![]() |
SEJARAH
PARTAI POLITIK PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL
Disusun
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah
POLITIK
Pengampu
: Bpk. Hamdan Tri Atmaja
Bpk. Insan Fahmi Siregar
disusun
Oleh :
Prita
Wulandari (3101412059)
Lutfi
Arif Wicaksono (3101412069)
Siti
Rahmawati (3101412079)
Muhammad
Khoirul Amri (3101412099)
ROMBEL
5B
PENDIDIKAN
SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2014
Kata
Pengantar
Segala
puja dan puji bagi Allah SWT, Dzat penguasa seluruh alam jagat raya. Teriring
pula salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad
SAW. Aamiin. Sebagai wujud ikhtiar untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman,
dan keterampilan mahasiswa di Universitas Negeri Semarang khususnya prodi Pendidikan
Sejarah.
Kami
menyusun makalah ini berdasarkan fakta yang kami dapat berbagai sumber-sumber
dan literature-literatur yang insya Allah dijamin kebenarannya. Kami berterima
kasih kepada semua pihak yang ikut membantu untuk terselesainya makalah ini.
Kami
menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan
kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca yang budiman sangat
kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.
Demikian
pentingnya mata kuliah sejarah sejarah pergerakan nasional Indonesia bagi
mahasiswa, maka perlu diadakan makalah yang mampu merangsang kreativitas para
mahasiswa. Semoga kehadiran makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua
dalam menjalankan aktivitas belajar-mengajar.
Semarang, 28 September 2014
Tim penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia partai politik telah menjadi bagian dari
kehidupan politik selama kurang lebih seratus tahun. Umumnya dianggap bahwa
partai politik adalah sekelompok manusia terorganisir, yang anggota anggotanya
sedikit banyak mempunyai tujuan untuk memperoleh kekuasaan politik serta
mempertahankannya guna melaksanakan program yang telah ditetapkannya.
Partai
politik pertama-tama lahir dalam zaman kolonial sebagai manifestasi bangkitnya
kesadaran nasional. Dalam suasana itu semua organisasi, apakah ia bertujuan
sosial (seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah) atau terang terangan menganut asas
politik/agama (seperti Sarekat Islam dan Partai Katolik) atau asas politik sekuler
(seperti PNI dan PKI) memainkan peran penting dalam berkembangnya pergerakan
nasional.
Pada tahun 1918 pihak Belanda mendirikan Voolksraad yang berfungsi sebagai badan
perwakilan yang berisikan anggota dari pribumi dan orang Belanda.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan partai partai politik pada masa Pergerakan Nasional ?
2.
Bagaimana
karakteristik partai partai politik pada masa Pergerakan Nasional ?
BAB
II
PEMBAHASAN
Di Indonesia partai politik telah menjadi bagian dari
kehidupan politik selama kurang lebih seratus tahun. Umumnya dianggap bahwa
partai politik adalah sekelompok manusia terorganisir, yang anggota anggotanya
sedikit banyak mempunyai tujuan untuk memperoleh kekuasaan politik serta
mempertahankannya guna melaksanakan program yang telah ditetapkannya.
Partai
politik pertama-tama lahir dalam zaman kolonial sebagai manifestasi bangkitnya
kesadaran nasional. Dalam suasana itu semua organisasi, apakah ia bertujuan
sosial (seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah) atau terang terangan menganut asas
politik/agama (seperti Sarekat Islam dan Partai Katolik) atau asas politik
sekuler (seperti PNI dan PKI) memainkan peran penting dalam berkembangnya
pergerakan nasional.
Pada tahun 1918 pihak Belanda mendirikan Volksraad yang berfungsi sebagi badan
perwakilan. Ada beberapa partai serta organisasi yang memanfaatkan kesempatan
untuk bergerak melalui badan ini (yang dinamakan ko, namun ada pula yang menolak masuk di dalamnya yang dinamakan nonk.). Pada awalnya partisipasi
organisasi Indonesia sangat terbatas. Dari 38 anggota, di samping ketua seorang
Belanda, hanya 15 orang Indonesia, diantaranya
anggota Budi Utomo dan Sarekat Islam. Komposisi baru berubah ketika
tahun 1931 waktu diterima prinsip “mayoritas pribumi”, sehingga dari 60 orang
anggota ada 30 orang pribumi.[1]
Sejak
kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke wilayah Nusantara pada abad ke-16, bangsa
Indonesia telah mengadakan perlawanan. Namun segala bentuk perlawanan yang
dilakukan tersebut selalu mengalami kegagalan. Adapun faktor penyebab gagalnya
perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah adalah:
a. Perjuangan
bersifat kedaerahan.
b. Perlawanan tidak dilakukan secara serentak.
c. Masih
tergantung pimpinan (jika pemimpin tertangkap, perlawanan terhenti).
d. Kalah dalam
persenjataan.
e. Belanda
menerapkan politik adu domba (devide et impera).
Namun pada awal abad ke-20, pemimpin-pemimpin Indonesia sadar bahwa
perlawanan bersenjata tidak akan berhasil ,apalagi jika perlawanan itu bersifat
kedaerahan. Rasa persatuan dan kebangsaan mulai berkembang. Suku-suku bangsa
Indonesia sama-sama menderita di bawah penjajahan. Penderitaan yang sama itu
menimbulkan rasa persatuan. Merekapun sadar bahwa mereka adalah satu bangsa.dan
mempunyai satu tanah air. Penjajahan Belanda tidak lagi di lawan dengan
kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan politik. Disamping itu, dilakukan juga
usaha memajukan pendidikan, meningkatkan ekonomi rakyat, dan mempertahankan
kebudayaan. Sehingga masyarakat Indonesia pada saat itu meningkat pendidikan
dan taraf hidupnya (walaupun masih sebatas keluarga kalangan atas) yang
kemudian melahirkan tokoh-tokoh politik yang terkenal dan dapat memberi warna
tersendiri dalam masa pergerakan Indonesia. Untuk lebih jelasnya mengenai
partai-partai politik yang ada pada masa pergerakan nasional maka akan
dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
1. Partai Nasional Indonesia
Pada tanggal
4 Juli 1927 Soekarno dan Algemeene Studie
Club-nya memprakarsai pembentukan sebuah partai politik baru, yaitu
Perserikatan Nasional Indonesia, dengan Soekarno sebagai ketuanya. Pada bulan
Mei 1928 nama partai ini diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Tujuan
PNI adalah kemerdekaan bagi kepulauan Indonesia yang akan dicapai secara
nonkooperatif dan dengan organisasi massa. Inilah partai politik pertama yang
beranggotakan bangsa Indonesia, semata-mata menciptakan kemerdekaan poliik,
berpandangan kewilayahan yang meliputi btas-batas Indonesia yang nanti berlaku
dan berideologi nasionalisme sekuler.[2]
Studie Club Bandung
yang dipimpin Soekarno termasuk sangat progresif diantaranya dengan menerbitkan
majalah Suluh Indonesia Muda dan menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia
di Nederland. Studie Club Bandung ini nantinya akan menjelma menjadi
sebuah organisasi besar yang pernah merajai dunia perpolitikan Indonesia pada
zamannya. Organisasi itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). PNI didirikan
di sebuah paviliun selatan rumah di Regentsweg no. 22 (sekarang jl. Dewi
Sartika) Bandung pada suatu malam tanggal 4 Juli 1927. Mereka yang berada di
tempat itu antara lain Mr. Iskaq, Mr. Sartono, Mr. E.S. Budyarto Martoatmodjo,
Mr. Sunario, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Ir Soekarno, Ir. Anwari, dan Dr. Tjipto
Mangunkusumo. Mereka semua akan tercatat sebagai pendiri PNI, kecuali Dr.
Tjipto yang menolak diikutsertakan atas alasan keamanan. Meski demikian
Soekarno tetap menganggap Dr. Tjipto sebagai salah satu pendiri, selain Sujadi
dan J. Tilaar yang menjadi penghubung antara pemuda di Bandung dengan Hatta di
Nederland.
Pada tahun 1926, dua tahun setelah terbitnya karya H.O.S Tjokroaminoto
tentang Islam dan Sosialisme, Ir Soekarno memasukan unsur kekuatan ideology
ketiga yaitu nasionalisme dalam karangannya yaitu “Nasionalisme, Islamisme dan
Marxisme”. Ktiga kekuatan ideologi itu merupakan landasan pergerakan nasional
secara garis besarnya dan oleh Ir Soekarno juga dianggap dapat dipakai sebagai
alat pemersatu pergerakan rakyat Indonesia. Ketiga kekuatan ideology tersebut
kemudian hari terkenal dengan singkatan Nasakom.
Pembentukan
PNI sendiri terjadi secara tidak sengaja. Semua ini diawali atas kedekatan
kantor arsitek Soekarno dan Anwari dengan kantor advokat milik Mr. Iskaq yang
sama-sama berada di Regentsweg 8 (Kini Hotel Swarha) alun-alun Bandung. Mr.
Iskaq merupakan advokat lulusan Leiden yang pernah aktif dalam organisasi
Perhimpinan Indonesia di Nederland. Ketika kantor arsitek Soekarno dan Anwari
pindah ke Regentsweg 22 ia pun bertemu dengan Dr. Samsji yang berkantor di
bagian atasnya. Pertemuan antara tokoh-tokoh tersebut langsung berlanjut kepada
keinginan untuk membentuk partai nasional yang beraliran non cooperation.
Sempat terjadi debat serius mengenai prinsip non koperasi yang akan diusung
partai ini. Tapi akhirnya Soekarno berhasil mempertahankan keyakinannya
atas prinsip tersebut.
PNI pun didirikan dengan susunan pengurus sebagai berikut :
1. Ir.
Soekarno
:
Ketua
2. Mr. Iskaq
Tjokrohadisurjo : Sekretaris
/ Bendahara
3. Dr. Samsi
Sastrowidagdo : Anggota
4. Mr.
Sartono
: Anggota
5. Mr.
Sunario
: Anggota
6. Ir. Anwari
: Anggota
Pada awalnya
PNI merupakan singkatan dari Perserikatan Nasional Indonesia hingga kemudian
diubah menjadi Partai Nasional Indonesia pada kongres pertama di Surabaya tahun
1928. Pokok maksud pembentukan PNI adalah mencapai kemerdekaan penuh untuk
Indonesia. Yang hendak diakui hanyalah pemerintahan yang disusun dan dibangun
oleh rakyat. Bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda ditolal, tapi hendak
dibangunkan suatu bentuk tata negara nasional, di dalam lingkaran
perhubungan-perhubungan yang berkalu sekarang. Yang diterima menjadi anggota
adalah sekalian orang Indonesia, yang telah beurmur 18 tahun, sedang sekalian
bangsa timur asing hanya boleh menjadi donatur. Pendirian PNI disambut
masyarakat luas. Kharisma Soekarno dalam tiap-tiap rapat umum memberikan
sumbangan besar bagi perluasan pengaruh PNI. Pada awal tahun 1929 anggota PNI tercatat
6000 orang, 1500 di antaranya berada di Bandung. Dalam rapat-rapat yang
seringkali dihadiri ribuan orang, terpampang simbol-simbol “banteng segitiga”,
semboyan-semboyan revolusioner, dan seringkali gambar Pangeran Diponegoro.
Sejak diperkenalkan pada event kongres pemuda II tahun 1928, lagu Indonesia
Raya pun menjadi lagu wajib yang diputar pada setiap rapat PNI.
Perkembangan
PNI sangat mengkhawatirkan pemerintah kolonial sehingga pada tahun 1929 mereka
mengadakan razia dan penangkapan-penangkapan tokoh nasional. Di antara tokoh
yang ditangkap merupakan para aktivis PNI seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja,
Maskun dan Supriadinata. Proses pengadilan mereka yang dilakukan di gedung
Landaad Bandung menghasilkan pleidoi legendaris buatan Soekarno berjudul
“Indonesia Menggugat”. Soekarno dan kawan-kawannya akhirnya dijatuhi hukuman
penjara yang berujung pada pembubaran PNI. Pembubaran partai ini sangat
disesalkan oleh Soekarno.
2.
Indische Parjij
1. Suwardi
Suryaningrat (Kihajar Dewantara)
2. Douwes
Dekker (dr. Danudirja
Setiabudi)
3. dr. Tjipto
Mangunkusumo
Tujuan dari Indische Partij adalah :
1.
menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan
semua golongan
2.
memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa
nasional
3.
mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka
Indische Partij dianggap sebagai “organiasi
politik” yang pertama kali berdiri karena organisasi inilah yang pertama kali
dengan tegas menyatakan cita citanya mencapai Indonesia merdeka. Organisasi ini
juga ingin menggantikan Indische Bond sebagai organisasi kaum Indo dan Eropa di
Indonesia yang didirikan tahun 1898. Perumus gagasan itu ialah E.F.E Douwes Dekker
kemudian terkenal dengan nama Danudirdja
SetyaBuddhi, seorang indo yang melihat keganjilan-keganjilan pada masyarakat
kolonial khususnya diskriminasi antara keturunan belanda Totok dan kaum Indo.
Tetapi lebih dari pada hanya membatasi pandangan dan kepentingan golongan kecil
masyarakat Indo saja, Douwes Dekker meluaskan pandangannya terhadap masyarakat
Indonesia pada umumnya.
Pada tanggal 11 Maret 1913 Indische Partij
dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Belanda, karena dianggap
membahayakan kepentingan penjajah dan juga karena Belanda merasa malu dengan
sindiran Suwardi Suryaningrat yang tertuang dalam tulisan “ALS IKEENS
NEDERLANDER WAS” yang berarti “ANDAIKAN AKU SEORANG BELANDA’. Ketiga tokoh tiga
serangkai dijatuhi hukuman buang ke negeri Belanda dan sejak itu Indische Partij mengalami mundur. Dengan dibuangnya ketiga pemimpin IP,
maka kegiatan IP makin menurun. Selanjutnya IP berganti nama menjadi Partai
Insulinde dan pada tahun 1919 berubah lagi menjadi National Indische Partij
(NIP). NIP tidak pernah mempunyai pengaruh yang besar di kalangan rakyat dan
akhirnya hanya merupakan perkumpulan orang-orang terpelajar.
3.
Partai
Indonesia Raya
Partai Indonesia Raya atau Parindra adalah suatu partai politik yang
berdasarkan nasionalisme Indonesia dan menyatakan tujuannya adalah
Indonesia Mulia dan Sempurna (bukan Indonesia Merdeka). Parindra menganut azas cooperatie
alias bekerja sama dengan pemerintah Hindia
Belanda dengan cara duduk di dalam dewan-dewan untuk waktu yang tertentu. Dr.
Soetomo, salah
seorang pendiri Budi Utomo, pada akhir tahun 1935 di kota Solo, Jawa Tengah
berusaha untuk menggabungkan antara PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), Serikat Selebes, Serikat Sumatera, Serikat Ambon, Budi Utomo,
dan lainnya, sebagai tanda berakhirnya fase kedaerahan dalam pergerakan
kebangsaan, menjadi Partai Indonesia Raya atau Parindra. PBI sendiri merupakan
klub studi yang didirikan Dr. Soetomo pada tahun 1930 di Surabaya, Jawa Timur.
Tokoh-tokoh lain yang ikut bergabung dengan Parindra antara lain Woeryaningrat, Soekardjo Wirjopranoto,Raden Mas Margono Djojohadikusumo,
R. Panji
Soeroso dan Mr. Soesanto Tirtoprodjo. Parindra berusaha
menyusun kaum tani
dengan mendirikan Rukun Tani, menyusun serikat pekerja perkapalan dengan
mendirikan Rukun Pelayaran Indonesia (Rupelin), menyusun perekonomian
dengan menganjurkan Swadeshi (menolong diri sendiri), mendirikan Bank
Nasional Indonesia di Surabaya, serta mendirikan percetakan-percetakan yang
menerbitkan surat kabar dan majalah.
Kegiatan
Parindra ini mendapat semakin mendapatkan dukungan dari Gubernur
Jenderal Hindia Belanda pada saat itu, van
Starkenborg, yang menggantikan de Jonge pada
tahun 1936. Gubernur
Jenderal van Starkenborg memodifikasi politiestaat peninggalan de Jonge,
menjadi beambtenstaat(negara pegawai) yang memberi konsensi yang lebih baik kepada organisasi-organisasi
yang kooperatif dengan pemerintah
Hindia Belanda. Pada tahun 1937, Parindra memiliki anggota 4.600 orang. Pada akhir tahun 1938, anggotanya
menjadi 11.250 orang. Anggota ini sebagian besar terkonsentrasi di Jawa Timur.
Pada bulan Mei 1941 (menjelang perang
Pasifik), Partai Indonesia Raya diperkirakan memiliki anggota sebanyak 19.500
orang.
Ketika Dr.
Soetomo meninggal pada bulan Mei 1938, kedudukannya sebagai ketua Parindra
digantikan oleh Moehammad Hoesni Thamrin (MHT), seorang pedagang dan
anggota Volksraad.
Sebelum menjadi ketua Parindra, Moehammad Hoesni Thamrin telah mengadakan
kontak-kontak dagang dengan Jepang sehingga ia memainkan kartu Jepang ketika ia
berada di panggung politik Volksraad. Karena aktivitas politiknya yang
menguat dan kedekatannya dengan Jepang, pemerintah Hindia Belanda menganggap
Thamrin lebih berbahaya daripada Soekarno. Maka pada tanggal 9 Februari
1941, rumah
Moehammad Hoesni Thamrin digeledah oleh PID (dinas rahasia Hinda Belanda)
ketika ia sedang terkena penyakit malaria, selang dua hari kemudian Muhammad Husni Thamrin
menghembuskan napas yang terakhir.
Salah satu
bukti kedekatan Parindra dengan Jepang yaitu ketika Thamrin meninggal dunia,
para anggota Parindra memberikan penghormatan dengan mengangkat tangan
kanannya. Bukti lain adalah pembentukan gerakan pemuda yang disebut Surya
Wirawan (Matahari Gagah Berani), yang disinyalir nama ini bertendensi
dengan negara Jepang. Dengan demikian Parindra digambarkan sebagai partai yang
bekerjasama dengan pemerintahan Hindia Belanda di awal berdirinya, akan tetapi
dicurigai di akhir kekuasaan
Hindia
Belanda di Indonesia pada tahun 1942 sebagai partai yang bermain
mata dengan Jepang untuk memperoleh kemerdekaan.
4.
Partai
Katolik Republik Indonesia
Partai Katolik sebenarnya
sudah ada tahun 1917 yang kemudian lahir kembali pada tanggal 12 Desember 1945
dengan nama PKRI (Partai Katolik Republik Indonesia) yang merupakan kelanjutan
dari Katolik Jawi yang dulunya bergabung dengan Partai Katolik. Namun partai
ini baru secara resmi berdiri pada tahun 1923 di Yogyakarta, didirikan oleh
umat Katolik Jawa yang dipimpin oleh F.S. Harijadi. Saat IJ Kasimo memimpin,
partai ini kemudian dinamai Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD). Pada masa
penjajahan Belanda, PPKD - karena kebutuhan siasat politik - bergabung dengan
Indische Katholieke Partij. Partai Katolik dideklarasikankan oleh Kongres Umat
Katolik seluruh Indonesia pada tanggal 12 Desember 1949 di Semarang sebagai
penjelmaan fusi dari 7 Partai Katolik yang telah ada sebelumnya yakni:
- Partai
Katolik Republik Indonesia (P.K.R.I.) yang didirikan di Surakarta.
- Partai
Katolik Rakyat Indonesia (P.K.R.I.) yang didirikan di Makasar.
- Partai
Katolik Rakyat Indonesia (P.K.R.I.) yang didirikan di Flores.
- Partai
Katolik Indonesia Timus (Parkit) yang didirikan di Timor.
- Persatuan
Politik Katolik Flores (Perkokaf) didirikan di Flores.
- Permusyawaratan
Majlis Katolik (Permakat) didirikan di Manado.
- Partai
Katolik Indonesia Kalimantan (Parkika) yang didirikan di Kalimantan.
Anggaran Dasar Partai Katolik
sebagai gabungan partai-partai tersebut di atas, telah disahkan dalam Kongres
tersebut, dimana azas dan tujuan berbunyi sebagai berikut:
- Partai
Katolik berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa pada umumnya serta Pancasila
pada khususnya dan bertindak menurut azas-azas Katolik.
- Tujuan Partai
Katolik ialah bekerja sekuat-kuatnya untuk kemajuan Republik Indonesia dan
kesejahteraan rakyatnya.
Keikutsertaan partai katolik
dalam pemilu
- Tahun 1955,
Partai Katolik ikut Pemilu pertama
- Tahun 1965,
Pecah G 30 S/PKI, tidak ada pemilu
- 5 Juli 1971,
Pemilu pertama di masa Orde Baru, diikuti 9 Parpol ( Katolik, PSII, NU,
Parmusi, Murba, Parkindo, IPKI, PNI, Perti ) dan Golongan Karya.Pada
Pemilu 1971 Partai Katolik meraih 606.740 suara (1,11%) sehingga di DPR
memperoleh 3 kursi.
- Pada tahun
1975an berdasarkan Undang-Undang No. 3 tahun 1975 tentang Partai Politik
dan Golkar, maka terjadilah fusi (penggabungan) Partai-Partai Politik ke
dalam dua Parpol yakni Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi
Indonesia serta satu Golongan Karya; Partai Katolik sendiri bergabung
dengan Partai Demokrasi Indonesia.
- Tahun 1998,
Pecah Reformasi IndonesiaDengan runtuhnya masa Orde Baru dengan lahirnya
masa Reformasi, Pemerintah dituntut untuk segera menyelenggarakan Pemilu
yang diputuskan diselenggarakan pada 7 Juni 1999. Pemilu tahun 1999 ini
Indonesia kembali menganut banyak partai. Partai Katolik muncul kembali
dengan nama Partai Katolik Demokrat (PKD).
- Lahirlah
Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) yang dideklarasikan oleh PMKRI,
Mudika, WKRI, ISKA, Tokoh Katolik, Kaum Muda Katolik, Rohaniwan/ti,
Pengurus Lingkungan/Stasi dan Paroki.Gereja mengeluarkan Pernyataan
Pastoral KWI bahwa ”Gereja tidak berpolitik (umat diberikan kebebasan
memilih sesuai dengan hati nurani)”.
- Tahun 2008,
Indonesia kembali menganut Pemilu Multi Partai, Partai Katolik Demokrat
berganti nama menjadi ”PARTAI KASIH DEMOKRASI INDONESIA” (PKDI) dan
mendapat dukungan dari berbagai pihak dan simpatisan dengan lolos
verifikasi partai peserta pemilu 2009.
5.
Partai
Masyumi
Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia
atau Masyumi adalah sebuah partai
politik yang berdiri pada tanggal 7 November
1945 di Yogyakarta.[4]
Partai ini didirikan melalui sebuah Kongres Umat Islam pada
7-8 November
1945, dengan tujuan
sebagai partai politik yang dimiliki oleh umat Islam dan sebagai
partai penyatu umat Islam dalam bidang politik. Masyumi pada akhirnya
dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada
tahun 1960
dikarenakan tokoh-tokohnya dicurigai terlibat dalam gerakan pemberontakan dari
dalam Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI). Melalui Badan Koordinasi Amal Muslimin (BKAM)
para pemimpin Islam tidak menyerah begitu saja, pada sidangnya tanggal 7 Mei
1967 dibentuklah panitia 7 (tujuh) yang diketuai oleh tokoh Muhammadiyah yaitu
H. Faqih Usman, setelah melalui beberapa kali pertemuan dan perjuangan yang
berat, akhirnya pemerintah memberikan izin untuk mendirikan sebuah parpol baru,
yaitu Parmusi (Persatuan Muslim Indonesia), untuk menampung aspirasi umat
Islam, khususnya bekas konstituen Masyumi, dengan syarat mantan-mantan pemimpin
Masyumi tidak boleh menduduki jabatan yang penting dalam tubuh partai Parmusi. Parmusi
disahkan berdirinya melalui Keputusan Presiden No. 70 tanggal 20 Februari 1968,
kemudian diangkatlah sebagai Ketua Umum Djarnawi Hadikusumo dan Sekretaris Umum
Drs.Lukman Harun, yang keduanya adalah aktivis Muhammadiyah.
Masyumi pada
awalnya didirikan 24 Oktober 1943 sebagai pengganti MIAI (Madjlisul Islamil
A'laa Indonesia) karena Jepang memerlukan suatu badan untuk menggalang dukungan
masyarakat Indonesia melalui lembaga agama Islam. Meskipun demikian, Jepang
tidak terlalu tertarik dengan partai-partai Islam yang telah ada pada zaman
Belanda yang kebanyakan berlokasi di perkotaan dan berpola pikir modern, sehingga
pada minggu-minggu pertama, Jepang telah melarang Partai
Sarekat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Islam Indonesia
(PII). Selain itu Jepang juga berusaha memisahkan golongan cendekiawan Islam di
perkotaan dengan para kyai di pedesaan. Para kyai di pedesaan memainkan peranan
lebih penting bagi Jepang karena dapat menggerakkan masyarakat untuk mendukung
Perang Pasifik, sebagai buruh maupun tentara. Setelah gagal mendapatkan
dukungan dari kalangan nasionalis di dalam Putera (Pusat
Tenaga Rakyat), akhirnya Jepang mendirikan Masyumi. Masyumi pada zaman
pendudukan Jepang
belum menjadi partai namun merupakan federasi dari empat organisasi Islam yang
diizinkan pada masa itu, yaitu Nahdlatul
Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat
Islam Indonesia.[1]
Setelah menjadi partai, Masyumi mendirikan surat kabar harian Abadi pada tahun 1947.
Nahdlatul
Ulama (NU) adalah salah satu organisasi massa Islam yang sangat berperan
dalam pembentukan Masyumi. Tokoh NU, KH
Hasyim Asy'arie, terpilih sebagai pimpinan tertinggi Masyumi pada saat itu.
Tokoh-tokoh NU lainnya banyak yang duduk dalam kepengurusan Masyumi dan
karenanya keterlibatan NU dalam masalah politik menjadi sulit dihindari.
Nahdlatul Ulama kemudian ke luar dari Masyumi melalui surat keputusan Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tanggal 5 April 1952 akibat adanya
pergesekan politik di antara kaum intelektual Masyumi yang ingin melokalisasi
para kiai NU pada persoalan agama saja. Hubungan antara Muhammadiyah dengan
Masyumi pun mengalami pasang-surut secara politis dan sempat merenggang pada Pemilu 1955.
Muhammadiyah pun melepaskan keanggotaan istimewanya pada Masyumi menjelang
pembubaran Masyumi pada tahun 1960.
Pemilu 1955
Hasil
penghitungan suara pada Pemilu 1955 menunjukkan bahwa Masyumi mendapatkan suara
yang signifikan dalam percaturan politik pada masa itu.[2]
Masyumi menjadi partai Islam terkuat, dengan menguasai 20,9 persen suara dan
menang di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Jawa Barat,
Sumatera
Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera
Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara
Selatan, dan Maluku.
Namun, di Jawa
Tengah, Masyumi hanya mampu meraup sepertiga dari suara yang diperoleh PNI
dan di Jawa
Timur setengahnya. Kondisi ini menyebabkan hegemoni penguasaan Masyumi
secara nasional tak terjadi.
Berikut Hasil Pemilu 1955:
- Partai Nasional
Indonesia (PNI) - 8,4 juta suara (22,3%)
- Masyumi - 7,9
juta suara (20,9%)
- Nahdlatul
Ulama - 6,9 juta suara (18,4%)
- Partai Komunis Indonesia
(PKI) - 6,1 juta suara (16%)
Melalui Pemilu 1955 ini Masyumi
mendapatkan 57 kursi di Parlemen.
Di antara tokoh-tokoh Masyumi
yang dikenal adalah:
- Hasyim Asy'arie
- Wahid
Hasjim, putra KH Hasyim Asy'arie.
- Haji Abdul Malik
Karim Amrullah (Hamka), wakil Masyumi dalam Konstituante
- Muhammad
Natsir, Menteri Penerangan dalam beberapa
kabinet pada masa revolusi, Perdana Menteri Pertama NKRI, terkenal dengan Mosi Integral Natsir yang mengubah
Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
- Syafrudin Prawiranegara,
Menteri Kemakmuran dalam beberapa kabinet pada masa revolusi, Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia,
Gubernur Bank Indonesia
Pertama, terkenal dengan kebijakan Gunting
Sjafrudin
- Mr. Mohammad Roem,
Diplomat ulung yang dikenal lewat inisiatifnya dalam perundingan yang
kemudian dikenal sebagai Perundingan Roem - Royen
- Muhammad
Isa Anshari, Ketua Partai Masyumi di Parlemen
yang dikenal lantang dan tegas dalam memegang teguh prinsip perjuangan,
termasuk saat polemik tentang dasar negara berlangsung di Majelis
Konstituante sebelum akhirnya dibubarkan dengan Dekrit Presiden tanggal 5
Juli 1959.
- Kasman Singodimedjo,
Daidan PETA
daerah Jakarta,
yang menjamin keamanan untuk diselenggarakannya Proklamasi Kemerdekaan NKRI
dan Rapat Umum IKADA.
- Dr. Anwar
Harjono, merupakan juru bicara terakhir
Partai Masyumi yang dibekukan oleh Pemerintah Orde Lama, sehingga lahirlah
Keluarga Besar Bulan Bintang dan pada masa Orde Baru mendirikan Organisasi
Dakwah, yakni Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(DDII) yang pada masa Reformasi menjadi inspirator bagi lahirnya kekuatan
politik baru penerus perjuangan Masyumi, yakni Partai Bulan Bintang
(PBB).
6.
Partai
Komunis Indonesia
Benih-benih
paham marxisme datang dari luar negeri dan mulai ditanamkan di bumi Indonesia
pada masa sebelum Perang Dunia ke 1, yaitu dengan datangnya seorang pemimpin buruh
negeri Belanda bernama H.J.F.M. Sneevliet, ia seorang anggota Sociaal
Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Pada awalnya Partai Komunis
Indonesia bernama “Indische Social Democratishe Vereniging’ ( ISDV ) , berdiri
pada tanggal 9 Mei 1914. Pada tanggal 23 Mei 1920 namanya diubah menjadi Partai Komunis Hindia, dan baru pada bulan Desember 1920
namanya diubah lagi menjadi Partai Komunis
Indonesia. Tokoh tokoh PKI antara lain adalah Semaun, Alimin dan Darsono. Tujuan PKI
adalah “melaksanakan garis politik yang ditetapkan komunisme
internasional(komintern) dengan cara mengusir penjajah Belanda dan mendirikan
Negara komunis Indonesia.
PKI
dalam perjuangannya menggunakan taktik infiltrasi, yaitu dengan cara menyusup
kedalam organisasi lain, diantaranya adalah kedalam tubuh Sarekat Islam, hingga
akhirnya Sarekat Islam pecah menjadi dua. Caranya
yaitu dengan menjadikan anggota ISDV menjadi anggota SI dan sebaliknya
menjadikan anggota SI menjadi anggota ISDV. Ada beberapa hal yang menyebabkan
berhasilnya isdv melakukan infiltrasi ke dalam tubuh SI yaitu:
1) Central
Serikat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat masih sangat lemah
kekuasaanya. Tiap-tiap cabang SI BERTINDAK SENDIRI-SENDIRI SECARA BEBAS. Para
pemimpin lokal yang kuat mempunyi pengaruh yang menentukan didalam SI cabang.
2) Kondisi
kepartaian pada masa itu memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota
lebih dari satu partai. Hal ini disebabkan oleh karena pada mulanya
oraganisasi-organissi itu didirikan bukan sebagai suatu partai politik
melainkan sebagai suatu organisasi guna mendukung berbagai kepentingan sosial,
budaya, ekonomi. Dikalangan kaum terpelajar bagi setiap orang untuk memasuki
berbgai macam organisasi yang dianggapnya dapat membantu kepantingannya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Di Indonesia partai politik telah menjadi bagian dari
kehidupan politik selama kurang lebih seratus tahun. Umumnya dianggap bahwa
partai politik adalah sekelompok manusia terorganisir, yang anggota anggotanya
sedikit banyak mempunyai tujuan untuk memperoleh kekuasaan politik serta
mempertahankannya guna melaksanakan program yang telah ditetapkannya.
Sejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke wilayah
Nusantara pada abad ke-16, bangsa Indonesia telah mengadakan perlawanan. Namun
segala bentuk perlawanan yang dilakukan tersebut selalu mengalami kegagalan.
Namun pada awal abad ke-20, pemimpin-pemimpin
Indonesia sadar bahwa perlawanan bersenjata tidak akan berhasil ,apalagi jika
perlawanan itu bersifat kedaerahan. Rasa persatuan dan kebangsaan mulai
berkembang. Suku-suku bangsa Indonesia sama-sama menderita di bawah penjajahan.
Penderitaan yang sama itu menimbulkan rasa persatuan. Merekapun sadar bahwa
mereka adalah satu bangsa.dan mempunyai satu tanah air. Penjajahan Belanda
tidak lagi di lawan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan politik.
Disamping itu, dilakukan juga usaha memajukan pendidikan, meningkatkan ekonomi
rakyat, dan mempertahankan kebudayaan. Sehingga masyarakat Indonesia pada saat
itu meningkat pendidikan dan taraf hidupnya (walaupun masih sebatas keluarga
kalangan atas) yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh politik yang terkenal dan
dapat memberi warna tersendiri dalam masa pergerakan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Budiardjo,
Miriam. Dasar – Dasar Ilmu Politik. 2012.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Listiyani,
Dwi Ari. Sejarah. 2009. Surakarta: CV. Putra Nugraha
Ricklefs, M.
C. Sejarah Indonesia Modern. 2005.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Poesponegoro,
Marwati D, Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia V. 1998. Jakarta: Balai Pustaka.
Siregar,
Insan Fahmi. Partai Masyumi Dalam
Dinamika Demokrasi DI Indonesia. 2012. Semarang: Widya Karya
[2] M.C.Ricklefs. Sejarah Indonesia
Modern. Gajah Mada University Press. 2005. Hlm278
[4] Insan Fahmi Siregar. Partai
Masyumi Dalam Dinamika Demokrasi Di Indonesia.Semarang: Widya Karya,2012,hlm.1


No comments:
Post a Comment