Nama :Irnawati
Nim :3101412088
Tugas
sejarah kontemporer
SOEKARNO
DAN DEMOKRASI TERPIMPIN
1. DARI
DWITUNGGAL MENJADI DWITANGGAL
Perubahan
yang terjadi :
Fenomena yang terjadi yaitu kondisi
perpolitikan di Indonesia berubah saat perbedaan sikap politik mulai tampak dan
akhirnya memanas pada tahun 1956, menjelang Soekarno menggaungkan Demokrasi
Terpimpin.
Semenjak kejadian itu ialah ancaman untuk
berhenti sudah dilontarkan Hatta sejak juli 1956. Puncaknya, pada 31 Desember
1956, Dwi Tunggal itu berubah menjadi Dwi Tanggal. Hatta meraa tidak sanggung
lagi mengikuti gaya politik Soekarno. Karen itulah, hubungannya dengan Soekarno
sebagai Switunggal tak bisa lagi manunggal. Hatta merasa Soekarno telah menodai
sistem parlementer yang dibangun bersama. Ia pun bertambah frustasi karena
keterbatasan kekuasaanynya sebagai wakil presiden. Pada akhirnya, Hatta
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai akil presiden. Seleps adari hiruk
pikuk politik, suara Hatta hampi-hampir tak pernah terdengar, bahkan pada saat
terjadi perisitiwa besar tahun 1965, hubungan surat menyurat dan kritik tajam
lewat surat kabar tak terjalin lama, karena kemudian surat kabar yang memuat
tulisan Hatta diberangus. Di kemudian hari, dalam memorinya, Hatta mengatakan
perihal yang sebenarnya :
“sejak kita meninggalkan
UUD 1945 berganti dengan UUD 1950, arti dan kedudukan Dwitunggal mulai berubah
dan makin berkurang. Hal ini digunakan sebaik-baiknya oleh PKI dalam taktik dan
perjuangan politiknya, sehingga proses merosotya daya ikat dan kegunaan Dwitunggal
itu makin cepat dan bahkan anatara kami berdua saling timbul berbagai salah
pengertian. Akibatnya tercemin pula dalam berbagai urusan kenegaraan yang kalau
dulu diatasi dengan kewibawaan dan kenegerawanan yang maalah-masalah yang tidak
teratasi, dan diatasi dengan caracara yang menimbulkan keretakan-keretakan yang
makin berlarut-larut”
Hatta kembali menjalani hidupnya
sebagai pengabdi ilmu, menjadi dosen. Dua bulan setelah pengundurannya, pada
21Februari 1957, Demokrasi Terpimpin berikut kabinet NASAKOM diresmikan. Sejak
menjelang kemerdekaan, bagi semua kekuatan politik di Indonesia. Soekarno dan
Hatta adalah duet yang merepresentasikan penyatuan perbedaan ideologis dan
politik di antara kekuatan-kekuatan politik dan kekuatan bersenjata sebelum
tentara reguler terbentuk. Setelah lahir Republik Indonesia Serikat [RIS] akibat
perundingan KMB [Konferensi Meja Bundar] di Denhaag Belanda tambak nyata dan
jelas bahwa sesungguhnya Hatta dan para pengikutnya yang mendominasi kekuatan
politik di Indonesia. Dia memang tidak begitu disukai oleh kalangan tentara
rakyat dan laskar pemuda progresif dan kaum komunis karena dianggap terlalu
kompromis dan kooperatif terhadap penjajah Belanda-sebelumnya juga terhadap
Jepang. Sebagaimana dianalisis oleh Herbrert Feith.
Dari kalangan kiri, program Re-Ra
[restrukturisasi dan rasionalisasi] yang dilakukan Hatta untuk merampingkan dan
meregulerkan angkatan perang mendatangkan kerugian politik dan dianggap sebagai
tindakan demokratif. Masalahnya. Laskar-laskar rakyat dan tentara pemuda yang
jumlahnya sangat banyak dan paling berani dalam mengobarkan perlawanan fisik
justru disingkirkan dan hanya tentara –tentara warisan Belanda (KNIL)
dan PETA yang mendominasi angkatan perang. Kelompok laskar rakyat yang
afiliasi politiknya kepada kelompok komunis menjadi marah dan tak meyukainya.
Kebijakan Hatta itulah salah satu faktor yang memicu terjadinya pemberontakan
Madiun yang dikobarkan oleh musoh.
Dimata kelompok kiri, watak arti
massa dan jala kompromi sangat membahayakan bagi perjuangan melawan penjajaha
imperialisme dan akan mengakiabatkan demokrasi yang sifatnya eliteisdan tak
berbasis pada tuntutan rakyat kaum kiri dan laskar-laskar rakyat barisan pemuda
yang dimilikinya pun semakin membenci Hatta dan mereka ingin meneouh jalur
masing-masing.
Puncak dari sikap itu ialah
perlawanan terhadap Belanda dengan memusatkan kekuatannya di kota Mdiun, Jawa
Timur dan Surakarta, Jawa Tengah. Perlawanan terhadap pusat di mobilissi usat
pemerintahan Hatta di Surakarta mengakibtakan serangkaian konflik antara
pasukan pemerintah dan fraksi militer yang loyal pada kelompok komunis yang
seakin percaya diri untuk melakukan pembangkanangan setelah Muso tiba dari
Soviet.
Bung Karno dan para pimpinan RI
langsung mengambil tindakan. Pertama-tama, setelah mendapatkan laporan tentang
beridirinya “Negara Madiun”, pemerintah pusat mengangggapnya sebagai
pemberontakan dan kesimpulan untuk secepat mungkin memadamkannya. Sebagaimana
dicatat Kahin., pada 19 september malam. Bung Karno menyampaikan pesan lewat
radio, mengumumkan “ partai komunis” pimpinan Muso sedang menghancurkan
Republik Indonesia kita yang tercinta”. Dia melontarkan pernyataan pada rakyat
untuk memilih: Muso dan partai komunis-nya yang akan menghalangi tercapinya
Indonesia merdeka atau Soekarno-Hatta yang, dengan pertolongan yang Maha Kuasa,
akan memimpin Republik Indonesia menjadi suatu Indonesia yang merdeka. Muso
menjawab pernyataan itu satu setengah jam kemudian dengan menuduh
Soekarno-Hatta dan para pemimpin RI yang lainnya sebagai “penghianat” dan
“pedagang romusa” semasa Jepang kata Muso, dan sekarang orang yang sama hendak
menjual Indonesia dan rakyatnya sekali lagi kepada kaum imperialis
Amerika…Soekarno-Hatta, budak Jepang dan Amerika, penghianat harus mati.
Beberapa hari kemudian, Muso mendirikan sebuah pemerintahan revolusioner yang
dinamakannya “ pemrintahan Front Nasional” yang dimaksudkan untuk membela
“Republik Proletariat Kita” dia juga ingin memperluas kekuasaanya di kota-kota
sekitar Madiun.
Pengaruh Hatta benar-benar kian meningkat
setelah pemberontakan Madiun ditumpaskan. Hatta memanglah tokoh yang sangat
anti-komunis (PKI) sejak awal karenanya pengaruhnya di kalangan Angkatan Darat
dan kelompok islam sangat kuat. Pengikutnya di kalangan kaum muda juga tindakan
sedikit. Apalagi, di kalangan orang luar jawa karena Hatta memang
mempresentasikan kekuatan politik luar jawa.
Keretakan antara Soekarno dan Hatta
sebenarnya sudah kelihatan menjelang awal tahun 1950-an, ketika hubungan antara
Soekarno dan Hatta yang semula harmonis mulai diwarnai ketegangan yang terus
meningkat dan sulit didamaikan sehingga Hatta kemudian memutuskan untuk
meletakkan jabatan sebagai wakil presiden pada akhir 1957. Akan tetapi, jika
diruntut sejak lama. Sebenarnya benih-benih perbedaan pemikiran antara
Soekarno-Hatta mulai tampak antara tahun 1930-an, ketika mereka berpolemik
tentang cara mencapai cita-cita bangsa, sosialisme, nasionalisme, kiprah dalam
organisasi politik dan lain-lain. Meskipun demikian, perbedaan pemikiran antara
Soekarno-Hatta mulai tampak antara tahun 1930-an, ketika mereka mulai
berpolemik tentang cara mencapai cita-cita bangsa, sosialisme, nasionalisme,
kiprah dalam organisasi politik, dan lain-lain. Perbedaan dan pertentangan politik
antara Sokarno dan Hatta tidak sampai menjadikan mereka saling berbuat anarki.
Justru, pada masa Jepang dan menjelang kemerdekaan mereka lebih bahu-membahu
dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Bagi Hatta sikap non-kooperasi harus
bersifat kronis artinya harus melihat realistas politik yang ada. Namun, bagi
Soekarno non-kooperasi harus lebih radikal dan berseberangan dengan pihak
penjajah. Soekarno, mengistilahkan dengan kaum “ sana” dan kaum “sini”, untuk
membedakan antara penjajah dan rakyat terjajah. Pertentangan ini terus
berlamjut ketika Soekarno berusaha menyatukan Partindo dan PNI baru. Mereka
berbeda tentng asas perjuangan. Hatta, berependapat bahwa perjuangan
kemerdekaan membutuhkan waktu bertahun-tahun karena rakyat harus dididik kearah
itu. Akan tetapi, bagi Soekarno kemerdekaan akan tercapai bila pembentukan
kekuatan dan pemakaian kekuatan rakyat. Bagi Soekarno waktu itu, politik adalah
“machtsforming” dan “machtsaanwending”.
Perbedaan strategi-taktik (stratak)
dalam melawan kapitalisme antara keduanya sejak awal sudah terlihat. Soekarno memandang
perjuangan melawan kapitalisme merupakan perjuangan nasional dan perjuangan kebangsaan dengan
kekuatan utama “kaum marhaen” , sedangkan Hatta berpendapat bahwa yang
dilakukan Soekarno adalah perjuangan Ras, padahal yang dibutuhkan adalah
perjuangan kelas. Soekarno, lebih tertarik utnuk menggerakkan masa daripada
membentuk kader partai sebagaimana yang diinginkan Hatta. Kalaupun suatu
pergerakan akan membentuk kekuatan sejati untuk melawan kolonial, menurut
Hatta, hal itu bisa terjadi melalui pendidikan masa rakyat dan latihan suatu
elite yang tidak hanya membakar semangat rakyat, tetapi memberikan pencerahan
kepada mereka .
Di kalangan pengikut Soekarno, kritik
Hatta itu dianggap sebagai campur tangan yang kasar dalam pergerakan. Pandangan
yang sama dianut oleh kelompok Hatta. Perbedaan antara kedua golongan itu
hanyalah menyangkut cara perjuangan yang harus dilakukan apakah dengan agitasi
atau pendidikan terhadap rakyat “bertentangan Soekarno-Hatta ini terus
berlanjut sampai kedatangan Jepang. Pada zaman pendudukan Jepang, mereka bisa
menyatu sebagai DWITUNGGAL sampaitahun 1950-an.
Hatta selalu tak setuju dengan jalan
radikal untuk melaksanakan proses revolusi sebagaimana dilakukan Soekarno dan
didukung oleh kelompok komunis yang sangat dimusuhinya. Nasionalisasi aset-aset
yang dikusai oleh penjajah dengan cara radikal, yaitu pengambilalihan, ini
hampir sering ditolaknya. Pengambilalihan ini dikecam Hatta yang menyebutnya
sebagai tindakan bodoh dan tidak bijaksana. Pengambilalihan ini hampir mengakibatkan
ambruknya perekonomian Indonesia, terutama di bidang perdagangan.
Memasuki 1950-an, perpecahan politik
memang semakin menajam. Bahkan, anatara Soekarno dan Hatta juga telah sibuk
dengan agendaa politiknya masing-masing. Tahun 1952 sampai dengan 1953
memperlihatkan secara umum melemahnya. Hatta dan orang-orang lain memiliki cara pandang atau
ideologi serupa, yang pada saat yang sama terjadi kebangkitan kekuatan Soekarno
dan kelompok-kelompok nasionalis radikal dan partai-partai angkatan darat.
Kelompok dalam tentara ini, memperoleh kemenangan besar sebagai akibat dari
peristiwa 17 oktobber 1952, ketika kelompom perwira yang pada umumnya
berorientasi ke Hatta memaksa Soekarno untuk membubarkan parlemen, tetapi gagal
dan akibatnya mereka kehilangan jabatan dan mendapatkan cap jelek dalam kancah
politik. Ketika delapan bulan kemudian kabinet Wilopo jatuh, kekuatan-kekuatan
pro Hatta menderita suatu kekalahan
besar.
Dalam pemilu 1955, partai politik
yang dekat dengan Hatta (PSI) juga tak mendapatkan suara yang berarti, kalah
jauh dengan PKI yang menempati urutan keempat. Perolehan suara PKI sekaligus
menandai kebangkitan komunis yang kemudian nanti sangat dekat dengan Soekarno
dalam mengawal ide demokrasi terpimpin. Setelah pemilu, situasi politik juga kian
dinamis, tetapi pada saat yang sama, kondisi perekonomian juga tak dapat
dikatakan membaik.
Pada ranah politik yang lebih luas,
perpecahan ditingkatan partai politik juga kelihatan nyata, juga dipicu dengan
adanya ketidakpuasan di daerah pada kepolitikan pusat. Pada paruh kedua 1956,
beberapa percobaan kudeta militer
terjadi lagi. Kali ini diatur oleh bekas pejabat kepala staf angkatan darat
kolonel Zulkifli Lubis. Mereka menuntuk secara terbuka mengenai perlunya didirikan diktator militer.
Kudeta ini gagal. Kondisi bangsa pada saat itu memang diwarnai dengan
perekonomian yang memburuk korupsi dan hak-hak istimewa bagi kalangan penguasa
tertentu, terjadinya faksi-faksi, dan demoralisasi. Para elit partai dan
politisi yang melalaikan amanat negara. ( Reni Nuryanti: 2012).
2. KEDIKTATORAN
SOEKARNO
Presiden Soekarno menyatakan
ketidakpuasannya terhadap sistem demokrasi yang dianut oleh pemerintah “jikalau
kita menyimpang dari pada cita-cita revolusi nasional kita ini maka akan
pecahlah persatuan bangsa kita, akan bengkah seluruh negara dan masyarakat
kita”. Pernyataan tersebut tidak mendapat tanggapan dari partai-partai politik
maupun masyarakat, sekalipun Soekarno menghendaki perubahan mendasar atas
sistem demokrasi yang dianut. Pada awal 1958, setelah berhasil mengkonsolidasi
Angkatan Perang sebagai pendukungnya, dan situasi telah kondusif, Soekarno
berani menyatakan konsepsi demokrasinya. Isi konsepsinya adalah perlu
dibentuknya pemerintah baru yang disebut Gotong-Royong. Kabinet ini terdiri
dari wakil-wakil paratai politik dan kekuatan golongan baru yang diberi nama
golongan fungsional.
Presiden Soekarno secara terang-terangan
mengutuk sistem demokrasi Liberal dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1957
sebagai berikut : ya, nyata demokrasi yang sampai sekarang kita praktikan di
Indonesia, bukan satu sistem politik yang terbaik dan yang tercocok dengan
kepribadian dan dasar hidup bangsa Indonesia.”
Ternyatalah di waktu-waktu belakangan ini
bahwa perlu diadakan koreksi dalam cara menghadapi persoalan nasional koreksi
pula dalam sistem politik secara keseluruhannya. Demokrasi yang hanya
mendewakan kebebasan, hanya mengkeramatkan kebebaan. Kritik ke kiri, ejek ke
kanan, kecam di depan, fitnah di belakang sanggah keatas, cemooh ke bawa. Hanya
satu yang tidak diejek, tidak dikecam, tidak difitnah, tidak disanggah, tidak
dicemooh yaitu kebebasan omong itu sendiri. Kita sekarang dikuasai oleh
demokrasi yang demikian itu. (Restu Gunawan, Indonesia dalam Arus Sejarah :
pasca revolusi, 2012).
Demkrasi terpimpin adalah era pengamat
melihat bagaimana Sokerna menjadi orang yang kuat dan melakukan
tindakan-tindakan yang otoriter dan diktator. Bagi sebagian orang, baik
pengamat maupun pelaku politik waktu itu. Di era ini Soekarno melakukan
tindakan-tindakan memasung kebiasaan dan membangun rezimentasi yang membuat
pemerintahannya berada dalam situasi yang korup.
Ide demokrasi terpimpin sebenarnya
merupakan ide lama yang perna dilontarkan ole Ki Hajar Dewantara, yaitu dalam
baasa Belanda waktu itu “Democrate met leidercap” (Demokrasi Terpimpin). Jadi,
seakan ide ini suda ada lama sejak zaman dahulu. Ide Demokrasi terpimpin ini
seakan tampak lebih disukai oleh orang-orang jawa mengingat mereka berusaha
mengingatkan adannya kearifan lokal dari jawa yang memiliki nilai kegotong-royongan
dan tak sesuai dengan demokrasi yang beraliran ala Barat yang liberal, rasional
dan berpilar pada individualisme. Kita masih ingat dimasa awal aba ke-20an , Ki
Hajar Dewantara berusaha membangun pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai
yang memadukan unsur pendidikan barat, dengan tidak meninggalkan kearifan
sistem pendidikan Jawa yang kemudian dikenal dengan “Taman Siswa”.
Ki Hajar Dewantara waktu itu cukup
mendapatkan dukungan dari banyak tokoh dan aktivis. Namun, pada saat yang sama,
ide-ide modernisme dan demokrasi juga tak kalah kuatnya berkembang.
Pertentangan dan pergumulan ide-ide tersebut tak jarang melahirkan berbagai
polemik kebudayaan antara para pendidik, aktivis, budayawan, dan tokoh
kebangsaan. Di kalangan tokoh-tokoh, aktivis dan politisi muda, ide “kejawaan”
tak begitu di terima, apalagi kebanyakan pemuda lebi menyukai ide-ide modern
dan mereka terbagi dalam kelompok sosialis-demokratis seperti pada Sharir yang
dekat pemikiran dengan Hatta dan kelompok komunis, seperti pada Aidit yang di
era akir 1950-dan awal 1960-an menonjol dengan partai politiknya. Partai
komunis Indonesia (PKI)-era ketika kelompok sosialis demokrat. PKI telah
kehilangan kekuatannya dalam politik formal setelah melakukan pemberontakan di
akhir 1950-an.
Kemunculan ide Demokrasi Terpimpin dan
penerimaannya sejak digagas Soekarno memang harus dikaitkan dengan masih tetap
pola pikir kejawaan, pada saat yang sama. Pada saat yang sama tenggelamnya
kelompok sosialis-demokrat yang bertendensi anti-jawanisme karena kebetulan
para tokonya kebanyakan berasal dari Sumatra dan para pendukungnya di kalangan
politisi, dan militer berada di luar jawa-para tentara yang tela gagal
melakukan pemberontakan. Karakter berpikir mereka sangat rasional dan modernis
sehingga hilangnya kelompok tersebut dari politik formal menggelorakan kembali
semangat “guyub rukun” dan “demokrasi gotong royong” ala Soekarno yang
merupakan suatu nilai yang sangat jawaistik. Dalam konsepsinya, Soekarno
mengatakan “ Demokrasi Parlementer tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Lebih
baik kita musyawarah dan mufakat saja, itu lebih sesuai dengan budaya pedesaan
kita.
Isian ideologi dan taktik front persatuan
nasional dari PKI yang kian dekat dengan Soekarno, yang merukapan partai yang
menyandarkan pada filsafat totalitas dan kedisiplinan politik
anti-imperialisme, membuat nilai-nilai ideologis dan filsafat yang ada pada
Demokrasi Terpimpin dapat merebut berbagai macam kekuatan politik-meskipun
tidak semuanya. Dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1958 di Jakarta istilah
demokrasi terpimpin diperkenalkan dengan mengutip referensi-referensi
revolusioner.
“sesungguhnya Alam
Baru dengan jiwa baru dan pengertian baru. Songsonglah. Dia dengan melaksanakan
Demokrasi Terpimpin. Oleh karena masyarakat baru itu hanya dapat
diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin yang melemparkan jauh-jauh segala
keburukannya free-fight liberalism”.
Bung Karno mengingatan bahwa demokrasi
terpimpin bukanlah adu suara dalam pemungutan , bukan man one man vote, bukan
mayoritas lawan minoritas, bukan oposisi lawan yang berkuasa, bukan penguasa
melawan oposisi, bukan pula medan pertempuran antar oposisi. Apabila kita tidak
segera kembali kejalan revolusii, kelak sejarah akan mencatat di sana, di
antara Benua Asia dan Benua Australia, diantara Samudra Pasifik dan Samudra
Indonesia, ada bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup sebagai bangsa-bangsa,
kembali menjadi “een natie van koeles”
Demokrasi terpimpin yang ditandai dengan
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebenarnya dimulai secara tegas dari pemikiran Bung
Karno yang tersampaikan dalam pidato
kenegaraan yang berjudul “penemuan kembali revolusi kita”
Sebagai sutau pemikiran politik yang
diharapkan akan menjawab berbagai macam persoalan yang menjangkiti (era)
Demokrasi Liberal, Manipol USDEK benar-benar memiliki daya pikat bagi banyak
masyarakat politik. Para pengikutnya meluas dan terdiri dari berbagai macam
sektor masyarakat. Bukan hanya rakyat miskin yang diorganisasikan oleh partai
politik, seperti PNI dan PKI, melainkan bahkan lebih banyak diterima oleh para
pegawai negeri, artinya terlihat sekali bahwa doktrin Soekarno diterima sebagai
panduan untuk menjalankan roda pemerintahan di era itu.
Slogan kegotong-royongan yang menjadi
jargon doktrin ini begitu merasuk karena konon watak itu mencirikan bangsa
Indonesia. Dengan semangat gotong royong yang menjadi saripati dari semangat
pancasila, tiap-tiap warga dan kekuatan-kekuatan politik dianjurkan untuk
menempatkan kepentingan rasional diatas segalanya. Ajaran ini sangat mengena
karena sebelumnya masyarakat merasakan ketidaknyamanan akibat adanya demokrasi
Liberal yang mencerai beraikan masyarakat Indonesia. Doktrin Manipol-USDEK
memberikan tugas-tugas patriotisme yang diarahkan pada pembangunan kepribadian
nasional dan keluarnya diharapkan menjadi lawan dan kekuatan imperialisme asing
yang hendak menggoyahkan kedaulatan nasional.
Pada
demokrasi terpimpin : Ada 3 Kekuatan Politik yaitu: 1. Presiden Soekarno 2.
Partai Komunis Indonesia (PKI) 3. TNI AD Soekarno lebih membela Partai Komunis
Indonesia.Nasakom (Nasionalis, agama, Komunis) digabung 2. Presiden banyak
mengangkat wakil-wakil PKI duduk dalam kursi pemerintahan 3. Ajaran Komunis
mendapat kesempatan berkembang lewat jalur persekolahan 4. TNI yang memberantas
PKI justru mendapat kecaman dari Soekarno Soekarno lebih membela Partai Komunis
Indonesia. Para pendukung Pancasila berupaya menolak untuk Membentuk: 1.
Barisan Pendukung Soekarno 2. Partai Murba Pada Masa Demokrasi Terpimpin
disepakati kembali kepada UUD 1945. Tindakan Soekarno
terhadap ABRI, TNI dan Polisi disatukan
tahun 1946¢ Presiden Soekarno melakukan politik¢
imbangan (Balance of Power) antara sesama ABRI
Presiden Soekarno adalah “Panglima¢ Tertinggi” di dalam ABRI Presiden menciptakan kondisi¢
“Unggul mengungguli, baik antar angkatan maupun ABRI dengan partai politik. Partai-partai yang menlak konsepsi
Presiden yaitu: 1. Masyumi 2. Nadatul Ulama 3. PSII 4. Partai Katolik 5. Partai
Rakyat Indonesia alasan penolakan konsepsi presiden yaitu 1. Hak mengubah tata
negara secara radikal ada pada Dewan Konstituante 2. Secara prinsipial
partai-partai menolak Konsepsi Presiden karena PKI diikutsertakan dalam
pemerintahan. Tanggal 22 APRIL 1959 Dihadapan Dewan Konstituante Presiden
Soekarno menganjurkan untuk kembali kepada UUD 1945 30 Mei 1959 Diadakan 3 kali
pemungatan suara hasilnya Lebih banyak yang memilih kembali kepada UUD 1945
(tetapi tidak sampai 2/3 suara).
Pada
tanggal 1 dan 2 Juni 1959 Pengambilan suara kembali diadakan tetapi gagal menghasilkan
keputusan 3 Juni 1959 Setelah 3 kali pengambilansuara gagal konstituante
mengadakan reses (istirahat).Ternyata itu reses untuk selamanya.
Tentu, munculnya demokrasi terpimpin tak
semata-mata dijelaskan dari cara pandang ideologis atau dominasi nilai-nilai
saja. Secara lebih nyata, demokrasi terpimpin lahir dan muncul dari situasi-situasi
politik yang lebih nyata. Di bawah ini merupakan peristiwa-peristiwa dan
situasi politik yang menyebabkan menguatnya Soekarno dan munculnya Demokrasi
Terpimpin (Nurani Soyomukti: 2010).
3. MANUFER
PKI
Usha-usaha presiden untuk membentuk
kabinet Gotong-Royong pada tahun 1960, emndapat tantanga dari golongan Agama
dan pimpinan TNI-AD. Namun, presiden Soekarno memberi angin kepada PKI dengan
memberikan mereka kedudukan dalam DPR-GR dan DPA serta dalam Pengurus Besar
Front Nasional dan Pengurus Besar Front Daerah. Ada juga yang diangkat sebagai
kepala daerah. Melihat kenyataan itu pimpinan TNI-AD berusaha untuk
mengimbanginya dengan mengajukan calon-calon yang lain, sehingga merupakan
checking terhadap PKI dalam komposisinya. Tetapi daya upaya pimpinan TNI-AD
tersebut menemui kesulitan karena presiden Soekarno memberikn dukungannya yang
besar kepada PKI dalam segala hal.
TNI-AD mensinyalir adanya
tindakan-tindakan pengacauan yang dilakukan PKIN di Jawa Tengah (PKI malam).
Pimpinan TNI-AD baik secara lisan maupun tertulis melaporkan
perbuatan-perbuatan itu serta meminta perhatian kepada presiden Soekarno.
Dengan adanya bukti-bukti bahwa PKI akan mengadakan pengacauan di Sumatra
Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan, maka pimpinan TNI-AD
berdasarkan Undang-undang keadaan bahaya mengambil tindakan-tindakan pengawasan
terhadap PKI. Di pusat, Harian Rakjat
dilarang terbit, dan dikeluarkan perintah menangkap D.N Aidit dan
kawan-kawannya. Tetapi mereka berhasil lolos. Di tingkat daerah, di Sumatra
Selatan, Kalimantan Sekantan dan Sulawesi Selatan, kegiatan-kegiatan PKI
dibekukan. Tindakan pimpinan TNI-AD untuk emnggunakan pancasila dari rongrongan
PKI itu tidak disetujui presiden Soekarno yang malahan memerintahkan agar
segala keputusan itu dicabut kembali. Dalam rangka masalah kegitan PKI ini,
maka pada bulan september 1960 diadakan sidang Penguasa Perang Tertinggi
(peperti) dalam penguasa perang daerah se-Indonesia (peperda) di istana negara.
Dalam sidang tersebut pimpinan TNI-AD dan para panglima daerah mengingatkan
presiden Soekarno “agara jangan terlampau percaya atas keloyalan PKI, baik atas
pertimbangan ideologis maupun atas pengalaman-pengalaman lampau”. Namun,
presiden Soekarno tetap menyalahkan sikap dan tindakan TNI-AD terhadap PKI
tersebut dan selanjutnya melarang peperda dan selanjutnya melarang peperda
untuk mengambil tindakan-tindakan politis terhadap PKI.
Sedemikian jauhlah perlindungan Presiden
Soekarno terhadap PKI. Kegiatan Presiden Soekarno yang menyongkong PKI itu
makin meningkat sehingga PKI-pun semakin bergairah meningkatkan apa yang
kemudian disebutnya “ofensif revolusioner” seperti fobi, mendengung-dengungkan
bahwa anti nasakomadalah anti pancasila dan kontra kontra revolusioner dan lain
sebagainya.
Pidato-pidato Soekarno yang berjudul
Resopin, Takem, Gesuri, Tavip, Takari jelas menggambarkan sikap politik
Soekarno yang cenderung berphak kepada PKI dan merangsang PKI untuk menyudutkan
TNI-AD sebagai pihak yang sumbag suaranyaa. Puncak dari kegiatan PKI adalah
meletusnya pemberontakan G 30 S/PKI.
Sejak tahun 1963, PKI mulai berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk duduk didalam kabinet. Mungkin karena mereka sudah
sangat kuat kedudukannya berdasarkan aliansi yang semakin erat dengan presiden
Soekarmo. Dimana-mana dilakukan aksi-aksi, dengan menggunakan coret-coret,
pidato-pidato, petisi-petisi yang menyerukan “bentuk kabinet NASAKOM tahun ini
juga”. Pda tahun-tahun sebelumnya PKI
belum begitu bernafsu untuk duduk dalam sesuatu kabinet. Mereka hanya
melancarkan kritik-kritik terhadap pemerintah khususnya menteri-menteri yang
tidak mereka sukai pandangan politiknya. Kini PKI juga melakukan berbagai
tuntutan dalam rangka mencapai popularitas di kalangan masyarakata yang tidak
sadar politik. Mereka juga menuntut agara pemerintah melaksanakan Undang-undang
pokok Agraria (UUPA) dan Undang-undang pokok bagi hasil dan merangsang salah
satu organisasi satelit mereka yakni BTI dan melaksanakan aksi-aksi sepihak.
Mereka juga mengkampanyekan “retooling” pembantu-pembantu presiden yang tidak
mampu merealisasikan Tri Program Pemerintah yakni sandang, pangan, keagamaan
dan Irian Barat dan anti Nsakom serta mendesak supaya segera dibentuk kabinet
Gotong-Royong berporoskan Nasakom. PKI berusaha merongrong kewibawaan
pemerintah, PKI melalui kampanye pers, radio dan poster menggambarkan mereka
sebagai setan desa yang harus dibunuh dan dibasmi. Sasarannya adalah mematahkan
pembinaan teritorial yang dilaksanakan oleh TNI-AD, sedangkan tujuan politiknya
adalah menguasai desa untuk mengepung kota.
Demikianlah watak daripada kekuasaan
Presiden Soekarno dan PKI dalam sistem Demokrasi Terpimpin di dalam praktek.
Dekrit 5 Juli 1959 yang pokoknya ialah bangsa Indonesia kembali kepada UUD’45
yang berdasarkan pancasila dasar negara yang disahkan pada tanggal 18 Agustus
1945, ternyata diselewengkan menjadi suatu sistem keditatoran Soekarno dan
otokratis yang didominasi oleh PKI.
Golongan yang paling gigih mendukung
dekrit 5 juli 1959 itu, termasuk TNI-AD, kemudian menjadi bulan-bulanan
Demokrasi Terpimpin dan akhirnya malah menjadi korban dan semuanya bermuara di
Lubang Buaya.
Politik
radikal pemerintah Sukarno berlanjut kepada Kebijakan luar negeri Indonesia.
Dalam menghadapi masalah Papua pada bulan Desembar 1961 dibentuklah komando
Operasi Tertinggi (KOTI) bagi pembebasan Papua. Sukarno menjadi panglimanya.
Nasution mewakilinya dan Mayor Jenderal Yani menjadi kepala stafnya. PKI
berhasil memenfaatkan kampanye Papua untuk meningkatkan pengaruh dan
memperbanyak jumlah anggotanya sendiri. Pada bulan Juli 1962, jumlah anggota
front kaum tani PKI (BTI) mencapai 5,7 juta orang, ini merupakan seperempat
dari keseluruhan jumlah petani dewasa. Pada akhir tahun itu, jumlah anggota
SOBSI konon mencapai hampir 3,3 juta orang. Pada awal tahun 1963, jumlah
anggota pemuda rakyat dan Gerwani masing-masing konon mencapai 1,5 juta orang.
Jumlah anggota PKI sendiri mencapai lebih dari 2 juta orang, sehinnga
menjadikan PKI sebagai partai komunis terbesar di negara non komunis di manapun.
Setelah
masalah Papua selesai dengan pihak Belanda melalui kesepakatan pada tanggal 15
Agustus 1962, politik luar negeri Indonesia tetap militan. Sukarno memandang
dunia menjadi dua blok yaitu Nefos ( New Emerging Forces) dan Oldefos
(Old Established Forces). Barat adalah bagaian dari dari Oldefos dan
negara-negara Komunis serta negara baru Asia dan Afrika dalam kategori Nefos.
Sukarno secara implisit meletakan Indonesia sebagai Pelopor dari
kekuatan-kekuatan yang baru muncul. Sukarno tetap curiga kepada Barat dan berpaling
ke Blok Timur (Negara-negara Komunis). Sukarno melakukan kampanye untuk
mencegah pembentukan Federasi Malaysia pada tahun 1963 yang dikenal sebagai
konfrontasi. Militer dan PKI mendukung kampanye konfrontasi dengan alasaan yang
berbeda. Militer khawatir akan pengepungan (encirclement) atas Indonesia oleh
Malaysia yang didomonasi etnis Cina, sementara PKI berupaya menggunakan hal ini
sebagai alasan untuk mendirikan angkatan ke-V yang terdiri dari kaum tani dan
buruh (yang akan dibawah kontrol PKI). Namun demikain Angkatan Darat secara
keras menentang pembentukan angkatan V.
Manuver
politik PKI yang langsung berusaha dihadang NU dan golongan anti Komunis
lainnya dapat dilihat secara nyata pada peristiwa yang berujung konflik terbuka
pada akhir tahun 1963. Di tahun itu, PKI berusaha melancarkan 'aksi sepihak'
untuk memberlakukan undang-undang land reform yang
dari tahun 1959-1960 pelaksanaanya hampir belum pernah terwujud. Ketika para penduduk desa anggota PKI mulai merampas tanah (terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur) mereka terlibat dalam pertentangan yang sengit dengan tuan tanah, kaum birokrat dan para santri pendukung NU.
dari tahun 1959-1960 pelaksanaanya hampir belum pernah terwujud. Ketika para penduduk desa anggota PKI mulai merampas tanah (terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur) mereka terlibat dalam pertentangan yang sengit dengan tuan tanah, kaum birokrat dan para santri pendukung NU.
Kekuataan
Nasionalis yang dipelopori PNI dan kekuataan Sosialis-demokrat yang diwakili
Murba tak dapat berbuat banyak dalam menghadapi manuver politik dari PKI. PNI
yang dibina Sukarno sejak pergerakan menuju kemerdekaan dan sebagai pewaris
ideologi marhaen justru ditinggalkan begitu saja. Realitas tersebut
menggambarkan sikap Sukarno tentang partai politik pasca kemerdekaan Indonesia,
ia tak pernah berafiliasi pada satu partai politik manapun. Sebagai tokoh yang
terkenal dengan karakter penganjur kesatuan (solidarity maker) ambisi
politiknya justru ingin mempersatukan ideologi-ideologi yang berbeda yang
digunakan oleh partai politik sehingga dapat menghantarkan bangsa pada
persatuan. Suatu konsep pemikiran yang kemudian ia tuangkan dalam Nasakom.
Dampak dari tidak berafiliasinya Sukarno pada partai politik adalah adanya
upaya-upaya dari berbagai partai politik dan juga Militer untuk saling berlomba
mendekati Sukarno kemudian berusaha mendapatkan kepercayaan dan kekuasaan. Hal
tersebut dapat tercermin ketika semua partai politik dan militer pada 18 Mei
1963 dalam sidang MPRS mengangkat Sukarno menjadi Presiden seumur hidup.
Peristiwa tersebut menjadi pertanda ketergantungan partai politik (yang ikut
dalam sistem Demokrasi terpimpin) pada Sukarno. Namun ada banyak hal dari
independensi Sukarno yang lebih mengguntungkan PKI.
Kedekatan
Sukarno dengan tokoh-tokoh PKI merisaukan tokoh-tokoh partai lain. Pada bulan
September 1964 sekelompok wartawan anti PKI dipimpin oleh Adam Malik yang juga
tokoh Partai Murba membentuk Badan Pendukung Sukarnoisme dengan tujuan
sebenarnya adalah berusaha memisahkan kedekatan Sukarno dengan PKI. Namun Sukarno
mengetahui tujuan itu dan melarang organisasi tersebut pada tanggal 17 Desember
1964. Usaha untuk memisahkan Sukarno dengan PKI dilanjutkan oleh tokoh-tokoh
militer bekerjasama dengan tokoh-tokoh sipil dengan mendirikan Sekber Golkar
(Sekretariat Bersama Golongan Karya) pada bulan Oktober 1964. Beberapa
organisasi yang pernah berafiliasi ke partai PSI dan Masyumi ikut bergabung
didalamnya.
Salah
satu kunci keberhasilan PKI dalam memperbesar pengarunya adalah kemampuan
anggotanya untuk melakukan infiltrasi kedalam organisasi-organisasi yang
mempunyai pengaruh cukup besar, kemudian secara diam-diam membina dan melakukan
proses doktrinisasi ideologi komunis kepada anggota atau pun simpatisan yang
telah direkrutnaya. Masuknya unsur-unsur komunis di dalam Sarekat Islam pada
era 1920-an adalah fakta kesuksesan PKI dalam melakukan infiltrasi kedalam
organisasi besar dan berpengaruh. Salah satu kekuataan yang memiliki pengaruh
besar dalam masa demokrasi terpimpin adalah ABRI. Adanya rivalitas diantara
angkatan bersenjata (AD-AU-AL) dimanfaatkan oleh PKI. Angkatan udara disinyalir
telah dekat dengan PKI. Sementara angkatan darat dan angkatan laut masih
dipimpin oleh Jenderal-Jenderal yang anti Komunis.
Walaupun
AD adalah kekuatan bersenjata yang paling keras pertentangannya dengan PKI,
namun PKI berhasil menyusup ke dalam tubuh angkatan darat terutama ke dalam
Divisi Diponegoro di Jawa tengah dan Divisi Brawijaya di Jawa Timur. Menurut
kesaksian Sjam di kemudian hari, pada bulan November 1964, PKI membentuk biro
khusus dibawah pimpinanya guna mengkoordinasikan penyusupan ke dalam tubuh
angkatan bersenjata. Pada pertengahan tahun 1965, PKI mempunyai hubungan erat
dengan sekitar 450 orang perwira yang bersimpati kepada PKI di Jawa Tengah dan
di Jawa Timur, serta 250 perwira di daerah -daerah lainnya.
Pada
bulan Januari 1965 Sukarno membubarkan Partai Murba. Partai ini adalah pesaing
PKI dalam memperebutkan dominasi kaum kiri. PKI kemudian melancarkan isu adanya
Dewan Jenderal dalam tubuh angkatan darat. Isu ini di lancarkan PKI pada April
1965. Isu Dewan Jenderal ternyata membuat Presiden Sukarno semakin mencurigai
Angkatan Darat. Tanggal 4 Agustus 1945, Sukarno jatuh sakit. Kejadian ini
rupanya menimbulkan pemikiran pada ketua CC PKI, DN Aidit yang baru pulang dari
perjalanan dari Moskow dan Peking. Aidit berpikiran jika terjadi sesuatu yang
buruk pada Presiden Sukarno maka PKI tidak mempunyai pelindung dan akan
dihancurkan oleh Angkatan Darat. Akhirnya ia berpendapat dari pada didahului
lebih baik mendahului.
PKI
kemudian memutuskan untuk menindak Jenderal-jenderal Angkatan Darat yang
dianggap merintangi usaha PKI dengan memanfaatkan unsur militer yang telah
disusupi oleh PKI. Pada tanggal 30 September 1965 di mulailah operasi
penculikan Jenderal-Jenderal. Menurut beberapa pengamat politik dan militer,
Operasi tersebut terbilang kacau pelaksanaanya dilapangan dan sedari awal
tampak akan mengalami kegagalan. Dan apa yang terjadi setelah itu memang
menggambarkan kegagalan operasi dan gerakan tersebut. Pihak Angkatan Darat di
bawah komando Mayjen Suharto berhasil melumpuhkan secara cepat gerakan ini.
Konfigurasi politik di Indonesia berubah drastis pasca peristiwa Gestapu. PKI
yang sebelumnya begitu mendominasi perpolitikan tiba-tiba harus berhadapan
langsung dengan kekuataan militer dan sipil sekaligus. Suatu dampak dari
kegagalan kudeta yang tidak diperkirakan oleh para pimpinan PKI sebelumnya.
Sukarno
berusaha menenangkan keadaan dan masih mencoba untuk mempertahankan PKI dalam
poros Nasakomnya. Akan tetapi Angkatan Darat yang didukung mahasiswa, pelajar,
santri dan masyarakat sipil lainnya yang anti komunis telah bergerak di
daerah-daerah untuk menumpas kekuataan PKI yang dianggap bertanggung jawab atas
terbunuhnya para Jenderal. Maka yang terjadi selanjutanya adalah aksi balasan
dari semua elemen yang anti terhadap PKI. kelompok-kelompok pemuda dari barisan
organisasi muslim seperti Barisan Ansor NU dan Tameng Marhenis PNI dengan
dukungan tentara melakukan pembunuhan massal terutama di daerah Jawa Timur dan
Jawa Tengah. Pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan
pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan. Dan ratusan ribu lainnya
dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi.
Hubungan
antara PKI dan Soekarno sendiri pada masa Demokrasi Terpimpin dapat dikatakan
merupakan hubungan timbal balik. PKI memanfaatkan popularitas Soekarno untuk
mendapatkan massa. Sementara itu di unsur kekuatan lainnya dalam Demokrasi
Terpimpin, TNI-Angkatan Darat, melihat perkembangan yang terjadi antara PKI dan
Soekarno, dengan curiga. Terlebih pada saat angkatan lain, seperti TNI-Angkatan
Udara, mendapatkan dukungan dari Soekarno. Hal ini dianggap sebagai sebuah
upaya untuk menyaingi kekuatan TNI-Angkatan Darat dan memecah belah militer
untuk dapat ditunggangi. Keretakan hubungan antara Soekarno dengan pemimpin
militer pada akhirnya muncul. Keadaan ini dimanfaatkan PKI untuk mencapai
tujuan politiknya. Sikap militan yang radikal yang ditunjukkan PKI melalui
agitasi dan tekanan-tekanan politiknya yang semakin meningkat, membuat jurang
permusuhan yang terjadi semakin melebar. Konflik yang terjadi itu kemudian
mencapai puncaknya pada pertengahan bulan September tahun 1965.
Kepercayaan
Sukarno kepada PKI sebagi pendukung Manipol-USDEK dimanfaaatkan oleh PKI dengan
memperluas pengaruh dan basis dukungan di kalangan masyarakat kelas bawah.
Manuver politik PKI yang dominan berusaha diredam oleh partai-partai lain yang
anti komunis. Selama Demokrasi Terpimpin, NU sebagai lawan politik PKI dan
kekuataan yang tersisa dari kelompok Islam dalam aliansi pemerintahan,
melakukan pembendungan dalam semua aspek kehidupan. Komunis dalam pandangan
kelompok Islam adalah peradaban sekulerisme dan atheisme yang sangat berlawanan
dengan Islam bahkan menjadi musuh semua agama. Bahkan terdapat prasangka bahwa
jika komunis berkuasa, maka kaum Islamlah yang menjadi sasaran pertama dan
utama penindasan. Pemberontakan PKI Madiun (1948) misalnya, menjadi bukti
terpenting, yang memberi stigma psikologis agar umat Islam bersatu melawan
Komunis
OFENSIF
UNTUK MENGUSAI PARTAI POLITIK DAN ORGANISASI MASSA
Usaha PKI menginfiltrasi PNI mulai
berhasil yang terbukti antara lain
dengn kenyataan bahwa sejak tahun 1959 PNI
mengubah pengertian Marchaenisme menjadi’’Marxisme yang diterapkan dalam
kondisi indonesia’’.sejak itu pula PNI menempuh garis politik kiri anti-Amerika
yang sudah barang tentu di sokong dan di dukung penuh oleh PKI.Dalam pada itu
beberapa tokoh PKI beranggapan bahwa perubahan pengertian marchaenisme itu akan
di manfaatkan oleh PKI.karena itu diantara mereka ada yang beruaha,agar
anti-machaesnisme itu tidak di selewengkan oleh golongan kiri yang berada dalam
tubuh PKI.Mereka juga berusaha agar supaya garis politik PNI tidak mengikuti
garis politik PKI.Tetapi karena golongan kiri dalam Badan Pekerja Kongres PNI lebih
kuat,maka usaha-usaha mereka gagal,tidak sampai disitu saja,bahkan akhirnya
mereka disingkirkan dengan diberi
predikat ‘’marchaes gadungan’’.Tidak kurang dari pada Presiden Sukarno sendiri
yang mencanangkan tindakan itu.
OFFENSIF DI BIDANG PERTAHANAN-KEAMANAN
Menurut ketrangan njono,Peris
pardede,maupun Sudisman dalam sidang Mahmillub ,Aiditlah seorang diri yang
diberi kekuasaan oleh Politbiro untuk menentukan dan melakukan segala sesuatu
berhubungan dengan ABRI.Dalam hal membina ABRI ternyata ketua aidit dibantu
oleh biro khusus,yang dalam tingkat pusat di jakarta dipimpin oleh Syam dan
Pono.Biro khusus inilah yang digunakan oleh PKI untuk melakukan ilfiltrasi ke
dalam ABRI.
Biro khusus ini tidak konstitusional dan
menjadi alat kerja ketua aidit,serta memainkan peranan penting seperti terbukti
dalam pelaksanaan pemberontakan G30S/PKI.Sebenarnya tugas biro khusus adalah
untuk mencari dan memperluas pengaruh partai secara tertutup di kalangan
ABRI,badan ini sifatnya rahasia,tidak hanya bagi orang luar melainkan juga
anggota PKI sendiri serta langsung berada di bawah Ketua CC PKI.Yang mengepalai
Biro Khusus ini sejak tahun 1964 adalah Syam kamarussaman sedangkan pono
menjadi orang kedua,dan waluyo orang ketiga.Sejak tahun itu pula Biro Khusus
berdiri sendiri secara otonom dengan garis kendali langsung dari ketua CC
PKI,Aidit.Hanya segolongan kecil dari anggota partai yang mengetahui
aktivitas Biro Khusus ini.Badn ini
dibentuk pada tingkat pusat dan daerah dengan pimpinan kolektif. (Marwati
Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1984).

No comments:
Post a Comment