About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 7 June 2019

SIKAP POLITIK MASYUMI DARI PARLEMENTER SAMPAI TERPIMPIN


logo unnes kuning.jpg
 


aa


SIKAP POLITIK MASYUMI DARI PARLEMENTER SAMPAI TERPIMPIN
Disusun guna memenuhi tugas Sejarah Politik
Dosen pengampu :
Bpk. Hamdan Tri Atmaja




Oleh :
Fitria Susilowati                      3101412085





PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SIKAP POLITIK MASYUMI
DARI PARLEMENTER SAMPAI TERPIMPIN
Umat Islam merupakan mayoritas di kalangan penduduk. Kedudukan umat Islam secara politis tidak terlalu menggembirakan pada bulan-bulan pertama kemerdekaan Indonesia. Kurang terakomodirnya apsirasi umat Islam dikeranakan hanya sedikit tokoh-tokoh Islam yang duduk dalam lembaga-lembaga pemerintah. Melihat kedudukan dan aspirasi umat Islam maka kemudian menimbulkan kesadaran dikalangan umat Islam untuk membentuk suatu partai politik. Pemebntukan Masyumi sebagai partai politik dapat diterima masyarakat terutama dikalangan umat Islam karena mendapat dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat  dan organisasi Islam, seperti Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dalam perkembangan selanjutnya beberapa organisasi Islam lain bergabung juga dalam Masyumi seperti Persatuan Islam dan Al-Irsyad serta organisasi-organisasi yang bersifat lokal, seperti Al-Wasliyah di Medan dan Nahdatul Wathan di Lombok.[1] Organisasi-organisasi itu menjadikan Masyumi salah satu sarana perjuangan dalam bidang politik.
Adanya dukungan dari berbagai organisasi dan para tokoh agama terutama agama Islam membuat Partai Masyumi berkembang dengan pesat  sehingga bukan hanya anggota dari Masyumi saja yang bertambah banyak namun juga mempercepat berdirinya Masyumi di daerah-daerah yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Partai Masyumi sebagai partai besar tentunya mempunyai peranan yang cukup besar dalam mewarnai peta perpolitikan di Indonesia.
Partai Masyumi didirikan pada tanggal 7 Nopember 1945. Partai Masyumi dibentuk dalam Muktamar Umat Islam di Gedung Mullimin Yogyakarta pada tanggal 7 dan 8 Nopember 1945. Akhirnya Muktamar memutuskan untuk mendirikan Majelis Syuro pusat bagi uamt Islam Indonesia dan Mayumi merupakan satu-satunya partai politik bagi umat Islam. Politik yang dianut Masyumi yaitu politik yang menggunakan parameter Islam bahwa semua program atau kebijakan partai harus  diukur secara pasti dengan nilai-nilai Islam.[2]
Dalam perkembangannya Masyumi mengalami perubahan-perubahan sikap politik yang sesuai dengan perkembangan politik Indonesia saat itu. Perubahan sikap politik Masyumi mulai dari parlementer hingga terpimpin yaitu pertama Masyumi  sebagai partai kritis terhadap pemerintahan, kedua yaitu Masyumi sebagai partai pemerintah, ketiga yaitu Mayumi sebagai partai oposisi, dan yang keempat yaitu Mayumi sebagai partai yang termarjinalkan.
1.      Masyumi sebagai partai kritis terhadap pemerintah
Setelah  partai Mayumi didirikan seminggu kemudian Kabinet Syahrir dilantik pada tanggal 14 Nopember 1945 dimana Kabinet Syahrir ini merupakan kabinet pertama di Indonesia dalam sistem pemerintahan parlementer. Dalam kabinet ini Masyumi tidak diikut sertakan meskipun terdapat nama M. Rasyidi yang menjabat sebagai Menteri Negara merupakan kader Masyumi namun bukan mewakili Partai Masyumi melainkan menjadi menteri atas nama pribadi.  
Masyumi tidak tidak hanya  membatasi ketidaksetujuannya terhadap Kabinet Syahrir karena soal pergantian sistem kabinet bahkan menyatakan tidak percaya kepada Kabinet Syahrir karena kebijkasanaan yang hendak ditempuh seperti menyikapi permasalahan pergantian sistem kabinet dimana sikap pemerintah lebih mengedepankan perundingan dalam menghadapi Belanda.[3] Sikap itulah yang membuat Masyumi untuk bersikap kritis. Masyumi melakukan tuntutan  mengenai pergantian sistem kabinet serta tuntutan kabinet koalisi. Presiden menunjuk kembali  Syahir untuk membentuk kabinet baru yang sangat disayangkan oleh Masyumi karena  dalam sistem demokrasi perlementer seharusnya ditunjuk sebagai formatur kabinet adalah partai oposisi.[4] Hal ini yang sangat disesalkan oleh Masyumi atas sikap Soekarno bahkan pada perkembangannya Masyumi berpendapat bahwa dekrit presiden  itu tidak sah karena kabinet yang bertanggung jab masih berfungsi oleh sebab itu presiden tidak dapat mengambil tindakan-tindakan legislative.[5] Hal-hal yang seperti ini yang menyebabkan Masyumi bersitegang dengan Soekarno
Kabinet Syahrir berhasil mengadakan perundingan dengan pihak Belanda yang di kenal dengan Perundingan Linggarjati. Namun perundingan tersebut dipandang lain oleh partai-partai politik pada umumnya termasuk Masyumi yang kebanyak anggota Masyumi menganggap bahwa Perundingan Linggarjati yang banyak bagian dari isinya menimbulkan keraguan. Siding pleno diadakan di Yogyakarta pada tanggal 20-21 Nopember yang hasilnya menolak untuk menerima perundingan tersebut. Yang kemudian Mayumi mengharapkan agar menteri yang berupa kader Masyumi dalam kabinet Syahrir II mengambil sikap yang sejalan dengan keputusan partai yang berarti bahwa harus keluar dari kabinet.[6] Namun kader Masyumi tetap berada dalam kabinet Syahrir. Melihat kemungkinan akan gagalnya Perundingan Linggarjati maka Masyumi mengeluarkan manifesto politik setelah melihat mengenai penafsiran antara Belanda dan Indonesia yang berbeda-beda bahkan Syahrir memberikan banyak konsesi kepada Belanda. Masyumi benar-benar menolak kebijaksaan Syahrir.
Pembentukan kabinet selanjutnya Masyumi menuntut kursi perdana menteri, menteri pertahanan, menteri luar negeri serta menteri dalam negeri. Presiden memberikan mandat kepada Amir Syarifuddin (Sosialis), Sukiman (Masyumi), A.K. Gani (PNI), dan Setiadjit (Buruh). Pada 3 Juli 1947 Amir Sjarifuddin mengumumkan kabinetnya. Masyumi gagal mendapatkan kursi-kursi di kabinet bahkan tidak ada satupun kader Masyumi yang duduk dalam kabinet hal ini merupakan pukulan besar bagi Masyumi yang merasa yakin bahwa Amir Ajarifuddin akan gagal membentuk kabinet tanpa Masyumi. Pada akhirnya Masyumi memutuskan untuk beroposisi terhadap Amir dengan alasan bahwa tokoh Sosialis Amir Sjarifuddin dianggap kurang dapat dipercaya.[7] Kader Masyumi duduk kembali dalam kabinet yaitu kabinet Amir Sjarifuddin II pada tanggal 11 Nopember 1947 namun pada tanggal 22 Januari 1948 Masyumi menarik kadernya akibat dari reaksi dari perjanjian Renville tidak hanya menarik kadernya tetapi juga melakukan demonstrasi yang berujung jatuhnya kabinet Amir Syarifudin.[8]
Setelah kabinet Amir Sjarifuddin jatuh, Soekarno menunjuk M. Hatta sebagai perdana menteri beberapa kader Masyumi duduk dalam pemebrintahan yaitu Sukiman sebagai menteri dalam negeri, Ayarifuddin Prawiranegara sebagai menteri penerangan dan K.H. masykur sebagai menteri agama. Kabinet Hatta harus memikul konsekuensi dari pertunjuan Renville. Mulai dari permberontakan yang terjadi misalnya meletus pemberontakan PKI di Madiun pada tanggal 18 September 1948 yang menimbulkan korban yang tidak sedikit dari umat Islam bahkan Madiun pernah menjadi tempat Mukatamar Masyumi ketiga tanggal 27-31 Maret 1948. Sejak saat itu Masumi menolak berkerjasama dengan kelompok komunis bahkan Masyumi selalu menyerang ideology yang dianut oleh PKI.
Selain perjuangan yang dilakukan atas tekanan dari dalam berupa pemberontakan selain PKI ada pula Gerakan Darul Islam, belum tuntas satu permasalahan ada permasalahn baru yang muncul yaitu Belanda melakukan Agresi kedua pada 19 Desember 1948 yang mengakibatkan ditawannya beberapa pimpinan Indonesia seperti presiden Soekarno dan wakil presiden M. Hatta. Situasi Indonesia yang dalam tahap bahaya karena ibukota sudah dikuasai dan pimpinan sudah ditawan maka dikhatirkan akan hancurnya bangsa Indonesia maka dibentuklah pemerintah darurat yang didirikan oleh Syafruddin Prawiranegara di Suamtera Tengah tepatnya di Bukit Tinggi yang merupakan prakarsa sendiri dan dukungan rakyat dan pemimpin setempat. Ia tidak menerima instruksi apa pun dalam hal ini dari pemerintah pusat di Yogyakarta. Adapun yang diketuai oleh Syarifuddin Prawiranegara.[9] Hal ini membuat Masyumi cukup berbangga diri. Karena seorang tokoh Islam (Masyumi) mengepalai Pemerintah darurat Republik Indonesia dimana banyak yang beranggapakn saat masa sulit dan gelap bangsa Indonesia diselamatkan oleh Tuhan dengan mempercayakan pimpinan perjuangan pada kalangan Islam.
Ketika syafruddin Prawiranegara menjalankan Pemerintah Darurat Indoensia dipihak lain M. Roem mengadakan perundingan dnegan pihak Belanda yang diwakili oleh Van Royen yang menghasilkan  Van Royen-Reom Statements yang berisi pengalihan pemerintahan republic Indonesia kembali ke Yogyakarta. Diadakannya KMB di Denhaag konferensi ini menghasilkan keputusan untuk memberikan kedaulatan kepada Republik Indonesia serikat akhirnya Belanda mengaku kedaulatan Indonesia.
2.      Masyumi sebagai partai pemerintah
Pada saat negara Indonesia masih berbentuk serikat M. Natsir yang pada saat itu ketua fraksi Masyumi mengajukan mosi integral yang memiliki pengaruh kembalinya Republik Indonesia ke NKRI kemudian simpatiknya Seokarno dan pada akhirnya menunjuk Natsir untuk membentuk kabinet dimana pada masa perang kemerdekaan dan diplomasi 1945-1950M tidak pernah kabinet yang dipimpin oleh Masyumi yang berakibat dalam susunan kabinet pos utama dipegang oleh Masyumi. Selanjutnya ada kabinet Soekiman  dimana mengadakan kerjasama dengan AS yang ditentang oleh politik luar negeri yang bebas aktif yang berujung dituduhnya berpihak blok barat.[10]
Formatur Natsir (Masyui) tidak dapat mememnuhi tuntutan PNI bahkan Natsir gagal mengikut sertakan PNI dalam kabinetnya. Dengan tidak adanya PNI dalam kabinet mendapat kecaman tersendiri dari kalangan Masyumi sendiri. Selain PNI dalam kabinet Natsir PKI pun tidak diikut sertakan. Dalam memimpin kabinetnya Natsir mengalami kesulitan karena banyaknya tekanan dari partai oposisi[11] yaitu partai yang memiliki wakil dalam kabinet yang banyak bernaggapan bahwa kabinet perlu wakil-wakil Islam, nasionalis, dan sosialis karena kabinet Natsir ini dapat dikatakan sebagai zaken kabinet. Pada bulan Desember 1950 PSII memutuskan untuk menarik Harsono dari kabinet dengan alasan tidak setuju dengan program kabinet selain itu pengunduran diri menteri-menteri PIR membawa persoalan baru yaitu adanya mosi Hadikusumo yang mengemukakan agar Peraturan pemerintah no. 39 tahun 1950 tentang pemilihan anggota-anggota lembaga perwakilan daerah dicabut. Mengenai mosi ini Masyumi beranggapan jika para penyokong mosi didorong oleh kurang berhasilnya partai mereka dalam pemilihan untuk lembaga perwakilan daerah yang bersangkutan.
Selain itu kendala terjadi ketidka harmonisan antara Perdana Menteri Natsir dengan Presiden Soekarno dalam menangai tentang Irian Barat. Terjadi perbedaan pendapat dalam menyikapi Irian Barat ininjika dari pihak Natsir menginginkan penyelesaian maslaah Irian Barat melalui jalur diplomasi namun dialin pihak Soekarno menginginkan permaslaahan Irian Barat diselesaikan dengan secepatnya bahkan jika perlu menggunkan cara kekerasan dan terus mendesak mengambil tindakan terhadap Belanda. Dalam keadaan yang sedikit memanas Natsir mengatakan jika dalam sisitem pemerintahan parlementer Presiden berkedudukan sebagai kepala negara. Maka diakannyalah sidang kabinet namun hasil keputusan sidang tersebut setelah pemungutan suara mayoritas anggota kabinet mendukung pendapat Natsir.[12] Peristiwa ini menimbulkan kekecewaan Soekarno yang kemudian pada perkembangan selanjutnya terjadi perselisihan antara Soekarno dan Natsir (Masyumi). damapak perselisihan atau pun perseteruan yang terus berlangsung kemudian menyebabkan Natsir mengembalaikan mandatnya kepada presiden pada 21 maret 1950.
Setelah natsir mengembalikan mandatnya kepada presiden, presiden Soekarno kemudian menunjuk dua orang formatir kabinet yaitu Sidik Djojosukarto (PNI)dan Sukiman (Masyumi). maka pada 26 April kabinet Sukiman diumumkan. Lagi-lagi Masyumi memegang pemerintahan bisa dilihat Masyumi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Meskipun begitu bukan berarti didalam tubuh Masyumi lepas dari perdebatan karena duduknya Subardjo dalam kabinet sebagai wakil Mayumi menimbulkan perdebatana karena tokoh Subardjo kurang dikenal dikalangan Masyumi. kabinet Sukiman merupakan kabinet koalisi terutama dari kalangan Masyumi dan PNI. Dalam segi program kabinet Sukiman tidak jauh berbeda dengan kabinet sebelumnya yaitu kabient Natsir. Meskipun demikina namun ada dua hal yang perlu diperhatikan masa Kabinet Sukiman. Pertama, melakukan razia dan pengisolasian terhadap PKI yang berdampak banyak tokoh dari PKI yang ditangkap dan dipenjarakan[13] kemudian yang kedua menerima bantuan militer dari Amerika Serikat melalui Mutual Security Act (MSA) banyak dari kalangan politisi yang menggagap jika kebijakan ini keluar dari politik luar negeri yang bebas aktif.[14]
 Selanjutnya pada pertengahan tahun 1951 Indonesia diundang untuk menghadiri konferensi San Fransisco tentang perjanjian perdamaian dengan Jepang delegasi Indonesia yaitu Subardjo. Hal ini menyebabkan pertikaian kembali dalam pimpinan Masyumi. Masyumi meskipun menolak kebijakan Subardjo dibawah pimpinan Sukiman yang merupakan pimpinan Musyumi tetap berada dalam kabinet dan tidak bermaksud menarik para menterinya dari kabinet namun ketika pertain-partai lain yang mulai keluar dari kabinet menyebabkan Sukiman tidak memiliki jalan lain selain mengembalikan mandatnya kepada presiden pada tanggal 23 Februari 1952.
Jatuhnya Kabinet Sukiman menarik perhatian partai-partai kembali untuk membentuk pemerintahan baru. Namun lagi-lagi soal kabinet koalisi dan zaken kabinet menjadi masalah. Pada tanggal 19 Maret presiden menjunjuk wilopo untuk menjadi formatir untuk membentuk kabinet yang kuat dengan dukungan yang cukup  luas[15]. Masyumi menunjuk Prawoto untuk duduk dalam pemerintahan. Kabinet wilopo diumumkan pada 30 Maret 1952 dan Prawoto Mangkusasmito sebagai wakil perdana menteri selain Prawoto kader Masyumi lain yang turut duduk dalam kabinet yaitu M. Roem sebagai menteri luar negeri, Moh. Sarjan sebagai menteri pertanian dan K.H. Faqih Usman sebagai menteri agama. Keempat anggota Masyumi dalam kabinet mewakili kelompok modernis dalam partai.
Kedudukan Masyumi dalam Kabinet Wilopo tidak terlalu menguntungkan bukan karena kurangnya kerjasama antara para menteri melainkan karena hubungan antara menetri dan partainya diluar kabinet terutama dengan PNI. Ini juga menyebabkan kerjasama anatar Masyumi dan PNI menjadi kurang lancar kedua partai ini merupakan pendukung Kabinet Wilopo. Pada tanggal 17 Oktober 1952 muncul peristiwa yang berawal dari konflik internal TNI Angkatan Darat[16] yang konflik ini merembes sampai parlemen yang kemudian dibahas oleh parlemen yang berakhir timbullah mosi Manai Sophian yang mengusulkan supaya diadakan reoragnisasi dan mutasi dikalangan Angkatan Perang dan kementrian pertahanan. Mosi itu diterima oleh parlemen. Dikalangan militer sendiri menolak mosi tersebut dengan alasan parlemen terlalu ikut campur masalah internal militer . kemudian pihak militer melakukan upaya dengan menekan presiden untuk membubarkan parlemen namun tuntutan itu ditolak oleh presiden. Menurut Wilopo bahwa kabinetnya jatuh karena adanya perbedaan sikap antara Masyumi dan PNI mengenai pembukaan hubungan diplomatic dengan Uni Soviet dan Peristiwa Tanjung Morawa.[17]
Sebelum Kabinet Wilopo terbentuk dalam tubuh Masyumi terdapat perbedaan pendapat dimana ada yang merasa perlu untuk memegang kursi perdana menteri dan menteri luar negeri dengan alasan sudah tradisi namun dipihak lainnya menekankan perlu untuk memberikan perhatian lebih pada permasalahan-permasalahan dalam negeri serta jika dimungkinkan kursi perdana menteri diberikan pada pihak lain. Belum lagi partai partai dalam Masyumi mulai goyah akan keyakinannya untuk tetap berada di dalam Masyumi dan menjadikan Masyumi satu-satunya partai politik umat Islam. Ini terlihat ketika akan memilih mneteri agama antara Muhammadiyah dan NU daling berlomba untuk menempati kursi tersebut diantara keduanya tidak ada yang mau mengalah maka diambillah langkah yang menjadi menetri agama dari pihak lain. Selain kursi menteri agama yang diperebutkan dalam Masyumi ada pula yang memperdebatkan siapa yang akan mewakili Masyumi dalam kabinet satu pihak ada yang menginginkan Sukiman menjadi perdana menteri namun dipihak lain menginginkan Prawoto.
Setelah Kabinet Wilopo Jatuh kegiatan politik kota tertuju kembali pada pembentukan pemerintahan baru. Masyumi  melihat perlunya kabiet yang mampu menyelnggarakan pemilu dan terdiri dari orang-orang yang mampu menyelenggarakan dan memobilisasi kekuatan serta energi yang konstruktif dari partai utnuk masyarakat umum[18]. Kabinet yang kuat akan etrbentuk jika partai-partai bersedia untuk menahan diri dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan mereka. Masyumi hanya melihat keperluan tanpa menghubungkan dengan ketentuan yang ada sehingga dapat dikatakan jika Masyumi sekedar mengemukakan keinginan dengan pendapatnya tanpa ada niat berbuat untuk melaksanakan dan memperjuangkannya.[19] Lagi-lagi kedudukan Masyumi tidak menguntungkan karena partai-partai yang bergabung dengan Masyumi seperti Perti, NU, dan PSII beranggapan jika suatu kabinet stabil tidak perlu bergantung pada Masyumi dan PNI.
Pembentukan kabinet selanjutnya melewati perjalanan panjang. Beberapa kali formatur gagal membentuk kabinet seperti formatur Mukarto[20] (PNI) yang menunjuk Jusuf Wibisono dan M. Roem dari Masyumi sebagai wakil perdana menteri namun dalam pembentukan kabinetnya mnegalami kesulitan karena dalam pemilihan personalia dan soal-soal yang dibekukan dahulu. Formatir selanjutnya Burhanudin Harahap dari Masyumi ditunjuk untuk membentuk kabinet namun lagi-lagi mengalami kesulitan yang terletak pada usaha-usaha PNI yang memperlambat kerja formatur serta tuntutan partai ini terhadap beberapa kursi dikabinet, formatir selajutnya Wongsonegroro dari PIR yang membuat cara baru dalam pembentukan kabinetnya dimana lebih menekankan pengambilan keputusan mengenai suatu masalah yang dipertikaikan pada bagai legislative buka badan eksekutif. Namun Masyumi tidak sepakat dengan cara ini karena beranggapan akan menambah kesulitan dalam kabinet dimana partai-partai tidak menyelesaikan perbedaan diantara mereka dalam tingkat kabinet.
Wongsonegoro berhasil membentuk kabinet Ali Sastroamidjojo(PNI) namun dalam kabinet ini Masyumi tidak diikutsertakan dalam pemerintahan sehingga Masyumi memutuskna untuk bertindak sebagai partai oposisi. Selama masa demokrasi Parlementer pada masa ini Kabinet Ali inilah Masyumi tidak duduk dalam pemerintahan.
Kabinet Ali tidak bertahan lama. Dalam hubungannya dengan kabinet baru Masyumi berpendapat bahwa kegiatan bukan hanya perlu ditunjukan untuk membentuknya malinkan juga untuk mengembalikan wibawa pemerintah yang merosot selama Kabinet Ali. Menurut Masyumi kabinet dikatakan carekater cabinet dengan dua tugas pokok yaitu penyelesaian masalah tentara dan menyelenggarakan pemilihan umum.[21] Kabinet Burhanuddin Harahap dilantik pada 12 Agustus 1955 kabinet ini merupakan koalisi dengan PSII, NU, PSI, dan Parkindo.[22] Kabinet Burhanuddin Harahap dalam menyelenggarakan tugasnya yang sesuai dengan pendapat Masyumi jika akan mengembalikan kewibawaan moril pemerintah termasuk Angkatan darat dan masyarakat terhadap pemerintah serta mengambil langkah-langkah untuk mengembalikan disiplin dan kesetiaan Angkatan Darat kemudian juga kabinet ini  mengambil tindakan pada mereka-mereka yang disangka terliabt korupsi selama Kabient Ali sastroamidjojo dengan menahan mereka dan membawa kepengadilan. Tugas selajutnya yang diemban oleh Kabinet Burhanuddin Harahap ini yaitu menyelenggarakan pemilihan umum. PNI beranggapa jika kabinet saat ini harus mengembalikan mandatmya pada presiden dan membentuk kabinet baru berdasarkan pemilihan umum namun usulan ini ditolak oleh Masyumi yang beranggapan pembubaran kabinet hanya akan memperkeruh suasana  dan tidak menyelesaikan masalah malah akan menambah masalah baru.
Pemilihan umum dilaksanakan pada 29 Sepetember sampai 15 desember 1955 untuk memilih wakil rakyat yang duduk dalam DPR dan konstituante. Pemilihan umum ini melahirkan empat partai besar yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI. Kedudukan Masyumi mengantarkan Masyumi sebagai partai yang sangat berperan penting dalam setiap pembicaraan yang muncul di DPR dan Konstituante. Kabinet Burhanuddin Harahap bubar pada tanggal 3 Maret 1956 sesuai dengan maksudnya setelah hasil pemilihan umum diresmikan sehingga perimbang kekuatan partai dan organisasi politik yang terpilih sudah resi diketahui. Oleh sebab itu formatur baru dapat ditunjuk oleeh presiden berdasarkan komposisi baru dalam parlemen. Sebelumnya penyerahan mandat pada tanggal 1 Maret 1956 pimpinan partai Masyumi mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa sudah  waktunya bagi kabinet untuk mengembalikan mandatnya kepada kepala negara.
Pengembalian mandat oleh Kabinet Burhanuddin Harahap. Presiden Soekarno sebelum pemilihan  umum sering mengutarakan agar kabinet koalisi dapat terbentu yang terdiri atas pihak nasionalis, Islam dan Marxis. Hal ini ditolak keras oleh Masyumi yang bernaggapan jika komunis dalam kabinet akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk merebut kekuasaan guna mendirikan pemerintahan diktaktor seperti yang tergambar dinegara-negara komunis. Masyumi juga menolak simaptisan PKI untuk duduk dalam kabinet hal ini disebabkan oleh pempinan Masyumi berusaha mengembalikan kerja sama antara partai-partai Islam serta kekuatan-kekuatan nonkomunis atau antikomunis didalam kabinet, parlemen, serta masyarakat umumnya sehingga tidak ada pilihan lain selain mengisolasi PKI.[23] Pada tanggal 8 Maret 1956, presiden menunjuk Ali Sastroamidjojo untuk membentuk kabinet. Maka Ali melakukan musyawarah dengan berbagai partai termasuk Masyumi yang kemudian sepakat untuk tidak berkoalisi dengan PKI bahkan Masyumi menolak berkoalisi dengan orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan atau segala sesuatu yang berbau komunis.[24]
Ali sastroamidjojo berhasil membentuk kabinet koalisi terutama antara PNI, Masyumi, dan NU. Jika pada kabinet Ali I Masyumi tidak diikutsertakan dalam pemerintahan berbeda dengan itu dalam Kabinet Ali II Masyumi diikut sertakan dalam pemerintahan dengan wakil Masyumi yaitu Yusuf Wibisono sebagai menteri keuangan, Prof. Dr. Mulyanto sebagai menetri kehakimanan, Suchar Tejakusuma sebagai menetri perhubungan dan Ir. Pangeran Moch Noer sebagai menteri pekerjaan umum dan tenaga. Presiden Soekarno melihat susunan keanggotaan Kabinet Ali Sastroamidjojo merasa kecewa karena PKI tidak diikutsertakan dalam pemerintahan seperti yang diharapkan presiden sebelumnya. meskipun dnegan berat hati karena PKI tidak ikutserta dalam pemerintahan akhirnya 24 Maret 1956[25] presiden melantik Kabinet Ali II. Pada masa Kabinet Ali II terdapat perbedaan yaitu kebijaksanaan kepegawaian, politik laur negeri dan masalah tentara yang dimana konflik atau masalah tentara ini semakin keras dengan munculnya dewan daerah yang dapat menimbulkan pergolakan didaerah-daerah. Perdana Menteri Ali mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah ini maka presiden turut ikut campur dalam urusan pemerintahan.
Desitegrasi kekuasaan pemerintah pusat di daerah menarik perhatian Masyumi. kebijaksaan pimpinan pusat Masyumi mendapat persetujuan kongres tetapi kongres juga memberikan resolusi agar kabinet tidka dapat dipertahankan sebagai akibat dari persoalan daerah. Pimpinan Masyumi sendiri sebenarnya ragu akan resolusi tersebut karena ini bukan persoalan mengenai jatuhnya kabinet tapi apa yang perlu diperbuat dalam rangka mengatasi masalah yang kian memuncak.  Tetapi karena keputusan kongres telah diterima sehingga tidak ada jalan lain bagi Masyumi untuk menjalankan resolusi tersebut. Namun tidak dilakukan dengan langsung sekaligus melainkan dengan cara bertahap dimana awalnya Masyumi mengajar partai-partai lain untuk berkumpul dan membicarakan mengenai membubarkan kabinet dan menggantinya dengan kabinet baru. Namun partai-partai lain tidak langsung mneyetujui akan usulan tersebut yang masih beranggapan jika kabinet ini digulingkan akan menjadi pukulan besar seakan-akan tidak memilki kekuatan untuk menyelesaikan masalah sehingga perlu untuk melarikan diri. Dipihak lain Masyumi merasa kurang memberikan bantuan dalam masalah yang ada kecuali menganjurkan membubarkan kabinet.[26]
Melihat kondisi tersebut Masyumi tidak mampu bertangguh lain selain menarik para mennterinya dari kabient pada tanggal 9 Januari 1957. Alasan Masyumi menarik menetrinya dari pemerintahan karena Masyumi tidak mau bertanggung jawab atas politik penyelesaian peristiwa-peristwa di Sumatera. Hal ini disampaikan Sukiman di parlemen pada tanggal 21 Januari 1957.[27] Masyumi menilai bahwa pemerintah tidak lagi memilki kemapuan utnuk memperbaiki keadaan. Diantara partai Islam hanya Perti yang menarik menterinya dari pemerintahan. Maka Kabinet Ali Sastromidjojo mrlanjutkan masa kerjanya tanpa Masyumi dan Perti. Keluarnya Masyumi dari kabinet maka berakhirlah peran Masyumi dalam pemerintahan. Sejak saat itu Masyumi tidak lagi memilki peranan yang berarti dalam pemerintahan samapai demokrasi terpimpin.  Akhinrya kabinet menyerahkan mandatnya pada 14 Maret. Presiden Sukarno menggunakan kesempatan ini untuk lebih muncul kepermukaan merupakan symbol dan masih bersifat konstitusional. Maka kabinet parlementer praktis berakhir.[28]
Seperti yang telah diuraikan diatas bagaimana sikap politik Masyumi dalam pemerintahan yang selalu berubah-ubah jika pada kabinet sebelumnya berlaku sebagai kabinet pendukung penuh bersama PNI namun pada kabinet selanjutnya bisa saja berganti menjadi oposisi. meskipun dapat dikatakan Masyumi mengalami puncak kejayaan dalam pemerintahan masa parlementer  yang berhasil menempatkan kadernya pada puncak pimpinan pemerintahan seperti M.Natsir, Sukiman, dan Burhanuddin Harahap dimana Masyumi menjadi salah satu partai besar yang memilki pengaruh yang cukup besar dalam pemerintahan.
3.      Masyumi menjadi partai yang termarjinalkan
Masa permulaan Demokrasi Terpimpin tahun 1957 mencatat Masyumi bukan saja tambah ranggang dan asing dengan Presiden Sukarno tapi juga tambah bertentangan dengan presiden. Dengan Natsir sebagai ketua umum partai
Masyumi sebagai partai oposisi dimana transisi dari demokrasi parlementer ke demokrasi terpimpin peran masyumi dalam pemerintahan berkurang akibatnya masyumi menempatkan diri sebagai partai oposisi yang tentunya Masyumi mengawasi jalannya pemerintahan. Soekarno menunjuk dirinya sebagai formatur kabinet pada 4 April 1957 yang bertugas untuk membentuk Zaken Kabinet kemudian membentuk Kabinet Karya yang dipimpin oleh PM Juanda yang ditentang Masyumi Karena pembentukan zaken kabinet adalah suatu pelanggaran dimana melanggar UUDS yang masih berlaku, tata tertib ketatanegaraan dan norma-norma demokrasi. Ketika Kabinet Karya menyampaikan program kerjanya ke DPR,  Fraksi Masyumi dengan juru bicara Mr. Burhanuddin Harahap menilai prosedur pembentukan kabinet tidak proporsional dan masih simpang siur. hal ini menunujukan bahwa  Masyumi enggan untuk berkompromi dengan kebijakan Soekarno dalam pembentukan kabinet karya. Masyumi menolak konsepsi presiden baik materi dan pelaksanannya maupaun alasan-alasannya.[29] Masyumi tidak menolak konsepsi presiden tetapi juga menolak demokrasi terpimpin.
Garis kepemimpinan Natsir tidak sepenuhnya didukung oleh anggota Masyumi lannya bahkan sering terjadi perbedaan dengan kelompok Sukiman. Para rokoh muda menganggap Natsir lebih dekat dengan pemimpin-pemimpin yang kebarat-baratan ketimbang dengan tokoh-tokoh Islam. Meskipun suara-suara pemuda tidak begitu memiliki peran yang dampaknya langsung dapat dirasakan. Anggota-anggota istimewa Masyumi umumnya bersimpati dengan Natsir walaupun Natsir sendiri yang meninggalkan Masyumi dengan bergabung dengan PRRI.[30] Tahun-tahun 1959-1961 tahun-tahun yang menimbulkan ketegangan bagi Masyumi dimana untuk menyelamatkan anggota-anggota istimewa, partai Masyumi mnegambil tindakan melepaskan mereka dari ikatan partai. Misalnya ketegangan dalam lingkungan pimpinan Masyumi sendiri yang bergabung dengan PRRI ketegangan ini kian terasa ketika para pemuda  yang menyokong konsepsi Sukarno mulai gencar melancarkan intimidasi dan teror terhadap pemimpin yang menolak konsepsi Sukarno tersebut hal ini menjadikan pemimpin menjadi salah satu incarannya karena seperti yang telah dijelaskan diatas jika Masyumi salah satu partai yang keberatan dengan konsepsi Sukarno.
Masyumi berada pada situasi yang rumit dengan adanya anggota yang bergabung dengan PRRIdisatu pihak Masyumi tetap menginginkan dalam menapai tujuannya dengan cara damai an demokratis tidak dengan pemberontakan yang merupakan pelanggaran  terhadap konstitusi dan demokrasi namun dipihak lain Masyumi beranggapan jika Presiden Sukarno dan pemerintah pusat telah melanggar UUD. penunjukan dirinya sendiri sebagai formatur 1957 menyebabkan presiden melanggar kebiasaan dalam proses pembentukan pemerintahan menurut demikrasi parlementer seperti yang telah ditentukan UUDS 1950.
Dengan perginya Natsir dari Jakarta terutama keterlibatannya dengan PRRI pimpinan Masyumi jatuh Prawoto Mangukusumo bukan pada Sukiman meskipun Sukiman lebih senior dan merupakan wakil ketua umum I namun dalam hal ini partai mempercayakan pimpinan Masyumi pada pawoto karena dikhawtirkan jika pimpinan Masyumi jatuh pada Sukiman maka Sukiman akan mengambil jalan lain untuk berundingan dengan Sukarno disituasi ini dimana Masyumi tidak posisi untuk duduk bersama dengan Sukarno yang pada sebelumnya telah terjadi ketegangan-ketegangan diantara keduanya. Dengan menolak ide presiden untuk kembali ke UUD 1945, Prawoto mengatakan bahwa motivasi pemerintah adalah pelaksanaan demokrasi terpimpin sedangkan Masyumi tetap menginginkan mempertahankan mengembangkan demokrasi.[31]
Kemudian setelah UUD 1945 berlaku dan Presiden Sukarno menjadikan penetapan presiden sebagai undang-undang biasa. Hal ini lagi-lagi bertentangan dengan Masyumi karena dianggap melanggar UUD kembali karena melanggar semangat proklamasi Indonesia. Penetapan presiden pasal 9 sperti ditujukan untuk Masyumi dimana dalam penpes tersedbut berisi mengenai pembubarandan pelarangan partai yang sedang melakukan pemberontakan dan pemimpin-pemimpinnya turut serta dalam pemberontakan atau hanya sekedar memberkan bantuan, sedangkan partainya tidak dengan resmi menyalahkan anggotanya yang bergabung dengan pemberontakan tersebut. Ini jelas seperti ditujukan untuk Masyumi mengingat ada pimpinan Masyumi yang bergabungan dengan PRRI.  Semenjak tahun 1950-an sedah terdengar suara-suara sumbang mengenai keluarnya Muhammadiyah dari Masyumi dan mendirikan partai politk namun keinginan tersebut kalah karena banyak yang menginginkan Muhammadiyah tetap sebagai organisasi sosial lagi pula aspirasi Muhammadiyah terlah tersalurkan melalui Masyumi. sehingga banyak anggota parlemen Masyumi yang berasal dari Muhammadiyah. Diantara partai-partai Islam di Indonesia tiga partai yaitu NU,PSII, dan Perti berhasil berhasil bertahan selama periode demokrais terpimpin. Ketiga partai yang terus berkerjasama dengan Masyumi dikonstituante sampai bubarnya tahun 1959 akibat dari pendekritan UUD 1945.[32]
Ketiga partai Islam tidak menaruh perhatiannya pada cita-cita Islam bila memasuki praktik-praktik politik ataupun keadaan yang makin lama menrasakan dampak kemerosotan ekonomi akibat inflasi. Salah satu yang menjadi perhatian NU,PSII dan Perti tentang Islam adalah mengenai pendidikan agama. Pembukaan Institut Agama Islam Indonesia pada tahun 1960  merupakan usaha ketiga partai terutama NU. Meskipun dalam pengelolaannya diserahkan pada departemen agama. Dengan adanya pendirian IAIN merupakan peranan yang sangat terbatas yang dapat dilakukan oleh NU atas nama umat Islam dimana meskipun NU memilki pengikut yang banyak dari pada PSII dan Perti namun NU tidak berhasil memperluas pengaruhnya kekalangan bukan NU. Perti setelah diam beberapa lama muncul kembali kepermukaan mungkin dikarenakan pemimpin derahny banyak yang keterlibat dalam pemeberontakan PRRI tahun 1958 dngan menyesuaikan diri dengan situasi politik demokrasi terpimpin.
Partai Masyumi terus mencurigai pelaksanaan demokrasi terpimpin mengingat Sukarno membentu kabinet karya yang jelas-jelas bertentangan dengan UUDS yang masih berlaku.[33] Ketika pemerintah mengajukan RAPBN di DPR, Fraksi masyumi menolaknya sehingga DPR menolaknya akibat penolakan itu DPR dibubarkan Prsiden Soekarno pada 1960. Setelah DPR dibubarkan maka praktis peran politik Masyumi tidak lagi bisa menjadi oposisi karena DPR dibubarkan. Konsekuensi dari sikap oposisi itu yang mengantarkan Partai Mayumi dibubarkan Presiden Soekarno pada bulan Agustus 1960.[34]
Masyumi mengalami masa-masa yang sulit lagi setelah kelauarnya penetapan presiden pilihan mana yang akan diambil oleh Masyumi antara memubarkan diri, dibubarkan atau menjadi partai terlarang. Banyak pemikiran yang muncul sebab ini akan menjadi suatu pilihan hidup para anggotanya jika menjadi partai terlarang apa yang akan dihadapi oleh Masyumi akankah bertemu bahaya dan banyak kesulitan para pemimpin partai terlarang tidak mungkin membawa persoalan yang kemunkinan akan muncul pengadilan, tetang keselamatan anggota Masyumi dan harta benda milik Masyumi  bagai mana kelanjutannya jika penyelidikan dilakukan disetiap kantor Masyumi bahkan rumah milik pribadi.
Telah dikatakan diatas jika penetapan presiden no 7 tahun 1959 diarahkan untuk membubarkan Masyumi. Kemudian pimpinan Masyumi dan PSI dipanggil ke Istana Merdeka untuk mejawab apakan Masyumi dan PSI terkena padal 9 dai penpres no 7 tahun 1959. Dengan tegas pimpinan Masyumi menyatakan tidak terkena pasal tersebut. Meskipun pimpinan MAsyumi telah mempersiapkan jawaban atas alasan-alasan mengenai Masyumi tidak terkena penpres no 7 tahun 1959 tersebut namun sertinya Sukarno tidak tertarik dengan jawabannya karena menganggap jika Masyumi dibiarkan tetap ada maka akan menjadi penghalang jalannya dmeokrasi terpimpin dan mengancam kekuasaan Sukarno.
Buah dari jawaban yang diberikan pimpinan Masyumi maka keluarlah keputusan presiden no 200 tahun 1960 tentang pembubaran partai Masyumi sehingga ini menjadi tekanan yang luar biasa pada Masyumi. pembubaran bukan saja pukulan telak bagi partai Masyumi secara organisasi namun juka menimbulkan tekanan psikologis bagi anggota Masyumi.[35] Maka pimpinan pusat Masyumi mengadakan rapat guna menanggapi keputusan presiden yang berisi pembubaran partai Masyumi. Setelah perjalanan panjang dan mempertimbangkan baik dan buruknya serta segala kemungkinan telah dipertimbangkan dengan betul-betul kemduian telah dimusyawarahkan dengan anggota-anggota baik yangada di pusat maupun didaerah-daerah diajak duduk bersama guna menentukan sikap apa yang akan di ambil oleh Masyumi. Maka keluarlah keputusan untuk membubarkan diri tetapi dengan tetap memperjuangkan hak-hak Masyumi melalui jalur hukum. Sikap ini diambil untuk menghindari Masyumi sebagai partai terlarang karena jika sampai itu terjadi maka akan menimbulkan kerugian bagi Masyumi sendiri dengan pembubaran saja sudah sangat merugikan Masyumi namun Masyumi tidak dihadapkan pada pilihan lainyang lebih baik sleain membubarkan diri.
Bagi partai Masyumi yang bubar pada tahun 1960 mengenai kaderisasi yang lemah dan ditambah lagi dengan pembubaran partai. Praktis tidak dapat memiliki kesempatan untuk memupuk kalangan muda dengan sengaja dan mekanisme untuk itu pun tidak terwujud, mereka kalangan muda ini mencari jalan sendiri-sendiri dengan mereka dari kalanagn tua yang telah memiliki banyak pengalaman. Dalam masa demokrasi etrpimpin untuk dapat bertahan hidup saja secara politik dan ekonomi telah menghabiskan banyak waktu. Belum lagi dihitung tekanan yang timbul secara politik serta tercermin dari berita-berita tahanan politik.
Hal yang sangat memberi pengaruh bagi perkembangan dan peranan kalangan Islam dalam politik selama demokrasi terpimpin adalah banyaknya para pemimpin yang ditahan dan dipenjarakan . yang tidak turt dalam pemberontakan PRRI rupanya tidak sertamerta merasakan udara segar. Pada tahun 1962 mereka mulai ditahan seperti Prawoto Mangunkusumo, M. Roem, M. Yunan Nasution, Isa Ansari, Hamka, Ghazali sjahlan, Jusuf Wibisono, Kasman Singodimedjo, A. Mukti serta S.Soemarsono.[36] Banyak diantaranya disiksa dengan sangat tidak manusiawi hingga berhari-hari untuk mengakui atas apa yang tidak mereka lakukan. Misalnya Ghazali Sjahlan yang dituduh terlibat dalam rapat gelap di Tangerang seperti Jusuf WIbisono dengan tuduhan yang sama dan sama sama dibawa ke sekolah kepolisian di Sukabumi. Akibat dari tuduhan itu Gjazali Sjahlan disiksa dengan diperiksa berhari-hari dengan diselingi waktu salat dan makan. Ia disuruh jongkok dan berdiri dengan tangak ketelinga bahkan ia disuruh melepaskan pakaiannya sebatas kolor  dan kemusian distreum arus listrik pada mulut tangan dan kemaluannya dengan pemeriksaan dan penyiksaan yang sedemikian rupa maka Ghazali Sjahlan memutuskan untuk mengakui tuduhan  meskipun ia tidak melakukannya namun ia mengakui bukan karena melakukan tapi agar lepas dari siksaan yang bertubi-tubi.














DAFTAR PUSTAKA
Faith,Herbert.1973. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Ithaca and London: Cornell University Press
Sastroamidjojo,Ali.1974. Tonggak-Tonggak di Perjalananku.jakarta:PT. Kinta.
Noer, Deliar. 2000.Partai Islam di Pentas Nasional Kisah dan Analisis Perkembangan Politik Indonesia 1945-1965. Bandung: Mizan.
Siregar, Insan Fahmi. 2013.Partai Masyumi Dalam Dinamika Demokrasi di Indonesia. Semarang: WIdya Karya Semarang.
Soerjomihardjo, Abdurrahman dan JR. Chaniago. 1990.Pemerintah Darurat Indonesia Dikaji Ulang. Jakarta : MSI,
Busyairi, budruzzaman.1985. Catatan Perjauangan H.M. Yunan Nasution. Jakarta: Pustaka Panjimas.



[1] Deliar Noer. Partai-partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965. Jakarta: Grafiti Press, 1987, hlm 49-50.
[2] Musthafa Kamar Pasha. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta:LPPI hlm 92-100
[3] Deliar Noer. Partai-partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965. Jakarta: Grafiti Press, 1987, hlm 163
[4] Insan Fahmi. Partai Mayumi Dalam Dinamika Demokrasi di Indonesia. Semarang:Widya Karya.2012 hlm 43
[5] Deliar Noer. Ibid. hlm 177
[6] Deliar Noer. Ibid. hlm 176
[7] Deliar Noer. Ibid. hlm 182
[8] Insan Fahmi.  Ibid hlm 45
[9] Soemihardjo, Abdurahman dan JR. Chaniago. Pemerintah darurat Indonesia Dikaji Ulang. Jakarta : MSI., 1900, hlm 44
[10] Ahmad Mansur Suryanegara.Api-Api Sejarah 2.Bandung : Salamadani hlm 315-335
[11] Insan Fahmi. 2012Partai Mayumi Dalam Dinamika Demokrasi di Indonesia. Semarang:Widya Karya. hlm 47
[12] Herbert Feith. 1973. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Ithaca and London: Comell University Press hlm 150
[13] Faith,ibid hlm 180
[14] Insan Fahmi. Ibid hlm 49
[15] Deliar. Ibid hlm. 237
[16] Insan Fahmi. Ibid hlm 49
[17] Insan Fahmi. Ibid hlm 50
[18] Deliar. Ibid hlm. 243
[19] Deliar. Ibid hlm. 243
[20] Deliar. Ibid hlm. 246
[21] Deliar. Ibid hlm. 259
[22] Insan Fahmi. Ibid hlm 50
[23] Deliar. Ibid hlm. 266
[24] Sastroamidjojo,Ali. 1974 Tonggak-tonggak di Perjalananku. Jakarta:PT. Kinta, hlm 339-341
[25] Sastroamidjojo,ibid  hlm 342-346
[26] Deliar. Ibid hlm. 270
[27] Sastroamidjojo. Ibid 366-367
[28] Deliar. Ibid hlm. 272
[29] Busyairi, budruzzaman.1985. Catatan Perjauangan H.M. Yunan Nasution. Jakarta: Pustaka Panjimas.hlm 242-245
[30] Deliar. Ibid hlm. 398
[31] Deliar. Ibid hlm. 409
[32] Deliar. Ibid hlm. 417
[33] Insan Fahmi. Ibid hlm 54
[34],Insan Fahmi. Ibid hlm 53
[35] Insan Fahmi. Ibid hlm 115
[36] Deliar. Ibid hlm. 446

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...