
[2] Politik
Australia terhadap Indonesia 1949-1962, hlm. 161-165
Perang Dingin terhadap Hubungan Australia-Indonesia,
hlm. 272-288
[3] Hadi
Soebadio, Dampak Perang Dingin Terhadap Hubungan Australia-Indonesia, hlm.266
[4] Syamdani,
PRRI, Pemberontakan atau Bukan ?, Mengkaji kembali alasan serta motif di balik
kemunculan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia 1950.
[5] TUK
SETYOHADI, Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa, (Bogor: Rajawali
Corporation,2003), hlm. 142
[6] TUK
SETYOHADI, Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa, (Bogor: Rajawali
Corporation,2003), hlm. 385
Sejarah Nasional Indonesia VI, Pemberontakan PRRI dan Permesta, hlm. 389

No comments:
Post a Comment