About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Friday, 7 June 2019

PERJUANGAN FISIK UNTUK MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI DAERAH MEDAN DAN BANDUNG



PERJUANGAN FISIK UNTUK MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI DAERAH MEDAN DAN BANDUNG

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Revolusi Indonesia
Dosen Pengampu : Insane Fahmi Siregar, S.Ag., M.Hum
Kelompok 0 :
1. Dita Desiana Saputri  (3101412060)
3.Yoko Supriyanto        (3101412070)
4. Rizky Amalia            (3101412080)
4. N.Mariska Apriliani  (3101412100)

PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara yang begitu dikenal karena peristiwa sejarahnya,berhubungan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia.Peristiwa-peristiwa sejarah menuju kemerdekaan Indonesia,meliputi masa sebelum penjajahan, masa penjajahan,sampai pada masa kemerdekaan.
Periode perjuangan antara tahun 1945 sampai tahun 1949 disebut dengan masa perjuangan revolusi fisik.Setelah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia perjuangan bangsa indonesia belum berhenti,karena masih harus menentukan arah perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan[1]. Hal tersebut terlihat dari sikap Jepang yang masih berusaha melakukan perlawanan terhadap Indonesia.Kondisi keamanan Indonesia bahkan mulai tidak stabil, terutama setelah kedatangan pasukan sekutu dibawah pimpinan Inggris yang mendarat di Jakarta 29 Sepetember 1945, tepat saat bangsa Indonesia merebut kekuatan militer dan sipil dari tangan Jepang[2].
Bagi bangsa Indonesia kedatangan NICA adalah ancaman.Oleh karena itu Perlawanan segera dikobarkan di berbagai daerah.Pada masa inilah muncul peristiwa-peristiwa.Diantaranya adalah peristiwa pertempuran 10 November 1945 sampai peristiwa Bandung lautan api Maret 1946. Peristiwa yang terjadi pada masa kemerdekaan adalah sebuah sejarah tidak akan bisa lepas begitu saja dari identitas negara tersebut, salah satu faktor yang membuat sebuah sejarah di Indonesia tidak akan luntur, hilang, dan dilupakan adalah sikap nasionalisme dari seluruh warga negara Indonesia itu sendiri.
2.      Rumusan Masalah
A.       Pertempuran Medan Area
1)      Bagaimana latar belakang terjadinya Pertempuran Medan Area?
2)      Bagaimana proses terjadinya Pertempuran Medan Area?
3)      Bagaimana dampak dari berakhirnya Pertempuran Meda Area?

B.     Bandung Lautan Api
1)      Bagaimana latar belakang terjadinya Bandung Lautan Api?
2)      Bagaimana proses terjadinya Bandung Lautan Api?
3)      Bagaimana dampak dari berakhirnya Bandung Lautan Api?

C. Tujuan Penulisan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.Tujuan umum adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah   Sejarah Revolusi yang diampau bapak Insane Fahmi Siregar, S.Ag., M.Hum dan untuk menambah bahan bacaan bagi mahasiswa khususnya jurusan Sejarah prodi pendidikan Sejarah dalam rangka membantu mempelajari dan memahami tentang usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia di berbagai daerah, penulisan makalah ini diarahkan untuk menambah keilmuan tentang media pembelajaran diantaranya:
1. Untuk  mengetahui tentang perjuangan fisik untuk mempertahankan kemerdekaan indonesia di daerah medan dan bandung
2. Untuk mengetahui apa saja latar belakang , proses terjadinya dan dampak yang terjadi dari pertempuran Medan Area dan Pertempuran Bandung Lautan Api.






BAB II
PEMBAHASAN

1.      PERTEMPURAN MEDAN AREA
a)      Latar Belakang Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 24 Agustus 1945,pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan dengan nama Civil Affairs Agreement.Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas pemerintah Belanda.Proklamasi Kemerdekaan baru dilakukan di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945.Untuk membantu pengamanan daerah Provinsi Sumatera, pada tanggal 7 Oktober 1945, dua hari setelah Presiden Sukarno membubarkan BKR dan memerintahkan pembentukan TKR.
Pasukan sekutu tiba di Sumatera Utara yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal T. E. D. Kelly dengan instruksi untuk mengawasi persiapan pendaratan pasukan Sekutu di Medan.Akan tetapi,sekutu malah membentuk Medan Batalyon KNIL, yang terdiri atas seluruh tawanan yang telah dibebaskan dan dipersenjatai. Tanggal 18 Oktober, Brigjend Kelly mengeluarkan ultimatum bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata dan harus meny­erahkan semua daftar senjata api yang dimilikinya kepada Sekutu. Sejak tentara Inggris melakukan razia kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar.Mayor Jendral Chambers, menegaskan Pasukan Jepang diberikan kekuasaan untuk mengamankan daerah daerah disumatera dan Inggris menandai secara sepihak wilayah kekuasaannya dengan memasang tulisan “Fixed Boundaries Medan Area”
b)     Jalannya Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area dimulai tanggal 13 Oktober 1945, setelah pasukan Inggris sampai di Medan, meledak suatu konflik bersenjata. Dalam peristiwa itu timbul korban sebagai berikut : 1 orang opsir  yaitu Letnan Goeneberg dan 7 orang serdadu NICA meninggal. Beberapa warga negara Swiss luka dan meninggal, dan 96 orang serdadu NICA luka-luka termasuk seorang laki-laki sipil dan 3 orang wani­ta.
tanggal 16 Okto­ber 1945,sebelumnya terjadi peristiwa Siantar Hotel, menyerang gudang senjata Jepang di Pulo Brayan untuk memperkuat persenjataan. Setelah melakukan serangan terhadap gudang perbekalan tentara Jepang, Bedjo dan pasukannya kemudian menyerang Markas Tentara Belanda di Glugur Hong dan Halvetia, Pulo Brayan.
Untuk menindaklanjuti intruksi itu pada bulan Maret 1946 pasukan Sekutu/Inggris kembali melakukan razia ke basis-basis laskar rakyat di sekitar Tanjung Morawa. Barisan Pelopor dan Laskar Napindo yang berada berada di daerah ini kemudian mencegat pasukan Inggris sehingga terjadi baku tembak. Pertempuran kemudian berkobar selama dua hari  dan akhirnya pasukan Inggris menarik pasukannya dari Tanjung Morawa. Namun demikian pasukan sekutu terus melakukan razia di dalam kota. Akibatnya pada pertengahan April 1946, Markas Divisi IV berserta seluruh stafnya dan Kantor Gubernur Sumatera dan semua jawatan-jawatannya pindah ke Pematang Siantar.
Sejak pindahnya Komando Militer dan Pemerintahan Republik ke Pematang Siantar pasukan Inggris setiap hari melancarkan serangan ke kubu-kubu TRI dan Laskar Rakyat di sekitar Medan Area. Pada akhir bulan Mei, selama satu minggu mereka menggempur habis kampung-kampung di sekitar kota Medan. Akibat serangan itu tentu saja membuat penduduk sipil mengungsi ke luar kota, seper­ti ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sebagainya. Kampung-kampung seperti Sidodadi, Tempel, Sukaramai, Jalan Antara, Jl. Japaris, Kota Maksum, Kampung Masdjid, Kampung Aur, Sukaraja, Sungai Mati, Kampung Baru, Padang Bulan, Petisah Darat, Petisah Pajak Bundar, Kampung Sekip, Glugur, dan sebagai­nya menjadi sepi. Meskipun demikian Inggris tidak leluasa bergerak ke luar kota, karena laskar rakyat dan TRI siap menghadangnya.
Sampai akhir bulan Juli 1946 pasukan republik yang bertempur di Medan Area bergerak tanpa komando. Karena itu pada bulan  Agustus 1946 dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (K.R.L.R.M.A.). Kapten Nip Karim dan Marzuki Lubis dipilih sebagai Komandan dan Kepala Staf Umum. KRLMA membawahi laskar Napindo, Pesindo, Barisan Merah, Hisbullah, dan Pemuda Parkindo. Setiap pasukan disusun dalam formasi batalion yang terdiri dari empat kompi.  Medan Area dibagi dalam empat sektor dan tiap sektor terdiri atas dua sub-sektor. Markas Komando ditempatkan di Two Rivers (Treves).
Dalam pada itu Belanda mulai mengarah­kan kekuatan militernya ke Sumatera dalam rangka mengaman­kan sumber ekonomi yang vital di Sumatera Timur. Untuk  itu, maka pada awal bulan Oktober 1946 satu batalion pasukan bersen­jata dari negeri Belanda mendarat di Medan. Beberapa hari kemudian diikuti dengan satu batalion KNIL dari Jawa Barat. Gerakan militer pasukan Belanda ini tidak bisa dilepaskan dengan adanya rencana Inggris yang ingin sece­patnya meninggalkan Indonesia. Semua instasi penting yang ada di Medan Area segera diserahkan kepada Komandan Mili­ter Belanda. Pasukan Belanda kemudian mengambil alih semua tugas penyerangan terhadap pangkalan militer Republik di sekitar Medan Area. Unit-unit militer Republik, baik TRI maupun laskar rakyat segera bereaksi menanggapi pengambi­lalihan Belanda dan mulai meningkatkan serangannya terha­dap patroli-patroli Belanda maupun Inggris. Hingga akhir tahun 1946, berbagai bentrokan fisik antara kekuatan militer Republik dengan Belanda terus terjadi di segala front Medan Area.
Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah dan KRIRMA pada 10 Oktober 1941 disetujui untuk mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan direbut di Medan Timur adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat ialah Padang Bulan, Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah kota Matsum yang akan jadi sasarannya. Rencana gerakan ditentukan, pasukan akan bergerak sepanjang jalan Medan-Belawan. Hari "H" ditentukan tanggal 27 Oktober 1946 pada jam 20.00 WIB, sasaran pertama Medan Timur dan Medan Selatan. Tepat pada hari "H", batalyon A resimen laskar rakyat di bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung Sukarame, sedangkan batalyon B menuju ke Kota Matsum dan menduduki Jalan Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan Barat batalyon 2 resimen laskar rakyat dan pasukan Ilyas Malik bergerak menduduki Jalan Pringgan, kuburan China dan Jalan Binjei.

Sedangkan beberapa waktu yang lalu, pihak Inggris telah menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada saat sebagian pasukan Inggris bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh pasukan Belanda, pasukan kita menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-batalyon resimen Laskar Rakyat Medan Area rupanya tercium oleh pihak Inggris/Belanda. Daerah Medan Selatan dihujani dengan tembakan mortir. Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil menghentikannya. Sementara itu Inggris menyerang seluruh Medan Selatan. Pertempuran jarak dekat berkobar di dalam kota. Pada keesokan harinya Kota Matsum bagian timur diserang kembali. Pasukan Inggris yang berada di Jalan Ismailiah berhasil dipukul mundur.
Sementara pertempuran berlangsung, keluar perintah pada 3 November 1946, gencatan senjata diadakan dalam rangka penarikan pasukan Inggris dan pada gencatan senjata itu dilakukan, digunakan untuk berunding menentukan garis demarkasi. Pendudukan Inggris secara resmi diserahkan kepada Belanda pada tanggal 15 November 1946. Tiga hari setelah Inggris meninggalkan Kota Medan, Belanda mulai melanggar gencatan senjata. Di Pulau Brayan pada tanggal 21 November, Belanda merampas harta benda penduduk dan pada hari berikutnya Belanda membuat persoalan lagi dengan menembaki pos-pos pasukan laskar di Stasiun Mabar, juga Padang Bulan ditembaki.
Pihak laskar membalas. Kolonel Schalten ditembak ketika lewat di depan pos Laskar. Belanda membalas dengan serangan besar-besaran di pelosok kota. Angkatan Udara Belanda melakukan pengeboman, sementara itu di front Medan Selatan di Jalan Mahkamah kita mendapat tekanan berat, tapi di Sukarame gerakan pasukan Belanda dapat dihentikan.
Pada tanggal 1 Desember 1946, pasukan kita mulai menembakkan mortir ke sasaran Pangkalan Udara Polonia dan Sungai Mati. Keesokan harinya Belanda menyerang kembali daerah belakang kota. Kampung Besar, Mabar, Deli Tua, Pancur Bata dan Padang Bulan ditembaki dan dibom. Tentu tujuannya adalah memotong bantuan logistik bagi pasukan yang berada di kota. Tapi walaupun demikian, moral pasukan kita makin tinggi berkat kemenangan yang dicapai.
Karena merasa terdesak, Belanda meminta kepada pimpinan RI agar tembak-menembak dihentikan dengan dalih untuk memastikan garis demarkasi yang membatasi wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan adanya demarkasi baru, pasukan-pasukan yang berhasil merebut tempat-tempat di dalam kota, terpaksa ditarik mundur. Kemudian mengadakan konsolidasi di Two Rivers, Tanjung Morawa, Binjai dan Tembung, mereka diserang oleh Belanda. Pertempuran berjalan sepanjang malam. Serangan Belanda pada tanggal 30 Desember 1946 ini benar-benar melumpuhkan kekuatan laskar kita. Daerah kedudukan laskar satu demi satu jatuh ke tangan Belanda. Dalam serangan Belanda berhasil menguasai Sungai Sikambing, sehingga dapat menerobos ke segala arah.
Perkembangan perjuangan di Medan menarik perhatian Panglima Komandemen Sumatera. Ia menilai bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Resimen Laskar Rakyat Medan Area ialah karena kebijakan sendiri. Komandemen memutuskan membentuk komando baru, yang dipimpin oleh Letkol Sucipto. Serah terima komando dilakukan pada tanggal 24 Januari 1947 di Tanjung Morawa. Sejak itu pasukan-pasukan TRI memasuki Front Medan Area, termasuk bantuan dari Aceh yang bergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area. Membuka awal tahun 1947, dibentuk “Komando Medan Area” (KMA) yang dipimpin langsung oleh perwira tinggi TRI, dan mengambil alih pimpinan operasi di front Medan Area dari tangan Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA). Resimen Laskar Rakyat Medan Area  dibu­barkan. KMA kemudian melancarkan serangan yang dikenal dengan “Operasi 15 Februari 1947.”    Operasi militer tanggal 15 Februari itu merupakan operasi besar-besaran yang pertama di Medan Area, yang melibatkan kekuatan TRI dan Laskar Rakyat. Di sektor Barat dan Utara, dikerahkan pasukan TRI Divisi Gadjah II, pasukan Resimen Istimewa Medan Area (RIMA), dan dibantu oleh laskar rakyat yang berada di sektor tersebut. Opera­si di sektor itu dipimpin oleh Mayor Hasan Achmad, Koman­dan RIMA. Di sektor selatan dikerahkan pasukan-pasukan dari Resimen I, II, III Divisi Gadjah II Sumatera Timur dan dibantu oleh Laskar Rakyat Medan Selatan. Operasi di sektor tersebut dipimpin oleh Mayor Martinus Lubis, Koman­dan Batalion I Resimen II Divisi Gadjah II.
Dalam pertempuran tanggal 14-15 Februari, disamping gugurnya Komandan Batalion I Resimen II Divisi Gadjah II TRI, lebih dari 100 orang anggota laskar dan TRI menderi­ta luka berat dan ringan. Pertempuran itu juga telah menelan korban 17 orang penduduk sipil tewas dan 50 orang lainnya menderita luka-luka. Di sisi lain, sebanyak 70 buah rumah musnah terbakar. Di pihak Belanda telah gugur dalam pertempuran itu sebanyak 35 orang dan lebih 60 orang lainnya menderita luka-luka. Sebuah Mustang dan tiga buah pipercub mengalami kerusakan hebat dan sebuah tank brengun carrier rusak dan terbakar terkena granat di Jalan Mahka­mah. Di Sukaramai, sebuah panser dapat dirampas oleh laskar rakyat dan pengemudinya mati terbunuh dan lima kenderaan  militer lainnya hancur. Dalam pertempuran itu, sebanyak dua kali lapangan terbang Polonia mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat dipergunakan untuk bebera­pa saat. Lemahnya koordinasi antar pasukan yang diaki­batkan oleh buruknya sarana komunikasi dan lemahnya per­senjataan, tampaknya menjadi faktor utama kurang berhasil­nya serangan frontal tanggal 15 Februari 1947.
Serangan yang dikordinasi oleh KMA itu dihentikan, karena  ada perintah penghentian tembak menembak (cease fire) pada tanggal 15 Februari 1947 jam 24.00. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Pertempuran dan insiden bersenjata antara kedua pihak selalu mempersengketakan garis demarkasi itu.
Memasuki bulan Juni 1947, hubungan antara pemerintah Republik dan Belanda semakin buruk. Perjanjian Linggarjati dan Gencatan Senjata di Sumatera Timur (Medan Area) tidak ditepati. Belanda mulai merusak perjanjian linggarjati dengan membentuk Negara Pasundan. Di Sumatera Timur, Belanda melakukan tindakan profokatif untuk memecah belah persatuan antara rakyat dan Republik Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu Belanda bahkan mengedarkan candu, uang palsu, dan memberikan hadiah uang kepada kaki tangannya untuk membunuh perwira TRI dan tokoh-tokoh Republik.
Mengantisipasi akan pecahnya konflik militer terbuka dengan Belanda, maka  Presiden Soekarno tanggal 3 Mei 1947  memerintahkan penggabungan semua pasukan bersen­jata ke dalam Tentara Nasional Indonesia. Pada tanggal 13 Juli 1947 Jendral Suhardjo Komandan T.R.I. Territorium Sumatera memerintahkan  semua kekuatan TRI dan Laskar Rakyat di Sumatera segera bergabung ke dalam TNI. Namun demikian, sejumlah unit-unit Laskar Rakyat tidak mau mematuhi perintah Suhardjo, terutama dari Pesin­do dan Barisan Merah. Bahkan unit-unit yang diterima sebagai bagian dari TNI pun sedikit sekali yang patuh, karena mereka memiliki otonomi dalam aspek politik dan ekonomi. Bagi beberapa Laskar Rakyat, pada umumnya terus beroperasi secara bebas seperti sebelumnya, mereka saling bersaing baik dengan Laskar Rakyat lainnya maupun dengan TRI, terutama dalam memperebutkan sumber-sumber ekonomi sebagai sarana memperoleh senjata.
c)      Akibat Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km.
Ada beberapa akibat dari Pertempuran Medan Area ini, yaitu :
1.      Terbaginya kawasan Medan oleh garis demarkasi
2.      Perpindahan pusat pemerintahan Provinsi Sumatera ke Pematang Siantar

2.      BANDUNG LAUTAN API
A. Latar Belakang Pertempuran Bandung Lautan Api
 1) Pasukan sekutu Inggris memasuki kota Bandung dan sikap pasukan NICA   yang merajalela dengan aksi terornya.
2) Perundingan antara pihak RI dengan Sekutu/NICA, dimana Bandung    dibagi dua bagian.
3) Bendungan sungai Cikapundung yang jebol dan menyebabkan banjir besar dalam kota
4) Keinginan sektu yang menuntut pengosongan sejauh 11km dari Bandung Utara.
B. Proses Terjadinya Pertempuran Bandung Lautan Api
Suatu peristiwa di bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk membakar dan meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Peristiwa itu di kenal sebagai Bandung Lautan Api. Pada awal tahun 1946, Inggris menjanjikan penarikan pasukannya dari Jawa Barat dan menyerahkan kepada Belanda kesepakatan itu memunculkan perlawanan heroic dari masyarakat di Bandung, ketika tentara Inggris dan NICA melakukan serangan militer ke Bandung.Agresi militer Inggris dan NICA Belanda  pun memicu tindakan pembumihangusan kota oleh masyarakat Bandung. 
Pada tanggal 23 Maret 1946 Sekutu dan NICA Belanda, yang menguasai wilayah Bandung memberikan ultimatum upaya Tentara Republik Indonesia mundur sejauh 11 km dari pusat kota paling lambat pada tengah malam tanggal 24 Maret 1946.Akibatnya pertempuran pun kembali menghebat. Pada saat itu datang dua buah surat perintah yang isinya membingungkan, yaitu :                                                                  
 1)  Dari perdana Menteri Amir Syarifudin     
  Bahwa pasukan RI harus mundur  dari kota Bandung sesuai dengan perjanjian antara pemerintah RI dengan Sekutu yanag saat itu sedang berlangsung di Jakarta.
   2)  Dari Panglima TKR (Jenderal Sudirman)
Bahwa para pejuang/pasukan RI harus mempertahankan Kota bandung sampai titik darah penghabisan.
Menghadapi dua perintah yang berbeda ini, akhirnya pada 24 Maret 1946 pukul 10.00 WIB, para petinggi TRI mengadakan rapat untuk menyikapi perintah PM Sjahril di Markas Divisi III TKR. Rapat berlangsung dengan Berbagai usulan perlawanan, salah satu usul adalah meledakkan terowongan Sungai Citarum di Rajamandala sehingga airnya merendam Bandung. Usul ini disampaikan Rukana. Namun saking emosinya, Rukana menyebut usulnya agar Bandung menjadi “lautan api”, padahal maksudnya “lautan air”. Diduga, dari rapat inilah muncul istilah Bandung Lautan Api.Usul lain muncul yang tidak setuju jika hanya TRI saja yang meninggalkan Bandung. Menurutnya, rakyat harus bersama TKR mengosongkan kota Bandung.Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam militer di Bandung, Nasution akhirnya memutuskan yang berisi beberapa poin, di antaranya TRI akan mundur sambil melakukan melakukan infiltrasi atau bumi hangus, hingga Bandung diserahkan dalam keadaan tidak utuh.Melalui siaran RRI pada pukul 14.00, Nasution mengumumkan:  bahwa semua pegawai dan rakyat harus keluar sebelum pukul 24.00, tentara melakukan bumi hangus terhadap objek vital di Bandung agar tidak dipakai Inggris dan NICA.
Saat malam tiba, TRI akan menyerang Bandung. TRI juga mempersiapkan sejumlah titik pengungsian bagi Keresidenan Priangan, Walikota Bandung, Bupati Bandung, Jawatan KA, Jawatan PTT, rumah sakit, dan lain-lain. 
TRI menjadwalkan peledakan pertama dimulai pukul 24.00 WIB di Gedung Regentsweg, selatan Alun-alun Bandung yaitu Gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI), sebagai aba-aba untuk meledakan semua gedung.
       Kebakaran hebat justru timbul dari rumah-rumah warga yang sengaja dibakar, mulaidari Jalan Buah Batu, Cicadas, Cimindi, Cibadak, Pagarsih, Cigereleng, Jalan Sudirman, Jalan Kopo. Kobaran api terbesar ada di daerah Cicadas dan Tegalega, di sekitar Ciroyom, Jalan Pangeran Sumedang (Oto Iskandar Dinata), Cikudapateuh, dan lain-lain.
Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu.
       Sejarah heroic itu tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai peristiwa Bandung Lautan Api. Lagu Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki menjadi lagi perjuangan pada saat itu. NICA Belanda berhasil menguasai Jawa Barat melalui Perjanjian Renville (17 Januari 1948).













BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan
            Kedatangan NICA menjadi ancaman bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.Oleh karena itu Perlawanan segera dikobarkan di berbagai daerah.Pada masa inilah muncul peristiwa-peristiwa.Diantaranya adalah peristiwa pertempuran Medan area sampai peristiwa Bandung lautan api Maret 1946. Pada tanggal 9 Oktober 1945, terjadi Pertempuran Medan Area yang dipimpin oleh   Achmad Tahir,penyebab pertempuran ini adalah Tawanan Medan yang dibebaskan sekutu bersikap congkak sehingga menyebabkan terjadinya insiden di beberapa tempat.Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran kota Medan. Rakyat dengan gigih membalas setiap aksi yang dilakukan pihak Inggris dan NICA. Pada bulan April 1946 pasukan Inggris berhasil mendesak pemerintah RI ke luar Medan.
Terjadinya peristiwa bandung lautan api diawali dari datangnya sekutu pada bulan Oktober 1945. Peristiwa ini dilatar belakangi oleh ultimatum sekutu untuk mengosongkan kota bandung pada tanggal 21 november 1945. Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama isinya kota bandung bagian utara selambat-lambatnya tanggal 29 november 1945 dikosongkan oleh para pejuang. Ultimatum itu tidak direspon rakyat Bandung,justru balik melawan dengan membumihanguskan kota Bandung dan gedung gedung penting yang diduduki Inggris,kemudian peristiwa ini dikenal dengan ” Peristiwa Bandung Lautan Api.”
B.Saran






DAFTAR PUSTAKA
Ekadjati, Edi S. et al.Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat. (Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1980), 5
Kahin, George Mc. Tuman. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, penerjemah Nin Bakdi 
http://chacaaca.blogspot.com/2013/09/pertempuran-medan-area-dan.html







[1] Ekadjati, Edi S. et al.Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat. (Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1980), 5
[2] Kahin, George Mc. Tuman. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, penerjemah Nin Bakdi 


No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...