BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
2. Rumusan
masalah
a.
Bagaimana
usaha rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan di Semarang?
b.
Bagaimana
usaha rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan di Ambarawa?
3. Tujuan
a.
Agar kita dapat mengetahui tentang usaha rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan di semarang dan Ambarawa.
b.
Agar kita mengerti akan tujuan dari usaha rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan di Semarang dan Ambarawa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945)
Pertempuran
5 Hari atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran
antara rakyat Indonesia di Semarang melawan Tentara Jepang. Pertempuran ini
adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi
(bedakan dengan Peristiwa 10 November - perlawanan terhebat rakyat Indonesia
dalam melawan sekutu dan Belanda).
Pertempuran dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945.
Pertempuran dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945.
1. .
Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia
Pada
1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian,
tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada
Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang.
2. . Kronologis pertempuran lima hari di
Semarang.
Sekitar
pukul 3.00 WIB, 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan sekitar 1.000
tentaranya untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota Semarang. Sementara itu,
berita gugurnya dr. Kariadi yang dengan cepat tersebar, menyulut kemarahan
warga Semarang. Hari berikutnya, pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota.
Korban berjatuhan di mana-mana. Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang meminta
gencatan senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai
kampung. Pada 19 Oktober 1945, pertempuran terus terjadi di berbagai penjuru
Kota Semarang. Pertempuran ini berlangsung lima hari dan memakan korban 2.000
orang Indonesia dan 850 orang Jepang. Di antara yang gugur, termasuk dr.
Kariadi dan delapan karyawan RS Purusara.
Berdasarkan
kejadiannya, kronologis pertempuran lima hari di Semarang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
·
7 oktober : pemuda Semarang berusaha
melucuti senjata Tentara Jepang di Jatingaleh. Sementara di saat yang sama,
pimpinan Jepang dan pemuda berunding mengenai penyerahan senjata.
·
13 oktober : suasana semakin menegang dan
Jepang semakin terdesak.
·
4 oktober : Mayor Kido menolak penyerahan
senjata.
Tanggal 14
Oktober 1945, pergerakan tentara Jepang dari Markas Kido Butai di Jatingaleh
sekarang digunakan sebagai markas Yon Arhanud 15) sebagai awal Pertempuran Lima
Hari di Semarang dimulai. Formasi siap tempur tentara Jepang adalah:
- Pasukan tempur anak buah dari Mayor Yagi,
sebanyak 472 orang
- Kompi meriam dipimpin oleh Kapten Fukuda,
sebanyak 66 orang
- Kompi 9 dipimpin oleh Kapten Motohiro, sebanyak
155 orang
- Kompi 10 dipimpin oleh Kapten Nakasima, sebanyak
155 orang
- Pasukan cadangan, dipimpin oleh Kapten Yamada,
sebanyak 101 orang
Pergerakan formasi tentara Jepang meyerang Kota Semarang
sebagai berikut. Mayor Yagi akan bertugas disebelah kiri dengan sasaran Markas
BKR, Polisi, Jalan Pemuda, sebelah kiri dan kanan jalan dan seterusnya
memelihara keamanan di daerah itu. Kompi 9 dan kompi 10 akan bergerak ke kanan
dengan sasaran utama penjara Mlaten, sekolah dagang dan terus menuju Demak.
Pukul
06.30, Aula RS Purusara dijadikan markas perjuangan dan pemuda mencegat serta
memeriksa mobil Jepang yang lewat. Mereka juga menyita sedan milik Kampetai.
Sore harinya, pemuda menjebloskan Tentara Jepang ke Penjara Bulu namun pukul
18.00 Jepang melancarkan serangan mendadak kepada delapan polisi istimewa yang
menjaga Resevoir Siranda di Candi. Kedelapan Polisi itu disiksa dan sore itu
juga tersiatr kabar kalau Jepang menebar racun dalam reservoir tersebut.
Selepas Maghrib, dr. Kariadi memutuskan untuk segera memeriksa reservoir itu
namun istrinya, drg. Sonarti, mencoba mencegahnya karena ia berpendapat bahwa
suasana sedang sangat berbahaya namun tidak berhasil. Sayangnya, dalam
perjalanan dr. Kariadi dan beberapa tentara pelajar, mereka ditembak secara
keji. Dr. kariadi sempat dibawa ke rumah sakit sekitar namun tidak dapat
diselamatkan. Selain kejadian di atas, pada hari itu juga terjadi pemberontakan
4.000 tentara Jepang di Cepiring.
·
15 oktober: pukul 03.00, Mayor Kido
menyuruh 1.000 tentara untuk melakukan penyerangan ke pusat kota mendengar
berita penangjkapann Jenderal Nakamura dan berita gugurnya dr. Kariadi menyulut
kemarahan warga Semarang. Di Semarang juga terjadi penangkapan Mr. Wongsonegoro,
Dr. Sukaryo, dan Sudanco Mirza Sidharta.
·
[16 oktober : pertempuran terus berlanjut
·
17 oktober : Jepang berunding dengan Mr.
Wongsonegoro
·
18 oktober : Ada perundingan gencatan
senjata oleh Kasman Singodimejo dan Jenderal Nakamura. Dalam perundingan ini,
Jepang ingin agar senjata yang direbut segera dikembalikan bila tidak Jepang
akan meloakukan pengeboman pada tanggal 19 oktober 1945 pukul 10.00.
Peristiwa Lain
- Sebelum tanggal 20 Oktober, ada kejadian Gencatan
Senjata antara kedua belah pihak, tetapi kendati demikian kejadian ini
tidak memadamkan situasi, kejadian diperparah dengan pembunuhan sandera.
- Di Pedurungan, orang-orang Semarang, terutama
dari Mranggen dan Genuk menjadi satu untuk memindahkan tawanan, yang
menjadi sandera. Karena janji Jepang untuk mundur tidak dipenuhi maka 75
sandera itu dibunuh, sehingga perang berlanjut.
- Datangnya pemuda dari luar Kota Semarang untuk membantu menjadikan
Jepang marah
- Radius 10 km dari Tugumuda menjadi
medan peperangan
C. Peringatan
RESERVOIR SIRANDA
Reservoir Siranda dibangun pada
tahun 1912 dan difungsikan sebagai tempat
penampung air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Semarang. Selain itu bangunan
ini mempunyai nilai historis yang tinggi karena diyakini sebagai tempat tewasnya
Dr. Kariadi oleh tentara Jepang. Bermula dari tersebarnya kabar bahwa
penampungan air atau Reservoir Siranda akan diracuni oleh tentara Jepang sebagai
upaya Jepang untuk menguasai Kota Semarang. Saat berusaha untuk menyelidiki kebenaran kabar tersebut dengan memeriksa di sekitar Reservoir Siranda
terjadi baku tembak antara pejuang Indonesia dengan tentara Jepang
disekitar Reservoir Siranda, Dr. Kariadi terbunuh. Kejadian ini merupakan penyulut Perang Lima Hari di Semarang. Nama Dr. Kariadi sendiri kemudian diabadikan sebagai nama sebuah Rumah Sakit di Jl. Dr.Sutomo Semarang.
penampung air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Semarang. Selain itu bangunan
ini mempunyai nilai historis yang tinggi karena diyakini sebagai tempat tewasnya
Dr. Kariadi oleh tentara Jepang. Bermula dari tersebarnya kabar bahwa
penampungan air atau Reservoir Siranda akan diracuni oleh tentara Jepang sebagai
upaya Jepang untuk menguasai Kota Semarang. Saat berusaha untuk menyelidiki kebenaran kabar tersebut dengan memeriksa di sekitar Reservoir Siranda
terjadi baku tembak antara pejuang Indonesia dengan tentara Jepang
disekitar Reservoir Siranda, Dr. Kariadi terbunuh. Kejadian ini merupakan penyulut Perang Lima Hari di Semarang. Nama Dr. Kariadi sendiri kemudian diabadikan sebagai nama sebuah Rumah Sakit di Jl. Dr.Sutomo Semarang.
C.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan tokoh-tokohnya.
Mengenai
pertempuran lima hari di Semarang ini, ada beberapa tokoh yang terlibat adalah :
·
dr. Kariadi dr. Kariadi adalah dokter yang
akan mengecek cadangan air minum di daerah Candi yang kabarnya telah diracuni
oleh Jepang. Beliau juga merupakan Kepala Laboratorium Dinas Pusat Purusara.
·
Mr. Wongsonegoro Gubernur Jawa Tengah yang
sempat ditahan oleh Jepang. [3.] Dr. Sukaryo dan Sudanco Mirza Sidharta tokoh
Indonesia yang ditangkap oleh Jepang betrsama Mr. Wongsonegoro.
·
Mayor Kido Pimpinan Batalion Kido Butai
yang berpusat di Jatingaleh.
·
drg. Soenarti istri dr. kariadi
·
Kasman Singodimejo perwakilan perundingan
gencatan senjata dari Indonesia.
·
Jenderal Nakamura Jenderal yang ditangkap
oleh TKR di Magelang
Ø Gambaran umum perang Palagan.
Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu di bawah
pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan
perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu ini
diboncengi oleh NICA. Kedatangan Sekutu ini mulanya disambut baik, bahkan
Gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro menyepakati akan menyediakan bahan makanan
dan keperluan lain bagi kelancaran tugas Sekutu, sedang Sekutu berjanji tidak
akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.
Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di
Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para
tawanan tersebut malah dipersenjatai sehingga menimbulkan kemarahan pihak
Indonesia. Insiden bersenjata timbul di kota Magelang, hingga terjadi
pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang
mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. TKR Resimen
Magelang pimpinan Letkol. M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan
mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari
kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan
suasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan Kota Magelang
menuju ke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa tersebut, Resimen Kedu Tengah di
bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka.
Gerakan mundur tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh
pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh
pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.
Tentara Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon I
Soerjosoempeno di Ngipik. Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba
menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan
Letkol. Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, namun ia gugur
terlebih dahulu. Sejak gugurnya Letkol. Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas,
Kol. Soedirman merasa kehilangan seorang perwira terbaiknya dan ia langsung
turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kol. Soedirman
memberikan napas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan di antara
komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh semakin ketat. Siasat
yang diterapkan adalah serangan pendadakan[1]
serentak di semua sektor. Bala
bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang,
Semarang, dan lain-lain.
Tanggal 23 November 1945 ketika matahari mulai terbit,
mulailah tembak-menembak dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja
dan kerkhop Belanda di Jl. Margo Agoeng. Pasukan Indonesia terdiri dari Yon.
Imam Adrongi, Yon. Soeharto dan Yon. Soegeng. Tentara Sekutu mengerahkan
tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke tempat kedudukan
Indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono.
Ø
Kronologi perang palagan hingga akhir perang
Menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, menyebabkan
vacuum of Power (kekosongan kekuasaan) di Hindia Belanda
(Indonesia). Kekosongan kekuasaan tersebut tidak disia-siakan oleh bangsa
Indonesia untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Bangsa Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta. Hal ini berarti,
bangsa lain tidak lagi mempunyai hak untuk melakukan penjajahan di atas bumi
Indonesia. Proklamasi berarti pengumuman yang dilakukan oleh suatu bangsa
yang menyatakan bahwa bangsa tersebut telah merdeka dan lepas dari penjajahan.
Meskipun demikian, terdapat pihak-pihak yang berusaha untuk
mengembalikan Indonesia sebagai jajahan Belanda. Hal ini dikarenakan pemerintah
Belanda merasa masih mempunyai historiesch recht (hak sejarah) untuk
meneruskan pemerintahan kolonialnya. Hal ini didasarkan dari perjanjian yang
dilakukan Inggris dengan Belanda yang disebut Civil Affairs Aggreement pada
tanggal 24 Agustus 1945 yang mengatur pemindahan kekuasaan di Indonesia dari British
Military Administration kepada NICA (Netherlands Indies Civil
Administration). Oleh sebab itu, Belanda dengan organisasi pemerintahannya,
NICA membonceng tentara sekutu kembali ke Indonesia.
Maksud kedatangan adalah pertama, menerima penyerahan
kekuasaan dari tangan Jepang. kedua, membebaskan para tawanan perang dan
inteniran Sekutu. Ketiga, melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian
dipulangkan. Keempat, menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk
kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil. Kelima, menghimpun keterangan
tentang dan menuntut penjahat perangOleh sebab itu, RI
menerima kedatangan Sekutu dengan sambutan yang baik.
Pendaratan tentara Sekutu pada tanggal 20 Oktober 1945 di
Semarang, berbarengan dengan usaha perebutan kekuasaan dan senjata rakyat
Indonesia terhadap Jepang. Usaha melucuti tentara Jepang oleh para pejuang
Indonesia ini memang merupakan tindakan yang harus dilakukan sesegera mungkin.
Sebab, usaha tersebut sudah diperhitungkan akan adanya suatu kemungkinan bahaya
yang ditimbulkan sehubungan dengan mendaratnya Sekutu di Indonesia.
Bagaimanapun, pasti Sekutu tidak akan rela melepaskan bangsa Indonesia menjadi
bangsa yang merdeka begitu saja. Dengan demikian, tujuan kedatangan Sekutu yang
bermaksud untuk melucuti tentara Jepang telah dilakukan oleh para pejuang
Indonesia, sehingga menimbulkan kekecewaan dari pihak Sekutu.
Selanjutnya, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di
dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para tawanan
tersebut justru dipersenjatai. Ketegangan dimulai ketika tawanan-tawanan Belanda
yang dibebaskan bertingkah congkak dan sombong, serta mengabaikan kedaulatan
pemerintah dengan terang-terangan berusaha untuk menduduki kembali Indonesia.
Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia, sehingga muncul gerakan
pemboikotan keperluan makanan dan kebutuhan sehari-hari terhadap Sekutu yang
semula dibantu oleh rakyat Indonesia dalam usaha melucuti tentara Jepang. Akhirnya pecah pertempuran melawan Sekutu di Semarang
pada tanggal 20 Oktober 1945, disusul tanggal 31 Oktober 1945 di Magelang.
Di Magelang tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang
mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. TKR Resimen
Magelang pimpinan Letkol. M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan
mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari
kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan
suasana. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam
meninggalkan Kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa
tersebut, Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini segera
mengadakan pengejaran terhadap mereka dan meluas sampai ke Ambarawa.
Pertempuran di Ambarawa, merupakan pertempuran yang cukup
penting. Sebab pertempuran Ambarawa merupakan salah satu dari rangkaian
peristiwa mempertahankan kemerdekaan pada masa revolusi.
Sebab, bagi Indonesia revolusi Indonesia bertujuan untuk melengkapi dan
menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang telah dimulai
empat dasawarsa sebelumnya. Namun di lain pihak, bagi Belanda masa revolusi
sebagai suatu zaman yang merupakan kelanjutan dari masa lampau untuk melakukan
penjajahan yang menurut mereka sudah dilakukan selama 300 tahun. Pada masa ini
pulalah, hak Indonesia akan kemerdekaan dan kedaulatan atas nama revolusi
mendapatkan banyak dukungan dari rakyat Indonesia.
Setelah mempelajari situasi
pertempuran Kolonel Soedirman pada tanggal 11 Desember 1945 mengambil prakarsa
untuk mengumpulkan para komandan sector. Mereka melaporkan situasi pada sector
masing-masing. Akhirnya , Kolonel Soedirman menyimpulkan bahwa musuh telah
terjepit , dan perlu segera dilancarkan pukulan terakhir. Rencana pelaksanaanya
disusun sebagai berikut :
1.
Serangan pendadakan dilakukan
serentak dari semua sector.
2.
Tiap-tiap Komandan memimpin
serangan.
3.
Pasukan-pasukan badan-badan
perjuangan (lascar) , disiapkan sebagai tenaga cadangan.
4.
Serangan akan dimulai tanggal 12
Desember pukul 04:30.
Demikian pentingnya arti pertempuran Ambarawa bagi bangsa
Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sehingga meskipun
pertempuran itu berlangsung singkat (12 Desember 1945 sd 15 Desember 1945)
tetapi memberikan kemenangan yang gilang-gemilang bagi Indonesia. Dipimpin oleh
Kolonel Sudirman, para pejuang berhasil memukul Sekutu yang terdesak ke mundur
Semarang.
Disamping itu, pertempuran di Ambarawa berhasil mempengaruhi
dan melemahkan kekuatan Belanda, sehingga Belanda kesulitan dalam melakukan
pertempuran di wilayah lainnya. Berakhirnya pertempuran pada tanggal 15
Desember 1945 dengan kemenangan di pihak Indonesia tersebut kini diperingati
sebagai Hari Infanteri/hari jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam sebuah karya monumental, yaitu Monumen
Palagan Ambarawa yang dibangun pada tanggal 15 Desember 1974.[2]
Dalam pertempuran Ambarawa, memunculkan tokoh yang paling
berjasa dalam upaya mengusir Sekutu dari bumi Ambarawa yang kelak menjadi
Jenderal Panglima Besar Republik Indonesia, yaitu Kolonel Sudirman. Dalam
pertempuran ini pulalah dikenal strategi yang sangat jitu yang dapat dirumuskan
dari hasil pemikiran dan kerja keras beliau bersama para pejuang lainnya.
Strategi tersebut dikenal dengan sebutan atau dalam terjemahan bahasa Indonesia
disebut “Strategi Supit udang”. Dengan kedisiplinan yang tinggi dari
para pejuang yang termasuk dalam bagian strategi Kolonel Sudirman, dan
dengan didukung perencanaan yang matang, strategi tersebut berhasil
dilaksanakan dengan baik sehingga membawa kemenangan yang gilang gemilang bagi
para pejuang tanah air.
[1] Marwati
Djoened Poesponegoro, “sejarah nasional Indonesia VI”, (Jakarta: Balai pustaka,
1993), hal. 194.
[2] [2]
Marwati Djoened
Poesponegoro, “sejarah nasional Indonesia VI”, (Jakarta: Balai pustaka, 1993),
hal. 196.

No comments:
Post a Comment