About Me

My photo
Riwan Sutandi dari manna bengkulu selatan Pendidikan Sejarah UNNES(Universitas Negeri Semarang) 2012, Rombel 2 PRADA.

Blog Archive


Saturday, 8 June 2019

PERUBAHAN YANG TERJADI PASCA LAHIRNYA SURAT PERINTAH 11 MARET 1966


PERUBAHAN YANG TERJADI PASCA LAHIRNYA SURAT PERINTAH 11 MARET 1966

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Politik
Dosen Pengampu : Bpk. Hamdan


Rizki Amaliyah          (3101412080)



PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Awal Lahirnya Surat 11 Maret
            Lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang sering dikenal sebagai Supersemar. Supersemar menjadi penting karena kelahirannya sebagai arus balik, sebagai kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Supersemar misalnya menandai, makin merosotnya kekuasaan presiden Sekarno dan makin naiknya kekuasaan Letnan Jenderal Soeharto. Bersama dengan itu terjadi pula arus balik arah perpolitikan Indonesia dari sipil ke militer, dari beriorientasi kiri ke haluan kanan, dari arah kerakyatan menjadi berkiblat ke elit politik, dari anti-nekolim (anti neokolonialisme dan imperialism) menjadi promodal asing dsb.
            Pada tanggal 11 bulan itu di tahun 1966 di Istana Bogor, Bung Karno sebagai presiden yang sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, pemimpin besar Revolusi dan Mandataris MPRS menandatangani sebuah surat perintah harian yang menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk “ mengambil segala tindakan yang dianggap perlu” dengan maksud demi “terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi”.
            Sebenarnya garis besar dari apa yang berlangsung pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 1966 secara umum banyak orang telah mengetahui. Pagi itu, di Istana Merdeka Bung Karno memimpin sidang Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Sidang diboikot oleh para demonstran dengan melakukan pengempisan ban-ban mobil pada jalan-jalan yang menuju Istana. Ketika Bung Karno sedang berbicara, Brigadir Jenderal M. Sabur, Komandan Resimen Cakrabirawa, masuk ke ruangan sidang, ingin memberitahu Brigadir Jenderal Amirmachmud, Pangdam V/Jaya yang juga hadir dalam sidang itu, bahwa diluar sedang ada sejumlah pasukan tak dikenal dan ini menimbulkan kekhawatiran. Bung Karno terlihat menjadi gugup, sehingga kemudian menyerahkan pimpinan sidang ke Waperdam II Leimena, sedang ia sendiri bersama Dokter Soebandrio bergegas meninggalkan Istana. Keduanya segera naik kehelikopter menuju ke Istana Bogor[1].
            Tak lama setelah mendengar berita tentang apa yang terjadi di Istana itu, Soehartosatu-satunya meneteri yang tidak hadir dalam sidang kabinet dengan alasan “sakit” mengutus tiga orang, yakni Brigadir Jenderal M. Jusuf, Brigadir Jenderal Basuki Rachmat dan Brigadir Jenderal Amirmachmud, untuk menyusul bung Karno ke Bogor. Pertemuan antara ketiga Jenderal tersebut dengan Bung Karno berakhir dngan ditandatanganinya surat perintah harian, yakni surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).
            Belakangan diketahui bahwa “pasukan tidak dikenal” atau “pasukan liar” itu adalah pasukan Angkatan Darat yang berjumlah dua kompi atau 80 personil yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo. Sarwo Edhi mendapat perintah dari Kmeal Idris sendiri mendapat intruksi mengenai pengerahan pasukan tanpa atribut itu dari Letjen Soeharto. Dikatakan, semula mereka diyugaskan untuk menangkap menteri-menteri yang dipandang dekat dengan Bung Karno dan berhaluan kiri seperti Soebandrio. Apapun latar belakangnya kehadiranpasukan liar itu telah membuat Brigjen Subur panik.
            Setelah tidak lama dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret itu terjadi perubahan dalam bidang ekonomi, politik, sosial dalam pemerintahan indonesia. Disini saya akan membahas tiga konsep perubahan paling mencolok dalam peristiwa lahitnya Surat Perintah 11 Maret diantaranya, pergeseran kekuasaan dari presiden Soekarno ke Soeharto, Pembubaran PKI dan pelarangan Ideologi komunis, posisi Angkatan Darat di dalam pemerintahan. dimulai dari konsep yang pertama yaitu :
A. Pergeseran Kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Jenderal Soeharo.
            Dimulai setelah dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret, tampak sekali bahwa Soeharto menggunakan Supersemar yang sebenarnya adalah perintah presiden (executive order) itu sebagai sebuah “transfer of authority” seolah-olah Bung Karno menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada Soeharto sehingga Soeharto boleh melakukan apa saja untuk menangani masalah keamanan dan ketertiban, dan seakan-akan negara sedang dalam keadaan perang. Dilihat demikian, tampak bahwa yang sedang berlangsung adalah sebuah kudeta, meskipun kudeta itu berlangsung secara berlahan-lahan atau sebagai suatu yang jalnnya merangkak.
            Apa persisnya peristiwa yang terjadi setalah ditandatanganinya Supersemar , yang jelas pada malah itu juga Soeharto dan kawan-kawan bekerja keras untuk melahirkan surat keputusan presiden No. 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966 yang ia tandatangani. Pagi harinya jam 06.00 tanggal 12 Maret 1966 surat itu diumumkan. Dan isinya adalah secara resmi PKI dibubarkan. Kelihatan disini bahwa Supersemar telah dimanfaatkan oleh Soeharto untuk membubarkan partai. Meskipun itu adalah wewenang presiden. Lebih dari itu, pada hari Sabtu tanggal 13 Maret Soeharto mengeluarkan seruan agar aparatur negera ditingkat pusat maupun daerah supaya menjaga kelancaran roda pemerintahan. Bisa dilihat disini titik awal dari penggulingan kekuasaan presiden Soekarno ke Jenderal Soeharo yang memanfaatkan Supersemar sebagai alat menuju kekuasaan.
            Melihat semakin jauhnya pelaksanaan Supersemar dari maksud semula yaitu sebagai surat pengamanan dan berubah menjadi surat penyerahan kekuasaan. Pada tanggal 16 Maret Bung karno berusaha menerangkan isi Supersemar sambil menekankan bahwa dirinya masih berkuasa peneuh, termasuk atas kabinet yang ada. Dia tegaskan misalnya, sebagai presiden ialah yang berhak mengangkat dan mencopot seorang kabinet menteri. Akantetapi tampaknya Soeharto tidak terlalu perduli pada apa yang dikatakan Bung Karno. Pada tanggal 18 Maret ia justru secara sepihak mengambil keputusan untuk “mengamankan” ( artinya menahan dan menangkap) 15 orang menteri Kabinet Dwikora yang disempurnakan[2]. Diantara mereka yang ditangkap  itu adalah orang-orang yang justru kepercayaan dan sudah bekerjasama dengan Bung Karno dalam waktu yang lama. Diantaranya yaitu Weperdam I Soebandrio dan Weperdam II Leimena serta ketua MPRS Chairul Saleh.
            Dengan ditangkapnya orang-orang kepercayaan Soekarno di dalam Kabinet Dwikora, secara otomatis kabinet selanjutnya Soeharto akan memasukan orang-orang kepercayaannya dan terus menekan kepemimpinan dari Presiden Soeharto, dengan kehilangan orang-orang yang berada dipihaknya lagi Soekarno dengan separuh kekuatanya tetap memimpin dan menjalankan Kabinetnya dalam pemerintahan.
            Pada bulan Juni terasa Khusus karena pada tanggal 20 bulan ini digelar sidang Umum  MPRS IV di Istora Senayan. Sidang itu sendiri baru berakhir pada tanggal 6 Juli. Untuk sidang umum kali ini Soekarno mendesakan sebuah ageda, yakni agar MPRS mau mengukuhkan Supersemar menjadi ketetapan MPR dan dengan demikian tak akan dapat dicabut atau diubah oleh bung Karno.
            Diluar dugaan Bung Karno, ternyata SU MPRS juga mencabut gelar “presiden seumur hidup” dari tangan Bung Karno. Pada saat yang sama. SU MPRS justru setuju untuk menetapkan naskah Supersemar sebagai TAP MPRS. Lahirnya TAP MPRS No. IX/MPRS/1966 tentang Supersemar. Dengan ditetapkannya Supersemar sebagai ketetapan MPRS. Makin menipis kekuasaan Bung Karno untuk bisa mencegah berbagai tindakan politisi yang dilakukan atas nama tersebut. Ia pun tak akan dapat lagi mancabut surat perintah itu.
Dalam Sidang Umum MPRS yang sama, tepatya pada tanggal 5 Juli 1966. Dikeluarkanlah ketetapan MPRS No. XV/MPRS/1966 yang berisi antara lain:
1)               Penetapan tidak diperlukannya jabatan wakil presiden.
2)               Apabila presiden berhalangan hadir, pemegang SP 11 Maret 1966 memegang                                jabatan presiden.
            Dalam ketetapan MPRS jelas melanggar UUD 45. Karena didalam UUD 45 ditetapkan adanya jabatan wakil presiden. Dan waktu itu UUD 1945 belum diamandemen. Dengan demikian sebenarnya TAP tersebut inkonstitusonal. Namun tampaknya hal itu dibutuhkan, supaya kalo presiden Soekarno berhalangan hadir maka bukan seorang wakil presiden yang menggantikannya melainkan pemegang Supersemar, yang tidak lain adalah Soeharto sendiri. TAP MPRS macam itu tentu tidak akan sulit didapat karena mengingat bahwa komposisi keanggotaan MPRS sudah diatur sedemikian rupa sehingga akan menguntungkan si pemegang Supersemar.
            Dalam sidang umum MPRS ini Bung Karno diminta berpidato guna mempertangung jawabkan apa yang terjadi  di seputar 1965/1966 . Bung Karno menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan tanggung jawab, sekaligus menghimpun dukungan politik melalui pidato. Pidato ia beri judul Nawaksara. Jalan panjang menuju kejatuhan Bung Karno bermula dari Supersemar dan berakhir di podium Nawaksara. Pidato Nawaksara yang dibaakan oleh Soekarno pada 22 Juni 1966[3], dinilai MPRS dan jajarannya, tidak bisa memberikan tanggung jawab secara politis terhadap kehidupan bangsa Indonesia saat itu. Pidato tersebut dinilai hanya sebagi progress perort, bukan pertanggung jawaban presiden mengenai kondisi pasca G30S.
            MPRS dan jajarannya, akhirnya meminta Soekarno untuk segera melengkapi isi pidato tersebut. Wajar saja karena ynag duduk didalam jajaran MPRS saat itu adalah kalangan Angkatan Darat yang sejak awal memang kontra dengan Soekarno. Ketua MPRS sendiri adalah Nasution, yang sudah beberapa kali bertentangan dengan Soekarno. Ia terpilih sebgai ketua MPRS pada 21 Juni 1966. Sejak tahun 1952, Nasution mulai mengotak ngatik kepemimpinan Soekarno dengan melancarkan peristiwa penting pada 17 Oktober 1952.
            Setelah dibacakannya Nawaksara, demonstrasi mahasisiwa terus dilancarkan. Mereka menuntut, Soekarno dan jajarannya segera mendamaikan suasana dan meminta sesegera mungkin melengkapi Nawaksara yang dianggap tidak mewakili aspirasi masyarakat Indonesia[4].
            Tragisnya, meski Soekarno telah melengkapi kekurangan Nawaksara yang dilayangkan oleh MPRS, lembagi ini tetap menolaknya. Ditinjau secara politik, sebab penolakan sebenarnya mengarah pada peristiwa G30S, dimana Soekarno tidak banyak menyinggung peristiwa besar tersebut dalam pidatonya. Soekarno berulangkali mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu tentang peristiwa gerakan 30 september, sehingga dalam pidatonya tersebut dia tidak banyak menyinggung tentang peristiwa tersebut.
            Wibawa dan karisma presiden Soekarno mmebuktikan dirinya sebagai pemimpin masa depan yang cakap dan luar biasa, dan menjadi simbol dalam revolusi Indonesia. Soekarno tetap mendapat tempat khusus dihati rakyat kebanyakan, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah.pada pimpinan militer, sadar akan sulitnya menghancurkan citra politik Bung Karno, merasa kurang tepat untuk menempuh suatu tindakan langsung melawan sang presiden, dalam pandangan mereka, pentinglah dalam kebanggaan nasional, kesatuan bangsa, dan sejarah bangsa, Indonesia tetap menjaga nama baik pemimpin revolusi yang sekligus presiden pertama.
            MPRS telah mencabut dekrit 1963 yang menyatakan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. masa jabatan akan berlangsung sampai anggota MPR terpilih sepakat untuk memilih presiden yang baru, dan tampaknya hal itu baru akan terjadi dua tahun mendatang. sementa itu, tampaknya Soekarno tidak akan bisa kembali sepenuhnya ke panggung kekuasaan meskipun ia akan terus berusaha menghalangi kebijakan-kebijakan kubu militer.
            Berkaitan dengan perkembangan situasi yang ada di Indonesia, pada bulan Juli 1966 ini majalah Time menyebutkan apa yang trejadi di Indonesia pada perode ini sebagai “The West’s Best News For Years In Asia”[5]. Dengan kata lain apa yang terjadi di Indonesia sejak peristiwa 1 Oktober 1965, penindasan kaum kiri, serta naiknya Soeharto melalui Supersemar  merupakan berita terbagus bagi blok Barat sejak sekian tahun terakhir. Hal itu bisa dimengeri, sebab semakin lama semakin kelihatan bahwa berkat adanya Supersemar berlangsunglah di Indonesia suatu proses de-Sukarnoisasi yang cukup cepat. Dari Minggu ke Minggu pengaruh Bung Karno tapak semakin merosot. Sementara itu dengan adanya de-Sukarnoisasi berarti: rakyat yang berhaluan kiri tak lagi punya pendukung yang handal, pemerintahan baru yang dipimpin Soeharto semakin kuat, dan sejalan dengan itu tata kehidupan politik-sosial-ekonomiIndonesia akan semakin mengarah ke negara-negara Barat bukan lagi ke blok Timur yang selama ini terjadi dibawah kepemimpinan Bung Karno. Susunan Kabinet baru diumumkan pada tanggal 25 Juli mencerminkan semakin “sempurna”-nya upaya de-Sukarnoisasi.
            Dengan penolakan Nawaksara berikut perlengkapannya, gagal sudah Soekarno mempertahankan dirinnya segai presiden RI, sekaligus pemimpin besar Revolusi. Pada tanggal 7 Februari 1967, Soekarno mengirim sepucuk surat rahasia kepada Soeharto yang mengatakan bahwa ia bersedia mengakhiri dualism dalam pemerintahan Indonesia.
            Setelah mengirim surat, sejak 20 Februari 1967, tersebutan presiden lepas dari dirinya, hal ini ditandai dengan penyerahan kekuasaan pemerintahan kepada pemegang Supersemar sesuai dengan ketetapan MPRS tahun 1966 yang suratnya diserahkan pada tanggal 21 Februari. Selepas itu, pada tanggal 22 Februari1967, sebagai mana dituturkan Nasution, seluruh menteri dikumpulkan di Istana Merdeka untuk mendengarkan pengumuman presiden.
            Dalam memorandum yang ditulis oleh Deputi Asisten Menteri Luar Negeri untuk utusan Timur Jauh Berger di bawah ini Supersemar dilihat sebagai puncak dari ketegangan dengan Bung Karno dengan kubu anti-komunis yang terdiri dari kalangan sipil maupun militer. Dalam salah satu langkah politiknya, demikian menurut memo ini Bung Karno bermaksud menggantikan Soeharto dengan dengan Jenderal yang berhaluan kiri. Sebgaai balasan kubu militer menyampaikan  “ultimatum” kepada Bung Karno dan hasilnya adalah Supersemar. Dikatakan Supersemar adalah tindakan Bung Karno “menyerahkan tanggung jawab” untuk menjaga keamana dan ketertiban kepada Angkatan Darat (Army).
            Apa yang dimaksud dengan penyerahan kekuasaan dan penyerahan tanggung jawab oleh Supersemar kiranya sulit dipastikan, antara lain mengingat bahwa naskah itu telah diubah-ubah bahkan kemungkinan hilang, namun yang jelas, pihak AS mengacu pada pemerintahan pasca 11 Maret 1966 sebagai pemerintahan yang baru. Sejak dikelurkannya Supersemar, Soehrto rajin mengeluarkan perintah atas nama Soekarno. Dalam kaitannya dengan pemerintahan yang baru mahasiswa pun dipandang sebagi “ the new emerging force”nya Indonesia. Istilah itu mengacu pada istilah yang disingkat “NEFOS” dan sering digunakan oleh Soekarno untuk-negara-negara baru merdeka yang gigih melwan negara-negara kapitalis.
           
B. Posisi Angkatan Darat dalam Pemerintah
            Pada akhir 1950-an tentara dibawak kepemimpinan Jenderal Abdul Haris Nasution secara besar-besaran meningkatkan kekuasaannya di ranah politik dan ekonomi. Ini disusul dengan pemberlakuannya Undang-Undang keadaan darurta perang pada 1957 semasa pemberontakan militer PRRI-Permesta. Selama menjabat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (penguasa perang tertinggi atau Peperti ), Nasution menunjuk perwira militer sebagai pengelola tanah dan property sitaan Belanda. Lebih dari itu, tentara juga mengendalikan Industri minyak secara langsung, mengambil alih asset-aset Royal Dutch Shell di pangkalan Brandan ( Sumatera). Atas perintah  Nasution, tentara mneguasai permina (pertamina), perusahaan minyak dengan keuntungan yang mengiurkan. Ia pun menunjuk Dr (Jenderal) Ibnu Sutowo yang kebijakan ekploitasi bebasnya kemusian membawa permina terlilit utang miliaran dolar, sebgai kepala. Ini adalah awal militer mulai bergeliat dalam kekuasaan pemerintahan Indoneisia.[6]
            Pada awal 1960-an militer mempunyai struktur organisasi yan hebat, manajemen territorial dimana para perwira militer mengawasi sebagaian besar aspek kehidupan politik, ekonomi dan sosial, emngontrol angsung rekan administrative sipil mereka sendirisampai tingkat Kabupaten. Bukan hal sulit bagi para pemimpin militer untuk memeperluas komando militer sehingga ketingkat Kecamatan sekaligus menetapkan perwira militer di Desa dan Dusun-Dusun pasca kudeta.
            Militer memegang kekuasaan di Indonesia dan tampaknya akan terus demikian sampai beberapa waktu mendatang. Walaupun panglima militer Lennan Jenderal Soeharto dan para pemimpin militer lain mengijinkan elemen politik massa non-Komunis untuk menyampaikan aspirasi, namun mereka berharap dapat membatasi aktivitas organisasi masa tersebut sampai pada titik yang tidak akan membahayakan garis kebijakan umum yang dikembangkan sejak percobaan kudeta yang gagal oleh sayap kiri bulan Oktober lalu. Akan tetapi, kelompok itu diharapkan akan dapat memengaruhi militer dan bersikap Independen.
            Militer Indonesia, walaupun anti-Komunis, tetap setia kepada Soekarno dan dengan setengah hati mengikutinya kearah kiri. Para pemimpin militer hanya mempunyai dua pilihan untuk mencegah Indonesia jatuh kedalam Komunisme. Pilihan pertama adalah mengharap Soekarno wafat sehingga militer dapat menetang PKI. Pilihan yang kedua adalah PKI akan menggunakan cara-cara kekerasan terhadap Soekarno atau pemerintahan, sehingga dengan demikian akan sah bagi kubu militer untuk melakukan serangan balasan.
            Pada awalnya para pemimpin militer percaya bahwa mereka dapat membujuk presiden Soekarno untuk bergabung dengan gerakan nati-Komunis. Ketika Soekarno ternyata malah mencoba membalikan arah situasi pasca kudeta 1 Oktober 1965 atau dikenal dengna nama “Gerakan 30 September” , pihak militer memutuskan untuk secara bertahap membatasi kekuasaan dan pengaruh Bung Karno. Upaya ini mencapai puncaknya ketika pada tanggal 11 Maret 1966 ketika Soekarno, dengan setengah hati dan dibawah tekanan militer, memberikan suatu keputusan serupa dengan kekuasaan eksekutif kepada Soeharto “kekuasaan 11 Maret” yang dimiliki Soeharto itu kemudian pada tanggal 21 Juni disahkan oleh badan tertinggi negara, yakni MPRS.  
            Dalam gerakan anti-Komunis yang sekaligus anti-Soekarno, militer mendapat dukungan aktif dari organisasi-organisasi massa. Walaupun kebanyakan dari orgaisasi-organisasi tersebut termotifasi oleh alasan anti-komunis, sebenarna mereka juga ingin menggunakan kesempatan itu untuk mencari posisi politismasing-masing. Mereka memandang militer sebagai alat untuk mengembalikan mereka kepada posisi politisi masing-masing, baik ditingkat nasional maupun daerah.
            Para pemimpin militer saat ini percaya bahwa militer meemiliki misi politik yaitu memimpin dan membentuk negara Indonesia selama masa transisi ini. para perwira militer ini berpartisipasi dalam bentukan Indonesia merdeka 20 tahun lalu dan menganggap diri mereka lebih berdedikasi dan mempunyai bekal yang sama dengan rekan sipil atau politisi untuk memimpin bansa ini. pada masa lalu, militer merasa tidak sadar terhadap partai-partai non-komunis yang selama periode demokrasi parlementer lebih suka sibuk dengan perebutan kekuasaan. Tidak sulit untuk menyadari betapa pentingnya kemenangnan AD atas Soekarno (meskipun Soekrano dihormati atau menjadi simbol negara semata).
            Kelompok Soeharto kemudian melancarkan maneuver untuk mengundang sidang Umum MPRS. Para pendukung Soekarno dig anti dengan orang-orang yang nati Soekarno. Misalnya soal karakter ketua MPRS. Pada tanggal 8 Maret 1966, ketua MPRS Caerul Saleh telah ditangkap dan digantikan untuk mengantikannya, presiden Soekarno menunjuk Letjen Wiluyo Puspojudo. Namun, Soeharto menggantikannya dengan Letjen A.H Nasution yang dikenal bermusuhan dengan Soekarno. Juga wakil ketua MPRS Ali Sastroamindjojo, yang dikenal berhubungan dengan dekat dengan Soekarno, digantikan oleh Osa Maliki[7], disini dapat dilihat begitu berkuasanya Soeharto dengan Supersemarnya, dengan gampangnya Soeharto menggati struktur anggota MPRS dengan orang-orang kepercayaannya dari kalangan Angkatan Darat.
            Kabinet baru Indonesia yang dilantik pada tanggal 28 Juniadalh sebuah kemenangna untuk panglima Jenderal Soeharto atas Soekarno, walupun Soekarno sangat berkeberatan, Soeharto menjadi ketua kabinet tersebut dan dua naggota Triunvirat yang lain memimpin pemerintah yang lalu yaitu Adam Malik dan Sultan Yokyakarta yang dipertahankan. Kabinet menunjukan kompromi antara militer dan partai politik, dan pada tingkat tertentu, dengan Soekarno. Kabinet ini mungkin lemah dari sisi ekonomi tetapi terlihat lebih baik dari pada pemerintahan Indonesia beberapa tahun terakhir.
            Triunvirat yang ada sekarang mungkin akan melanjutkan tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh kabinet yang sebelumnya, misalnya perang melawan komunis selebihnya ekonomi dan melalui kebijakan luar negeri bebas-aktif, membangun hubungan kembali dengan negara-negara Barat dan mencarai bantuan ekonomi dari negara Barat maupun negara-negara blok Komunis.
            Dengan dikendalikannya situasi politik dalam negeri sekarang ini oleh militer, kalangan sipil non-komunis berharap bahwa kabinet ini akan mampu mengambil langkah-langkah yang efisien guna mengatasi krisis ekonomi Indonesia yang parah. Tampaknya itu pula yang menjadi harapan pemerintah, walaupun tampaknya keadaan ekonomi akan memburuk sebelumnya bisa sungguh-sungguh membaik, Indonesia mungkin masih akan bisa bertahan, setidaknya untuk bebrapa bulan mendatang, dan menggunakan kredit luar negeri terbatas dengan memanipulasi dana-dana yanga da, khususnya dalam instansi-instansi pemerintahan. harapan mereka adalah bahwa negara-negara kreditor dapat meringankan jadwal-jadwal pembayaran terhadap hutang luar negeri Indonesia yang begitu besar dan akan segera diadakan pembicaraan tentang bantuan ekonomi luar negeri yang besekala besar.
            Kabinet baru Indonesia yang beranggotakan 27 orang Menteri di lantik pada 28 Juli, seperti yang sudah diduga adalah kemenangan bagi Jenderal Soeharto dalam usahanya mengurangi kekuasaan dan wibawa dari Bung Karno. Tidak hanya menjadi pemimpin kabinet, Soeharto juga mmepertahankan dua anggota Triumvirat dari pemerintahan sebelumnya walaupun kedua anggota itu adam malik dan Sultan Yogyakarta sudah ditendang oleh Soekarno dulunya, Triumvirat ini adalah sebuah tim yang dapat bekerjasama dengan baik dan merupakan kombinasi unik yangd apat diterima oleh militer maupun kalangan sipil Indonesia.
            Presidium, Soeharto adalah ketua merangkap sebagai anggota Kabinet” presidium” dari lima “menteri pertama” setiap menteri pertama membawahi sebuah kelompok portofolio. Soeharto membawahi sector pertahanan dan keamanan kabinet, dan sebagai seorang panglima militer, ia memegang portofolio militer, Adam Malik selain Soeharto mungkin dia orang yang paling cakap dalam kabinet ini, membawahi sector politik dan juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Sultan Yogyakarta tidak membawahi portofolio, tetapi sebagai menteri pertama urusan ekonomi dan keuangan, dia akan membawahi enam kementeria, dua menteri pertama yang lain tidak memegang portofolio dan mewakili dua partai politik terbesar di Indonesia  : Chalod Nasional Nahdatul Ulama (NU) dan Sanusi mewakili Partai Nasional Indonesia (PNI). Chalid membawai kementrian yang berurusan dengan masalah kesejahteraan rakyat. Sanusi akanmembawahi kemetrian yang berkaitan dengan industry dan pembangunan.[8]
            Tampaknya, dukungan ABRI sangant menentukan di sini karena ABRI menganggap penting untuk mengukuhkan Supersemar sampai MPR hasil pemilu 1971. Maka, strategi pun harus disusun. Sebuah sumbet mengatakan, anggota MPRS diangkat dari anggota DPR Gotong Royong   yang  berjumlah 293 orang  plus sejumlah tambahan. Di antara orang tambahan itu ada 75 orang dari ABRI dan 95 orang dari Golkar. “jadi memang tidak ada debat. Mayoritas menghendaki pak karno dicopot, ya mau apalagi” kata Dahlan Ranuwihardjo tentang pengalaman aksi menetang Soekarno, lantaran presiden pertama itu dinilai telah melenceng jauh, dengan banyaknya anggota ABRI dan Golkar di dalam struktur pemerintahan makin memudahkan jalan Soeharto menuju tahta kekuasaan.
            Triumvirat, tetap merupakan inti dari kabinet. Keberadaan dari Soeharto dan Sultan keduanya orang Jawa, meberi lekuatan tersendiri pada pemerintahanyang baru: Soeharto member dimensi kekuatan milite, sedangkan Sultan menyumbangkan sisi seorang aristocrat yang berpendidikan tinggi dan terbuka. Keduanya juga membantu dan memahami dengan baik kompleksitas  kehidupan orang Jawa. Adam Malik orang Sumatra, mewakili wilayah luar Jawa dan membawa kedalam kabinet semangt dan keberanian dan kenegarawanan yang cerdas.
            Masing-masing anggota Triumvat memiliki akar dalam perjuangan kemrdekaan Indonesia. Malik yang katif berpolitik sejak sebelum peang dunia ke II, memiliki catatan panjang peruangan yang tak kunjung henti. Soeharto mempunyai catatan yang bagus dalam perjuangan militer melawan Belanda dan ia juga berperan dalam menumpas pemeberontakan komunis tahun 1948 di Madiun, Jawa Timur. Sultan mendukung revolusi kemerdekaan, dialah yang dalam kapasitasnya sebagai menteri Luar Negeri tahun 1949 menerima penyerahan kedaulatan dari Belanda di Jakarta.
            Soeharto dan Sultan tidak pernah berhubungan dengan partai politik, tapi keduanya condong ke nasionalismesekular. Malik hamper tidak mempunyai pengikut yang terorganisir fakta yang membuat dia disukai oleh Soeharto  dan dalam waktu yang sama membebaskannya dari urusan golongan yang setia dengannya. Malik berorientasi pada sosialis pragmatis dan dalam kapasitasnya sebagai pemimpin urusan politik, saat ini mengusulkan gerakan yang dinamakan “sosialisme Pancasila” parati-partai muslim tidak menyukai Malik, karena takut bahwa keberadaannya di dalam kabinet presidium akan membahayakan mas depan politik mereka. Ketiga Triumvirat adalah Muslim, dan kemungkinan Malik adalah yang paling taat.
C.   Dibubarkannya PKI dan dilarangnya Idologi atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme di Indonesia
            Sebelum melihat dampak PKI terhadap di keluarkannya Supersemar disini saya akan mmeberikan pengantar tentang awal mula partai PKI mempunyai banyak musuh dalam kancah perpolitikan dari ABRI, orang-orang dalam pemerintahan yang tidak menyukai idologi Komunisme karena mereka menganggap idologi komunis bertentangan dengan Pancasila sampai masyarakat yang kontra dengan partai PKI dan ideologinya.
            Dilihat disini konflik PKI dan ABRI sendiri adalah konflik yang berkepanjangan dimulai dari 1965 isu kudeta yang berpotensi mendatangkan krisis telah menyebar luas di Indonesia. Sejak pertengahan hingga akhir 1950-an PKI menikmati dukungan luas sekaligus menjadi musuh bersama pemimpin ABRI dan pemerintahan Amerika Serikat.
            NASAKOM yang digagas Soekarno pada 1961bdianggap memperkuat posisi PKI. Disamping fungsinya untuk menjaga ‘persatuan nasional’ melalui NASAKOM pula PKI memiliki perwakilan resmi dipemerintahan. Soekarno membagi kekuasaan dan menggunakan aturannya sendiri untuk mempertahankan pemerintahannya. Dengan mengadudomba PKI dan ABRI agar saling menyerang, Soekarno berharap dapat melemahkan sekaligus membatasi kekuatan kedua belah pihak. Pada 1965 Soekarno mengimbangi kekuatan ABRI dengan bersekutu secara lebih terbuka dengan PKI. Partai ini beserta serikat-serikat yang terkait dengannya seperti serikat buruh, petani, wanita, pemuda, mahasiswa, seniman dan intelektual mampu meraup dukungan sekitar 10 hingga 15 juta orang.
            Pada 1965 pertarungan politik antara para jenderal dengan Soekarno PKI terbilang sangat akut. ABRI telah menjadi kekuatan besar dikancah perplitikan Indonesia sejak kemerdekaan. Berawal dari 1959 bertepatan dengan dimulainya Demokrasi terpimpin Soekarno, para pemimpin ABRI menikmati posisi dominan yang kian hari kian menguat. Sector-sektor kunci dibidang  perekonomian diawasi langsung militer. Sementara itu, struktur organisasi militer meluas hingga ke tingkat daerah sehingga bukan mustahil dominasi militer masuk kesemua lini birokrasi sipil. Sayangnya, setelah Indonesia merdeka ambisi dan konsolidasi kekuasaan militer terjagal PKI.
            Sikap anti komunis sebenarnya sudah sejak lama ditunjukan para petinggi militer secara terang-terangan. Tuntutan PKI pada Januari 1965-didukung sepenuhnya oleh Soekarno-agar Indonesia memiliki ‘Angkatan Bersenjata Kelima’ praktis semakin memperkeruh suasana. Dari gagasan tersebut terbayang bagaimana 21 juta petani dan buruh bersenjata bebas dari pengawasan tentara.
            Angkatan Bersenjata Kelima adalah bentuk gugatan terhadap kekuatan koersif militer. Di mata para petinggi militer, gagasan tersebutjuga berarti pengukuhan aksi politik yang matang, bermuara pada dominasi PKI dan hendak mendirikan pemerintahan komunis yang pro Peking di Indoneisa. Persoalan Angkatan Bersenjata Kelima ini berbuntut keretakan pada hubungan antara Soekarno dengan para pemimpin ABRI, terutama Ahmad Yani dan A.H Nasution.
            Kemudian disusul dengan demonstrasi para mahasiswa yang berlangsung mulai bulan Janurai terus berlanjut pada bulan Februari 1966. Didukung oleh tentara, mahasiswa bersebrangan dengan Bung Karno karena Bung Karno tak kunjung menyampaikan “ solusi politik” yang ia janjikan berkaitan dengan peristiwa berdarah 1965. Dengan lantaran para mahasiswa menyerukan “Tritura” atau Tiga Tuntutan Rakyat. Ketiga tuntutan itu adalah; Bubarkan PKI, Retool( bubarkan) Kabinet Dwikora, dan turunkan harga.
            Menanggap tuntutan dari mahasiswa itu pada tanggal 21 Februari Bung Karno me-retool Kabinet Dwikora dan menggantikannya dengan Kabinet Dwikora yang disempurnakan dalam kabinet ini Nasution dicopot kedudukannya sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Ia digantikan dengan oleh Letjen sarbini sebagai Menko pertahanan. Soeharto snediri ditetapkan sebagai menteri/panglima AD dan kepala staff komando tertinggi. Omar dan Soebandrio yang dicurigai terlibat dalam 1 Oktber 1965 tetap dipertahankan dalam kabinet, melihat pencopotan Nasution dan dipertahankannya orang-orang kiri mahasiswa dan tentara merasa kecewa. Mereka menyebut kabinet itu sebagai “ kabinet Seratus Menteri” atau “kabinte Gestapu”
            Soekarno memang sudah kehilangan dukungan rakyat sejak peristiwa G30S. apalagi sejumpah perwira Angkatan Darat kian mengericut dalam klik anti komunis yang sekaligus berupaya merobohkan kekuasaan Soekarno. Nah, dalam konteks inilah Supersemar lahir sebagai bagian dari sekenario penghancuran atas kekuasaan itu.
            Pada 11 Maret malam, setelah Meyjen Basuki Racmat, Brigjen Amirmachmud dan Brigjen M. Jusuf menerima surat perintah dari presiden Soekarno untuk menteri/panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto, maka ketiga Jenderal itu segera meninggalkan Istana Bogor. Pada malam itu juga , Letjen Soeharto memerintahkan ketua G-5KOTI Brigjen Soetjipto dari markas kostrat untuk menemui letkol Soedharmono agar menyiapkan konsep keputusan presiden/pengganti ABRI/KOTI tentang pembubaran PKI dan ormas-ormasnya. Pada saat itu Soedarmono “bersentuhan dengan Supersemar”
            Pada pukul 22.00, Soedharmono mengaku mendapat telepon dari Soetjipto yang menyampaikan perintah dari Letjen Soeharto untuknya. Soetjipto meminta Soebandono agar malam itu juga menyiapkan konsep pembubaran PKI. Dia sempat menjelaskan bahwa hal ini adalah perintah Pangkopkamtib, sebagai hasil keputusan rapat KOTI yang dipimpin langsung oleh Pangkopkamtib, jadi Soeharto memang telah berencana untuk menggunkan kewenangan dari Supersemar guna membubarkan PKI.
            Walaupun pada 13 Maret 1966 presiden Soekarno mengutus wakil perdana menteri II Dr. J. Leimena di damping Brigjen KKO Hartono mendatangi Letjen Soeharto di rumahnya dengan membawa surat yang isinya mengoreksi keputusan Soeharto yang membubarkan PKI, tampaknya Soeharto sudah yakin bahwa dia akan mendapat bantuan dari Nasution. Maka kepada Leimena, Soeharto berpesan “sampaikan pada Bapak presiden semua yang saya lakukan atas tanggung jawab saya sendiri”.[9]
            Sesudah keputusan malam itu pada tanggal 12 Maret, sebuah keputusan diumumkan melalui radio dalam warta berita pagi tanggal 12 Maret, di Ibu Kota pawai militer seakan-akan spontan di mana tampak sejumlah besar mahasiswa memanjati truk dan tank dan para mahasiswa merangkul para komandan Sarwo Edhie.
            Menurut keterangannya sendiri Seoharto setelah kup Gestapu pada sekian banyak kesempatan memohon Soekarno untuk, berdasarkan wenangnya sebagai presiden, menempatkan PKI diluar hukum, tetapi presiden terakhir ini selalu mencari alasan untuk mempertahankan partai PKI. Kali ini presiden Soekarno menetang pembubaran partai PKI dengan argumentasi bahwa partai itu akan selalu akan berkembang menjadi partai dibawah tanah dan menjadi partai yan lebih berbahaya lagi dari sekarang. Soeharto membantah dengan berkata bahwa masyarakat yang untuk sebagian besar anti komunis akan menghalangi PKI untuk melakukan tindakan-tindakan subversif.
            Banyak pihak menuding, telah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan Supersemar. Presiden Soekarno sendiri tidak merelakan Supersemar digunakan untuk membubarkan PKI, karena Soeharto dianggap melangkahi wewenang Bung Karno dengan membubarkan PKI, meski memang saat itu PKI memang menjadi semacam common enemy. Karena menganggap Supersemar telah digunakan secara lancan, maka Bung Karno menyurati Soeharto. Mantan Dubes RI untuk Kuba A.M. Hanafi memuturkan ada tiga poin isi surat yang dikirimkan kepada Soeharto pada tanggal 13 Maret 1966 yaitu; pertama, mangingatkan bahwa Supersemar 1966 itu sifatnya adalah teknis/administratif tidak politik yang digunakan uttuk menjaga keamanan rakyat. Kedua, bahwa Jenderal Soeharto tiak diperkenankan melakukan tindakan-tindakan yang melampaui bidang dan tanggung jawabnya, sebab bidang politik adalah wewenang langsung presiden. Ketiga, Letnan Jenderal Soeharto diminta datang menghadap Presiden di Istana untuk memberikan laporannya.
            Sebenarnya Supersemar adalah sebuah perintah eksekutif (executive order) yang dengan mudah dapat dicabut sewaktu-waktu oleh Presiden selaku pemberi perintah. Presiden Soekarno wewenang hukum untuk mencabut kembali Supersemar dari tangan Letjen Soeharto. Jadi posisi kubu Soeharto masih belum betul-betul aman. Setiap saat, wewenang itu dapat dicabut.
            Dengan dikalahkannya dan diceraiberaikannya PKI sebagai pendukungnya, Soekano berjuang mati-matian untuk mendapatkan kembali peran sentralnya di Indonesia. Pada saaat yang sama ia mencoba mempertahankan sebisa mungkinkelompok kiri entah itu PKI ataupun non PKI. Modal besarnya adalah kemampuannya melakukan maneuver politik, penolakan politik untuk melawan dia, pernyataan public pihak militer untuk setia kepadanya, serta kesadaran dalam tubuh militer akan meningkatkan kebutuhan untuk membangun kembali sebuah pemerintahan yang mempersatukan
            Antara tahun 1965-1966 dan puncaknya setelah di keluarkannya Supersemar Partai Komunis Indonesia telah dihabisi dan menjadi organisasi bawah tanah dengan jumlah yang tidak diketahui. Tetapi, terdapat indikasi bahwa jumlah pemimpin komunis pada tingkat nasional maupun lokal yang terbunuh atau yang ditahan tidak sebanyak yang diberitakan. Dalam beberapa minngu terakhir dilaporkan bahwa ada sejumlah pamphlet pro-PKI beredar di Jawa Timur. Walaupun begitu, banyak pengawasan militer yang telah membuat efektifitas partai ini sebagai sebuah kekuatan politik nasional hamper tidak ada-setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.

Dampak adanya Supersemar
            Dengan dikelurkannya Supersemar makan terdapat dampak bagi pemerintahan Indonesia di sini saya akan mencoba menjabarkan dampak yang terjadi di dalam maupun diluar negeri :
1.      Dampak Luar Negeri
            Dengan adanya Supersemar dan naiknya Soeharto, orientasi politik  luar negeri menjadi berbelok arah. Amerika yang dulunya menjadi “musuh” Bung Karno kini menjadi sahabat pemerintahaan pasca lengsernya Bung Karno, karena Amerika mempunyai kepentingan dan Amerika begitu membenci keberadaan komunis di Indonesia maka dikatakan dalam buku Membongkar Supersemar bahwa Amerika membantu dalam Kudeta merangkak yang dilakukan oleh Soeharto, dalam hal membiayaai dan membantu Indonesia. Persahabatan juga dibina dngan sejumlah negarakapitalis lainnya. Sementara konfrontasi dengan Malaysia dihentikan.
            Padalah oleh Bung Karno sejak 1963 konfrontasi dengan Malaysia telah dijadikan salah satu simbol konkret perlawanan terhadap hegemonikapitalis. Pada saat yang sama hutang luar negeri yang pada masa zaman kekuasaan Bung Karno masih relatif terbatas, sejak naiknya kubu Soeharto hutang itu menjadi besar-besaran. Indonesia yang sebelmnya menyatakan keluar dari oraganisasi-organisasi Internasional (termasuk PBB), akhirnya bergabung kembali dengan organisa-organisasi tersebut. Haluan negara yang dilunya dekat dengan negara-negara berhaluan kiri seperti Cina, Beijing, Rusia, dan lainya di putus oleh pemerintahan Soeharto. Dan sekarang lebih dekat dengan negara Kapitalis negara yang berhaluan kanan.
2.      Dampak Dalam Negeri
            Yang lebih pokok untuk kita lihat dan perlu untuk terus kita dialokan tentu saja adalah dampak Supersemar dalam negeri itu sendiri. Sebagai mana kita telah singgung diatas, berkat adanya supersemar kalangan Militer, dibawah pimpinan Jenderal Soeharto, nyaris bisa melakukan apa saja yang mereka hendaki. Termasuk disini ialah pembubaran partai PKI yang sebenarnya dalam pebubaran partai adalah kuasa dari presiden. Penangkapan meeri-menteri kepercayaan dari Soekarno, rekayasa keanggotaan MPRS, penetapan Supersemar sebagai ketetapan (TAP) MPRS dan sebagainya adalah contoh-contoh lain mengenai bagaimana Supersemar itu mempunyai dampak yang amat luas.
            Tak kala penting tentu saja adalah bahwa Supersemar itu Jenderal Soeharto berhasil mempengaruhi MPRS untuk tidak hanya menjadikan surat perintah itu menjadi TAP MPRS, melainkan juga mencabut satatus Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup. Tidak hanya itu, MPRS yang sudah diatur oleh Soeharto ini nantinya akan berani menolak pida pertanggung jawaban Presiden Soekarno yang berjudul Nawaksara berikut perbaikannya, dan akhirnya memberhentikan Soekarno sebagai presiden Indonesia. Dan sejak itu Indonesia dipimpin oleh Jenderal Soeharto bersama Orde Baru dengan segara implikasinya.















Daftar Pustaka
Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI
Wardaya ,Baskara , Membongkar Supersemar;Dari CIA Hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno. Yokyakara: Galang Press.2009.
Indra Ismawan dkk, kumpulan tentang pernyataan Bung Karno tentang Gerakan 30 Sepetember :benarkah Gerakan 30 september didalangi oleh Bung Karno?. Yokyakarta : Media Pesindo. 2006.
Reni Nuryati, Tragedi Soekarno; Dari Kudeta Sampai Kematian. Yokyakarta: Ombak, 2008. 

Majalah Time, edisi 5 Juli 1966
Wisnu, Achmad Aji, Kudeta Supersemar; Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan. Jakarta: Arus Media.2014.

  A.M. Hanafi, Menggugat Kudeta; Jenderal Seoharto Dari Gestapu ke Supersemar Catatan Pengalaman Pribadi Seorang Eksponen Angkatan 45.Jakarta: Yokyakarta API, 1999.
Julie Southwood-Patrick Flanagan,  “Teror Orde Baru; penelewengan hukum dan propaganda 1966 1981”. Depok :Komunitas Bambu, 2013.






[1]  Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI hal. 548
[2] Baskara T. Wardaya, SJ, “ Membongkar Supersemar”,(Yokyakata, Galangpress,2009) hal. 130.
[3]  Indra Ismawan dkk, kumpulan tentang pernyataan Bung Karno tentang Gerakan 30 Sepetember : benarkah Gerakan 30 september didalangi oleh Bung Karno?. Yokyakarta : Media Pesindo, 2006 hal. 38-57
[4] Reni Nuryati, Tragedi Soekarno (Yokyakarta: Ombak, 2008)  hal.44
[5] Majalah Time, edisi 5 Juli 1966
[6]  Julie Southwood-Patrick Flanagan,  “Teror Orde Baru; penelewengan hukum dan propaganda 1966 1981”, (Depok :Komunitas Bambu, 2013) hal 57.
[7]  Wisnu, Achmad Aji. Kudeta Supersemar: Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan,( Jakarta: Arus Media.2014) hal. 85

[8] Baskara, wardaya. Membongkar Supersemar ( Yokyakarta, Galanngpress, 2007) hal. 206
[9]   A.M. Hanafi, Menggugat Kudeta; Jenderal Seoharto Dari Gestapu ke Supersemar Catatan Pengalaman Pribadi Seorang Eksponen Angkatan 45, (Jakarta: Yokyakarta API, 1999), hal. 14-15

No comments:

Post a Comment

4 SISWA SMPN 9 KAUR MEWAKILI KAB.KAUR DI IGORNAS TINGKAT PROVINSI BENGKULU

Siswa SMPN 9 Kaur kembali menorehkan prestasi di Kabupaten Kaur. Kegiatan IGORNAS yang akan diselenggarakan dari tanggal 22 Nove...